Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2026)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
| Bahasa Aceh BPS: 0001 2
Bahsa/Basa Acèh • باس اچيه | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Bahsa Acèh ditulis dalam ejaan EBAYD, ejaan Husaini, dan abjad Arab (Jawoe) | |||||||||||||||||
| Pengucapan | [bahsaat͡ʃɛh] | ||||||||||||||||
| Dituturkan di | Indonesia Malaysia | ||||||||||||||||
| Wilayah | |||||||||||||||||
| Etnis | Aceh | ||||||||||||||||
Penutur | 3.500.000 (2000)[1]
Perincian data penutur Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[2]
| ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
Bentuk baku | |||||||||||||||||
| Dialek | |||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| Status resmi | |||||||||||||||||
Bahasa resmi di | Indonesia | ||||||||||||||||
| Diatur oleh | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
| ||||||||||||||||
| Kode bahasa | |||||||||||||||||
| ISO 639-2 | ace | ||||||||||||||||
| ISO 639-3 | ace | ||||||||||||||||
| Glottolog | achi1257 | ||||||||||||||||
| IETF | ace | ||||||||||||||||
| BPS (2010) | 0001 2 | ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||||||||||
Lokasi penuturan Bahasa Aceh | |||||||||||||||||
| Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini. | |||||||||||||||||
| Koordinat: 3°54′N 96°36′E / 3.900°N 96.600°E / 3.900; 96.600 | |||||||||||||||||
| L •B •PW | |||||||||||||||||
Bahasa Aceh (Endonim: Bahsa/Basa Acèh, Jawoë: باس اچيه, pengucapan dalam IPA: [bahsaat͡ʃɛh]) adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Aceh yang terdapat di wilayah pesisir, sebagian pedalaman dan sebagian kepulauan di Aceh. Bahasa ini juga dituturkan oleh keturunan Aceh di beberapa wilayah Malaysia seperti di Distrik Yan, Kedah. Bahasa Aceh digunakan sebagai bahasa ko-resmi di provinsi Aceh, bersama dengan Bahasa Indonesia.[4] Bahasa Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Chamik, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia.[8]
Pengelompokan
Bahasa Aceh termasuk dalam kelompok bahasa Chamic, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa yang memiliki kekerabatan terdekat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Cham, Roglai, Jarai, Rade dan 6 bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Chamic. Bahasa-bahasa lainnya yang juga berkerabat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Melayu dan bahasa Minangkabau.[butuh rujukan]
Persebaran
Bahasa Aceh tersebar terutama di wilayah pesisir Aceh. Bahasa ini dituturkan mulai dari Manyak Payed, Aceh Tamiang di pesisir timur sampai ke Trumon, Aceh Selatan di pesisir barat.
Pesisir Timur Aceh
- Kota Sabang
- Banda Aceh
- Aceh Besar
- Pidie
- Pidie Jaya
- Bireuen
- Aceh Utara
- Lhokseumawe
- Aceh Timur (kecuali di 3 kecamatan, Serba Jadi, Peunaron and Simpang Jernih di mana bahasa Gayo dipakai)
- Langsa
- Aceh Tamiang, di kecamatan Manyak Payed
Pesisir barat Aceh
- Aceh Jaya
- Aceh Barat
- Nagan Raya
- Aceh Barat Daya (kecuali di kecamatan Susoh di mana bahasa Jamee dituturkan)
- Aceh Selatan (bercampur dengan bahasa Kluet dan bahasa Jamee)
Sejarah

Pada tahun 1931 pemerintah Hindia Belanda di Aceh menghendaki supaya bahasa Aceh dipergunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat, di samping bahasa Melayu yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Namun para cendekiawan Aceh yang di antaranya terdiri dari beberapa tokoh ulee balang tidak menyetujui maksud pemerintah Hindia Belanda tersebut. Para cendekiawan Aceh menganggap usaha pemerintah itu akan mencegah berkembangnya bahasa Melayu di Aceh. Dengan demikian akan menghambat rakyat Aceh untuk mengerti bahasa tersebut yang amat diperlukan bagi pengembangan ekonomi mereka, dan dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Namun, pemerintah Hindia Belanda di Aceh tetap bersikeras untuk melaksanakan rencana itu. Maka pada tanggal 1 Juli 1932, pemerintah Hindia Belanda menetapkan secara resmi pemakaian bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat sebagai pengganti bahasa Melayu kecuali di beberapa daerah yang tidak dihuni oleh etnis Aceh.
Meskipun bahasa Aceh telah ditetapkan sebagai bahasa pengantar sejak tanggal l Juli 1932, tetapi bahasa Melayu pada beberapa sekolah masih tetap digunakan. Menurut laporan umum pemerintah Hindia Belanda tentang pendidikan di Aceh pada tahun 1933 dan tahun 1934, masih terdapat 88 buah sekolah rakyat yang berada di kota-kota besar di Aceh yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, dan yang lainnya (sebanyak 207 buah) telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar. Sekolah yang telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar yaitu Langsa 16 sekolah, Lhok Seumawe 60 sekolah, Sigli 42 sekolah, Kutaraja 42 sekolah, Meulaboh 30 sekolah dan Tapak Tuan 17 sekolah. Sedangkan sekolah-sekolah yang tetap menggunakan bahasa Melayu yaitu Langsa 38 sekolah, Lhok Seumawe 5 sekolah, Sigli 6 sekolah, Kutaraja 7 sekolah, Meulaboh 1 sekolah dan Tapak Tuan 34 sekolah.
Menurut J. Jongejans yang menjabat sebagai residen di Aceh sejak 5 Maret 1936 hingga bulan September 1938, pada tahun 1939 dari 328 buah jumlah sekolah rakyat yang terdapat di seluruh Aceh, 210 buah di antaranya telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa bantu/pengantar di sarnping bahasa Melayu.[9]
Literatur

Sampai saat ini manuskrip berbahasa Aceh tertua yang dapat ditemukan berasal dari tahun 1069 H (1658/1659 M) yaitu Hikayat Seuma'un.[10]
Sebelum penjajahan Belanda (1873–1942), hampir semua literatur berbahasa Aceh berbentuk puisi dalam bentuk hikayat atau nazam. Sedikit sekali yang berbentuk prosa dan salah satunya adalah Kitab Bakeu Meunan yang merupakan terjemahan kitab Qawaa'id al-Islaam.[11]
Setelah kedatangan Belanda barulah muncul karya tulis berbahasa Aceh dalam bentuk prosa yaitu pada tahun 1930-an, seperti Lhee Saboh Nang yang ditulis oleh Aboe Bakar dan De Vries.[12] Setelah itu barulah bermunculan berbagai karya tulis berbentuk prosa tetapi demikian masih tetap didominasi oleh karya tulis berbentuk hikayat.
Ensiklopedia pertama dalam bahasa Aceh yaitu Wikipedia bahasa Aceh diluncurkan pada 12 Agustus 2009.[13][14]
Terjemah Al-Quran berbahasa Aceh dalam bentuk prosa diterbitkan oleh Kementerian Agama pada tanggal 13 Desember 2018.[15]
Sampai saat ini belum ada surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Aceh. Pada tahun 2020 diluncurkan majalah berbahasa Aceh untuk pertama kalinya, yaitu Majalah Neurôk. Penerbitan ini digagas oleh seorang budayawan Aceh yaitu Ayah Panton.[16]
Google Translate menambahkan fitur terjemahan bahasa Aceh pada 27 Juni 2024.[17]
Dialek

Setidaknya terdapat sepuluh dialek bahasa Aceh: Pasè, Peusangan, Matang, Pidië, Buëng, Banda, Daya, Meulabôh, Seunagan, dan Tunong.[18]
Setidaknya ada tiga dialek besar: Baet Lambuot, Mesjid Punteut dan Panthe Ketapang.[19] Dialek Baet Lambuot digunakan di Kabupaten Aceh Besar.[20] Dialek Mesjid Punteut dituturkan di Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.[21] Dialek Panthe Ketapang dituturkan di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.[21]
Dialek Geografis: Aceh Besar,[22][23] Pidie,[22][23] Peusangan,[22] Pasai,[22] Aceh Timur (Aceh Timur)[22][23] dan Aceh Barat (Aceh Barat),[22][23] Aceh Utara (Aceh Utara),[23] Bireun,[23] Aceh Jaya
Dialek pantai barat: Tunong, Seunagan, Meulabôh, Daya.[24]
| Dialects | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Dialects |
Fonologi
Berikut adalah fonem-fonem bahasa Aceh.
| Depan | Tengah | Belakang | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| mulut | sengau | mulut | sengau | mulut | sengau | |
| Tertutup | i | ĩ | ɨ | ɨ̃ | u | ũ |
| Tengah tertutup | e | ɛ̃ | ə | ʌ̃ | o | ɔ̃ |
| Tengah terbuka | ɛ | ʌ | ɔ | |||
| Terbuka | a | ã | ||||
Vokal biasanya berada di pasangan mulut/sengau, meskipun hanya ada tiga vokal sengau pertengahan dan ada vokal oral pertengahan yang jumlahnya dua kali lebih banyak. /ʌ/ tidak benar-benar di tengah, meskipun ditampilkan di sini karena alasan estetika. Demikian pula, /ɨ/ juga ditampilkan sebagai ([ɯ] yang lebih ke belakang.[butuh rujukan] Selain vokal monoftong di atas, bahasa Aceh juga memiliki 5 diftong oral, masing-masing dengan pasangan sengau:[25]
- /iəɨəuəɛəɔə/
- /ĩəɨ̃əũəɛ̃əɔ̃ə/
| Bibir | Rongga-gigi | Langit-langit | Langit-langit belakang |
Celah suara | |
|---|---|---|---|---|---|
| Sengau | m | n | ɲ | ŋ | |
| Letup | p b | t d | c ɟ | k g | ʔ |
| Desis | s | ʃ | h | ||
| Hampiran | w | l | j | ||
| Getar | r |
/s/ adalah alveodental laminal. /ʃ/ secara teknis berupa post-alveolar tetapi dikelompokkan dalam kolom langit-langit untuk alasan estetika.
Sistem penulisan dan ejaan
Sejak kolonialisasi Belanda, bahasa Aceh ditulis menggunakan aksara Latin, walau belum ada konsensus maupun peraturan mengenai standar ejaan bahasa Aceh yang resmi.[27][28] Pada awalnya, bahasa Aceh menggunakan aksara Arab yang disebut dengan "Jawoe" atau aksara Jawi dalam bahasa Melayu.[29][30]
Pada saat ini, ada dua standar ejaan yang kerap dipakai, Ejaan Bahasa Aceh Yang Disempurnakan (EBAYD) dan Husaini.[31]
EBAYD, yang juga dikenal sebagai ejaan Unsyiah,[32] ialah standar pengejaan bahasa Aceh de facto, ia adalah pengejaan yang digunakan dalam kamus, edukasi, dan media lainnya.[33][34][35] Ejaan Husaini, yang juga dikenal sebagai ejaan GAM,[32] ialah standar pengejaan bahasa Aceh yang kerap digunakan oleh anggota/mantan dan pendukung GAM.[36][37]
Kedua ejaan tersebut didasarkan oleh sistem pengejaan yang digunakan oleh Snouck Hurgronje, yang menggunakan alfabet bahasa Prancis untuk mengeja bahasa Aceh.[38] Karena itu, ejaan bahasa Aceh yang memiliki tanda diakritik kerap dijuluki sebagai ejaan Snouck.[39] EBAYD juga didasarkan oleh ejaan EYD, sedangkan ejaan Husaini didasarkan oleh Ejaan Republik.
Bahasa Aceh mempunyai 25 huruf, ia menggunakan alfabet Latin standar dengan penambahan huruf é, è, ö, dan ô. Huruf ë hanya digunakan dalam ejaan Husaini, ia ditulis sebagai e dalam EBAYD.[40][41] Huruf f, q, v, x, dan z hanya digunakan dalam kata serapan. Untuk menunjukkan bunyi konsonan yang dihembuskan, bahasa Aceh menambahkan huruf h setelah huruf konsonan.[42][43] Untuk menunjukkan bunyi vokal yang disengaukan, bahasa Aceh menambahkan apostrof sebelum huruf vokal.[44]
| IPA | EBAYD | Husaini | IPA | EBAYD | Husaini | IPA | EBAYD | Husaini | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| /a/ | A a | /l/ | L l | Digraf | ||||||
| /b/ | B b | /m/ | M m | /ɯ/ | Eu eu | |||||
| /c/ | C c | Tj tj | /n/ | N n | /ŋ/ | Ng ng | ||||
| /d/ | D d | /ɔ/ | O o | /ɲ/ | Ny ny | Nj nj | ||||
| /ə/ | E e | E e | /o/ | Ô ô | Lainnya | |||||
| Ë ë | /ʌ/ | Ö ö | /◌̃/ | ’ | ||||||
| /e/ | É é | /p/ | P p | Untuk kata serapan | ||||||
| /ɛ/ | È è | /r/ | R r | /f/ | F f | |||||
| /ɡ/ | G g | /s/ | S s | /q/ | Q q | |||||
| /h/ | H h | /t/ | T t | /v/ | V v | |||||
| /i/ | I i | /u/ | U u | /z/ | Z z | |||||
| /ɟ/ | J j | Dj dj | /w/ | W w | /x/ | Kh kh | ||||
| /k/, /ʔ/ | K k | /j/ | Y y | J j | /ʃ/ | Sy sy | Sj sj | |||
Sastra
Berikut adalah daftar beberapa karya sastra terkenal dalam bahasa Aceh:
- Hikayat Prang Sabi
- Hikayat Malem Diwa
- Hikayat Sultan Aceh Meureuhom (Sultan Iskandar Muda)
- Hikayat Banun Setia
- Hikayat Putroe Meulue
- Hikayat Meurah Silu
- Hikayat Putroe Lindong Buleuen
- Hikayat Banta Amat Ngon Nahuda Seukeum
- Hikayat Aulia Tujoh
- Hikayat Prang Aceh
- Hikayat Pocut Muhammad
- Hikayat Prang Cut Ali
- Hikayat Putroe Ijo
- Hikayat Peureudan Ali
- Hikayat Nun Parisi
- Hikayat Nabi Ibrahim
- Hikayat Nabi Yusuf
- Hikayat Nabi Musa
- Hikayat Nubeuet Nabi
- Hikayat Tajul Muluk
- Hikayat Ranto Ngon Hikayat Teungku di Meukek
- Hikayat Raja Bada
- Haba Amat Rhang Manyang
- Haba Putroe Neng
- Haba Magasang dan Magaseueng [45]
Contoh
- Peue haba? = Apa kabar?
- Haba gèt = Kabar baik.
- Lôn piké geutanyoë han meureumpök lé = Saya kira kita takkan bersua lagi.
- Lôn jép ië u muda = Saya minum air kelapa muda.
- Agam ngön inöng = pria dan wanita
- Lôn = saya
- Kah, droë, Gata = kamu, anda
- H'an = tidak
- Na = ada
- Pajôh = makan
- Jih, dijih, gobnyan = dia, dia
- Ceudah that gobnyan. = Cantik/Tampan sekali dia.
- Lôn meu'en bhan bak blang thô. = Saya bermain bola di sawah kering.
Galeri
- Hikayat Akhbarul Karim
- Hikayat Banta Beuransah
Referensi
Catatan kaki
- ↑ Ethnologue
- ↑ https://www.ethnologue.com/language/ace.
{{cite web}}:|title=tidak ada atau kosong - ↑ Implementasi Komunikasi Politik Dalam Pemilihan Geuchik Di Kemukiman Pameu Kabupaten Aceh Tengah (Tesis) (dalam bahasa Inggris). 2019-09-06.
- 1 2 "Qanun Aceh Tentang Bahasa Aceh". Qanun No. 10 Tahun 2022. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
- ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
- ↑ "Bahasa Aceh". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- ↑ Riris Tiani (Mei 2018). "Korespondesi Bunyi Bahasa Aceh dan Bahasa Gayo". Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. 13 (2). ISSN 0216-535X.
- ↑ Sufi, Rusdi (1998). Gerakan Nasionalisme di Aceh (1900–1942). Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh. hlm. 19–21. ISBN 979-95312-4-1.
- ↑ Durie, Mark. 1996. Framing the Acehnese Text: Language Choice and Discourse Structures in Aceh
- ↑ Hikayat Aceh Telah Mati
- ↑ Thurgood, Graham.2007.The Historical Place of Acehnese:The Known and the Unknown Diarsipkan 2010-07-13 di Wayback Machine.
- ↑ Redaksi (2009-08-13). "Akhirnya, Wikipedia Berbahasa Aceh Lahir". ACEHKITA.COM (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-24.
{{cite web}}:|last=memiliki nama generik - ↑ Redaksi (2024-08-13). "12 Agustus jadi Hari Kelahiran Wikipèdia bahsa Acèh". www.seputaraceh.com. Diakses tanggal 2024-11-24.
{{cite web}}:|last=memiliki nama generik - ↑ "Kemenag Luncurkan Alquran Terjemah Bahasa Aceh". uin.ar-raniry.ac.id. Diakses tanggal 2024-11-24.
- ↑ Dani, Subur (2020-10-14). "Neurok, Majalah Berbahasa Aceh Pertama Diluncurkan". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2022-10-25.
- ↑ Terjemahan Bahasa Aceh Sudah Tersedia di Google Translate
- ↑ Sulaiman, B. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Aceh di Aceh. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|tahun=diabaikan - ↑ Tim Balai Bahasa Banda Aceh (2012). Inilah Bahasa-Bahasa di Aceh (PDF). Banda Aceh: Pusat Bahasa Banda Aceh. hlm. 22–23.
- ↑ Templat:Itation
- 1 2
- 1 2 3 4 5 6 Sulaiman, Budi. Bahasa Aceh (PDF). Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. hlm. 4.
{{cite book}}: Parameter tidak dikenal|tahun=diabaikan - 1 2 3 4 5 6 Templat:Mengutip skripsi
- ↑ https://bahasaaceh.com/wp-content/uploads/2008/11/ejaan-bahasa-aceh.pdf.
{{cite book}}:|title=tidak ada atau kosong; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong:|lokasi=; Parameter tidak dikenal|halaman=diabaikan; Parameter tidak dikenal|judul=diabaikan; Parameter tidak dikenal|pertama=diabaikan; Parameter tidak dikenal|tahun=diabaikan; Parameter tidak dikenal|terakhir=diabaikan - 1 2 Al-Harbi & Al-Ahmadi (2003)
- ↑ Al-Harbi & Al-Ahmadi (2003)
- ↑ Sakti, Teuku Abdullah. "Ejaan Bahasa Aceh Siapa Peduli?". Serambinews.com. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ↑ Irnanda, Septhia. "Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa". Serambinews.com. Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ Bania, Allif Syahputra; Akob, Bachtiar (2025). "Preserving the Jawi script in Aceh: Assessing literacy, cultural heritage, and modern paradigm challenges". Journal of USK: 1.
- ↑ Daud 1997, hlm. 156.
- ↑ Ahyar, Juni; Ibrahim, Mohd Yusri; Yunus, Saifuddin (2024-12-13). Bahasa & Budaya Aceh sebagai Identitas Bangsa Catatan Unik & Aktual Ihwal Masalah-Masalah Kebahasaan. Ganesha Kreasi Semesta. ISBN 978-634-7043-33-7.
- 1 2 Ahyar, Juni; Ibrahim, Mohd Yusri; Yunus, Saifuddin (2024-12-13). Bahasa & Budaya Aceh sebagai Identitas Bangsa Catatan Unik & Aktual Ihwal Masalah-Masalah Kebahasaan. Ganesha Kreasi Semesta. ISBN 978-634-7043-33-7.
- ↑ Bakar, Aboe; Sulaiman, Budiman; Hanafiah, M. Adnan; Ibrahim, Zainal Abidin; Syarifah H., Syarifah H. (1995). Kamus Aceh Indonesia 1. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. vii.
- ↑ Durie 1985a, hlm. 26.
- ↑ Wildan 2010, hlm. 5.
- ↑ "Instruksi PJ Gubernur Soal Penggunaan Bahasa Aceh di Lingkungan Pemerintah Dinilai Gegabah »". dialeksis.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ Angen, Thayeb Loh (2018-02-18). "Bahasa Aceh di Steemit, Standar Penulisan GAM atau Standar Unsyiah?". Steemit. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ↑ Daud 1997, hlm. 173.
- ↑ Abubakar, S. Pd berkata (2016-05-04). "Cara Menulis Tanda Diakritik dalam Bahasa Aceh". portalsatu.com. Diakses tanggal 2025-07-10.
- ↑ Daud 1997, hlm. 180.
- ↑ Wildan 2010, hlm. 8–13.
- ↑ Bakar, Aboe; Sulaiman, Budiman; Hanafiah, M. Adnan; Ibrahim, Zainal Abidin; Syarifah H., Syarifah H. (1995). Kamus Aceh Indonesia 1. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. vii.
- ↑ Durie 1985, hlm. 27.
- ↑ Durie 1984, hlm. 10.
- ↑ tengkuputeh (2017-12-15). "HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH". Tengkuputeh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-09-23.
Daftar pustaka
- Al-Harbi, Awwad Ahmad Al-Ahmadi (1991). "Arabic Loanwords in Acehnese". Dalam Bernard Comrie; Mushira Eid (ed.). Perspectives on Arabic Linguistics: Papers from the Annual Symposium on Arabic Linguistics. Volume III: Salt Lake City, Utah 1989. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. ISBN 9789027277893.
- Al-Harbi, Awwad Ahmad Al-Ahmadi (2003). "Acehnese Coda Condition: An Optimality-Theoretic Account". Umm Al-Qura University Journal of Educational and Social Sciences and Humanities. 15 (1): 9–28.
- Asyik, Abdul Gani (1982). "The Agreement System in Acehnese" (PDF). Mon–Khmer Studies. 11: 1–33.
- Asyik, Abdul Gani (1987). A Contextual Grammar of Acehnese sentences (PhD). University of Michigan.
- Aziz, Zulfadli A. (2014). A Sociolinguistic Investigation of Acehnese with a Focus on West Acehnese: A stigmatised dialect (PhD). University of Adelaide.
- Daud, Bukhari (1997). Writing and Reciting Acehnese: Perspectives on Language and Literature in Aceh (PhD). University of Melbourne.
- Daud, Bukhari; Durie, Mark (1999). Kamus Basa Acèh, Kamus Bahasa Aceh : Acehnese-Indonesian-English Thesaurus (PDF). Pacific Linguistics. Vol. C151. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University. ISBN 978-0-85883-506-1.
- Durie, Mark (1985a). A Grammar of Acehnese: On the Basis of a Dialect of North Aceh. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 112. Dordrecht, Belanda dan Cinnaminson, AS: Foris Publications. ISBN 9067650749.
- Durie, Mark (1985b). "Control and Decontrol in Acehnese". Australian Journal of Linguistics. 5 (1): 43–53. doi:10.1080/07268608508599335.
- Durie, Mark (1987). "Grammatical Relations in Acehnese". Studies in Language. 11 (2): 365–399. doi:10.1075/sl.11.2.05dur.
- Durie, Mark (1988). "The So-Called Passive of Acehnese". Language. 64 (1): 104–113. JSTOR 414788.
- Durie, Mark (1990). "Proto-Chamic and Acehnese Mid Vowels: Towards Proto-Aceh-Chamic". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 53 (1): 100–114. JSTOR 618972.
- Durie, Mark (1995). "Acehnese". Dalam Darrel T. Tryon (ed.). Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies. Part 1: Fascicle 1. Trends in Linguistics. Documentation. Vol. 10. Berlin: De Gruyter Mouton. hlm. 407–420. ISBN 978-3-11-088401-2.
- Durie, Mark (1996). "Framing the Acehnese Text: Language Choice and Discourse Structures in Aceh". Oceanic Linguistics. 35 (1): 113–137. JSTOR 3623033.
- Lawler, John M. (1977). "A Agrees with B in Achenese: A Problem for Relational Grammar". Dalam Peter Cole; Jerrold M. Sadock (ed.). Grammatical Relations. Syntax and Semantics. Vol. 8. New York: Academic Press. hlm. 219–48. doi:10.1163/9789004368866_010.
- Lawler, John M. (1988). "On the Questions of Acehnese 'Passive'". 64 (1): 114–117. doi:10.2307/414789.
{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan|journal= - Legate, Julie Anne (2012). "Subjects in Acehnese and the Nature of the Passive". Language. 88 (3): 495–525. doi:10.1353/lan.2012.0069.
- Legate, Julie Anne (2014). Voice and V: Lessons from Acehnese. Cambridge: MIT Press. ISBN 978-0-262-52660-9.
- Pillai, Stefanie; Yusuf, Yunisrina Qismullah (2012). "An Instrumental Analysis of Acehnese Oral Vowels". Language and Linguistics. 13 (6): 1029–1050.
- Sidwell, Paul (2005). "Acehnese and the Aceh-Chamic language family" (PDF). Dalam Anthony Grant; Paul Sidwell (ed.). Chamic and Beyond: Studies in Mainland Austronesian Languages. Pacific Linguistics. Vol. 569. Pacific Linguistics, The Australian National University. hlm. 211–246.
- Sidwell, Paul (2006). "Dating the Separation of Acehnese and Chamic by Etymological Analysis of the Aceh-Chamic Lexicon". Mon-Khmer Studies. 36: 187–206. doi:10.15144/MKSJ-36.187.
- Sidwell, Paul (2010). "What Can the Mon-Khmer Lexical Borrowings in Acehnese Tell Us?". Dalam John Bowden; Nikolaus P. Himmelmann; Malcolm Ross (ed.). A Journey Through Austronesian and Papuan Linguistic and Cultural Space: Papers in Honour of Andrew K. Pawley. Pacific Linguistics. Vol. 615. Pacific Linguistics, The Australian National University. hlm. 271–282. doi:10.15144/PL-615.271.
- Stokhof, W. A. L. (1988). "A Modern Grammar of Acehnese: Some Critical Observations". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 144 (2/3): 323–350. JSTOR 27863951.
- Stokhof, W. A. L. (1992). "On Nasality in Acehnese". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 148 (2): 247–261. JSTOR 27864352.
- Thurgood, Graham (2007). The Historical Place of Acehnese: The Known and the Unknown. First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies. Banda Aceh. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-05-28. Diakses tanggal 2020-04-13.
- Wildan (2010). Kaidah Bahasa Aceh [The Principles of the Acehnese Language] (PDF) (Edisi 1st). Banda Aceh: Geuci. ISBN 978-979-96655-3-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) - Yusuf, Yunisrina Qismullah; Pillai, Stefanie (2016). "An Instrumental Study of Oral Vowels in the Kedah Variety of Acehnese". Language Sciences. 54: 14–25. doi:10.1016/j.langsci.2015.09.001.
- Yusuf, Yunisrina Qismullah; Pillai, Stefanie; Ali, Najwa Tgk. Armia Mohd. (2013). "Speaking Acehnese in Malaysia". Language & Communication. 33 (1): 50–60. doi:10.1016/j.langcom.2012.08.004.
Pranala luar
- (Inggris) Bahasa Aceh di Ethnologue
| Aceh | |
|---|---|
| Chamik Pesisir | |
| Chamik Dataran Tinggi | |

