Rabu, 23 September 2026
11:42 WIB
TERKINI
Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis
Tempoyak

Tempoyak

Bahan penyedap khas Melayu yang terbuat dari durian yang difermentasi

Tempoyak
250px-Tempoyak_Ikan_Patin_2.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tempoyak ikan patin
Nama lainAsam durian
JenisBumbu masakan
SajianHidangan pendamping
Tempat asalIndonesia dan Malaysia
DaerahSumatra, Kalimantan dan Semenanjung Melayu
Hidangan nasional terkaitIndonesia, Malaysia dan Brunei
Suhu penyajianSuhu ruang atau sebagai bagian dari masakan
Bahan utamaDurian

Tempoyak adalah makanan hasil fermentasi daging buah durian (Durio zibethinus) yang dikenal terutama di kawasan yang memiliki tradisi kuliner Melayu, termasuk berbagai wilayah di Sumatra dan Kalimantan, serta Malaysia dan Brunei.[1][2] Produk ini dibuat dengan mencampurkan daging durian matang dengan garam dan membiarkannya mengalami fermentasi secara spontan dalam wadah tertutup selama beberapa hari. Proses tersebut menghasilkan pasta bertekstur semi-padat dengan aroma durian yang kuat dan rasa asam yang menjadi ciri utamanya.[3]

Tempoyak umumnya digunakan sebagai bumbu masakan atau pendamping nasi, bukan sebagai hidangan utama yang berdiri sendiri. Di Indonesia, tempoyak digunakan dalam berbagai olahan ikan, sambal dan masakan berkuah, dengan bentuk penyajian yang berbeda-beda menurut tradisi setempat.[1][2]

Di Jambi, tempoyak dikenal sebagai bahan berbagai hidangan, termasuk olahan ikan patin dan ikan baung. Di Sumatera Selatan, tempoyak tercatat sebagai bagian dari tradisi kuliner Palembang dan digunakan dalam berbagai masakan seperti brengkes tempoyak dan pindang tempoyak. Di Lampung, tempoyak merupakan salah satu bahan penting dalam seruit dan juga digunakan sebagai bahan sambal.[4][5]

Tempoyak juga memiliki catatan sebagai Warisan Budaya Takbenda di Indonesia. Tempoyak dari Jambi tercatat pada 2011 dengan nomor registrasi 2011001860, sedangkan Tempoyak Palembang ditetapkan sebagai karya budaya Sumatera Selatan melalui SK Nomor 362/M/2019.[6][4]

Asal-usul dan persebaran

Tempoyak berkembang dalam lingkungan masyarakat yang memiliki akses terhadap buah durian dan tradisi pengolahan pangan melalui fermentasi. Kajian mengenai tempoyak di Indonesia menunjukkan keberadaannya di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, terutama pada komunitas Melayu. Di beberapa daerah, produk atau olahan yang sejenis dapat disebut dengan istilah yang berkaitan dengan durian asam atau durian fermentasi.[1][7]

Tempoyak dikenal di berbagai wilayah di Sumatra, antara lain Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung dan Sumatera Barat. Produk ini juga ditemukan di Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat dan wilayah lain yang memiliki tradisi pengolahan durian.[1][8]

Kajian etnografi dan kuliner mengenai tempoyak menghubungkan persebarannya dengan masyarakat Melayu serta perpindahan penduduk antardaerah. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa tempoyak hanya dimiliki oleh satu kelompok masyarakat atau satu wilayah tertentu. Bentuk dan penggunaannya berkembang sesuai dengan bahan pangan, jenis durian, kebiasaan memasak, dan lingkungan budaya masing-masing daerah.[1][9]

Catatan tertulis mengenai tempoyak juga ditemukan dalam literatur Melayu. Dalam kajian mengenai sejarah dan budaya tempoyak, Hikayat Abdullah yang berkaitan dengan perjalanan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi pada abad ke-19 disebut sebagai salah satu sumber awal yang mendokumentasikan keberadaan tempoyak dalam lingkungan masyarakat Melayu di Semenanjung Melayu.[1]

