Jumat, 06 November 2026
19:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Burayot

Burayot

Makanan tradisional khas Sunda

Bagikan:
Burayot
Tempat asalGarut
DaerahJawa Barat
Burayot khas Garut, Jawa Barat
Burayot khas Garut

Burayot merupakan salah satu makanan tradisional khas Sunda yang berasal dari Garut. Makanan tradisional ini dapat ditemukan di beberapa kecamatan di Garut, seperti Leles, Kadungora, Tarogong, dan Wanaraja. Kata "burayot" sendiri diambil dari bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia artinya "bergelantungan". Kue khas Garut ini terbuat dari bahan baku, seperti tepung beras, gula merah, dan minyak kelapa. Oleh sebab itu, kue ini memiliki rasa yang manis dan gurih.[1]

Burayot memiliki bentuk bulat lonjong, sedikit keriput, dan warna kecokelatan. Makanan khas ini dapat dibuat dengan beberapa varian rasa, seperti cokelat, wijen, keju, jahe, dan kacang tanah. Kue khas ini banyak dijual di pusat pariwisata Candi Cangkuang. Di sana, para pembeli dapat menyaksikan langsung pembuatan makanan tradisional ini.[2] Burayot juga menjadi hidangan yang khas bagi warga Garut menjelang hari raya idul fitri.[1]

Sejarah

Sejarah Burayot sangat unik karena ditemukan secara tidak sengaja. Pada zaman dahulu masyarakat Garut gemar membuat makanan ringan yang terbuat dari ubi jalar atau sampeu (singkong). Mereka pun akhirnya berkreasi dengan menambahkan gula aren atau gula merah yang dicairkan. Sampeu (singkong) yang sudah ditambahkan dengan gula merah cair kemudian dinamakan cemprus jadi makanan yang sering diolah oleh pembuat gula aren. Kini cemprus jadi makanan ikonik tradisional dari Kecamatan Pendeui dan masuk dalam warisan budaya takbenda Indonesia. Tetapi, sayangnya cemprus dikenal sebagai makanan yang penyajiannya sangat memakan banyak waktu. Jadi, pengolah lahang dikampung dangdeur mendapatkan ide untuk mengubah makanan ini lebih mudah saat disajikan. [3]

Keunikan

  1. Wajib menggunakan gula aren. Salah satu ciri khas dari kue Burayot adalah, warnanya yang kecokelatan. Warna ini dihasilkan dari penggunaan gula aren yang dicampurkan kedalam adonan. Gula aren memberikan citarasa yang unik dan menjadi komponen utama selain tepung beras untuk menciptakan burayot yang khas. Untuk meningkatkan keaslian rasanya, para pedagang burayot dengan rela menggiling beras wangi menjadi tepung. Namun, jika tidak memungkinkan, tepung beras biasa juga dapat digunakan untuk membuat burayot.
  2. Cara memasak yang unik. Proses memasak burayot dilakukan dengan cara yang berbeda, yaitu menggunakan stik bambu yang telah dilancipkan diujungnya. Ujung lancip ini digunakan untuk menusuk dan mengangkat adonan burayot yang telah matang. Teknik pengangkatan ini merupakan keunikan tersendiri yang jarang diterapkan pada metode menggoreng kue lainnya. Selain itu, proses penirisan yang digunakan dengan cara menggantung juga lebih efektif dalam menghilangkan minyak, sehingga lebih banyak minyak goreng yang terjatuh dan tidak kembali kedalam wajan.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Widyawati, Ratna (09 Mei 2020). "Burayot, Kue Tradisional Garut yang Banyak Disajikan Saat Lebaran". Tribuntravel.com. Diakses tanggal 31 Juli 2021.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. ↑ Yustiana, Kurnia (25 September 2015). "Burayot, Kue Unik yang Harus Dicicipi di Garut". detiktravel. Diakses tanggal 31 Juli 2021.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Trenaldy (2024-03-20). "Sejarah Burayot, 4 Keunikannya, Beserta Cara Pembuatannya". www.ptsuparmatbk.com. Diakses tanggal 2025-03-10.
Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan