| Bahasa Bugis
Basa Ugi ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ بهاس بوڬيس/ بَاسَ أُوْڬِيْ | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Buku mata pelajaran bahasa Bugis | |||||||||||
| Pengucapan | [basa.uɡi] | ||||||||||
| Dituturkan di | Indonesia | ||||||||||
| Wilayah | Sulawesi Selatan; serta daerah kantong di tempat lain di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua | ||||||||||
| Etnis | Bugis | ||||||||||
Penutur | Sebagai bahasa pertama: 3.500.000 juta Sebagai bahasa kedua: 500,000 Total penutur: 4 juta (2015: oleh Divisi Statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa [en] (UNSD))[1] | ||||||||||
| |||||||||||
| Dialek | Lihat dialek bahasa Bugis | ||||||||||
| Latin Aksara Lontara Aksara Serang | |||||||||||
| Status resmi | |||||||||||
| Diatur oleh | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa | ||||||||||
| Kode bahasa | |||||||||||
| ISO 639-2 | bug | ||||||||||
| ISO 639-3 | bug | ||||||||||
| Glottolog | bugi1244 | ||||||||||
| IETF | bug | ||||||||||
| |||||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||||
Sebaran penutur bahasa Bugis dan Campalagian di seluruh Sulawesi | |||||||||||
| Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini. | |||||||||||
| Koordinat: 4°28′S 119°59′E / 4.467°S 119.983°E / -4.467; 119.983 | |||||||||||
| L •B •PW | |||||||||||
| Pemberitahuan | |
|---|---|
| Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek. | |
| Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini. | |
| 01.33, Senin, 28 September, 2026 (UTC) • Sebanyak 1.635 artikel belum dinilai | |
Bahasa Bugis (Basa Ugi, Aksara Lontara: ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ, Aksara Serang: بهاس بوڬيس/ بَاسَ أُوْࢴِيْ, pelafalan[basa.uɡi]) adalah bahasa yang termasuk kedalam rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan oleh sekitar 4 juta orang, terutama di bagian selatan pulau Sulawesi, Indonesia.[1] Ini adalah bahasa ibu dari orang Bugis.
Di Sulawesi wilayah penuturnya terutama di sebagian Kabupaten Maros, sebagian Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Kabupaten Barru,Kabupaten Majene, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, sebagian Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare.
Sejarah

Dalam bahasa Bugis, bahasa ini disebut sebagai Basa Ugi dan suku Bugis sendiri disebut sebagai To Ugi. Menurut beberapa mitos suku Bugis, istilah Ugi diambil dari nama La Sattumpugi, yakni raja pertama Cina yang sendirinya merupakan kerajaan kuno di tanah Bugis. Kata To Ugi sendiri dapat diartikan sebagai "pengikut daripada La Sattumpugi".[3]
Hanya sedikit hal yang diketahui tentang sejarah awal bahasa ini karena kurangnya catatan tertulis. Catatan tertulis paling awal dari bahasa ini adalah Sureq Galigo, yakni sebuah wiracarita mengenai penciptaan orang Bugis. Sumber tertulis lain dari bahasa Bugis adalah Lontara, sebuah istilah yang mengacu pada naskah tradisional dan juga catatan sejarah. Catatan sejarah Lontara paling awal berasal dari sekitar abad ke-17. Catatan Lontara telah digambarkan oleh sejarawan Indonesia sebagai "faktual" bila dibandingkan dengan naskah serupa dari daerah lain di Asia Tenggara Maritim, seperti babad di Jawa. Catatan-catatan ini biasanya ditulis dengan nada yang sebenarnya dengan sedikit elemen mitos, dan penulis biasanya akan memberikan penafian sebelum menyatakan sesuatu yang tidak dapat mereka verifikasi.[4][5][6]
Sebelum kedatangan Belanda di Indonesia pada abad ke-19, seorang misionaris, B. F. Matthews, menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis, yang membuatnya menjadi orang Eropa pertama yang memperoleh pengetahuan bahasa tersebut. Ia juga salah satu orang Eropa pertama yang menguasai bahasa Makassar. Kamus dan buku tata bahasa yang disusun olehnya, serta teks sastra dan cerita rakyat yang diterbitkannya, tetap menjadi sumber informasi dasar tentang kedua bahasa tersebut. Setelah penjajahan oleh Belanda, sejumlah suku Bugis melarikan diri dari daerah asalnya di Sulawesi Selatan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hal ini menyebabkan adanya kelompok kecil penutur bahasa Bugis di seluruh Asia Tenggara Maritim.[7][8]
Klasifikasi
Bahasa Bugis termasuk dalam kelompok Sulawesi Selatan yang sendirinya merupakan rumpun turunan dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam kelompok bahasa-bahasa Sulawesi Selatan, bahasa ini berkerabat dekat dengan bahasa Campalagian.
Distribusi geografis
Sebagian besar penutur asli (sekitar 3 juta orang) terkonsentrasi di Sulawesi Selatan, Indonesia. Terdapat juga kelompok kecil penutur bahasa Bugis di pulau Jawa (termasuk Pulau Sebira), pesisir timur pulau Kalimantan yakni Samarinda, Balikpapan, Bontang, Tarakan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Kotabaru, Sumatra bagian timur, Sabah bagian timur dan Semenanjung Malaysia, dan Selatan Filipina. Diaspora suku Bugis ini merupakan hasil migrasi sejak abad ke-17 yang terutama didorong oleh situasi peperangan yang terus menerus.
Fonologi
Bahasa Bugis memiliki enam vokal dalam kotak fonemnya, yakni /a/, /e/, /i/, /o/, /u/, dan vokal madya /ə/.
Tabel berikut menunjukkan kotak fonem untuk konsonan bahasa Bugis beserta penulisannya dalam aksara Lontara.
| Dwibibir | Gigi | Langit langit |
Lang. bel. |
Celah suara | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Sengau | [m] | ᨆ | [n] | ᨊ | [ɲ] | ᨎ | [ŋ] | ᨂ | |||
| Gugusan prasengau | [mp] | ᨇ | [nr] | ᨋ | [ɲc] | ᨏ | [ŋk] | ᨃ | |||
| Letup | bersuara | [b] | ᨅ | [d] | ᨉ | [ɟ] | ᨍ | [ɡ] | ᨁ | ||
| nirsuara | [p] | ᨄ | [t] | ᨈ | [c] | ᨌ | [k] | ᨀ | [ʔ] | [a] | |
| Geser | [s] | ᨔ | [h] | ᨖ | |||||||
| Rhotika | [r] | ᨑ | |||||||||
| Hampiran | [w] | ᨓ | [l] | ᨒ | [j] | ᨐ | |||||
- ↑ /ʔ/ hanya terjadi pada posisi akhiran, sehingga tidak dituliskan dalam aksara Lontara.
Disaat bahasa Bugis ditulis dalam alfabet Latin, bahasa Bugis ditulis menggunakan konvensi ejaan bahasa Indonesia umum, yakni sebagai berikut: [ɲ] ditulis sebagai ⟨ny⟩, [ŋ] by ⟨ng⟩, [ɟ] sebagai ⟨j⟩, [j] sebagai ⟨y⟩. Konsonan hentian glotis [ʔ] biasanya ditulis dengan tanda petik (contoh: ana' [anaʔ] "anak"), akan tetapi biasanya juga ditulis sebagai ⟨q⟩. /e/ dan /ə/ biasanya ditulis sebagai ⟨e⟩, ataupun biasanya /e/ ditulis sebagai ⟨é⟩ untuk mencegah ketaksaan.
Tata bahasa
Pronomina
Bahasa Bugis memiliki empat jenis pronomina personalia yang terdiri atas satu pronomina bebas dan tiga pronomina terikat:[9]
| bebas | awalan | akhiran | ||
|---|---|---|---|---|
| orang pertama tunggal | iaq | -aq/-kaq/-waq | (k)u- | -(k)kuq |
| orang kedua familiar | iko | -o/-ko | mu- | -(m)mu |
| orang ketiga | ia | -i/-wi | na- | -(n)na |
| orang pertama jamak/ orang kedua bentuk sopan |
idiq | -iq/-kiq | ta- | -(t)taq |
| orang pertama excl. (arkais) | ikəŋ | -kkəŋ | ki- | -mməŋ |
Pronomina enklitik digunakan pada subjek dengan verba intransitiva dan verba transitiva. Pronomina akhiran hanya utamanya pada fungsi posesiva.
Aspek
Berikut merupakan aspek ketatabahasaan yang terdapat dalam bahasa Bugis:[10]
| Durativa | Perfektiva | Kondisional | Peraguan | Emfasis | Tempat |
|---|---|---|---|---|---|
| kaq | naq | paq | gaq | si | é |
| kiq/ko | niq/no | piq/po | giq/go | sa | tu |
| kiq | niq | piq | giq | to | ro |
| i | ni | pi | gi | mi | |
| na | pa | ga |
Contoh
ᨄᨘᨑᨊᨚ
pura-no
punya [penanda prespektiva na (ᨊ) + kamu]
ᨆᨙᨋ?
manre
makan
ᨄᨘᨑᨊᨚ ᨆᨙᨋ?
pura-no manre
{punya [penanda prespektiva na (ᨊ) + kamu]} makan
'Apakah kamu sudah makan?'
ᨉᨙᨄ
deq-pa
tidak + [kondisional (ᨄ)]
ᨉᨙᨄ
deq-pa
{tidak + [kondisional (ᨄ)]}
'Belum'
Harap diperhatikan bahwa ⟨q⟩ melambangkan hentian glotis yang tidak dituliskan dalam aksara Lontara.
- Contoh:
'"`UNIQ--templatestyles-000000B4-QINU`"'ᨆᨙᨒᨚ '"`UNIQ--templatestyles-000000B5-QINU`"'ᨀ
méloq-kaq
mau-Aku
'"`UNIQ--templatestyles-000000B6-QINU`"'ᨌᨛᨆᨙ
cemmé
mandi
{ᨆᨙᨒᨚ ᨀ} ᨌᨛᨆᨙ
méloq-kaq cemmé
mau-Aku mandi
Aku ingin mandi
Sistem penulisan
Bahasa Bugis secara tradisional ditulis menggunakan aksara Lontara, yang termasuk dalam rumpun aksara Brahmi; aksara ini juga digunakan untuk bahasa Makassar dan bahasa Mandar. Nama Lontara berasal dari kata Melayu untuk pohon siwalan (atau *palmyra palm*), yaitu lontar; daun pohon ini merupakan bahan tradisional untuk naskah di India, Asia Tenggara, dan Indonesia. Namun, saat ini bahasa tersebut sering ditulis menggunakan alfabet Latin.
Lontara Bugis
Lontara Bugis (yang secara lokal dikenal sebagai Aksara Ugi) memiliki pelafalan yang sedikit berbeda dibandingkan aksara Lontara lainnya, seperti Lontara Makassar. Seperti aksara-aksara turunan Brahmi lainnya, aksara ini menggunakan tanda diakritik untuk membedakan bunyi vokal [i], [u], [e], [o], dan [ə] dari vokal dasar bawaan /a/ (yang sebenarnya dilafalkan sebagai [ɔ]). Vokal dasar ini secara implisit terkandung dalam setiap huruf konsonan (termasuk huruf konsonan nol '*a*').
Akan tetapi, berbeda dengan sebagian besar aksara turunan Brahmi lainnya dari India, aksara Bugis secara tradisional tidak memiliki tanda virama (atau bentuk setengah huruf untuk konsonan tanpa vokal, maupun bentuk subskrip untuk konsonan non-awal dalam gugus konsonan) untuk menghilangkan vokal bawaan tersebut. Akibatnya, penulisan gugus konsonan, konsonan ganda (*geminasi*), ataupun konsonan akhir kata pada umumnya tidak dapat dilakukan (meskipun beberapa tanda tambahan kemudian diperkenalkan—yang berasal dari bentuk ligatur—untuk menandai prenasalisasi).
Dialek
Bahasa Bugis terdiri dari beberapa dialek. Seperti dialek Pinrang yang mirip dengan dialek Sidrap, dialek Bone (yang berbeda antara Bone utara dan selatan), dialek Soppeng, dialek Wajo (juga berbeda antara Wajo bagian utara dan selatan, serta timur dan barat), dialek Barru, dialek Sinjai dan sebagainya. Selain itu, terdapat dialek Sebira yang dituturkan di Pulau Sebira, sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu.
Ada beberapa kosakata yang berbeda selain dialek. Misalnya, dialek Pinrang dan Sidrap menyebut kata "loka" untuk pisang. Sementara dialek Bugis yang lain menyebut "otti" atau "utti", adapun dialek yang agak berbeda yakni kabupaten Sinjai setiap bahasa Bugis yang menggunakan Huruf "W" diganti dengan Huruf "H". Contoh; diawa di ganti menjadi diaha. Huruf "C" dalam dialek bahas Bugis lain, dalam dialek Sinjai berubah menjadi "SY". Contoh, "cappa" (ujung) menjadi "syappa".
Karya sastra terbesar dunia yaitu I Lagaligo menggunakan bahasa Bugis tinggi yang disebut bahasa Torilangi. Bahasa Bugis umum menyebut kata Menre' atau Manai untuk kata yang berarti "ke atas/naik". Sedang bahasa Torilangi menggunakan kata "Manerru". Untuk kalangan istana, ahasa Bugis juga mempunyai aturan khusus. Jika orang biasa yang meninggal digunakan kata "Lele ri Pammasena" atau "mate". Sedangkan jika Raja atau kerabatnya yang meninggal digunakan kata "Mallinrung".
Dialek luar Sulawesi Selatan
Berikut ini adalah daftar dialek bahasa Bugis yang dituturkan oleh diaspora etnis Bugis di luar wilayah asal mereka di Sulawesi Selatan, antara lain:
Referensi
- 1 2 Bugis di Ethnologue (22nd ed., 2019)
- ↑ "Bahasa Bugis". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- ↑ T. Ambo, T. Joeharnani. "The Bugis-Makassarese: From Agrarian Farmers to Adventurous Seafarers". Aboriginal, Australia, Marege', Bugis-Makassar, Transformation. Universitas Hassanuddin: 2.
- ↑ Abidin 1971, hlm. 165–166.
- ↑ Cummings 2007, hlm. 8.
- ↑ Hall 1965, hlm. 358.
- ↑ Ammarell, Gene (2002). "Bugis Migration and Modes of Adaptation to Local Situstions". Ethnology. 41 (1): 51–67. doi:10.2307/4153020. ISSN 0014-1828. JSTOR 4153020.
- ↑ Nor Afidah Abd Rahman. "Bugis trade | Infopedia". eresources.nlb.gov.sg. Diakses tanggal 2020-09-05.
- ↑ Sirk, Ülo (1983). The Buginese language. Moscow: Akademia Nauk.
- ↑ Ritumpanna wélenrénngé: sebuah episoda sastra Bugis klasik Galigo (dalam bahasa Indonesia) (ISBN9789794613184) halaman 77, Table 6
Daftar pustaka
- Abidin, Andi Zainal (1971). "Notes on the Lontara' as historical sources". Indonesia. 12 (12): 159–172. doi:10.2307/3350664. hdl:1813/53521. JSTOR 3350664.
- Cummings, William P. (2007). A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq. KITLV Press. ISBN 978-9067182874.
- Hall, D. G. E. (1965). "Problems of Indonesian Historiography". Pacific Affairs. 38 (3/4): 353–359. doi:10.2307/2754037. JSTOR 2754037.
Pranala luar
- Dialek Soppeng
- The I La Galigo Epic Cycle of South Celebes and Its Diffusion
- Bahasa-bahasa di Sulawesi Selatan
- Tabel Unicode untuk aksara bahasa Bugis
| Utama |
| ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Minoritas signifikan |
| ||||||
| Keluarga | |||||||
| Kreol | |||||||
| Asli & Pribumi |
| ||||||
| Campuran | |||||||
| Imigran | |||||||
| Isyarat |
| ||||||
1 Bahasa mati. 2 Bahasa yang hampir mati. | |||||||
Templat:Rumpun bahasa Austronesia
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |

