Minggu, 20 September 2026
20:45 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Rabeg

variasi makanan khas Indonesia

Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks eksisting. (April 2016) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Rabeg adalah masakan tradisional yang berasal dari perpaduan bumbu khas Jazirah Arab dan Banten,[1] yang terbuat dari daging kambing yang memakai bumbu sederhana. Rasanya gurih dan tidak terlalu berbahaya untuk yang menderita kolesterol karena makanan khas Jawa Serang ini tidak memakai santan dalam proses pengolahannya.[2] Menurut sejarah, Rabeg digemari oleh Sultan Maulana. Oleh karena itu, Rabeg sangat erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Banten dan menjadi salah satu kuliner yang sering dihidangkan pada acara-acara adat, seperti pernikahan dan khitanan.[3] Masakan yang identik dengan bahan utama daging kambing ini menjadi kuliner yang banyak dan mudah ditemukan. Bahkan sering dijumpai pada acara tertentu, seperti pernikahan atau khitanan. Daging yang biasa digunakan untuk mengolah Rabeg ini adalah daging kambing. Menurut sejarah, Rabeg adalah masakan yang digemari oleh Sultan Maulana, Kesultanan Banten.

Sejarah

Sejarah Rabeg tidak lepas dari kisah Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten. Diceritakan, ketika Sultan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, ia singgah di sebuah kota pelabuhan bernama Rabigh (atau Rabiq) di tepi Laut Merah. Di sana, Sultan mencicipi olahan daging kambing yang lezat. Sepulangnya ke Banten, Sultan meminta juru masak istana untuk membuatkan hidangan serupa. Karena tidak mengetahui resep aslinya, juru masak berkreasi dengan bahan dan rempah lokal. Hasilnya, masakan tersebut sangat disukai Sultan dan dinamai “rabeg”, yang merupakan adaptasi dari nama kota Rabigh.[4] Namun, terdapat pula pendapat lain yang menyebut bahwa Rabeg merupakan hasil akulturasi budaya Arab dan Nusantara, mengingat Banten dahulu merupakan kota pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang Arab. Perpaduan antara teknik memasak dan rempah-rempah khas Nusantara dengan pengaruh budaya Arab melahirkan hidangan khas ini.[5]

Nilai Budaya dan Tradisi

Rabeg tidak sekadar hidangan, melainkan juga mencerminkan status sosial dan warisan budaya masyarakat Banten. Di masa lampau, makanan ini menjadi menu istimewa bagi kalangan kerajaan, dan hingga kini tetap dilestarikan sebagai sajian utama dalam berbagai seremoni adat maupun acara keagamaan.[3] Tradisi “ngerabeg” dalam acara selametan pernikahan di wilayah Banten, misalnya, masih dijalankan hingga sekarang sebagai bentuk pelestarian nilai sejarah dan budaya.[6]

Cara memasak

Cara memasak rabeg khas Banten dimulai dengan merebus daging kambing dan jeroan bersama jahe, serai, dan daun jeruk hingga empuk. Setelah itu, tumis bawang merah dan jahe hingga harum, kemudian masukkan daging yang sudah direbus. Tambahkan rempah seperti cengkih, kayu manis, pala, lada, dan garam, lalu aduk rata. Selanjutnya, masukkan potongan tomat dan tuang air, masak dengan api kecil hingga bumbu meresap dan kuah agak mengental. Terakhir, tambahkan kecap manis, daun bawang, dan sedikit cuka, aduk rata, lalu angkat dan sajikan rabeg hangat bersama nasi putih.[7]

Referensi

  1. "Banten Introduces Distinctive Dish at Culinary Festival". en.tempo.co (dalam bahasa bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2016-04-15. Diakses tanggal 2 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. News, MerahPutih. "Resep Unik Rabeg, Kuliner Khas Banten". MerahPutih News. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-04-13. Diakses tanggal 2 April 2016.{{cite web}}: |last= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Anugraheni, Henida Garniz (2023). "POTENSI WISATA GASTRONOMI RABEG DI RUMAH MAKAN H. NASWI KOTA SERANG BANTEN". Journal FAME: Journal Food and Beverage, Product and Services, Accomodation Industry, Entertainment Services. 6 (2): 84–88. doi:http://dx.doi.org/10.30813/fame.v6i2.4418.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=; Tautan eksternal dalam |doi=
  4. Pancasasti, Ranthy; Rigel, Steven Ichal; Putri, Amalia; Fitriani, Jessi; Susanti, Melliana Regita; Nurhaliza, Nadia Rizky; Fauzan, Izan; Maulana, Rizka (2022-04-06). "PEMBERDAYAAN KULINER LOKAL DAN BUDAYA ORGANISASI NASI MANDHI RABEG BERBASIS CREATIVITY DIGITAL MARKETING OF VEGETARIAN FOOD DI KOTA CILEGON". ABDIKARYA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 70–84. doi:10.47080/abdikarya.v4i1.1870. ISSN 2715-6605.
  5. "Rabeg, Santapan Khas Para Sultan Banten". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-05-06.
  6. "Makna Tradisi Ngerabeg dalam Acara Selametan Pernikahan di Wilayah Banten (Studi Kasus Desa Deringo Kecamatan Citangkil Kota Cilegon)" (PDF). Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2020.{{cite journal}}: |first= tidak memiliki |last=
  7. Times, I. D. N.; Hyperlocal, IDN Times. "Resep Rabeg Khas Banten, Sedapnya Sampai ke Hati". IDN Times Banten (dalam bahasa In-Id). Diakses tanggal 2025-05-06.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja


Ikon rintisan

Artikel bertopik masakan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan