Di tengah hiruk pikuk kota Pekanbaru, Riau, ribuan jiwa pengungsi Rohingya telah menemukan tempat berlindung sementara, namun penantian mereka untuk sebuah kepastian telah berlangsung selama tiga tahun. Waktu yang cukup lama ini membentuk rutinitas dan perjuangan tersendiri di dalam kamp, di mana setiap hari adalah upaya untuk bertahan hidup dan menjaga secercah harapan di tengah ketidakpastian.
Dari kejauhan, pemandangan kamp pengungsian ini memperlihatkan deretan rumah-rumah kayu sederhana yang berjejer rapi. Ciri khas yang paling menonjol adalah penggunaan terpal biru yang membungkus sebagian besar dinding dan atap. Terpal ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari cuaca, tetapi juga menjadi simbol dari kondisi sementara dan adaptasi yang harus mereka jalani.
Di antara bangunan-bangunan yang berderet, kehidupan sehari-hari terlihat jelas. Pakaian berbagai ukuran dan warna bergelantungan pada tali jemuran yang membentang di antara rumah-rumah. Pemandangan ini mencerminkan aktivitas rumah tangga yang terus berjalan, upaya untuk menjaga kebersihan dan tatanan di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas.
Lebih dari sekadar tempat tinggal, kamp ini juga menjadi arena bagi inisiatif mandiri para pengungsi. Di depan beberapa rumah, lapak-lapak dadakan bermunculan, terbuat dari keranjang plastik atau terpal yang digelar di tanah. Lapak-lapak ini dipenuhi dengan berbagai jenis hasil bumi, seperti mentimun, tomat, kembang kol, kacang panjang, hingga sirih, serta sayuran lain yang menambah variasi.
Aktivitas jual beli atau pertukaran hasil kebun ini menunjukkan semangat kemandirian dan upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, bahkan mungkin mendapatkan sedikit penghasilan. Ini adalah manifestasi dari ketahanan para pengungsi yang tidak menyerah pada keadaan, melainkan berusaha menciptakan ekosistem kecil yang menopang kehidupan mereka di pengungsian.
Penantian selama tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Setiap hari yang berlalu membawa pertanyaan tentang masa depan, tentang kapan mereka akan mendapatkan solusi permanen atau kesempatan untuk memulai hidup baru. Namun, di balik dinding terpal biru dan lapak sayuran sederhana, tetap terpancar semangat untuk terus bertahan, beradaptasi, dan merajut kembali harapan di tanah perantauan.