Tempoyak di Indonesia

Jambi

Jambi merupakan salah satu wilayah yang memiliki hubungan kuat dengan tempoyak. Tempoyak digunakan sebagai bahan dalam berbagai masakan berbasis ikan, terutama ikan air tawar. Olahan yang menggunakan tempoyak dapat berupa gulai, sambal maupun hidangan ikan lainnya.[10]

Status tempoyak sebagai karya budaya Jambi tercatat dalam basis data Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor registrasi 2011001860.[6]

Penelitian mengenai tempoyak Jambi juga berkembang dalam bidang mikrobiologi dan teknologi pangan. Kajian-kajian tersebut membahas bakteri asam laktat, proses fermentasi spontan, penggunaan kultur pemula, serta kemungkinan penerapan teknologi pengemasan dan pengendalian mutu.[10][11]

Sumatera Selatan

Di Sumatera Selatan, tempoyak digunakan sebagai bahan dalam sejumlah hidangan tradisional. Tempoyak Palembang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui SK Nomor 362/M/2019 dengan domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.[4]

Sumber resmi Warisan Budaya Takbenda mencatat bahwa tempoyak Palembang dibuat dari daging buah durian matang yang diberi garam dan difermentasikan dalam wadah selama beberapa hari. Tempoyak dapat dikonsumsi sebagai pendamping nasi, digunakan sebagai bumbu, atau diolah menjadi berbagai masakan seperti sambal tempoyak, iwak masak tempoyak, pindang tempoyak dan brengkes tempoyak.[4]

Bengkulu

Tempoyak juga dikenal dalam kuliner Bengkulu. Penelitian mikrobiologi terhadap sampel tempoyak dari pasar tradisional Bengkulu menunjukkan adanya sejumlah bakteri asam laktat, khamir dan kapang yang terlibat dalam ekosistem fermentasi produk tersebut.[7]

Penelitian Hasanuddin mengidentifikasi antara lain Pediococcus acidilactici, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus curvatus dan Leuconostoc mesenteroides sebagai bakteri asam laktat yang ditemukan dalam tempoyak, selain beberapa mikroorganisme lainnya.[7]

Lampung

Di Lampung, tempoyak terutama dikenal sebagai salah satu bahan dalam seruit, yaitu hidangan yang menggabungkan ikan dengan sambal dan berbagai bahan pelengkap. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung mendeskripsikan seruit sebagai perpaduan sambal terasi, tempoyak durian, ikan pindang dan bahan pelengkap lainnya.[5]

Tempoyak juga dapat digunakan sebagai bahan sambal secara terpisah. Dalam praktik kuliner Lampung, rasa asam dari tempoyak digunakan untuk memberikan karakter pada sambal dan melengkapi rasa ikan serta lalapan.[5]

Penelitian mengenai tradisi nyeruit di Lampung menunjukkan bahwa tempoyak merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam sambal seruit pada sejumlah masyarakat Lampung. Komposisi bahan dapat berbeda menurut lingkungan dan kebiasaan masyarakat setempat.[12]

Keterkaitan tempoyak dengan seruit juga diberitakan oleh media daerah. ANTARA Lampung, misalnya, mencatat penggunaan tempoyak atau durian fermentasi sebagai salah satu unsur dalam seruit yang disantap bersama ikan dan nasi.[13]

Sumatera Barat

Tempoyak juga ditemukan di Sumatera Barat. Penelitian terhadap tempoyak dari Kabupaten Padang Pariaman mengidentifikasi bakteri asam laktat serta menguji aktivitas antimikrobanya.[14]

Penelitian lain mengenai tempoyak dari Kabupaten Lima Puluh Kota membahas sifat kimia produk dan karakteristiknya sebagai pangan fermentasi lokal.[15]

Kalimantan

Tempoyak juga merupakan bagian dari tradisi pengolahan durian di Kalimantan. Penelitian mengenai tempoyak dari Kalimantan Barat dan wilayah lain menunjukkan bahwa fermentasi dapat dilakukan dengan menggunakan durian lokal maupun varietas tertentu yang memiliki karakteristik berbeda.[16]

Durian pekawai (Durio kutejensis) yang merupakan buah endemik Kalimantan juga telah diteliti sebagai bahan pembuatan tempoyak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi garam memengaruhi tekstur, rasa, pH dan jumlah bakteri asam laktat pada produk hasil fermentasi.[16]

Penelitian lain mengenai tempoyak di Pontianak membahas kandungan gizi, antioksidan dan kontaminasi bakteri pada produk yang diperoleh dari pasar tradisional.[17]

Bahan dan karakteristik

Bahan utama tempoyak adalah daging buah durian yang telah matang. Daging buah dipisahkan dari bijinya dan dicampur dengan sejumlah garam sebelum difermentasi.[3][18]

Garam berfungsi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi lingkungan fermentasi. Jumlah garam dapat memengaruhi pertumbuhan bakteri asam laktat, tingkat keasaman, tekstur dan karakter sensoris tempoyak.[3][19]

Tempoyak segar hasil fermentasi umumnya memiliki warna putih hingga kekuningan, tekstur semi-padat dan aroma durian yang kuat. Selama fermentasi, rasa manis dari durian berkurang dan rasa asam meningkat akibat terbentuknya asam organik.[1][20]

Proses fermentasi

Persiapan

Pembuatan tempoyak secara tradisional dimulai dengan memilih buah durian yang telah matang. Daging buah kemudian dipisahkan dari biji dan ditempatkan dalam wadah yang bersih. Garam ditambahkan dan campuran diaduk hingga homogen.[18][3]

Fermentasi spontan

Fermentasi tempoyak pada umumnya berlangsung secara spontan. Mikroorganisme yang terdapat secara alami pada bahan dan lingkungan fermentasi berkembang dalam kondisi yang sesuai dan mengubah komponen gula dalam daging durian menjadi berbagai produk metabolisme, termasuk asam organik.[1][7]

Kajian mengenai fermentasi tempoyak menyebutkan bahwa fermentasi umumnya dilakukan dalam wadah tertutup pada suhu ruang selama sekitar 3–7 hari, meskipun lama fermentasi dan kondisi pembuatannya dapat berbeda antardaerah dan antarprodusen.[3][21]

Penelitian lain menggunakan rentang fermentasi 3, 6 dan 9 hari untuk mengevaluasi perubahan sifat kimia, mikrobiologi dan organoleptik tempoyak.[22]

Pengaruh garam dan suhu

Konsentrasi garam merupakan salah satu faktor penting dalam fermentasi tempoyak. Konsentrasi yang lebih rendah cenderung mendukung pertumbuhan bakteri asam laktat dan menghasilkan tingkat keasaman yang lebih tinggi, sedangkan konsentrasi garam yang lebih tinggi dapat menghasilkan produk yang lebih asin dan memperlambat aktivitas mikroorganisme tertentu.[3][19]

Penelitian di Malaysia juga menunjukkan bahwa garam dan suhu fermentasi berpengaruh terhadap sifat fisikokimia dan jumlah bakteri asam laktat pada tempoyak.[23]

Mikrobiologi

Fermentasi tempoyak terutama melibatkan bakteri asam laktat. Penelitian terhadap berbagai sampel menunjukkan bahwa komposisi mikroorganisme dapat berbeda menurut daerah, jenis durian, kadar garam, suhu dan lama fermentasi.[20][7]

Bakteri yang telah dilaporkan terdapat pada tempoyak antara lain Lactobacillus plantarum, Lactobacillus curvatus, Leuconostoc mesenteroides dan Pediococcus acidilactici.[7][18]

Penelitian di Padang Pariaman mengidentifikasi isolat bakteri asam laktat dari tempoyak dan menguji aktivitas antimikrobanya. Salah satu isolat yang diidentifikasi melalui analisis molekuler adalah Lactobacillus fermentum.[14]

Penelitian terhadap tempoyak Malaysia juga menunjukkan adanya perubahan komunitas bakteri asam laktat selama fermentasi. Beberapa spesies dominan ditemukan pada tahap awal, sedangkan spesies lain bertahan pada tahap fermentasi berikutnya.[20]

Penelitian mikrobiologi lainnya menemukan bahwa beberapa strain Lactobacillus yang diisolasi dari tempoyak memiliki karakteristik yang sedang diteliti untuk potensi probiotik, termasuk toleransi terhadap kondisi asam dan garam empedu serta kemampuan menghasilkan eksopolisakarida.[24]

Salah satu spesies bakteri yang ditemukan pada tempoyak Malaysia kemudian dideskripsikan sebagai spesies baru, yaitu Lactobacillus durianis, berdasarkan karakter fenotip dan analisis molekuler.[25]

Karakteristik kimia dan gizi

Fermentasi menyebabkan perubahan terhadap komposisi kimia durian. Gula sederhana digunakan oleh mikroorganisme dan sebagian diubah menjadi asam organik, sehingga tingkat keasaman produk meningkat selama fermentasi.[22][18]

Penelitian mengenai karakteristik tempoyak menunjukkan bahwa kandungan air, protein, lemak, karbohidrat, abu dan pH dapat berbeda antara satu produk dengan produk lainnya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jenis durian, kadar garam, suhu dan lama fermentasi serta metode pengolahan.[1]

Sebuah penelitian terhadap tempoyak dari pasar tradisional di Pekanbaru melaporkan variasi kandungan proksimat dan karakteristik pH. Hasil tersebut menunjukkan bahwa komposisi tempoyak tidak dapat dianggap seragam untuk semua produk yang dibuat secara tradisional.[26]

Karakteristik sensoris

Ciri utama tempoyak adalah rasa asam yang terbentuk selama fermentasi. Aroma durian tetap dapat dikenali, tetapi berubah seiring dengan terbentuknya senyawa hasil metabolisme mikroorganisme.[20]

Tekstur tempoyak umumnya semi-padat, lembut dan dapat menjadi lebih lunak atau berair selama fermentasi. Warna dapat berkisar dari putih hingga kekuningan dan dapat berubah selama penyimpanan.[1]

Penelitian sensoris terhadap sambal tempoyak menunjukkan bahwa lama fermentasi memengaruhi penilaian panelis terhadap warna dan aroma, sedangkan tingkat penerimaan terhadap rasa dan tekstur dapat berbeda menurut perlakuan.[21]

Pemanfaatan dalam masakan

Sambal tempoyak

Tempoyak dapat dicampurkan dengan cabai dan bahan bumbu lainnya untuk menghasilkan sambal tempoyak. Produk ini dapat digunakan sebagai pendamping nasi dan hidangan ikan.[21][27]

Masakan ikan

Tempoyak banyak digunakan sebagai bumbu dalam pengolahan ikan. Jenis ikan dan teknik memasaknya berbeda menurut wilayah. Penggunaan ikan air tawar, terutama patin, banyak ditemukan dalam masakan tempoyak di Sumatra bagian selatan dan Jambi.[4][10]

Salah satu bentuk pengolahan yang dikenal di Sumatera Selatan adalah brengkes tempoyak, yaitu ikan yang dimasak dengan bumbu yang mengandung tempoyak.[4]

Seruit

Di Lampung, tempoyak memiliki hubungan erat dengan seruit. Tempoyak dicampurkan dengan sambal dan ikan sebagai bagian dari sajian yang juga disertai lalapan.[5][13]

Dalam konteks seruit, tempoyak memberikan rasa asam yang melengkapi rasa pedas, gurih dan asin dari komponen lainnya. Komposisi dan cara pencampuran dapat berbeda menurut kebiasaan masyarakat.[12]

Pengembangan produk

Selain dikonsumsi dalam bentuk pasta fermentasi, tempoyak telah dikembangkan menjadi berbagai produk pangan olahan. Salah satu penelitian mengembangkan tepung tempoyak melalui proses pengeringan untuk memperpanjang daya simpan dan memudahkan pengolahan.[28]

Penelitian lain mengembangkan modifikasi pengolahan dan kemasan untuk mempertahankan mutu serta memperpanjang umur simpan tempoyak. Metode yang diteliti mencakup pasteurisasi dan penggunaan kemasan tertentu, termasuk kemasan dengan atmosfer termodifikasi.[29]

Sambal tempoyak juga telah diteliti menggunakan kemasan retort pouch. Penelitian tersebut menguji pengaruh penambahan asam sitrat dan waktu sterilisasi terhadap sifat fisikokimia dan sensoris produk.[27]

Penelitian mengenai kultur starter

Fermentasi tradisional tempoyak umumnya bersifat spontan. Namun, sejumlah penelitian menguji penggunaan kultur starter untuk memperoleh proses fermentasi yang lebih terkontrol.[30]

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lama fermentasi memiliki pengaruh terhadap perubahan pH, total asam dan gula reduksi. Penambahan gula juga dapat memengaruhi pembentukan asam organik tertentu.[30]

Penelitian lain di Malaysia menggunakan kultur tempoyak yang telah diisolasi sebagai inokulum untuk fermentasi, dengan tujuan mendapatkan proses yang lebih terkendali.[31]

Potensi penelitian pangan fungsional

Sejumlah penelitian mengeksplorasi potensi mikroorganisme yang berasal dari tempoyak sebagai sumber bakteri asam laktat dan kandidat probiotik. Penelitian tersebut umumnya dilakukan melalui pengujian laboratorium, sehingga hasilnya tidak secara langsung dapat ditafsirkan sebagai bukti manfaat kesehatan pada manusia.[26][24]

Penelitian terhadap ekstrak tempoyak pada kultur sel makrofag mencatat adanya respons imunostimulator pada model in vitro. Peneliti menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa yang bertanggung jawab dan menentukan relevansinya terhadap kesehatan manusia.[32]

Karena itu, tempoyak dapat dibahas sebagai objek penelitian pangan fermentasi dan pangan fungsional, tetapi klaim mengenai manfaat kesehatan bagi manusia masih memerlukan bukti klinis yang memadai.[1]

Variasi tempoyak

Variasi tempoyak dapat muncul karena perbedaan jenis durian, konsentrasi garam, suhu, lama fermentasi dan metode pengolahan. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap rasa, aroma, tekstur, warna, pH dan komposisi mikroorganisme.[1][16]

Penelitian mengenai substitusi sebagian durian dengan labu kuning juga pernah dilakukan untuk mempelajari pengaruh bahan terhadap sifat kimia, mikrobiologi dan organoleptik tempoyak. Penelitian tersebut merupakan pengembangan teknologi pangan dan bukan representasi dari resep tradisional seluruh daerah.[33]

Di Kalimantan, penelitian terhadap tempoyak dari durian pekawai memperlihatkan bahwa penggunaan bahan baku yang berbeda dapat menghasilkan karakteristik fermentasi yang berbeda pula.[16]

Keamanan dan mutu pangan

Fermentasi spontan dapat menghasilkan mutu produk yang tidak seragam karena komunitas mikroorganisme, kondisi bahan, suhu, kadar garam dan lama fermentasi dapat berbeda.[1]

Penelitian mikrobiologi terhadap tempoyak menunjukkan keberadaan berbagai kelompok mikroorganisme. Sebagian bakteri asam laktat berperan dalam fermentasi, tetapi keberadaan mikroorganisme lain menunjukkan pentingnya kebersihan bahan, wadah dan proses pengolahan.[7]

Pengembangan kultur starter, pasteurisasi dan teknologi pengemasan telah dipelajari sebagai pendekatan untuk meningkatkan konsistensi mutu dan memperpanjang umur simpan tempoyak.[29][10]

Tempoyak sebagai warisan kuliner

Tempoyak memiliki kedudukan dalam tradisi kuliner masyarakat Melayu di Indonesia dan negara-negara Melayu lainnya. Kajian etnografi mengenai tempoyak mencatat penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, jamuan keluarga, perayaan, perkawinan dan sejumlah kegiatan sosial.[1]

Namun, penggunaan istilah warisan dalam konteks budaya perlu dibedakan dari status hukum atau administratif Warisan Budaya Takbenda. Di Indonesia, status WBTB merupakan penetapan atau pencatatan resmi terhadap karya budaya tertentu. Tempoyak Jambi dan Tempoyak Palembang memiliki catatan WBTB yang berbeda, sedangkan keberadaan tempoyak di daerah lain tidak dengan sendirinya berarti seluruhnya memiliki status WBTB yang sama.[6][4]

Dokumentasi dan pelestarian

Pelestarian tempoyak mencakup keberlanjutan pengetahuan mengenai pemilihan durian, pencampuran garam, fermentasi, penyimpanan dan penggunaannya dalam masakan daerah. Dokumentasi ilmiah mengenai mikrobiologi dan teknologi pangan dapat melengkapi pengetahuan kuliner yang diwariskan dalam masyarakat.[1]

Kajian mengenai inovasi tempoyak di Jambi menunjukkan adanya upaya menggabungkan praktik fermentasi tradisional dengan teknologi identifikasi mikroorganisme, kultur starter dan pengemasan modern.[10]

Di sisi lain, pengembangan produk tetap perlu memperhatikan karakteristik kuliner lokal sehingga inovasi tidak menghilangkan variasi tradisional yang berkembang di masing-masing daerah.[2]

Penelitian terkait durian dan fermentasi

Durian merupakan bahan yang mudah mengalami perubahan setelah matang sehingga fermentasi menjadi salah satu cara pengolahan yang dapat memperpanjang pemanfaatannya. Dalam tempoyak, gula dan komponen lain dalam daging buah menjadi substrat bagi mikroorganisme fermentatif.[8]

Penelitian mengenai biotransformasi daging durian juga menunjukkan bahwa mikroorganisme lain, termasuk khamir, dapat digunakan untuk mempelajari perubahan biokimia pada daging durian selama proses fermentasi.[34]

Fermentasi buah dan sayuran merupakan bagian dari tradisi pengolahan pangan di Asia Tenggara dan telah menjadi objek penelitian dalam bidang mikrobiologi pangan, teknologi fermentasi dan pangan fungsional.[35]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Anggadhania, Lutfi; Setiarto, R. Haryo Bimo; Yusuf, Dandy; Anshory, Lutfi; Royyani, Mohammad Fathi (2023). "Exploring tempoyak, fermented durian paste, a traditional Indonesian indigenous fermented food: typical of Malay tribe". Journal of Ethnic Foods. 10 (42). doi:10.1186/s42779-023-00206-2.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  2. 1 2 3 Rajagukguk, Y. V.; Arnold, M. (2021). "Tempoyak: fermented durian paste of Malay ethnic and its functional properties". International Journal of Gastronomy and Food Science. 23: 100297. doi:10.1016/j.ijgfs.2020.100297.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  3. 1 2 3 4 5 6 Yuliana, Neti (2007). "Pengolahan Durian (Durio zibethinus) Fermentasi (Tempoyak)". Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian. 12 (2): 74–80. doi:10.23960/jtihp.v12i2.74-80.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 "Tempoyak Palembang". Direktorat Pelindungan Kebudayaan. Diakses tanggal 14 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 4 "Seruit". Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. Diakses tanggal 14 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 "Tempoyak - Jambi". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses tanggal 14 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 3 4 5 6 7 Hasanuddin, Hasanuddin (2010). "Mikroflora pada Tempoyak". agriTECH. 30 (4): 218–222. doi:10.22146/agritech.9711.
  8. 1 2 Ardilla, Yunita Ayu; Anggreini, Krisna Wahyu; Rahmani, Tara Puri Ducha (2022). "The role of indigenous lactic acid Bacteria Genus Lactobacillus in the fermentation process of Durian (Durio zibethinus) for Tempoyak production". Berkala Ilmiah Biologi. 13 (2): 42–52. doi:10.22146/bib.v13i2.4619.
  9. Haruminori, A.; Angelia, N.; Purwaningtyas, A. (2017). "Malay ethnic food: tempoyak". Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya. 19 (2): 125–132.
  10. 1 2 3 4 5 Yusfi, Liza Aulia; Ramadani, Suci Putri; Kharisma, Yulia; Sulistiana, Ika Putri; Pratami, Tesy (2025). "Tempoyak as a Typical Fermented Food from Jambi: A Study of the Integration of Tradition with Modern Food Technology Innovation". Jurnal Bio-Geo Material dan Energi. 5 (2): 107–113. doi:10.22437/j-bigme.v5i2.48510.
  11. Hapsari, Intan; Mustakim, Ardi (2025). "Metode Penelitian Ilmiah Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Tempoyak Tradisional Asal Jambi". Algoritma: Jurnal Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Kebumian dan Angkasa. 3 (4). doi:10.62383/algoritma.v3i4.688.
  12. 1 2 Hanifah, Muti (2023). Kajian Etnobotani Tradisi Nyeruit Masyarakat Lampung (Tesis). Universitas Islam Negeri Metro.
  13. 1 2 "Seruit, Makanan Khas Lampung Yang Hampir Terlupakan". ANTARA News Lampung. Diakses tanggal 14 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  14. 1 2 Juliyarsi, Indri; Hartini, Puji; Yuherman; Djamaan, Akmal; Arief; Purwanto, Hendri; Aritonang, Salam N.; Hellyward, James; Purwati, Endang (2018). "Characterization of Lactic Acid Bacteria and Determination of Antimicrobial Activity in Tempoyak from Padang Pariaman District, West Sumatra, Indonesia". Pakistan Journal of Nutrition. 17 (10): 506–511. doi:10.3923/pjn.2018.506.511.
  15. Rahma, A.; Purwati, E.; Juliyarsi, I.; Ferawati (2021). "Chemical properties of tempoyak from Lima Puluh Kota district of West Sumatera, Indonesia". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science.
  16. 1 2 3 4 Permatasari, Indah; Turnip, Masnur; Kurniatuhadi, Rikhsan (2022). "Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat pada Tempoyak Durian Pekawai (Durio kutejensis (Hassk.) Becc.)". Agroprimatech. 6 (1): 7–16. doi:10.34012/agroprimatech.v6i1.2987.
  17. Alang, Hasria; Khairillah, Yuyun Nisaul; Baihaqi, M. Fiqri; Fahira, Annisa Nasywa (2024). "Quality Analysis of Local Food Fermented Durian Paste (Tempoyak) in Pontianak Based on Nutrients and Bacterial Contaminants". Jurnal Pembelajaran dan Biologi Nukleus.
  18. 1 2 3 4 Aisyah, Arina; Kusdiyantini, Endang; Suprihadi, Agung (2014). "Isolasi, Karakterisasi Bakteri Asam Laktat, dan Analisis Proksimat dari Pangan Fermentasi "Tempoyak"". Jurnal Akademika Biologi. 3 (2): 31–39.
  19. 1 2 Wasnin, R. M.; Karim, M. S. A.; Ghazali, H. M. (2014). "Effect of temperature-controlled fermentation on physico-chemical properties and lactic acid bacterial count of durian (Durio zibethinus Murr.) pulp". Journal of Food Science and Technology. 51 (11): 2977–2989.
  20. 1 2 3 4 Chuah, Li-Oon; Shamila-Syuhada, Ahamed Kamal; Liong, Min Tze; Rosma, Ahmad; Thong, Kwai Lin; Rusul, Gulam (2016). "Physio-chemical, microbiological properties of tempoyak and molecular characterisation of lactic acid bacteria isolated from tempoyak". Food Microbiology. 58: 95–104. doi:10.1016/j.fm.2016.04.002.
  21. 1 2 3 Anggraini, Lindah; Widawati, Lina (2015). "Pengaruh Waktu Fermentasi Tempoyak terhadap Sifat Organoleptik Sambal Tempoyak". AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian. 2 (1). doi:10.37676/agritepa.v2i1.100.
  22. 1 2 Yulistiani, R.; Rosida, N. M. (2014). "Fermentation process evaluation on tempoyak quality". Jurnal Rekapangan. 8 (1): 84–103.
  23. Leisner, J. J.; Vancanneyt, M.; Rusul, G.; Pot, B.; Lefebvre, K.; Fresi, A.; Tee, L. K. (2001). "Identification of lactic acid bacteria constituting the predominating microflora in an acid-fermented condiment (tempoyak) popular in Malaysia". International Journal of Food Microbiology. 63 (1–2): 149–157. doi:10.1016/S0168-1605(00)00476-1.
  24. 1 2 Khalil, Eilaf Suliman; Manap, Mohd Yazid Abd; Mustafa, Shuhaimi; Alhelli, Amaal M.; Shokryazdan, Parisa (2018). "Probiotic Properties of Exopolysaccharide-Producing Lactobacillus Strains Isolated from Tempoyak". Molecules. 23 (2): 398. doi:10.3390/molecules23020398.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  25. Leisner, J. J.; Vancanneyt, M.; Lefebvre, K.; Vandemeulebroecke, K.; Hoste, B.; Vilalta, N. E.; Swings, J. (2002). "Lactobacillus durianis sp. nov., isolated from an acid-fermented condiment (tempoyak) in Malaysia". International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology. 52 (3): 927–931. doi:10.1099/00207713-52-3-927.
  26. 1 2 Pato, Usman; Surono, Ingrid S. (2013). "Bile and acid tolerance of lactic acid bacteria isolated from tempoyak and their probiotic potential". Journal of Agricultural Technology. 9 (7): 1849–1862.
  27. 1 2 Pangastuti, Hesti Ayuningtyas; Permana, Lasuardi; Mareta, Dea Tio; Fitriani, Vita; Wahyuningtyas, Amalia (2020). "Kajian Sifat Fisik, Kimia, dan Sensoris Sambal Tempoyak (Durian Terfermentasi) Berkemasan Retort Pouch". Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. 24 (2): 157–165. doi:10.25077/jtpa.24.2.157-165.2020.
  28. Ariantika, Cecilia; Nurwantoro, Nurwantoro; Pramono, Yoyok Budi (2017). "Karakteristik Fisik, Kimia, dan Mutu Hedonik Tepung Durian Fermentasi (Tempoyak) dengan Suhu Pengeringan yang Berbeda". Jurnal Teknologi Pangan. 1 (2). doi:10.14710/jtp.2017.17591.
  29. 1 2 Reli, Rapeka; Warsiki, Endang; Rahayuningsih, Mulyorini (2017). "Modifikasi Pengolahan Durian Fermentasi (Tempoyak) dan Perbaikan Kemasan untuk Mempertahankan Mutu dan Memperpanjang Umur Simpan". Jurnal Teknologi Industri Pertanian. 27 (1): 43–54.
  30. 1 2 Yuliana, Neti (2014). "Perubahan Karakteristik Biokimia Fermentasi Tempoyak Menggunakan Pediococcus acidilactici pada Tiga Tingkat Konsentrasi Gula". agriTECH. 27 (2): 82–88. doi:10.22146/agritech.9497.
  31. Amiza, M. A.; Zakiah, J.; Ng, L. K.; Lai, K. W. (2006). "Fermentation of tempoyak using isolated tempoyak culture". Research Journal of Microbiology. 1: 243–254.
  32. Susanto, Sulvania; Sumarpo, Anton; Parikesit, Arli Aditya; Putra, Agus Budiawan Naro; Ishida, Eri; Tabuchi, Kaho; Sugahara, Takuya (2018). "Short Communication: Immunostimulatory effect of tempoyak (fermented durian) on inducing cytokine production (IL-6 and TNF-α) by RAW 264.7 cells". Biodiversitas. 19 (1): 318–322. doi:10.13057/biodiv/d190143.
  33. "Substitusi Labu Kuning pada Pembuatan Tempoyak Durian". Jurnal Teknologi Pangan. 7 (1). 2016. doi:10.33005/jtp.v7i1.481.
  34. Lee, Pei Rong; Saputra, Anugerah; Yu, Baosheng; Curran, Patrick; Liu, Shao-Quan (2012). "Biotransformation of durian pulp by mono- and mixed-cultures of Saccharomyces cerevisiae and Williopsis saturnus". LWT - Food Science and Technology. 46 (1): 84–90.
  35. Swain, M. R.; Anandharaj, M.; Ray, R. C.; Parveen, R. R. (2014). "Fermented fruits and vegetables of Asia: a potential source of probiotics". Biotechnology Research International. 2014.

Pranala luar

Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan