Peros Masin atau Pekhos Masin adalah hidangan tradisional Lampung berupa olahan ikan yang dimasak dengan kuah berbumbu tanpa menggunakan santan. Hidangan ini dikenal dalam kuliner masyarakat Lampung di wilayah pesisir barat, termasuk Pesisir Barat dan Lampung Barat. Salah satu variasinya menggunakan ikan nila. Pemerintah Provinsi Lampung mencatat Pekhos Masin sebagai salah satu karya budaya Lampung yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023.[1][2]
Nama
Nama hidangan ini ditemukan dalam beberapa bentuk penulisan, antara lain Peros Masin dan Pekhos Masin. Dalam sejumlah sumber mengenai kuliner Lampung, hidangan tersebut juga disebut Peros Masin Iwa dan dijelaskan sebagai olahan ikan dengan kuah bercita rasa asam dan pedas.[3]
Asal dan persebaran
Peros Masin merupakan bagian dari khazanah kuliner masyarakat Lampung bagian barat. Hidangan ini antara lain dikenal di wilayah Pesisir Barat dan Lampung Barat. Dalam daftar penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2023, Pekhos Masin dicatat sebagai karya budaya asal Provinsi Lampung dengan lokasi persebaran di Kabupaten Pesisir Barat.[4]
Di Lampung Barat, Peros Masin juga dikenal sebagai salah satu kuliner daerah. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, misalnya, mendokumentasikan Pekhos Masin ikan nila sebagai salah satu hidangan khas daerah tersebut.[5]
Peros Masin juga tercatat sebagai salah satu hidangan yang disajikan dalam tradisi makan bersama masyarakat Lampung pada perayaan Idulfitri. Dalam tradisi Ngejalang Balak di wilayah Pesisir Barat, hidangan ini disebut sebagai salah satu lauk yang disajikan bersama makanan khas Lebaran lainnya.[6]
Bahan
Bahan utama Peros Masin adalah ikan. Jenis ikan yang digunakan dapat berbeda menurut ketersediaan bahan dan daerah pembuatannya. Sumber mengenai kuliner Liwa menyebut ikan mujair, ikan mas, dan ikan laut sebagai bahan yang dapat digunakan untuk hidangan ini.[7]
Dalam perkembangannya, ikan nila juga digunakan sebagai bahan Peros Masin. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat mendokumentasikan penyajian Pekhos Masin dengan ikan nila sebagai salah satu kuliner khas daerah tersebut.[8]
Bumbu yang umum digunakan antara lain kunyit, jahe, lengkuas, bawang dan tomat. Beberapa sumber kuliner juga menggambarkan Peros Masin sebagai hidangan berkuah yang memiliki rasa asam dan pedas.[9][10]
Pembuatan
Pembuatan Peros Masin diawali dengan menyiapkan ikan dan bumbu. Bumbu dihaluskan kemudian dimasak hingga matang dan menghasilkan kuah berbumbu. Ikan selanjutnya dimasukkan dan dimasak hingga matang.
Salah satu deskripsi mengenai Peros Masin di Liwa menyebutkan bahwa bumbu berupa lengkuas, kunyit, jahe, bawang dan tomat terlebih dahulu direbus sebelum ikan dimasukkan ke dalam masakan.[11]
Karena tidak menggunakan santan, Peros Masin memiliki karakter kuah yang berbeda dari hidangan gulai bersantan. Dalam literatur mengenai pangan Lebaran Indonesia, Peros Masin Iwa diklasifikasikan sebagai hidangan berkuah dengan bahan daging dan ikan serta cita rasa pedas dan asam.[12]
Penyajian
Peros Masin dapat disajikan sebagai lauk dalam hidangan sehari-hari maupun dalam konteks jamuan dan perayaan tertentu. Di Pesisir Barat, hidangan ini antara lain disajikan dalam tradisi Ngejalang Balak pada perayaan Idulfitri, bersama nasi, gulai taboh, sambal dan lauk lainnya.[13]
Penyajian dalam konteks tersebut menunjukkan bahwa Peros Masin tidak hanya merupakan hidangan berbahan ikan, tetapi juga menjadi bagian dari keragaman pangan yang hadir dalam kegiatan sosial dan perayaan masyarakat Lampung.
Peros Masin dalam budaya Lampung
Peros Masin merupakan salah satu contoh makanan tradisional yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Lampung bagian barat. Kehadirannya dalam jamuan Lebaran dan tradisi makan bersama memperlihatkan hubungan antara makanan, perayaan keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat.[14][15]
Dalam konteks kuliner Lampung Barat, hidangan ini juga menjadi bagian dari pengenalan kuliner daerah. Pemerintah Kabupaten Lampung Barat memasukkan Pekhos Masin Ikan Nila dalam kegiatan pengenalan kuliner khas daerah kepada masyarakat dan pengunjung.[16]
Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Peros Masin atau Pekhos Masin ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023. Penetapan tersebut dilakukan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.[17]
Dalam rekapitulasi penetapan WBTB Indonesia 2013–2024, Pekhos Masin tercatat sebagai warisan budaya asal Lampung dengan lokasi persebaran Kabupaten Pesisir Barat dan tahun penetapan 2023.[18]
Pemerintah Provinsi Lampung juga mencantumkan Pekhos Masin dalam daftar delapan karya budaya Lampung yang memperoleh penetapan WBTB pada tahun tersebut.[19]
Lihat pula
Referensi
- ↑ "8 Budaya Khas Lampung Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) 2023". Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. 2023-09-01. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Takhi Batin bersama 7 Warisan Budaya Lampung Lainnya Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia". Pemerintah Provinsi Lampung. 2023-09-01. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Prastowo; et al. (2024). "Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives". Journal of Ethnic Foods. 11 (42). doi:10.1186/s42779-024-00257-z.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|first=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - ↑ "Rekapitulasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013–2024" (PDF). Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Partinia Kenalkan Kuliner Khas Lampung Barat Kepada Muli Provinsi Lampung". Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. 2025-08-08. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Macam Tradisi Makan Bersama di Lampung". IDN Times Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Peros Masin". Budaya Indonesia. 2017-05-07. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Partinia Kenalkan Kuliner Khas Lampung Barat Kepada Muli Provinsi Lampung". Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. 2025-08-08. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Peros Masin". Budaya Indonesia. 2017-05-07. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Prastowo; et al. (2024). "Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives". Journal of Ethnic Foods. 11 (42). doi:10.1186/s42779-024-00257-z.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|first=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - ↑ "Peros Masin". Budaya Indonesia. 2017-05-07. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Prastowo; et al. (2024). "Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives". Journal of Ethnic Foods. 11 (42). doi:10.1186/s42779-024-00257-z.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|first=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - ↑ "Macam Tradisi Makan Bersama di Lampung". IDN Times Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Prastowo; et al. (2024). "Diversity of Indonesian Lebaran dishes: from history to recent business perspectives". Journal of Ethnic Foods. 11 (42). doi:10.1186/s42779-024-00257-z.
{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam:|first=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) - ↑ "Macam Tradisi Makan Bersama di Lampung". IDN Times Lampung. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Partinia Kenalkan Kuliner Khas Lampung Barat Kepada Muli Provinsi Lampung". Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. 2025-08-08. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "8 Budaya Khas Lampung Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) 2023". Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. 2023-09-01. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Rekapitulasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2013–2024" (PDF). Direktorat Jenderal Kebudayaan. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Takhi Batin bersama 7 Warisan Budaya Lampung Lainnya Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia". Pemerintah Provinsi Lampung. 2023-09-01. Diakses tanggal 2026-09-13.