Minggu, 08 November 2026
11:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Gepuk

Gepuk

variasi makanan khas Indonesia

Bagikan:
Gepuk
ᮌᮨᮕᮤᮾ
250px-Empal_Gepuk.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gepuk
Tempat asalIndonesia
DaerahJawa Barat
Bahan utamaDaging sapi di pukul-pukul, bawang putih, kelapa tua, dan rempah-rempah yang lain.

Gepuk (bahasa Sunda:ᮌᮨᮕᮤᮾ, translit. Gepuk) adalah makanan khas sunda yang terbuat dari daging sapi dengan rasa yang sedikit manis dan gurih.[1] Biasanya gepuk dibuat dengan daging sapi yang diiris searah dengan serat daging dan direbus setengah matang, kemudian di pukul pukul hingga agak empuk. Daging yang sudah empuk direndam kedalam bumbu yang dicampur dengan santan, kemudian direbus kembali hingga air santan menyusut.[2] Makanan ini biasanya di hidangkan di acara pernikahan, hajatan atau syukuran.

Ciri khas gepuk daging sapi Sunda terletak pada kombinasi rasa manis, gurih, dan sedikit pedas yang berasal dari bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan gula merah.[3] Tekstur dagingnya yang empuk tetapi tetap berserat membuat gepuk menjadi lauk yang sangat digemari untuk menemani nasi.[3]

Jika akan disajikan gorenglah gepuk dengan sedikit minyak hingga kecokelatan dan angkat. Gepuk akan lebih enak di santap dengan nasi hangat dan sambal.

Sejarah

Asal Usul dan Kemunculan Awal (Abad ke-15 Masehi)

Sejarah gepuk dapat ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi, ketika masyarakat di wilayah Tatar Parahyangan (atau Priangan, yang kini mencakup kawasan seperti Bandung, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Sumedang) mulai mengembangkan teknik pengolahan daging untuk keperluan pengawetan. Teknik ini tercatat dalam dua naskah kuno berbahasa Sunda, yaitu Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan Sanghyang Swawarcinta, yang merupakan sumber primer tentang tradisi kuliner Sunda pada masa itu. Naskah-naskah ini menggambarkan proses "mengempal" atau "menggepuk" daging, di mana daging direbus hingga empuk, kemudian dipukul-pukul (gepuk) dengan alat seperti ulekan untuk memecah serat dan membuatnya lebih pipih serta mudah menyerap bumbu.[4]

Pada periode awal ini, gepuk tidak menggunakan daging sapi, melainkan daging kerbau. Hal ini disebabkan oleh pengaruh agama Hindu yang dominan di masyarakat Sunda saat itu, di mana sapi dianggap sebagai hewan suci dan tidak boleh dikonsumsi. Proses pengolahan melibatkan perebusan daging dengan rempah sederhana seperti lengkuas, serai, daun salam, dan santan, diikuti dengan penggepukan dan penggorengan untuk menghasilkan tekstur kering namun empuk. Tujuan utama pembuatan empal gepuk bukan sebagai hidangan mewah, melainkan sebagai cadangan makanan yang tahan lama, terutama di era sebelum teknologi pendingin modern.[5]

Fungsi dan Peran Sosial pada Masa Kerajaan dan Pra-Islam (Abad ke-15 hingga ke-16)

Di masa kerajaan Sunda, gepuk berfungsi sebagai bekal praktis bagi para perantau, pedagang, dan prajurit yang sering melakukan perjalanan jauh atau menghadapi konflik. Hidangan ini juga digunakan sebagai cadangan makanan kerajaan selama masa sulit, seperti peperangan atau ketidakstabilan ekonomi, karena prosesnya memungkinkan daging bertahan berminggu-minggu tanpa basi. Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, teknik ini mencerminkan kecerdasan masyarakat Sunda dalam mengadaptasi bahan lokal untuk keberlangsungan hidup, dengan penekanan pada pengawetan alami melalui garam, rempah, dan pengeringan. Pada tahap ini, gepuk masih bersifat utilitaris dan belum menjadi sajian pesta, meskipun mulai muncul dalam pertemuan birokrat atau petinggi kerajaan sebagai simbol ketahanan.[6]

Perkembangan Pasca-Masuknya Islam (Abad ke-16 hingga Abad ke-19)

Dengan penyebaran Islam di Nusantara sekitar abad ke-16, penggunaan daging kerbau secara bertahap digantikan oleh daging sapi, karena tabu Hindu terhadap sapi mulai berkurang. Perubahan ini membuat empal gepuk semakin populer di kalangan masyarakat Sunda yang mayoritas beragama Islam. Proses pembuatannya pun berevolusi dengan penambahan elemen seperti gula merah atau gula Jawa untuk rasa manis khas, serta kecap manis yang mulai umum pada abad ke-19 seiring pengaruh perdagangan dengan Cina dan Eropa. Pada periode kolonial Belanda, gepuk mulai dikenal lebih luas di luar Jawa Barat, terutama melalui jalur perdagangan di pelabuhan-pelabuhan seperti Batavia (sekarang Jakarta). Namun, tetap mempertahankan akar tradisionalnya sebagai makanan rumahan yang disajikan dalam acara adat seperti pernikahan atau sunatan.[7]

Perkembangan Modern (Abad ke-20 hingga Saat Ini)

Pada abad ke-20, gepuk naik kelas menjadi hidangan spesial yang sering disajikan dalam nasi tumpeng, nasi kuning, atau menu pesta keluarga. Di era pasca-kemerdekaan Indonesia, hidangan ini menjadi ikon kuliner Sunda yang dipromosikan melalui restoran seperti Talaga Sampireun atau Sindang Reret, serta sebagai oleh-oleh khas Bandung (misalnya Gepuk Ny. Ong yang legendaris). Saat ini, gepuk telah menyebar ke seluruh Indonesia dan bahkan mancanegara melalui diaspora Sunda, dengan variasi modern seperti penambahan serundeng kelapa parut untuk tekstur renyah. Meskipun demikian, esensi tradisionalnya tetap terjaga, dengan penekanan pada bahan segar dan proses manual untuk menjaga keaslian rasa.[8]

Secara keseluruhan, sejarah empal gepuk mencerminkan evolusi dari makanan fungsional menjadi simbol identitas budaya Sunda, yang menggabungkan kepraktisan, rasa, dan nilai historis. Hidangan ini tidak hanya bertahan melintasi zaman, tetapi juga terus beradaptasi tanpa kehilangan akarnya.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Cara Bikin Gepuk Daging Sapi Khas Sunda, Lezat dan Empuk". Liputan6. 6 April 2025. Diakses tanggal 16 Mei 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Liputan6.com (2025-04-06). "Cara Bikin Gepuk Daging Sapi Khas Sunda, Lezat dan Empuk". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-05-14.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link)
  3. 1 2 "Cara Bikin Gepuk Daging Sapi Khas Sunda, Lezat dan Empuk". Liputan6. 6 April 2025. Diakses tanggal 9 Juni 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ www.detik.com/jabar/kuliner/d-7581411/asal-usul-gepuk-olahan-daging-yang-dulu-dibuat-untuk-cadangan-makanan/amp
  5. ↑ www.merdeka.com/amp/jabar/kisah-gepuk-khas-sunda-dari-cadangan-makanan-warga-hingga-jadi-hidangan-kelas-atas.html
  6. ↑ www.kompas.com/food/read/2021/05/20/180700875/sejarah-empal-gepuk-cadangan-makanan-sejak-zaman-dulu-
  7. ↑ www.haawuu.id/blog/2023/09/11/lezatnya-gepuk-sunda-sejarah-dan-kelezatan-makanan-khas-yang-menggugah-selera/
  8. ↑ www.marikitabaca.id/wisata-amp-kuliner/read/78/gepuk-makanan-khas-sunda-yang-selalu-mengundang-selera/amp/
  9. ↑ www.tentangindonesia.com/gaya-hidup/amp/72611950314/mengenal-kisah-dan-sejarah-olahan-empal-daging-gepuk-yang-empuk-dan-nikmat-khas-sunda


60px-Bread_and_wine.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buku resep Wikibooks memiliki artikel mengenai
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Ikon rintisan

Artikel bertopik makanan atau minuman Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan