Rabu, 30 September 2026
00:33 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Bahasa Bali

Bahasa Bali

bahasa Melayu-Polinesia yang dituturkan di pulau Bali

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai bahasa Pali.
Bahasa Bali
BPS: 0096 0
Basa Bali
ᬩᬲᬩᬮᬶ
250px-Basa_Bali_in_Balinese_script.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Basa Bali (bahasa Bali) ditulis dalam aksara Bali
Pengucapan[ˈbasə ˈbali] (umum, baku)
[ˈbaso ˈbali] (dialek Bali selatan, Bali tengah, Bali barat, dan Bangli)
[ˈbasa ˈbali] (dialek Bali Aga/Mula)[1]
Dituturkan di
  • Indonesia
  • serta negara-negara dengan diaspora Bali
Wilayah
EtnisBali
Bali Aga/Mula
Loloan
Tionghoa Bali
Penutur
(3,3 juta per 2000)
Perincian data penutur

Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[2]

Lihat sumber templat}}
20px-Info_Simple.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailBeberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Melayu-Sumbawa (usang) Lihat butir Wikidata
        Cari tahu mengapa. Dikarenakan tidak ada ciri-ciri yang mendefinisikan rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat secara pasti sebagai subkelompok, penggolongan terbaru telah ditinggalkan.Referensi:
        K. Alexander Adelaar & Nikolaus Himmelmann. 2005. The Austronesian languages of Asia and Madagascar: A historical perspective, pp. 1-42, London, Routledge ISBN 0-7007-1286-0
Tampilkan klasifikasi manual
Bentuk awal
Bentuk baku
Bahasa Bali Baku/Standar[5]
Bahasa Bali Kapara (dalam tingkatan bahasa)[6]
Dialek
Alfabet Latin (alfabet bahasa Bali)
Aksara Bali
Status resmi
Diatur olehBadan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Lembaga Bahasa, Aksara dan Sastra Bali[7]
Kode bahasa
ISO 639-2ban
ISO 639-3ban
Glottologbali1278
IETFban
BPS (2010)0096 0
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
Terancam
CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman
NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Not Endangered

Bahasa Bali diklasifikasikan sebagai bahasa aman ataupun tidak terancam (NE) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL Ethnologue: C5 DevelopingBahasa Bali dikategorikan sebagai C5 Developing menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini mengalami peningkatan jumlah penutur dari waktu ke waktu
Referensi: [8][9][10]
Informasi penggunaan templat turunan
Sampel
Informasi berkas Video yang lain 
Seorang wanita berbicara menggunakan bahasa Bali (dalam tingkatan basa alus (singgih))
Sampel teks
Pasal 1 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dalam bahasa Bali. (Teks)
ᬲᬫᬶ ᬫᬦᬸᬲᬦᬾ ᬲᬦᬾ ᬜ᭄ᬭᬸᬯᬤᬶ ᬯᬦ᭄ᬢᬄ ᬫᬭ᭄ᬤᬾᬓ ᬢᬸᬃ ᬫᬤᬸᬯᬾ ᬓᬳᬸᬢ᭄ᬢᬫᬳᬦ᭄ᬮᬦ᭄ᬳᬓ᭄ᬳᬓ᭄ᬲᬦᬾ ᬧᬢᭂᬄ᭟ᬲᬫᬶ ᬓᬮᬸᬕ᭄ᬭᬵᬳᬶᬦ᭄ᬧᬧᬶᬦᭂᬄ ᬮᬦ᭄ᬳᬶᬤᭂᬧ᭄ᬢᬸᬃ ᬫᬗ᭄ᬤᬦᬾ ᬧᬟ ᬫᬲᬯᬶᬢ᭄ᬭ ᬫᭂᬮᬭᬧᬦ᭄ᬲᭂᬫᬗᬢ᭄ᬧᬓᬸᬮᬯᬭ᭄ᬕᬳᬦ᭄᭞

Sami manusané sané nyruwadi wantah mardéka tur maduwé kautamaan lan hak-hak sané pateh. Sami kalugrahin papineh lan idep tur mangdané pada masawitra melarapan semangat pakulawargaan.
Teks tidak ditampilkan dengan benar?
Terjemahan: ⓘ
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
Alih aksara: 
Alih aksara ini sedang dilindungi
Alih aksara ini sedang dilindungi
Sami manusane sane nyruwadi wantah merdeka tur maduwe kautamaan lan hak-hak sane pateh. Sami kalugrain papineh lan idep tur mangdane pada masawitra melarapan semangat pakulawargaan.
Sampel teks lainnya
Sampel suara
noicon
Lokasi penuturan
500px-Balinese_language_distribution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bahasa Bali merupakan bahasa pertama maupun bahasa mayoritas
Bahasa Bali merupakan bahasa mayoritas dengan bahasa lain juga digunakan atau sebagai bahasa kedua seperti bahasa Jawa, Sasak dan Melayu
Bahasa Bali merupakan bahasa minoritas
500px-Peta_bahasa_di_Lombok.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penuturan bahasa Bali di Lombok bersamaan dengan bahasa Sasak
osm-intl,7,a,a,300x250.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Bahasa_Bali&revid=29899724&groups=_033dde11e0abf3d6bdf644fcab51921581ef22e3&parser=parsoidTampilkan seluruh penuturan
osm-intl,8,a,a,300x250.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Bahasa_Bali&revid=29899724&groups=_033dde11e0abf3d6bdf644fcab51921581ef22e3&parser=parsoidTampilkan tampilan yang diperbesar
Peta interaktif yang menunjukkan persebaran penuturan bahasa Bali di wilayah Pulau Bali, Nusa Penida, Pulau Lombok dan sekitarnya. Tekan peta untuk mengakses peta interaktif.
Koordinat: 8°21′S 115°5′E / 8.350°S 115.083°E / -8.350; 115.083 Sunting di Wikidata
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Tentang artikel
40px-Openstreetmap_logo.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
40px-Wikipedia-logo-v2.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Proyek pemetaan bahasa
ProyekWiki Bahasa
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 664 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
120px-Logo_ProyekWiki_Bahasa.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak
Artikel ini mengandung aksara Bali. Tanpa dukungan perenderan yang baik, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter aksara Bali.

Bahasa Bali (Endonim: Basa Bali, Aksara Bali: ᬩᬲᬩᬮᬶ, pengucapan dalam IPA: [ˈbasə ˈbali], atau Bhāṣā Bali, ᬪᬵᬱᬵᬩᬮᬶ)[11] adalah bahasa yang termasuk kedalam kelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan oleh sekitar 3.3 juta jiwa pada tahun 2000 yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan juga tersebar di Nusa Penida, Lombok bagian barat, dan Jawa bagian timur,[12] hingga Sumatra bagian selatan dan Sulawesi.[13] Diperkirakan bahwa pada tahun 2011, terdapat kurang dari 1 juta orang yang masih menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama mereka di Bali.

Bahasa Bali juga termasuk kedalam kelompok rumpun bahasa Bali-Sasak-Sumbawa yang berarti bahasa ini memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Bahasa Sasak di pulau Lombok dan Bahasa Sumbawa di pulau Sumbawa.

Di Lombok, bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, yaitu dialek bahasa Jawa orang Osing Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Di daerah-daerah transmigrasi orang Bali yang signifikan seperti di Sulawesi dan Lampung bahasa Bali juga masih tetap digunakan.

Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 3,3 juta jiwa berdasarkan data sensus tahun 2000 bahasa ini digolongkan sebagai bahasa yang "tidak terancam" oleh Glottolog.[14] Kebanyakan penutur bahasa Bali juga menuturkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar etnis.

Tingkatan bahasa

250px-Tingkat-tingkatan_bahasa_Bali.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tingkat-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali.

Bahasa Bali seperti halnya Bahasa Jawa dan Bahasa Sasak juga memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya, dan Bali Kasar. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa Jawa menyebar ke Bali sejak zaman Majapahit menguasai Bali.

