Minggu, 25 Oktober 2026
02:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Bahasa kedua

Bahasa kedua

bahasa yang dituturkan selain bahasa ibu

Bagikan:
250px-Human_Language_Families.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh oleh manusia setelah pemerolehan bahasa pertama dengan penguasaan bahasa yang relatif sempurna. Kegunaan bahasa kedua hanya pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan manusia. Fungsinya lebih sedikit dibandingkan dengan bahasa pertama.[1] Proses pemerolehan bahasa kedua oleh manusia terjadi dalam keadaan sadar.[2] Salah satu proses pemerolehan bahasa kedua ialah dengan kegiatan menyimak.[3]

Pemerolehan

Pemerolehan bahasa kedua dapat dimulai oleh manusia ketika masih dalam usia anak. Proses pemerolehannya melalui pendengaran. Kondisi pemerolehan bahasa kedua pada anak dibedakan menjadi bilingual simultan dan bilingual sekuensial. Bilingual simultan merupakan pemerolehan bahasa kedua pada anak dengan mendengar lebih dari satu bahasa sejak lahir. Sementara bilingual sekuensial ialah proses pemerolehan bahasa kedua oleh anak setelah memperoleh bahasa ibu.[4]

Penguasaan

Penguasaan terhadap bahasa kedua dipengaruhi oleh hubungannya dengan bahasa pertama. Bahasa kedua dapat dikuasai dengan baik ketika hubungannya sangat erat dengan bahasa pertama khususnya pada bahasa lisan. Selain itu, penguasaan bahasa kedua juga ditentukan oleh tingkat kesempatan penggunaannya. Semakin banyak kesempatan menggunakan bahasa kedua maka proses penguasaannya juga semakin cepat.[5]

Teori

Teori akuisisi bahasa kedua

Teori akuisisi bahasa kedua dikemukakan oleh Tracy Terrell dan Stephen Krashen pada tahun 1983. Gagasan tertulisnya diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Pendekatan Alam. Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran bahasa kedua dapat dilakukan dengan meniru kondisi pemerolehan bahasa alami. Krashen berperan dalam menyusun teori, sementara Terrell berperan dalam menyiapkan ruang kelas untuk percobaan. Keduanya mengadakan penelitian untuk teori akuisisi bahasa pada akhir peiode tahun 1970-an hingga awal periode tahun 1980-an. Dalam teori ini pembelajaran bahasa dipusatkan pada komunikasi, kesadaran akan tata bahasa dan koreksi kesalahan berbahasa secara terus terang.[6]

Referensi

  1. ↑ Harras, K. A., dan Bachari, A. D. (2009). Sudana, Dadang (ed.). Dasar-Dasar Psikolinguistik (PDF). UPI Press. hlm. 72. ISBN 979-378-906-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Mislikhah, St. (2018). "Pemerolehan Bahasa Kedua pada Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak Dewi Masyithih I Kraton Kencong Jember" (PDF). Sastranesia: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 6 (4): 2. ISSN 2598-8271.
  3. ↑ Karmila, M., dan Purwadi (2019). Pembelajaran Bahasa untuk Anak Usia Dini (PDF). Semarang: UPT Penerbitan Universitas PGRI Semarang Press. hlm. 82. ISBN 978-602-5784-71-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Salikin, Hairus (2014). Memahami Pemikiran Pasty M. Lightbown dan Nina Spada tentang Bagaimana Bahasa Dipelajari (PDF). Jember: Jember University Press. hlm. 2. ISBN 978-602-9030-56-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Oktradiksa, Ahwy (2013). "Pemerolehan Bahasa Pertama" (PDF). Tarbiyatuna. 4 (1): 237. ISSN 2086-0889.
  6. ↑ Wicaksono, A., dkk. (2015). Wicaksono, A., dan Roza, A. S. (ed.). Teori Pembelajaran Bahasa: Suatu Catatan Singkat (PDF). Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca. hlm. 314. ISBN 978-602-7949-72-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan