Kamis, 08 Oktober 2026
08:02 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Rijsttafel

Rijsttafel

cara penyajian makanan yang mulai berkembang pada masa kolonial Belanda

Bagikan:
Rijsttafel
250px-Rijsttafel_Den_Haag_Javastraat.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rijsttafel di sebuah restoran di Den Haag, Belanda
Nama lainMeja nasi
SajianHidangan utama
Tempat asalIndonesia
DaerahIndonesia, Belanda, dan Belgia
Suhu penyajianPanas atau suhu ruangan
Bahan utamaNasi dengan berbagai lauk pauknya
VariasiNasi campur, nasi rames (Indo)
Informasi lainIni lebih merupakan jamuan makan mewah daripada hidangan, yang populer di Belanda
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_rijsttafel_TMnr_3728-820.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rijsttafel pada tahun 1880-an
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_familie_C.H._Japing_met_tante_Jet_en_oom_Jan_Breeman_aan_de_rijsttafel_Bandoeng_TMnr_10030167.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Rijsttafel di Bandung pada tahun 1936

Rijsttafel (/ˈraɪstɑːfəl/ RY-stah-fəl, Belanda:[ˈrɛistaːfəl]ⓘ secara harfiah berarti "meja nasi") adalah hidangan Indonesia rumit yang diadaptasi oleh orang Belanda dari penyajian hidang nasi padang dari daerah Padang di Sumatera Barat.[1] Terdiri dari banyak (empat puluh bukan jumlah yang luar biasa) lauk pauk dalam porsi kecil, disertai nasi yang diolah dengan beberapa cara berbeda. Lauk pauk yang populer antara lain telur gulung, sambal, sate, ikan, buah, sayur mayur, acar, dan kacang-kacangan. Di sebagian besar wilayah yang menyajikannya, seperti Belanda dan wilayah lain yang memiliki pengaruh kuat Belanda (seperti sebagian Hindia Barat), ia dikenal dengan nama Belandanya.

Meski hidangan yang disajikan tidak diragukan lagi adalah masakan Indonesia, asal muasal rijsttafel adalah kolonial. Orang Belanda memperkenalkan meja nasi untuk menikmati beragam hidangan sekaligus, dan untuk mengesankan pengunjung dengan kelimpahan eksotik kerajaan kolonial mereka.[2]

Rijsttafels berusaha keras untuk menampilkan beragam tidak hanya rasa, warna, dan tingkat kepedasan, tetapi juga tekstur – sebuah aspek yang jarang dibahas dalam gastronomi Barat namun menjadi pertimbangan umum dalam masakan Asia. Tekstur tersebut mungkin termasuk renyah, kenyal, licin, lembut, keras, lembut, agar-agar, dan encer.

Etimologi

Kata rijst dalam bahasa Belanda berasal dari bahasa Prancis Kuno ris yang berarti beras atau nasi, sedangkan tafel dalam bahasa Belanda berasal dari bahasa Latin tabula yang berarti meja.[3] Dengan demikian, rijsttafel secara harfiah berarti "meja nasi", atau tepatnya hidangan nasi beserta berbagai sayur-mayur dan lauk-pauk yang disajikan dalam satu meja.

Sejarah

Lebih bersifat sebagai jamuan pesta pada era Kolonial Belanda, rijsttafel diciptakan sebagai bentuk perjamuan resmi (makan siang atau makan malam) yang meriah yang dapat mewakili keanekaragaman suku-bangsa di Nusantara. Aneka macam hidangan dihimpun dari penjuru negeri; khazanah kuliner khas dari berbagai pulau di Indonesia — dari Jawa Tengah, makanan yang terkenal dan digemari antara lain sate, tempe, dan serundeng. Dari Batavia dan Priangan masakan sayuran favorit seperti gado-gado, lodeh dengan sambal dan lalab. Citarasa pedas kaya bumbu disajikan dalam hidangan rendang dan gulai dari Ranah Minang di Sumatera Barat. Hidangan populer Hindia Belanda lainnya juga disajikan seperti nasi goreng, soto ayam dan kerupuk. Juga sajian hidangan Indonesia "hibrida"; seperti masakan Tionghoa Indonesia babi kecap, lumpia, dan bakmi, serta hidangan yang dipengaruhi Eropa seperti semur daging. Masih banyak lagi pilihan hidangan dari ratusan pulau di Indonesia yang terdiri dari 300 suku bangsa.

Pada masa kolonial, sajian rijsttafel paling bergengsi di Hindia Belanda adalah luncheon (makan siang) tiap hari Minggu di Hotel des Indes di Batavia dan Hotel Savoy Homann di Bandung, di mana nasi disajikan bersama lebih dari 60 macam hidangan.[4] Pada masa jayanya di era Hindia Belanda, versi jamuan resmi rijstaffel paling mewah terdiri atas iring-iringan para pelayan berbusana resmi (kain kebaya untuk pelayan wanita atau beskap, blangkon, bersarung kain batik untuk pelayan pria), secara khidmat dan resmi menyajikan belasan hingga puluhan piring berisi berbagai macam hidangan secara maraton ke meja makan di mana para tamu perjamuan duduk. Sajian pertama adalah nasi putih kadang berbentuk tumpeng kecil di sajikan di piring tamu, kemudian satu per satu pelayan datang membawa beraneka macam hidangan yang terdiri atas lauk-pauk, sayuran, gorengan, sambal dan kerupuk. Hidangan ini ditawarkan dan disajikan kepada para tamu perjamuan yang mengambil sendiri hidangan ini dari piring yang dibawa pelayan. Iring-iringan pelayan ini datang silih berganti membawa aneka hidangan yang bahkan dapat berjumlah hingga 40 macam. Versi penyajian yang lain hanya menyajikan nasi putih di tengah, dikelilingi piring-piring berisi aneka hidangan, mirip dengan sajian prasmanan kini.

Pada masa pendudukan Jepang dan setelah perang kemerdekaan Indonesia 1945, rijsttaffel di bawa ke Belanda oleh orang Belanda kolonial dan orang Indo yang berangkat repatriasi ke Belanda. Sajian ini tetap populer pada keluarga Belanda yang memiliki akar keluarga kolonial Hindia Belanda. Akan tetapi di Indonesia setelah perang kemerdekaan 1945, berkembang gerakan nasionalisme yang menolak segala unsur budaya dan tradisi peninggalan kolonial Belanda yang dianggap mengeksploitasi bangsa Indonesia, termasuk rijsttafel dengan jajaran pelayan pribumi yang dianggap terlalu mewah dan flamboyan. Kini rijsttafel secara praktis hampir lenyap di Indonesia, dan hanya disajikan oleh sedikit rumah makan mewah di Indonesia.

Hidangan khas

Berikut ini adalah daftar singkat, meskipun tidak lengkap, tentang makanan yang dapat disajikan dalam sebuah rijsttafel:

Rijsttafel kini

Meski populer di Belanda dan luar negeri, rijsttafel jarang ditemukan di Indonesia. Hal ini mungkin karena kebanyakan hidangan Indonesia terdiri dari satu atau dua macam lauk-pauk sebagai teman nasi (ikan, ayam, daging, telur ayam, atau sumber protein lainnya), sayur (baik disajikan mentah, tumisan, atau sup) serta hidangan pelengkap lain seperti sambal, acar, atau kerupuk. Mengkonsumsi makanan lebih dari jumlah yang lazim tersebut dapat dianggap berlebihan, terlalu mewah, mahal dan boros. Patut dicatat bahwa jumlah makanan yang dihidangkan dalam rijsttafel berkisar antara 7 hingga 40 jenis makanan. Versi paling dekat dengan hidangan jenis ini dapat ditemukan pada hidangan lokal nasi padang dan nasi campur. Salah satu restoran yang masih bertahan menyajikan rijsttafel otentik adalah Restoran Oasis di Jakarta. Rijsttafel Oasis disajikan oleh 15 pelayan. Akan tetapi di berbagai restoran Indonesia di luar negeri, khususnya Belanda, Belgia, dan Afrika Selatan, rijsttafel tetap populer.

Sejak Juli 2011, Garuda Indonesia menyajikan rijsttafel Indonesia untuk penumpang kelas eksekutif sebagai layanan khas dalam penerbangan.[5] Jamuan makan khas Indonesia ini dimaksudkan untuk memperkenalkan para penumpang dengan kekayaan masakan Indonesia dalam satu kesempatan, sebagai bagian dari pengalaman terbang bersama Garuda Indonesia. Hidangan rijsttafel dalam penerbangan ini termasuk aneka hidangan khas Indonesia yang terkenal; pilihan nasi kuning atau nasi putih, dengan aneka hidangan seperti sate, rendang, gado-gado, ayam rica-rica, kakap saus acar kuning, sambal goreng udang, perkedel kentang, tempe, dan pilihan kerupuk atau rempeyek.[6][7]

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ "What is rijsttafel?". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-09-13. Diakses tanggal 2011-09-03.
  2. ↑ Bob Martin. "The Rise and Fall of Indonesia's Rice Table". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-10-07. Diakses tanggal 2011-09-03.
  3. ↑ "Rijsttafel". Merriam-Webster (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 Oktober 2022.
  4. ↑ Fadly Rahman (16 Desember 2010). "Rijsttafel: The History of Indonesian Foodways". Kompasiana. Kompasiana. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-09-21. Diakses tanggal 28 Juli 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ New TV Commercial: Discover our Signature In-flight Service with Revitalized Fleet
  6. ↑ "Rijsttafel di Udara". detikcom. 8 Februari 2011. Diakses tanggal 19 Oktober 2022.
  7. ↑ All new Garuda Indonesia Experience 2011 Commercial

Pranala luar

Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan