Jumat, 02 Oktober 2026
02:35 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti

Pandap

Bagikan:
Pendap
Nama lainPandap; Batutuk; Babutuk
SajianLauk
Tempat asalIndonesia
DaerahBengkulu dan Lampung
Suhu penyajianPanas
Bahan utamaIkan, kelapa parut, rempah-rempah, daun talas atau daun bebat, dan daun pisang

Pendap atau pandap, juga dikenal dengan nama batutuk atau babutuk, adalah makanan tradisional berbahan dasar ikan yang berkembang di Bengkulu dan wilayah pesisir barat Lampung. Hidangan ini dibuat dengan ikan yang dibumbui dan dicampur dengan kelapa parut serta rempah-rempah, kemudian dibungkus dengan daun talas atau daun bebat dan dilapisi daun pisang sebelum dimasak dalam waktu lama.[1][2]

Di Bengkulu, Pendap dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional daerah dan berkembang sebagai lauk serta produk pangan yang diperdagangkan. Dalam sejumlah sumber mengenai masyarakat Krui, Pesisir Barat, dan Lampung Barat, hidangan yang serupa disebut pandap atau batutuk.[3][4]

Nama

Nama Pendap digunakan dalam berbagai sumber mengenai kuliner Bengkulu, sedangkan bentuk Pandap dan Batutuk juga digunakan dalam sumber yang membahas tradisi kuliner di wilayah Krui dan Lampung Barat. Variasi penamaan tersebut berkaitan dengan penggunaan istilah lokal di wilayah yang berbeda.[5][6]

Dalam sumber mengenai Krui, pandap/babutuk dijelaskan sebagai hidangan yang menggunakan daun bebat yang telah mekar, kelapa parut berbumbu, dan ikan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara istilah Pendap dalam kuliner Bengkulu dengan penyebutan Pandap atau Babutuk dalam tradisi kuliner Krui.[7]

Asal dan persebaran

Pendap dikenal terutama sebagai makanan tradisional masyarakat Bengkulu. Balai Pelestarian Nilai Budaya mencatat hidangan ini sebagai kuliner khas Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Selatan, sedangkan penelitian di bidang seni dan budaya menyebutnya sebagai salah satu kuliner khas wilayah Bengkulu.[8][9]

Penyebutan Pandap atau Batutuk juga ditemukan di wilayah Krui, yang secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, serta wilayah Lampung Barat. Sumber mengenai kuliner Krui membedakan Pandap/Babutuk dari gulai bebat berdasarkan bentuk dan tingkat kematangan daun bebat yang digunakan.[10]

Persebaran hidangan ini menunjukkan adanya kesinambungan tradisi kuliner di wilayah pesisir barat Sumatra yang kini terbagi dalam batas administratif Provinsi Bengkulu dan Lampung.

Bahan

Bahan utama Pendap adalah ikan. Jenis ikan yang digunakan dapat berbeda menurut daerah dan ketersediaan bahan. Sumber mengenai Pendap di Bengkulu menyebut penggunaan ikan laut, termasuk ikan kakap dan kembung.[11]

Bahan lain yang digunakan adalah kelapa parut dan berbagai rempah, seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, lengkuas, jahe, ketumbar, merica, dan kencur. Beberapa resep juga menggunakan asam kandis atau bahan penyedap lainnya.[12]

Dalam tradisi Pandap/Babutuk di Krui, ikan dipadukan dengan kelapa parut dan bumbu rempah sebelum dibungkus dengan daun bebat dan daun pisang.[13]

Pembungkusan

Salah satu ciri utama Pendap adalah penggunaan daun sebagai pembungkus. Di Bengkulu, ikan dan campuran bumbu dibungkus dengan daun talas kemudian dilapisi kembali dengan daun pisang.[14]

Pada Pandap/Babutuk di Krui, daun bebat digunakan sebagai salah satu bahan sekaligus pembungkus. Daun tersebut dilapisi dengan beberapa lembar daun pisang. Dalam sumber lokal, proses pembungkusan ini disebut tisimpok, sedangkan daun pisang disebut bulungni punti.[15]

Perbedaan jenis daun yang digunakan dapat mencerminkan variasi lokal dalam pengolahan hidangan yang memiliki nama dan karakteristik serupa.

Pembuatan

Pembuatan Pendap memerlukan waktu pemasakan yang relatif lama. Ikan terlebih dahulu dibersihkan dan diberi bumbu. Kelapa parut dan rempah-rempah kemudian dicampurkan dengan ikan sebelum bahan tersebut dibungkus menggunakan daun.[16]

Bungkusan tersebut kemudian dikukus atau direbus dalam waktu beberapa jam. Penelitian mengenai Pendap di Bengkulu menyebut proses memasak dapat berlangsung sekitar delapan jam, sedangkan laporan lain menyebut waktu sekitar empat hingga enam jam, bergantung pada metode dan bahan yang digunakan.[17][18]

Pemasakan dalam waktu lama bertujuan membuat ikan dan bahan pembungkus menjadi matang serta lunak. Pada penggunaan daun talas, proses pemasakan yang cukup lama juga berkaitan dengan pengurangan rasa gatal yang dapat ditimbulkan oleh daun tersebut.[19]

Cita rasa

Pendap memiliki cita rasa gurih dan pedas dengan aroma rempah yang kuat. Kelapa dan bumbu memberikan rasa gurih, sedangkan cabai dan rempah menghasilkan rasa pedas serta aroma khas.[20]

Daun yang digunakan sebagai pembungkus juga memengaruhi karakteristik hidangan. Pada Pendap Bengkulu, daun talas menjadi bagian yang dapat dimakan setelah dimasak hingga lunak, sedangkan daun pisang digunakan sebagai lapisan luar pembungkus.[21]

Penyajian

Pendap umumnya disajikan sebagai lauk bersama nasi. Hidangan ini juga dapat menjadi bagian dari jamuan keluarga dan kegiatan sosial masyarakat. Balai Pelestarian Nilai Budaya mencatat bahwa pada masa lalu Pendap juga disajikan dalam upacara adat di wilayah Kaur dan Bengkulu Selatan.[22]

Pendap kemudian berkembang sebagai produk kuliner yang diperdagangkan dan dijadikan oleh-oleh. Penelitian mengenai Pendap di Bengkulu juga mencatat keberadaan produsen dan rumah makan yang menjual hidangan tersebut sebagai kuliner khas daerah.[23]

Nilai budaya

Pendap merupakan bagian dari pengetahuan kuliner masyarakat Bengkulu dan wilayah pesisir barat Lampung. Pengetahuan mengenai pemilihan bahan, peracikan bumbu, pembungkusan, dan pemasakan diwariskan melalui praktik pengolahan makanan dalam masyarakat.[24]

Dalam konteks Bengkulu, Pendap juga dipandang sebagai bagian dari warisan kuliner daerah dan pernah diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pada 2015, Pemerintah Provinsi Bengkulu memasukkan Pendap dalam daftar karya budaya yang diusulkan untuk pencatatan WBTB.[25]

Pelestarian dan perkembangan

Pendap tetap diproduksi oleh sejumlah pengrajin dan usaha kuliner di Bengkulu. Penelitian mengenai Pendap menunjukkan bahwa hidangan tersebut masih diperdagangkan sebagai makanan khas daerah, sementara produsen terus mempertahankan teknik pengolahan tradisional yang membutuhkan waktu memasak panjang.[26]

Pengembangan Pendap juga mencakup aspek pengemasan dan masa simpan. Penelitian teknologi pangan di Bengkulu mengkaji pengaruh teknik dan jenis kemasan terhadap umur simpan produk, sementara penelitian lain menempatkan Pendap sebagai produk kuliner yang dapat dikembangkan sebagai komoditas daerah.[27][28]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  2. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  3. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  4. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  5. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  6. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  7. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  8. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  9. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  10. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  11. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  12. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  13. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  14. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  15. ↑ "Masakan Khas Krui: Gulai Bebat dan Pandap/Babutuk". Nurwan Gawoh. 2012-02-28. Diakses tanggal 2026-09-13.
  16. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  17. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  18. ↑ "Pendap, Makanan Tradisional yang Bertahan Eksis". RRI Bengkulu. 2024-05-23. Diakses tanggal 2026-09-13.
  19. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  20. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  21. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  22. ↑ "Pendap, Kuliner Khas Kaur dan Bengkulu Selatan". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat. 2017-05-30. Diakses tanggal 2026-09-13.
  23. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  24. ↑ "Makanan tradisional Bengkulu: teknologi pembuatan dan prospek di masa depan". Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Diakses tanggal 2026-09-13.
  25. ↑ Sipayung, Helti Marini (2015-10-01). "Pendap diusulkan jadi warisan budaya tak benda". ANTARA News. Diakses tanggal 2026-09-13.
  26. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
  27. ↑ "Pengaruh Teknik Pengemasan Dan Jenis Kemasan Terhadap Umur Simpan Pendap". Jurnal Multimedia Dehasen. 2026.
  28. ↑ Iktarastiwi, Nasfati; Marwanti (2023). "Pendap as a Bengkulu Culinary Treasure". Mudra Jurnal Seni Budaya. 38 (2). doi:10.31091/mudra.v38i2.2052.
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan