Sajian seruit dengan ikan, sambal, dan pelengkap | |
| Nama lain | Nyeruit |
|---|---|
| Sajian | Lauk |
| Tempat asal | Indonesia |
| Daerah | Lampung |
| Suhu penyajian | Hidangan makan bersama |
| Bahan utama | Ikan, sambal, tempoyak atau buah-buahan, dan lalapan |
| Informasi lain | Warisan Budaya Takbenda Indonesia (2015) |
Seruit adalah hidangan tradisional Lampung yang terdiri atas ikan yang diolah dengan cara dibakar, digoreng, atau dimasak dengan cara lain, kemudian disantap bersama sambal, tempoyak, buah-buahan, dan berbagai jenis lalapan. Seruit tidak hanya merujuk pada komposisi makanan, tetapi juga berkaitan dengan praktik makan bersama yang dalam masyarakat Lampung dikenal sebagai nyeruit.[1][2]
Dalam praktiknya, bahan dan cara penyajian Seruit dapat berbeda menurut masyarakat dan daerah. Ikan yang digunakan antara lain ikan air tawar seperti ikan nila, baung, patin, dan belida. Sambalnya dapat menggunakan cabai, terasi, tomat rampai, bawang, serta bahan lain seperti tempoyak atau mangga. Lalapan dan sayuran pelengkap juga menjadi bagian dari hidangan.[3]
Seruit ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Lampung pada tahun 2015.[4]
Istilah
Dalam konteks kuliner Lampung, istilah nyeruit digunakan untuk menyebut kegiatan menikmati Seruit secara bersama-sama. Praktik tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan hubungan sosial antarkeluarga, kerabat, dan anggota masyarakat.[5]
Dalam penelitian terbaru mengenai Seruit, proses mencampur bahan disebut pijok-pijok, sedangkan kegiatan makan bersama disebut nyeruit. Kedua praktik tersebut menjadi bagian penting dari karakter Seruit sebagai tradisi kuliner Lampung.[6]
Bahan
Bahan utama Seruit adalah ikan. Jenis ikan yang digunakan dapat berbeda menurut daerah dan ketersediaan bahan. Penelitian mengenai Seruit di Lampung mencatat penggunaan ikan nila, baung, patin, dan belida, serta jenis ikan lainnya.[7]
Ikan dapat diolah dengan berbagai cara, antara lain dibakar, digoreng, atau dipepes. Dengan demikian, penggunaan ikan bakar merupakan salah satu bentuk penyajian Seruit, bukan satu-satunya cara pengolahan.[8]
Sambal merupakan komponen penting dalam Seruit. Bahan sambal yang umum digunakan meliputi cabai, terasi, tomat rampai, bawang merah, bawang putih, garam, dan bahan pengasam. Tempoyak dan buah-buahan seperti mangga kueni dapat digunakan sebagai bagian dari campuran sambal.[9]
Lalapan dan sayuran juga disajikan sebagai pelengkap. Jenisnya dapat mencakup terung, mentimun, kemangi, daun singkong, petai, jengkol, kol, serta berbagai sayuran lain yang tersedia secara lokal.[10]
Pembuatan
Pembuatan Seruit terdiri atas beberapa tahap yang dapat berbeda menurut resep dan kebiasaan daerah. Ikan terlebih dahulu dibersihkan dan kemudian diolah dengan cara dibakar, digoreng, atau dimasak dengan teknik lainnya.[11]
Sambal dibuat dengan menghaluskan cabai dan bahan lainnya. Tempoyak atau buah seperti mangga dapat ditambahkan sesuai dengan jenis Seruit yang dibuat. Ikan kemudian dicampurkan dengan sambal dan bahan pelengkap melalui proses yang dalam sejumlah penelitian disebut pijok-pijok.[12]
Setelah tercampur, Seruit dapat langsung disantap bersama lalapan dan makanan pendamping lainnya. Cara mencampur bahan dan cara makan dapat berbeda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya.[13]
Variasi
Seruit tidak memiliki satu resep tunggal yang berlaku di seluruh Lampung. Variasi dapat muncul pada jenis ikan, teknik pengolahan ikan, jenis sambal, buah yang digunakan, serta sayuran pelengkap.[14]
Salah satu variasinya menggunakan tempoyak sebagai bagian dari sambal. Tempoyak merupakan produk fermentasi daging buah durian dan menjadi salah satu bahan yang sering dikaitkan dengan Seruit Lampung.[15]
Variasi lain menggunakan mangga atau buah-buahan lain sebagai sumber rasa asam. Perbedaan bahan tersebut menunjukkan bahwa Seruit berkembang secara adaptif berdasarkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat.[16]
Dalam sumber kebudayaan pemerintah tahun 2015, Seruit juga dideskripsikan sebagai perpaduan tempoyak, sambal terasi, dan pindang ikan yang ditambahkan air jeruk lesom.[17]
Nyeruit
Nyeruit adalah praktik menikmati Seruit secara bersama-sama. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, pertemuan kerabat, maupun kegiatan sosial dan adat.[18]
Penelitian mengenai Seruit dalam masyarakat perkotaan Bandar Lampung menunjukkan bahwa nyeruit dapat berfungsi sebagai bentuk perjamuan dan komunikasi lintas kelompok. Makan bersama menggunakan Seruit dapat menjadi sarana membangun hubungan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.[19]
Dengan demikian, nyeruit tidak hanya berkaitan dengan cara mengonsumsi makanan, tetapi juga dengan praktik komensalitas, yaitu makan bersama yang membangun dan memperkuat hubungan sosial.[20]
Nilai sosial dan budaya
Seruit memiliki kedudukan dalam kehidupan sosial masyarakat Lampung karena praktik menikmatinya dilakukan secara bersama-sama. Penelitian etnografi menunjukkan bahwa kegiatan nyeruit berkaitan dengan keramahan, hubungan kekeluargaan, dan interaksi sosial.[21]
Seruit juga dikonsumsi dalam sejumlah kegiatan adat, keagamaan, dan keluarga. Penelitian etnosains mengenai Seruit mencatat bahwa hidangan tersebut hadir ketika masyarakat berkumpul dalam kegiatan adat, keagamaan, maupun keluarga.[22]
Dalam konteks masyarakat perkotaan yang multietnik, nyeruit juga mengalami perluasan fungsi. Seruit dapat digunakan sebagai hidangan dalam pertemuan yang melibatkan masyarakat dari latar belakang budaya berbeda, sehingga kuliner tersebut menjadi salah satu medium representasi identitas Lampung.[23]
Perubahan dan perkembangan
Seruit terus mengalami perubahan dalam cara penyajian dan komposisinya. Penelitian tahun 2026 mengidentifikasi perubahan pada teknik pengawetan, gaya penyajian, variasi sambal dan bahan, serta ruang konsumsi Seruit.[24]
Perubahan tersebut memungkinkan Seruit hadir tidak hanya dalam lingkungan rumah tangga dan kegiatan adat, tetapi juga di rumah makan, kegiatan pariwisata, dan ruang kuliner komersial. Meskipun demikian, praktik pencampuran bahan dan makan bersama tetap menjadi unsur penting dalam representasi Seruit sebagai tradisi kuliner Lampung.[25]
Seruit sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Seruit ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2015 sebagai karya budaya dari Provinsi Lampung. Penetapan tersebut merupakan bagian dari sidang penetapan WBTB Indonesia yang menetapkan 121 karya budaya pada tahun tersebut.[26]
Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya memasukkan Seruit dalam daftar warisan budaya takbenda Lampung. Sumber pemerintah tersebut mendeskripsikan Seruit sebagai perpaduan tempoyak durian, sambal terasi, pindang ikan, dan air jeruk lesom.[27]
Pelestarian
Pelestarian Seruit berlangsung melalui praktik memasak dan nyeruit dalam keluarga, kegiatan adat, serta kegiatan kuliner dan pariwisata. Penelitian mengenai transformasi Seruit menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan selera, cara penyajian, dan ruang konsumsi menjadi bagian dari keberlanjutan kuliner tersebut.[28]
Seruit juga telah digunakan sebagai objek penelitian mengenai etnosains, kesehatan pangan, kebudayaan, dan pariwisata. Kajian tersebut mendokumentasikan bahan, proses pengolahan, pengetahuan lokal, serta nilai sosial yang terdapat dalam tradisi Seruit.[29][30]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ "121 Warisan Budaya Takbenda Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2015". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-09-23. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ "Seruit". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8n1.p104-127.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Nurdin, Bartoven Vivit; Fuad Abdulgani; Damar Wibisono; Komang Ariyanto (2024). "Seruit and the Construction of Lampungese in Digitalized Multicultural Urban Setting". The Journal of Society and Media. 8 (1): 104–127. doi:10.26740/jsm.v8i1.p104-127.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ "121 Warisan Budaya Takbenda Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2015". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-09-23. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ "Seruit". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2026-09-13.
- ↑ Handika, Sandi Aderama; Pipin Kusumawati; Moch. Nur Syamsu (2026). "Exploring Seruit and It's Transformation, the Heritage Culinary from Lampung Indonesia". Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya. 7 (1). doi:10.53565/sabbhatayatra.v7i1.2862.
- ↑ Carolina, Hifni Septina; Winny Liliawati; Siti Sriyati (2024). "Kajian Etnosains pada Kuliner Khas Lampung Seruit: Integrasi dengan Konsep Biologi SMA". Jurnal Biotek. 12 (1): 1–17. doi:10.24252/jb.v12i1.47597.
- ↑ Bertalina; Sudarmi; Reni Indriyani (2023). "The Formula for Making Seruit (Local Food) Based on Snakehead Fish as a Food Source of High Protein". Jurnal Kesehatan. 14 (1): 88–94. doi:10.26630/jk.v14i1.3657.