Minggu, 20 September 2026
06:17 WIB
TERKINI
Cek Fakta Membongkar Hoaks Tilang: Isu Denda Fantastis dan Tilang Manual Kembali Beredar Cek Fakta Waspada Hoaks! Video Menkeu Suahasil Umumkan Dana Hibah Ternyata Rekayasa AI Cek Fakta Memahami Desil Bansos dan Kiat Aman Mengecek Status Bantuan Sosial Online Peristiwa Solidaritas Prabowo untuk Palestina Menggema di Gontor, Terima Keffiyeh Emosional Climate BMKG Prediksi Hujan Sedang-Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia Hingga Oktober 2026 Makro Vietnam Sambut Investor Asing, Kaji Potensi Obligasi Negara dan Peringkat Kredit Hukum Harapan Tertunda: Tiga Tahun Pengungsi Rohingya Bertahan di Pekanbaru Teroka Misi Jurnalistik di Benghazi: Menembus Kekacauan Perang Saudara Libya 2011 Gaya Hidup Fenomena Sound Horeg di Mata MUI: Isu Lingkungan dan Kesehatan Menjadi Sorotan Bola Fabregas Tolak Disamakan dengan Cruyff Meski Bawa Como Berjaya di Eropa Cek Fakta Membongkar Hoaks Tilang: Isu Denda Fantastis dan Tilang Manual Kembali Beredar Cek Fakta Waspada Hoaks! Video Menkeu Suahasil Umumkan Dana Hibah Ternyata Rekayasa AI Cek Fakta Memahami Desil Bansos dan Kiat Aman Mengecek Status Bantuan Sosial Online Peristiwa Solidaritas Prabowo untuk Palestina Menggema di Gontor, Terima Keffiyeh Emosional Climate BMKG Prediksi Hujan Sedang-Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia Hingga Oktober 2026 Makro Vietnam Sambut Investor Asing, Kaji Potensi Obligasi Negara dan Peringkat Kredit Hukum Harapan Tertunda: Tiga Tahun Pengungsi Rohingya Bertahan di Pekanbaru Teroka Misi Jurnalistik di Benghazi: Menembus Kekacauan Perang Saudara Libya 2011 Gaya Hidup Fenomena Sound Horeg di Mata MUI: Isu Lingkungan dan Kesehatan Menjadi Sorotan Bola Fabregas Tolak Disamakan dengan Cruyff Meski Bawa Como Berjaya di Eropa

Harapan Tertunda: Tiga Tahun Pengungsi Rohingya Bertahan di Pekanbaru

Harapan Tertunda: Tiga Tahun Pengungsi Rohingya Bertahan di Pekanbaru
Bagikan:

Di tengah hiruk pikuk kota Pekanbaru, Riau, ribuan jiwa pengungsi Rohingya telah menemukan tempat berlindung sementara, namun penantian mereka untuk sebuah kepastian telah berlangsung selama tiga tahun. Waktu yang cukup lama ini membentuk rutinitas dan perjuangan tersendiri di dalam kamp, di mana setiap hari adalah upaya untuk bertahan hidup dan menjaga secercah harapan di tengah ketidakpastian.

Dari kejauhan, pemandangan kamp pengungsian ini memperlihatkan deretan rumah-rumah kayu sederhana yang berjejer rapi. Ciri khas yang paling menonjol adalah penggunaan terpal biru yang membungkus sebagian besar dinding dan atap. Terpal ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari cuaca, tetapi juga menjadi simbol dari kondisi sementara dan adaptasi yang harus mereka jalani.

Di antara bangunan-bangunan yang berderet, kehidupan sehari-hari terlihat jelas. Pakaian berbagai ukuran dan warna bergelantungan pada tali jemuran yang membentang di antara rumah-rumah. Pemandangan ini mencerminkan aktivitas rumah tangga yang terus berjalan, upaya untuk menjaga kebersihan dan tatanan di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas.

Lebih dari sekadar tempat tinggal, kamp ini juga menjadi arena bagi inisiatif mandiri para pengungsi. Di depan beberapa rumah, lapak-lapak dadakan bermunculan, terbuat dari keranjang plastik atau terpal yang digelar di tanah. Lapak-lapak ini dipenuhi dengan berbagai jenis hasil bumi, seperti mentimun, tomat, kembang kol, kacang panjang, hingga sirih, serta sayuran lain yang menambah variasi.

Aktivitas jual beli atau pertukaran hasil kebun ini menunjukkan semangat kemandirian dan upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, bahkan mungkin mendapatkan sedikit penghasilan. Ini adalah manifestasi dari ketahanan para pengungsi yang tidak menyerah pada keadaan, melainkan berusaha menciptakan ekosistem kecil yang menopang kehidupan mereka di pengungsian.

Penantian selama tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Setiap hari yang berlalu membawa pertanyaan tentang masa depan, tentang kapan mereka akan mendapatkan solusi permanen atau kesempatan untuk memulai hidup baru. Namun, di balik dinding terpal biru dan lapak sayuran sederhana, tetap terpancar semangat untuk terus bertahan, beradaptasi, dan merajut kembali harapan di tanah perantauan.

Sumber berita asli: Lihat Sumber
T
Toni

Redaksi dan tim publikasi berita portal pendidikan terpercaya di Indonesia.

Rekomendasi Pilihan