Kisah kebangkitan sebuah klub sepak bola dari anonimitas menuju panggung elite Eropa selalu memukau. Como 1907, di bawah sentuhan magis mantan bintang Barcelona dan Arsenal, Cesc Fabregas, telah menuliskan babak baru yang menakjubkan dalam sejarahnya. Dari tim Serie B, kini mereka telah mengukir debut gemilang di Liga Champions, sebuah pencapaian yang nyaris mustahil beberapa tahun lalu.
Puncak dari perjalanan luar biasa ini terjadi pada Kamis, 10 September 2026, ketika Como membuat kejutan besar dengan membantai RB Leipzig 4-1 dalam laga debut mereka di Liga Champions. Kemenangan spektakuler ini sontak menarik perhatian Mirwan Suwarso, yang kemudian menyamakan peran Fabregas di Como dengan kiprah legendaris Johan Cruyff bersama Barcelona, sebuah pujian yang sangat tinggi bagi seorang pelatih muda.
Peran Fabregas dalam proyek Como memang sangat sentral dan multidimensional. Selain memegang kendali sebagai pelatih kepala, pria asal Spanyol ini juga merupakan salah satu pemegang saham utama klub. Keterlibatannya tidak hanya sebatas di pinggir lapangan, melainkan juga dalam perencanaan strategis dan visi jangka panjang klub, mulai dari era sebagai pemain hingga kini menjadi arsitek di balik kesuksesan Il Lariani.
Perjalanannya dimulai dengan memimpin Como promosi ke Serie A untuk musim 2024-2025. Uniknya, pada saat itu Fabregas belum memiliki lisensi kepelatihan yang memadai untuk Serie B. Ia sempat menjabat sebagai pelatih interim sebelum kemudian bertugas sebagai asisten pelatih Osian Roberts. Di bawah kepemimpinannya, Como berhasil finis di peringkat kedua Serie B 2023-2024, mengamankan tiket promosi ke kasta tertinggi Liga Italia.
Setelah berhasil meraih lisensi kepelatihan UEFA Pro, Fabregas semakin melesatkan Como. Pada musim 2024-2025, ia membawa timnya finis di peringkat ke-10 Liga Italia. Semusim berselang, performa Como semakin impresif, menembus peringkat keempat klasemen akhir Serie A 2025-2026, sebuah posisi yang secara langsung menggaransi partisipasi mereka di ajang Liga Champions 2026-2027, pencapaian yang fantastis bagi tim promosi.
Meskipun dihujani pujian dan disamakan dengan ikon sepak bola seperti Cruyff, Fabregas memilih untuk tetap membumi. "Hari ini saya bersama presiden dan saya memintanya untuk tidak mengatakannya lagi," ujar Fabregas seperti dilansir dari Tuttomercatoweb. Ia merasa masih sangat jauh dari level tersebut, mengingat karier kepelatihannya yang masih terhitung singkat dan belum dihiasi gelar juara.
Fabregas bahkan menyinggung perkataan mantan pelatihnya di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini membesut Real Madrid. "Seperti yang dikatakan (Jose) Mourinho, ada pelatih yang telah memenangkan gelar dan ada beberapa yang belum memenangkan apa pun," kata Fabregas. "Saya berada di bagian kedua. Bagi saya, hal yang paling penting adalah Como, bukan saya. Dalam hal ini, saya sangat terlibat dalam proyek ini, secara kemanusiaan maupun secara teknis."
Dedikasi dan filosofi rendah hati Fabregas tampaknya terus membuahkan hasil. Como racikannya menunjukkan performa trengginas di musim 2026-2027. Setelah ditahan imbang Udinese 1-1 pada pekan pertama Serie A, Il Lariani melaju dengan meraih empat kemenangan beruntun di semua ajang, termasuk kemenangan penting melawan Parma. Ini menunjukkan bahwa di bawah kepemimpinan Fabregas, Como bukan sekadar tim kejutan, melainkan kekuatan yang patut diperhitungkan.