  • Basa Alus. Bahasa Alus atau bahasa singgih merupakan bahasa yang digunakan untuk menghormati atau meninggikan. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
    • Basa Bali Alus Singgih (a.si), digunakan ketika berbicara kepada sulinggih (brahman), penguasa dunia, pejabat tinggi, dan orang-orang penting.
    • Basa Bali Alus Madia (a.ma), dipakai ketika berbicara dengan bahasa lembut, tetapi tidak diketahui apakah pembicara harus meninggikan atau merendahkan nada bicaranya.
    • Basa Alus Mider (a. mi), merupakan bahasa halus yang menghiasi penggunaannya ketika berbicara kepada ras atas maupun ras bawah yang seharusnya dihormati.
    • Basa Bali Alus Sor (a. so), dipakai oleh orang pada waktu bercerita atau menyebut dirinya apabila sedang berbicara dengan sanak saudara yang dihormati. Basa alus sor digunakan untuk merendahkan diri ketika berbicara kepada ras yang lebih tinggi atau seseorang yang seharusnya dihormati. Kata-kata yang digunakan untuk berbicara adalah kata-kata yang lembut.
  • Bali Mider / Madia, digunakan saat mengajar di banjar, sekolah, dan tempat lain yang banyak penduduknya. Bahasa ini bukan bahasa yang sombong atau kasar, akan tetapi digunakan untuk menghormati orang-orang yang patut dihormati dan orang-orang yang rendah hati (jaba/kawula) serta orang-orang yang tidak dikenal.
  • Bali Rendah atau Kapara, digunakan saat berbicara dengan teman, saudara, dan orang yang sudah dikenal sejak zaman dahulu. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
  • Basa Bali Sor, adalah bagian dari bahasa Bali rendah yang digunakan untuk berbicara kepada orang yang dipanggil; kelas bawah, sesama orang asing, atau persahabatan dekat atau saat sedang berkelahi/adu mulut dengan lawan bicara.
    • Basa kasamén/kapara (b.s), kata lingganipun dari sami, mendapat awalan ka- diikuti akhiran -an menjadi kasamian, berpasangan dengan kasamén. Menjadi bahasa kasamén yang berarti bahasa rendah yang dapat digunakan oleh semua orang dan tidak bermaksud meninggikan atau merendahkan.
    • Basa Bali Kasar (b.k), Bahasa kasar ini juga merupakan bentuk bahasa rendah, yang digunakan terhadap teman dekat yang sudah akrab, tingkatan bahasa ini sering digunakan ketika sedang berkelahi/adu mulut, tingkatkan ini tidak dianjurkan digunakan untuk orang yang belum/baru dikenal, tingkatkan ini sebisa mungkin dihindari penggunanya tapi masih banyak yang memakainya terutama oleh kalangan anak-anak muda, berbeda dengan bahasa Bali halus yang kosakatanya sama di setiap wilayah, pemakaian kosakata dalam bahasa kasar dapat berbeda-beda tergenang dialek di masing-masing daerah atau kabupaten/kota di Bali.[15]

Klasifikasi

Bahasa Bali termasuk dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam rumpun Melayu-Polinesia, bahasa Bali berada di subcabang Bali-Sasak-Sumbawa.[16] Terdapat dua dialek utama dari bahasa Bali, yakni bahasa Bali yang dituturkan di pegunungan dan dataran tinggi, bahasa Bali dataran rendah, dan penuturan di Nusa Penida dan Lombok.[14]

Demografi

Menurut sensus tahun 2000, bahasa Bali dituturkan oleh sekitar 3,3 juta orang di Indonesia yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan area sekitarnya.

Pada 2011, diperkirakan hanya terdapat tidak lebih dari 1  juta orang yang menuturkan bahasa Bali. Hal ini dikarenakan masyarakat pada wilayah perkotaan hanya mengajarkan bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa Inggris pada anak-anak mereka, serta penggunaan bahasa Bali dalam media massal terlah menghilang. Bentuk tertulis daribahasa Bali semakin asing bagi penutur bahasa itu sendiri dan sebagian besar masyarakat Bali menggunakan bahasa Bali hanya sebagai alat komunikasi lisan, sering kali mencampurkannya dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Namun di daerah transmigrasi di luar Pulau Bali, bahasa Bali banyak digunakan dan diyakini berperan penting dalam kelangsungan bahasa tersebut.[17]

Fonologi

Vokal

Terdapat 6 vokal di dalam kotak fonem bahasa Bali

Depan Madya Belakang
Tertutup /i/ /u/
Tengah /e/ /ə/ /o/
Terbuka /a/

Ejaan formal dari bahasa Bali membuat fonem /a/ dan /ə/ ditulis sebagai ⟨a⟩. Walaupun demikian, ⟨a⟩ sering kali dilafalkan sebagai [ə] hanya saat terletak pada akhir kata, serta pada awalan ma-, pa-, dan da-.[18]

Konsonan

Ada 18 konsonan di dalam kotak fonem Bahasa Bali:

Balinese consonants
Dwibibir Rongga
gigi
Langit
langit
Lang.
belakang
Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Hentian/Gesek pb td tʃdʒ kg
Geseran s h
Hampiran w l j
Getar r

Tergantung dialeknya, fonem /t/ dapat dilepaskan sebagai konsonan hentian rongga-gigi maupun tarik-belakang. Hal ini sangat berbeda ketimbang banyak bahasa di Indonesia, termasuk bahasa Indonesia, yang mempunyai konsonan dentalik /t/ dengan alofoni rongga-gigi.[13]

Alofon

Sebuah ciri khas dan menjadi keistimewaan bahasa Bali ialah bahwa fonem eksplosif tak bersuara /t/ dilafalkan sebagai [t] pada posisi akhir, tetapi pada posisi awal dan tengah dilafalkan sebagai [ʈ] (t retrofleks).

Vokal /a/ pada posisi akhir terbuka dilafalkan sebagai [ĕ]. Misalkan kata Kuta, nama pantai termashyur di Bali, dilafalkan sebagai [k'uʈĕ].

Sukukata

Seperti bahasa Austronesia lainnya, bahasa Bali juga cenderung dengan kata-kata dwisukukata dan berbentuk KVKVK. Namun dalam mereduplikasi sebuah sukukata monosilabik berbentuk KVK, maka dalam bahasa Bali ini biasanya menjadi KVKKVK berbeda dengan bahasa Melayu dan Jawa:

MelayuBaliJawa
kukuskuskusdang (bentuk berbeda)
ngengatngetngetngĕngĕt

Kekerabatan

Bahasa Bali dalam keluarga bahasa Austronesia sering ditengarai paling dekat berkerabat dengan bahasa Jawa. Namun hal ini tidaklah demikian. Bahasa Bali paling dekat dengan bahasa Sasak dan beberapa bahasa di pulau Sumbawa bagian barat. Kemiripannya dengan bahasa Jawa hanya karena pengaruh kosakata atas bahasa Jawa karena aktivitas penaklukan Jawa pada masa lampau, terutama pada abad ke-14 Masehi. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Bahkan dalam keluarga Austronesia, secara fonologis bahasa Bali lebih mirip bahasa Melayu daripada bahasa Jawa. Namun fonem /r/ pada posisi akhir dalam bahasa Melayu, sering kali menjadi /h/ pada bahasa Bali. Hal ini bisa terbukti dengan senarai perbandingan kosakata dasar bahasa Melayu, Bali, Jawa Kuno dan Jawa Baru:

MelayuBaliJawa KunoJawa Baru
duaduarwaro, loro
jalanjalandalandalan
dengardingěhrĕngörungu
jarumjaumdomdom
jauhjohadwahadoh
adaadahanaana
beliběliwĕli, tukutuku
jari, jerijijriji(?)driji
betis, kakibatis, baisjöng, sukusikil
hidupiduphuripurip
air, ayeryèh,toyewwaywe, banyu
buahbuah, wohwwahwoh
diringri, ringi, ing
telurtaluhantigatigan, ĕndhog
jemurjěmuh(?)pepe
bungabungakambang
sĕkar
kĕmbang
sĕkar
nasinasisĕga
sĕkul
sĕga
sĕkul
hujanujanhudanudan
MelayuBaliBanjar
telurtaluhhintalu
kaki, betisbatis, baisbatis
perahujukungjukung
bulusbedwangbidawang
hujanujanujan
jarijrijijariji
dengardingěhdangar
jemurjěmuhjamur
jalanjalanjalan
hidupiduphidup
duadua,kalihdua

Pengaruh bahasa Jawa

Bahasa Bali banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa:

MelayuBaliJawa
sudahsampunsampun
meninggalsedasedå
datangrauhrawuh
darisakingsaking
artitegestĕgĕs
cintatresnatresnå
kalauyenyen
Perbandingan Tingkatan Bahasa pada Bahasa Bali dan Bahasa Jawa[19]
Indonesia Bali (Andap) Kognat

Jawa Kuno

Tingkatan pada

Jawa Baru

Bali (Alus) Kognat

Jawa Kuno

Tingkatan pada

Jawa Baru

lagi buin ? - malih malih tinggi
semua makejang ? - sami sami tinggi
sudah suba ? - sampun sampun tinggi
dan muah muwah rendah miwah miwah tinggi

Kosakata khas Bali

Di atas sudah diapaparkan kosakata yang mirip dengan bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Sekarang kosakata khas Bali dipaparkan:

MelayuBaliJawa
kau (kasar)cai untuk laki-laki/nyai untuk wanita (kasar)kowe, sirå, rikå
sungaitukadsungay (Jawa Kuno)
kali
lepen
yangsaneingkang, kang, sing
dukun, tabibbaliandhukun

Konsep geografis

Berbeda dengan banyak suku bangsa di dunia, tetapi masih mirip dengan suku bangsa penutur bahasa Austronesia lainnya, orang Bali dalam menentukan arah berorientasi bukan pada arah mata angin yang pasti namun pada letak kawasan geografis, pada kasus Bali ini pada letak gunung dan laut. Oleh karena itu arah mata angin bisa berubah-ubah sesuai tempatnya.

Kaja berarti arah menuju gunung. Oleh karena itu, terjemahan istilah 'kaja' dalam Bahasa Melayu adalah 'Utara' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Selatan'. Kelod berarti arah menuju laut. Berbalik dengan istilah 'kaja' di atas, jadi stilah 'kelod' dalam Bahasa Melayu adalah 'Selatan' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Utara'. Kauh berarti Barat, dan kangin berarti Timur. Hal ini sama untuk masyarakat Bali Selatan dan Bali Utara. Perbedaan tata-cara menyebut utara dan selatan ini sering menyebabkan kesalahpahaman jika orang Bali Selatan bertanya dalam Bahasa Bali kepada orang Bali Utara, karena perbedaan acuan. Acuan 'gunung' yang sering dipakai adalah titik pusat pulau Bali yaitu bagian pegunungan Batur dan Gunung Agung.

Tata bahasa

Susunan kalimat dalam bahasa Bali mirip dengan yang ada dalam bahasa Indonesia, serta infleksi morfologi yang terjadi pada verba dan nominanya sangat sedikit dan serupa. Meskipun demikian, morfologi derivasinya cukup luas dan imbuhan dapat ditambahkan untuk menunjukan artikel terhingga maupun tak terhingga, serta menunjukkan kasus posesiva.[18]

Tingkat-tingkatan bahasa Bali
Tingkat-tingkatan bahasa Bali

Variasi/dialek

Bahasa Bali memiliki variasi sejarah (waktu) dan variasi geografis (ruang). Dari berbagai prasasti yang dikeluarkan pada masa sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu (abad ke-10) diketahui ada varian bahasa Bali yang biasa disebut sebagai bahasa Bali Kuno. Kajian mengenai bahasa Bali Kuno pertama kali dilakukan oleh Roelof Goris pada tahun 1950-an dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1970-an. Kamus Bahasa Bali Kuno - bahasa Indonesia telah dirilis oleh Kemendikbud pada tahun 1975.[20]

Suatu dialek yang masih digunakan saat ini adalah bahasa suku Bali Aga, dituturkan di beberapa desa di sekitar Danau Batur dan di wilayah lainnya.

Selain itu, bahasa masyarakat Bali umum (nonvariasi) adalah "bahasa Bali Kapara" atau Bali Lumbrah yang dipakai oleh mayoritas orang Bali sekarang.

Dialek Dataran Rendah

Varietas dataran rendah dituturkan di seluruh dataran dan distrik pesisir yang didefinisikan oleh inovasi fonologis, morfologis, dan leksikal dan terutama dalam elaborasi register; sistem tingkat tutur yang berkembang melalui kontak dengan Bahasa Jawa Kuno dan yang tidak dimiliki oleh Bali Aga (varietas dataran tinggi).[13] Karena inovasi bersama akibat kontak ini, kelompok dataran rendah umumnya diperlakukan sebagai standar dasar bahasa Bali; Pada kongres standardisasi tahun 1974, varietas Buleleng (ibu kotanya Singaraja) dan Klungkung direkomendasikan sebagai model, sebagian karena Singaraja telah lama berfungsi sebagai pusat administrasi, pendidikan, dan sastra pada era kolonial.[13]

Varietas dataran rendah berbeda satu sama lain, seringkali mengikuti garis distrik regional sebelumnya (Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng, Gianyar, Badung, Tabanan, dan Jembrana) dengan variasi yang terkadang terjadi hanya dalam beberapa kilometer.[13] Pembagian internal terbesar adalah antara varietas utara dan timur (Buleleng, Klungkung, dan Karangasem) dan varietas selatan wilayah Denpasar Raya. Perbedaan gramatikal yang menonjol adalah bahwa varietas Denpasar cenderung kehilangan atau menetralkan sufiks verbal dan nominal yang dipertahankan sepenuhnya oleh varietas utara dan timur.[13]

Secara fonologis, varietas Dataran Rendah yang dijelaskan Clynes (1995) untuk Singaraja memiliki delapan belas konsonan dan enam vokal. Hentian apikalnya /t/ bersifat alveolar dan bukan dental, sebuah ciri yang membedakan bahasa Bali dari banyak bahasa Indonesia barat lainnya, termasuk bahasa Indonesia di mana /t/ bersifat dental.[13] Selain itu, /k/ di akhir kata biasanya direalisasikan sebagai hentian glotal, /h/ dihilangkan di awal suku kata dalam percakapan sehari-hari, tekanan jatuh pada suku kata terakhir, dan ⟨a⟩ di akhir kata secara ortografis diucapkan sebagai schwa [ə].[13]

Seorang pria multilingual berbicara dalam berbagai dialek bahasa Bali (Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli, Klungkung, Gianyar, Karangasem)

Dialek Dataran Tinggi

250px-Bali_Aga_dialect_map.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta distribusi bahasa-bahasa Bali Dataran Tinggi (peta ini tidak menunjukkan distribusi di kabupaten Badung dan Tabanan)

Dialek dataran tinggi, juga dikenal sebagai dialek Bali Aga, adalah dialek bahasa Bali yang dituturkan oleh masyarakat Bali Aga di daerah pegunungan dan bagian utara Bali, terutama di pegunungan Kintamani, dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya seperti Bangli, Buleleng, dan Karangasem, serta di Nusa Penida.[21]

Secara keseluruhan, ada dua sub-dialek dataran tinggi yang berbeda dari ragam yang digunakan di wilayah tersebut. Sub-dialek tersebut adalah Dialek Nusa Penida, yang sebagian besar digunakan dalam Nusa Penida, dan dialek Kapara (juga disebut sebagai Bali Kapara) terutama digunakan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng dengan perkiraan 4,883 pengguna.[22] Dialek Nusa Penida dianggap sebagai dialek yang berbeda, namun ada beberapa indikasi bahwa dialek Nusa Penida mungkin merupakan sub-dialek dari dialek dataran tinggi. Menurut Jendra, dkk. (1997), dialek Nusa Penida dan Highland memiliki pola fonologis yang sama seperti yang dijelaskan di bawah ini:[23]

Namun, ada perbedaan penting lainnya antara kedua dialek tersebut, yaitu tidak adanya atau pengurangan distribusi fonem /a/ di posisi akhir kata.

Seorang pria berbicara dialek Bali Aga, direkam di Kintamani

Dialek Nusa Penida

250px-Nusa_Penida_Balinese.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta persebaran dialek Nusa Penida

Saat ini, dialek Nusa Penida banyak digunakan hanya di Nusa Penida di Kabupaten Klungkung. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua masyarakat di Nusa Penida menggunakan dialek Nusa Penida. Ada beberapa kelompok masyarakat yang berkomunikasi menggunakan dialek yang berbeda. Di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, yang terletak di sebelah Nusa Penida, serta di sebagian kecil Nusa Penida yang dekat dengan pulau-pulau tersebut, terdapat dialek yang berbeda dan cukup unik dari dialek Nusa Penida. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah pada kata-kata seperti éda (kamu) dan kola (saya) dalam dialek Nusa Penida. Penutur dialek Nusa Lembongan menggunakan kata-kata seperti cai atau ci (kamu) dan cang (saya). Contoh lain adalah əndək (dialek Nusa Penida) dan tusing atau sing (dialek Nusa Lembongan), géléng-cenik, hangkén-kénkén, dan sebagainya. Hanya 13 dari 16 desa di Nusa Penida yang menggunakan dialek Nusa Penida. Desa-desa lainnya menggunakan dialek Nusa Lembongan atau dialek yang menyerupai bahasa Bali Klungkung daratan seperti dialek yang dituturkan di Desa Kampung Toyapakeh, salah satu desa di Nusa Penida yang tidak menuturkan dialek Nusa Penida di pulau itu.[23]

Dialek Nusa Penida juga digunakan di luar Nusa Penida, terutama karena migrasi penuturnya setelah letusan Gunung Agung pada tahun 1963. Penutur penting berpindah ke Sumatera bagian selatan, khususnya ke Bandar Lampung, Palembang, Mesuji, dan Lampung Selatan.

Seorang pria desa berbicara sehari-hari dalam dialek Bali Nusa Penida

Dialek Lombok

250px-Peta_bahasa_di_Lombok.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta penuturan bahasa Bali di Lombok bersamaan dengan bahasa Sasak, data tahun 1981.

Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Mt (dialek metro). Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk Perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal, bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak. Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.[24]

Sistem penulisan

Bahasa Bali memiliki dua sistem penulisan, yakni aksara Bali dan alfabet Latin.

Aksara Bali

500px-Hanacaraka-bali.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Huruf-huruf dalam sistem penulisan aksara Bali
Catatan: huruf-huruf disini disusun sesuai dengan urutan Hanacaraka.
Artikel utama: Aksara Bali

Aksara Bali (Aksara Bali, ᬅᬓ᭄ᬱᬭᬩᬮᬶ), yang juga disusun sesuai dengan Hanacaraka (ᬳᬦᬘᬭᬓ), merupakan sistem penulisan sejenis abugida yang berasal dari aksara Brahmi di India. Bukti paling awal dari aksara ini berasal dari abad ke-9 Masehi.[25] Pada masa sekarang, aksara Bali tidak digunakan secara massal dan hanya sedikit penutur bahasa Bali yang benar-benar paham cara menggunakannya.[26]

Alfabet bahasa Bali

Sekolah-sekolah serta media komunikasi tertulis yang menggunakan bahasa Bali pada masa kini sering kali menggunakan sistem penulisan berbasis alfabet Latin yang disebut sebagai Tulisan Bali.[27]

Galeri

  • Bahasa Bali yang ditulis dalam aksara Lontar
    Bahasa Bali yang ditulis dalam aksara Lontar
  • Papan petunjuk di Pura Puseh, Batuan, Bali
    Papan petunjuk di Pura Puseh, Batuan, Bali
  • Salah satu halaman Injil yang ditulis dalam aksara Bali
    Salah satu halaman Injil yang ditulis dalam aksara Bali
  • Papan penunjuk jalan di wilayah Singaraja yang ditulis dalam aksara Bali dan alfabet Latin
    Papan penunjuk jalan di wilayah Singaraja yang ditulis dalam aksara Bali dan alfabet Latin
  • Klungkung Regent's Office sign
    Klungkung Regent's Office sign
  • Percobaan untuk menumbuhkan kembali aksara Lontar
    Percobaan untuk menumbuhkan kembali aksara Lontar

Rujukan

  1. 1 2 Tryon, Darrell T. (Juni 2011). Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies (dalam bahasa Inggris). De Gruyter. hlm. 497. ISBN 978-3-11-088401-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Ethnologue (dalam bahasa Inggris) (Edisi 25, 19), Dallas: SIL International, ISSN 1946-9675, OCLC 43349556, OL 20243680W, Wikidata Q14790
  3. ↑ de Casparis 2021, hlm. 25.
  4. ↑ Tryon & Dutton 2010, hlm. 155.
  5. ↑ "MORFOLOGI INFLEKSIONAL DAN DERIVASIONAL PADA BAHASA BALI STANDAR". ResearchGate.
  6. ↑ "Bahasa Bali Kepara Atau Bahasa Bali Lumrah | PDF".
  7. ↑ "Peraturan Daerah Provinsi Bali No 1 Tahun 2018 Tentang Bahasa, Aksara, Dan Sastra Bali". Article 12, Regional Regulation No. 1 Tahun 2018.
  8. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
  10. ↑ "Bahasa Bali". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  11. ↑ "Sor Singgih Basa Bali". ladra-bali.blogspot.com. Diakses tanggal 10 Mei 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Ethnologue.
  13. 1 2 3 4 5 6 7 8 Clynes, Adrian (1995). Topics in the Phonology and Morphosyntax of Balinese (PhD tesis). Australian National University. doi:10.25911/5d77865d38e15. hdl:1885/10744.
  14. 1 2 "Glottolog 4.3 - Balinese". glottolog.org. Diakses tanggal 2021-04-27.
  15. ↑ "Sor Singgih Basa Bali". ladra-bali.blogspot.com. Diakses tanggal 10 Mei 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ Adelaar, K. Alexander (2005). "The Austronesian languages of Asia and Madagascar: a historical perspective". Dalam Adelaar, K. Alexander; Himmelmann, Nikolaus (ed.). The Austronesian languages of Asia and Madagascar. London: Routledge. hlm. 1–42.
  17. ↑ Ni Komang Erviani (30 Maret 2012). "Balinese Language 'Will Never Die'". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris).
  18. 1 2 Spitzing, Günter (2002). Practical Balinese: Phrasebook and Dictionary. Rutland VT: Tuttle Publishing. hlm. 22.
  19. ↑ Clynes, Adrian (1994-12-31). Dutton, Tom; Tryon, Darrell T. (ed.). Old Javanese influence in Balinese: Balinese speech styles. DE GRUYTER MOUTON. hlm. 141–180. doi:10.1515/9783110883091.141. ISBN 978-3-11-012786-7.
  20. ↑ Granoka, I.W.O; et al. (1975). Kamus Bali Kuno - Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.{{cite book}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |last=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  21. ↑ Bawa, I Wayan (1983). "Bahasa Bali di Daerah Bali: Sebuah Pemerian Geografi Dialek". Disertasi Fakultas Sastra. Jakarta: Universitas Indonesia.
  22. ↑ Putu Evi Wahyu Citrawati; Wayan Teguh; Putu N. Widarsini; Gede Eka Wahyu (September 2019). "Morfologi Bahasa Bali Aga Dialek Sembiran, di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng". Linguistika. 26 (2). Universitas Udayana. ISSN 0854-9613.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  23. 1 2 I Ketut Serawan (17 Mei 2020). ""Basa Nosa", Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?".
  24. ↑ https://www.neliti.com/id/publications/500940/inovasi-leksikal-bahasa-bali-di-lombok-kajian-dialektologi
  25. ↑ Beratha, Ni Luh Sutjiati (1992). Evolution of Verbal Morphology in Balinese (PhD tesis). Australian National University. doi:10.25911/5d7786429c1ff. hdl:1885/109364.
  26. ↑ "Balinese (Basa Bali)". Omniglot. Diakses tanggal 2021-01-30.
  27. ↑ Eiseman, Fred B. Jr. "The Balinese Languages". Bali Vision. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-08-19.

Pranala luar

Wikisource logo
Edisi Bahasa Bali di Wikisource, perpustakaan bebas
Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan