Kamis, 05 November 2026
17:08 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Burgo

Burgo

makanan khas Jambi, Indonesia

Bagikan:
Burgo
250px-Burgo_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
SajianKudapan
Tempat asalIndonesia
DaerahPalembang, Sumatera Selatan
Suhu penyajianPanas
Bahan utamaPanekuk (kue dadar) terlipat terbuat dari tepung beras, disajikan dalam sup berbahan santan gurih, dibumbui dengan ikan, ditaburi bawang goreng renyah
VariasiLakso
Wikibooks logo
Wikibuku memiliki buku di:

Burgo adalah makanan khas dari Palembang.[1] Pada tahun 2021 burgo sudah ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) dengan nomor pendaftaran 202101401 sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Burgo dapat digolongkan sebagai makanan kecil dan bukan makanan utama. Makanan ini dapat ditemui di warung-warung khas Palembang dan biasanya disajikan bersama dengan makanan lain seperti lakso, laksan, dan celimpungan. Burgo akan terasa lebih nikmat dimakan jika dalam keadaan hangat, sehingga warung-warung biasanya menjajakan makanan ini dengan kompor untuk menghangatkannya. Bahan utama burgo adalah setengah kilogram beras, sagu, setengah kilogram ikan gabus, dan air. Selain itu, proses pembuatan burgo juga memakai bumbu-bumbu tambahan, seperti lengkuas, ketumbar, biji kemiri, kencur, temu kunci, bawang merah, bawang putih, gula pasir, daun salam, dan sedikit kapur sirih.[2]

Bahan-bahan

250px-Lakso_Burgo_Ingredient.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mi lakso dan panekuk lipat burgo sebelum disajikan

Adonan Burgo terbuat dari campuran tepung beras, sagu atau tapioka dan air. Burgo dibuat dengan cara adonannya dipanaskan di atas wajan datar, kemudian dilipat dan digulung. Burgo disajikan dengan kuah yang berwarna putih, terbuat dari campuran santan dan daging ikan. Berbagai macam ikan dapat digunakan, akan tetapi ikan gabus adalah pilihan populer. Resep yang lebih murah dan sederhana mungkin hanya menggunakan udang kering ebi.

Kuah santan ini dibumbui dengan campuran bawang putih, ketumbar, lengkuas, garam, dan daun salam. Sebelum disajikan, panekuk lipat burgo dipotong-potong, disirami kuah santan, kemudian ditaburi bawang goreng. Sambal dan perasan jeruk nipis dapat ditambahkan untuk menambahkan rasa pedas dan asam segar.[3]

Penyajian

Burgo adalah makanan tradisional khas Palembang yang umumnya dikonsumsi pada pagi hari, meskipun dapat juga disajikan pada sore hari. Hidangan ini berbentuk gulungan tipis yang awalnya diletakkan di piring hidang datar (ceper). Sebelum disantap, gulungan burgo dipotong-potong dan dipindahkan ke piring cekung atau mangkuk agar kuah atau saus yang menyertai tidak tumpah. Penyajian ini memudahkan konsumen menikmati burgo tanpa berantakan. Karena terbuat dari beras, burgo memberikan rasa kenyang setara dengan nasi, sehingga efektif sebagai sarapan atau disebut dengan istilah “amper-amper” bagi masyarakat Palembang.[4]

250px-Burgo_20240809_062611.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Makanan burgo dari Palembang dan Jambi

Untuk menyajikan hidangan Burgo dengan tampilan yang rapi dan cita rasa yang lengkap, langkah awal yang dilakukan adalah memotong Burgo menjadi irisan dengan lebar sekitar 2 cm. Setelah dipotong, irisan-irisan Burgo disusun secara teratur di atas piring saji untuk memperoleh presentasi yang lebih tertata. Selanjutnya, kuah santan yang telah dimasak sebelumnya dituangkan secara merata ke atas irisan Burgo. Kuah tersebut sebaiknya cukup melimpah agar setiap potongan Burgo tertutupi dengan bumbu santan, sehingga menghasilkan rasa yang merata di seluruh sajian. Untuk melengkapi hidangan, dapat ditambahkan telur rebus yang telah dikupas dan dipotong sesuai kebutuhan sebagai lauk pendamping. Selain itu, taburan bawang goreng yang telah digoreng hingga renyah dapat ditambahkan di atas Burgo untuk memberikan tambahan aroma, cita rasa, serta kontras tekstur. Dengan penyajian seperti ini, Burgo tersaji secara utuh, siap dikonsumsi, dan menampilkan kombinasi rasa dan tampilan yang sesuai sebagai hidangan utama yang bergizi dan mengenyangkan.[5]

Makanan ini dapat dibuat di rumah atau dibeli di warung dan rumah makan. Di kalangan masyarakat yang lebih tua, burgo lebih populer karena teksturnya yang lembut dan mudah dikonsumsi dibandingkan makanan lain. Selain itu, burgo juga fleksibel dalam penyajian di rumah tangga kelas atas. Burgo dapat dibeli dalam bentuk gulungan, sementara saus dan sambal disajikan terpisah. Setibanya di rumah, gulungan burgo dipotong-potong, ditata di piring saji, dan dihidangkan bersama saus dan sambal. Praktik ini memungkinkan burgo disesuaikan dengan selera individu atau keluarga. Kepraktisan dan fleksibilitas penyajian membuat burgo tetap relevan sebagai makanan sehari-hari. Dengan tambahan lauk atau bumbu sederhana, burgo menjadi hidangan yang mudah, cepat, dan memuaskan, sekaligus mempertahankan tradisi kuliner Palembang yang khas.[4]

Nilai sosial ekonomi

Burgo merupakan makanan sarapan yang memiliki peran sosial dan ekonomi dalam masyarakat Palembang. Hidangan ini umumnya dijual di warung atau rumah makan, dengan permintaan yang stabil karena digemari berbagai kalangan. Penjualan burgo menjadi salah satu sumber pendapatan bagi pedagang lokal, baik yang menjual secara harian maupun pada acara tertentu. Burgo dapat dikonsumsi secara individu maupun dalam kelompok, misalnya bersama keluarga, teman, atau komunitas. Aktivitas makan burgo secara bersama-sama menjadi bagian dari interaksi sosial dan memungkinkan masyarakat mempertahankan tradisi kuliner lokal. Tekstur burgo yang lembut memudahkan konsumsi, termasuk bagi orang tua dan anak-anak, sehingga hidangan ini dapat dinikmati oleh berbagai usia. Penyajian burgo memiliki variasi tertentu. Gulungan burgo dapat disajikan mentah atau dipotong sesuai kebutuhan, kemudian dilengkapi dengan kuah santan yang merata atau ditempatkan terpisah. Sambal, bawang goreng, dan bahan pelengkap lainnya dapat ditambahkan sesuai selera konsumen. Fleksibilitas penyajian ini memungkinkan burgo dikonsumsi dalam berbagai kesempatan, baik sebagai sarapan pagi, hidangan keluarga, maupun sajian pada acara sosial atau komunitas. Hidangan ini tetap mempertahankan bentuk aslinya dan disesuaikan dengan preferensi konsumen modern.[4]

Catatan kaki

  1. ↑ "Kue Burgo Jambi » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-04.
  2. ↑ Rasyid, Harun Nur (2004-01-01). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatra). Direktorat Jenderal Kebudayaan.
  3. ↑ "Resep BURGO PALEMBANG oleh Siswaty Elfin Bachtiar". Cookpad. Diakses tanggal 2018-12-08.
  4. 1 2 3 Tim Penyusun (2004). Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera). Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
  5. ↑ Amelia, Amanda. "Resep Burgo Khas Palembang, Kamu Juga Harus Tahu Sejarahnya". detiksumbagsel. Diakses tanggal 2025-02-23.
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja

[[Kategori:]]

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan