Kamis, 29 Oktober 2026
16:22 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pallu butung

Pallu butung

variasi makanan khas Indonesia

Bagikan:
Pallu Butung
250px-Es_palu_butung.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
SajianHidangan penutup
Makanan ringan
Tempat asalIndonesia Indonesia
DaerahSulawesi Selatan
Suhu penyajianDisajikan hangat maupun dingin
Bahan utamaPisang raja
Santan
Tepung beras
Gula pasir
Garam
Vanili

Pallu Butung atau Pallu Santang adalah makanan khas Suku Makassar di Sulawesi Selatan, makanan ini sering dijadikan hidangan untuk berbuka puasa di saat bulan Ramadan. Pallu Butung ini hampir mirip dengan Pisang Ijo.[1] Perbedakan mendasar pallu butung dari es pisang ijo adalah penggunaan kulit adonan. Pisang pada pallu butung disajikan polos atau tidak dibungkus, sementara pisang ijo identik dengan pisang yang dibalut secara merata dengan adonan tepung berwarna hijau.[2]

Pallu Butung terbuat dari campuran tepung beras, santan, gula pasir, daun pandan, vanili dan garam yang kemudian sampai matang dan kental. lalu dimasukkan potongan-potongan pisang raja yang juga sudah masak lalu diaduk. Pallu Butung dapat dihidangkan hangat-hangat, juga bisa dihidangkan dingin dengan menambah parutan es di atasnya. Pallu Butung juga bisa ditambahkan sedikit sirup untuk menambah warna dan rasa manis.[3]

Asal-usul Pallu Butung

Menurut Dr. Firman Saleh, seorang Budayawan Bugis-Makassar dari Universitas Hasanuddin (Unhas), hidangan tradisional ini memiliki dua nama berbeda: dalam bahasa Makassar disebut pallu butung, sementara dalam bahasa Bugis dikenal sebagai bella butung.[2]

Firman menjelaskan lebih lanjut tentang makna nama tersebut, menyatakan bahwa kata pallu berarti 'masak' atau 'pasak', dan butung merujuk pada 'pisang yang sudah matang' (bukan hangus). Oleh karena itu, pallu butung secara harfiah bermakna masakan dari pisang yang sudah matang. Ia menegaskan kembali bahwa nama pallu butung digunakan dalam bahasa Makassar, sedangkan bahasa Bugis menyebutnya bella butung.[2]

Firman menyebutkan bahwa pallu butung sudah populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan sejak era penjajahan, tepatnya pada abad ke-17. Kemunculan hidangan ini adalah hasil kreativitas warga saat Sulawesi Selatan dilanda kelangkaan beras, di mana mereka menggabungkan pisang dengan tepung dan santan untuk menciptakan makanan alternatif ini.[2]

Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai tahun kemunculan awalnya, Firman membenarkan bahwa pallu butung telah ada sejak masa sulit ketika beras menjadi langka di Sulawesi Selatan. Berdasarkan kisah sejarah, kondisi kelangkaan tersebut terjadi sekitar abad ke-17, yakni pada masa penjajahan. Ia menyimpulkan bahwa pallu butung adalah masakan kreatif yang dibuat dengan memasak campuran pisang, tepung, dan santan.[2]

Referensi

  1. ↑ "3 Resep Es Pallu Butung Khas Makassar, Segar Jadi Camilan Akhir Pekan". Liputan6. 27 Juli 2024. Diakses tanggal 17 April 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 Auliyah, Nur Afifah. "Pallu Butung, Kue Khas Bugis dari Olahan Pisang yang Manis dan Menyegarkan". detiksulsel. Diakses tanggal 2025-12-22.
  3. ↑ "Lezatnya Pallu Butung". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-24. Diakses tanggal 2013-07-14.
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Ikon rintisan

Artikel bertopik makanan atau minuman Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan