Rabu, 14 Oktober 2026
19:01 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Bahasa Sasak

Bahasa Sasak

bahasa Bali–Sasak–Sumbawa yang dituturkan oleh orang Sasak, berasal dari Pulau Lombok

Bagikan:
Bahasa Sasak
BPS: 0164 4
Base Sasaq
ᬪᬵᬲᬵᬲᬓ᭄ᬱᬓ᭄
Dituturkan diIndonesia
Wilayah Nusa Tenggara Barat
EtnisSasak
Bayan .
Penutur
2,7 juta[1] (2010)
Lihat sumber templat}}
20px-Info_Simple.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnailBeberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Melayu-Sumbawa (usang) Lihat butir Wikidata
        Cari tahu mengapa. Dikarenakan tidak ada ciri-ciri yang mendefinisikan rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat secara pasti sebagai subkelompok, penggolongan terbaru telah ditinggalkan.Referensi:
        K. Alexander Adelaar & Nikolaus Himmelmann. 2005. The Austronesian languages of Asia and Madagascar: A historical perspective, pp. 1-42, London, Routledge ISBN 0-7007-1286-0
Tampilkan klasifikasi manual
Dialek
Kutó-Kuté (Sasak Utara)
Nggetó-Nggeté (Sasak Timur Laut)
Menó-Mené (Sasak Tengah)
Ngenó-Ngené (Sasak Timur-Tengah, Sasak Barat-Tengah)
Meriaq-Meriku (Sasak Selatan-Tengah)[1][2]
Sasak-Bayan
Alfabet Latin[2]
Aksara Sasak (memiliki kemiripan dengan aksara Bali)[3]
Kode bahasa
ISO 639-2sas
ISO 639-3sas
Glottologsasa1249
IETFsas
ELPSasak
BPS (2010)0164 4
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL Ethnologue: C5 DevelopingBahasa Sasak dikategorikan sebagai C5 Developing menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini mengalami peningkatan jumlah penutur dari waktu ke waktu
Referensi: [4]
Lokasi penuturan
500px-Sasak_language_distribution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penuturan bahasa Sasak di Lombok dan Bali (hanya digunakan oleh minoritas):
Bahasa Sasak digunakan oleh mayoritas penduduknya
Bahasa Sasak digunakan mayoritas penduduknya, namun juga berbarengan dengan penuturan bahasa lain yang jumlah penuturnya cukup besar
Bahasa Sasak merupakan bahasa minoritas
500px-Peta_bahasa_di_Lombok.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta bahasa di Lombok.
osm-intl,7,a,a,323x250.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Bahasa_Sasak&revid=29765509&groups=_bf240fd0080693ff515a64c3ce9aefed7a5c8229&parser=parsoidTampilkan peta yang diperbesar
osm-intl,3,a,a,323x250.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Bahasa_Sasak&revid=29765509&groups=_bf240fd0080693ff515a64c3ce9aefed7a5c8229&parser=parsoidTampilkan peta yang diperkecil
Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini.
Koordinat: 8°34′59.999″S 116°7′0.001″E / 8.58333306°S 116.11666694°E / -8.58333306; 116.11666694 Sunting di Wikidata
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Sasak merupakan bahasa ibu yang dituturkan oleh suku Sasak yang menjadi etnis mayoritas di pulau Lombok, Indonesia. Bahasa ini berkerabat dekat dengan bahasa Bali dan bahasa Sumbawa yang dituturkan di pulau-pulau sekitar Lombok. Ketiganya merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Sasak tidak memiliki status resmi; di Indonesia bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang digunakan oleh penutur bahasa Sasak dalam konteks formal dan tertulis.

Beberapa dialek bahasa Sasak memiliki tingkat kesalingpahaman yang rendah. Bahasa Sasak mempunyai sistem tingkatan bahasa, mirip dengan bahasa Jawa dan Bali. Setiap tingkatannya memiliki kosakata berbeda; penggunaannya ditentukan oleh status sosial relatif penutur terhadap lawan bicaranya.

Meski kini jarang ditemui dalam ragam tulisan, teks-teks tradisional bahasa Sasak yang ditulis dengan medium lontar terkadang dibacakan pada acara-acara adat tertentu. Sistem aksara bahasa Sasak hampir mirip dengan aksara Bali.

Penutur

250px-Sasak1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah desa Sasak di Lombok

Bahasa Sasak dituturkan oleh sebagian besar masyarakat Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, yang terletak di antara Pulau Bali (di sebelah barat) dan Pulau Sumbawa (di sebelah timur). Penutur bahasa Sasak mencapai 2,7 juta jiwa pada tahun 2010, atau sekitar 85% dari penduduk Pulau Lombok.[1] Bahasa Sasak digunakan dalam komunikasi dalam keluarga dan perdesaan, tetapi bahasa ini tidak memiliki status resmi. Bahasa nasional, bahasa Indonesia, digunakan sebagai bahasa pendidikan, pemerintahan, literatur, dan komunikasi antaretnis.[5] Suku Sasak bukan satu-satunya etnis yang menempati Pulau Lombok; sekitar 300.000 orang Bali tinggal di tepi barat pulau dan di dekat Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.[6] Di daerah perkotaan yang komposisi etnisnya lebih beragam, ada kecenderungan peralihan bahasa menuju bahasa Indonesia, umumnya dalam bentuk alih dan campur kode dan tidak sepenuhnya meninggalkan bahasa Sasak.[5]

Klasifikasi dan bahasa-bahasa kerabat

500px-Sasak_and_related_languages.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bahasa Sasak dan hubungannya dengan bahasa-bahasa Melayu-Sumbawa lainnya, menurut Adelaar (2005)

Ahli bahasa Austronesia, K. Alexander Adelaar, mengklasifikasikan bahasa Sasak sebagai bagian dari subkelompok Melayu–Sumbawa dari rumpun bahasa Melayu–Polinesia pada sebuah makalah yang terbit tahun 2005.[7][8] Kerabat terdekat bahasa Sasak adalah bahasa Sumbawa, kemudian bahasa Bali; ketiganya membentuk rumpun bahasa Bali–Sasak–Sumbawa (BSS).[7] Rumpun bahasa BSS, bersama rumpun Melayik (termasuk bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan bahasa Minangkabau) serta rumpun Chamik (termasuk bahasa Aceh) membentuk satu cabang tersendiri dari subkelompok Melayu-Sumbawa.[7][8] Dua cabang utama lainnya adalah bahasa Sunda dan Madura.[8] Klasifikasi ini menempatkan bahasa Jawa di luar subkelompok Melayu-Sumbawa, membentuk cabangnya sendiri di dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia.[8]

Akan tetapi, hipotesis Melayu-Sumbawa ditolak oleh Blust (2010) dan Smith (2017), yang memasukkan rumpun BSS ke dalam subkelompok "Indonesia Barat", bersama bahasa Jawa, Madura, Sunda, Lampung, bahasa-bahasa Barito dan bahasa-bahasa Borneo Utara Raya.[9][10]

Bahasa Kawi, yang merupakan ragam literer dari bahasa Jawa Kuna, telah memengaruhi bahasa Sasak secara signifikan.[11] Bahasa Kawi digunakan di dalam seni pewayangan Sasak, syair-syair, dan dalam beberapa naskah lontar, terkadang bercampur dengan bahasa Sasak.[3][11] Bahasa Kawi juga digunakan sebagai ragam kesopanan paling tinggi (satu tingkat di atas bahasa Sasak "alus"), terutama oleh kalangan kelas atas yang disebut mènak.[11]

Fonologi

Konsonan[12][13]
Labial Alveolar Postalveolar Palatal Velar Glottal
Sengau m n ɲ ŋ
Letup nirsuara p t k ʔ
bersuara b d ɡ
Afrikat nirsuara tʃ
bersuara dʒ
Desis ç h
Aproksiman l j w
Getar r

Delapan bunyi vokal dapat ditemui dalam bahasa Sasak,[14] walaupun tidak semua dialek mengkontraskan kedelapan volkal ini.[14] Kedelapan bunyi ini direpresentasikan dengan ejaan Latin a, e, i, o dan u, terkadang juga digunakan diakritik untuk membedakan bunyi-bunyi yang mirip.[14][15] Umumnya, e merujuk pada bunyi e pepet, é untuk bunyi vokal takbulat setengah tertutup depan, è untuk vokal takbulat setengah terbuka depan, ó untuk vokal bulat setengah tertutup belakang dan ò untuk vokal bulat setengah terbuka belakang.[15]

Vokal[14]
Depan Madya Belakang
Tertutup i u
1/2 tertutup e ə o
1/2 terbuka ɛ ɔ
Terbuka a

Diftong

Bahasa Sasak memiliki diftong (dua vokal beriringan dalam satu sukukata) /ae/, /ai/, /au/, /ia/, /uə/ dan /oe/.[12]

Morfofonologi

Kata-kata dalam bahasa Sasak memiliki tekanan tunggal di suku kata terakhir.[16] Bunyi /a/ dalam posisi akhir sebuah kata dasar secara fonetis diucapkan sebagai [ə] (vokal tengah madya) dengan pita suara kencang; contohnya, /baca/ ("membaca") diucapkan (dan dieja) sebagai bace, tetapi ketika diberi imbuhan, bunyi vokal ini tidak berubah, semisal di dalam kata bacaan, "bacaan" dan pembacaan, "benda untuk membaca".[17] Dalam penggabungan kata, jika elemen pertama berakhir dengan bunyi vokal, maka elemen tersebut akan ditambahi dengan bunyi penghubung sengau (/n/ di sebagian besar dialek, /ŋ/ di dialek tertentu). Contohnya, bila kata mate ("mata") dan bulu ("bulu") digabungkan, hasilnya adalah maten bulu ("bulu mata").[16]

Tata bahasa

Bahasa Sasak memiliki urutan kata yang fleksibel, seperti umumnya bahasa-bahasa Austronesia Barat (AB) di Indonesia.[18] Persebaran frekuensi urutan-urutan kata dipengaruhi oleh bentuk verba yang digunakan dalam sebuah klausa (mis. tergantung apakah verba tersebut berimbuhan "awalan sengau" atau tidak, lihat #Verba).[18] Klausa yang melibatkan verba dengan awalan sengau akan memiliki urutan subjek-predikat-objek (SPO), serupa dengan kelas pelaku-sasaran di bahasa-bahasa AB Indonesia lainnya.[18] Sebaliknya, klausa dengan verba tanpa awalan tidak memiliki urutan kata yang dominan; tiga dari enam urutan kata yang mungkin (subjek-predikat-objek, predikat-subjek-objek dan objek-predikat-subjek) dapat ditemui dengan frekuensi yang relatif sama.[19]

Verba bahasa Sasak, seperti bahasa-bahasa lain di Indonesia bagian barat, tidak berubah bentuk tergantung kala, modus atau aspek. Imbuhan bahasa Sasak hanya digunakan untuk derivasi morfologis.[20] Verba dapat memiliki dua bentuk: dasar (tak berawalan) dan berawalan.[21][15] Bentuk dasar digunakan dalam daftar kosakata dan kamus-kamus,[15] sementara bentuk berawalan memiliki awalan berupa bunyi sengau.[21] Dasar awalan sengau ini adalah bunyi -n, yang juga dapat direalisasikan menjadi nge-, m- dan sebagainya, serta dapat menghapus konsonan pertama dari kosakata dasar.[21][22] Sebagai contoh, bentuk dasar dari "membeli" adalah beli dan jika ditambahi awalan menjadi mbeli.[22] Awalan sengau ini juga dapat mengubah nomina menjadi verba yang sesuai; contohnya, dari kupi ("kopi") menjadi ngupi ("meminum kopi" atau "ngopi").[20] Peran awalan dan tambahan bunyi sengau ini berbeda-beda tergantung dialek.[23] Misalnya, dialek-dialek timur bahasa Sasak memiliki tiga jenis penggunaan awalan seperti ini: yang pertama menandai verba transitif, yang kedua digunakan untuk menghasilkan fokus predikat, dan yang ketiga untuk aksi duratif dengan penderita non-spesifik.[24] Kalimat dengan modus imperatif dan hortatif menggunakan bentuk dasar.[15]

Bahasa Sasak memiliki beragam klitika, yaitu satuan gramatikal yang dianggap sebagai bagian dari sebuah kata (seperti imbuhan) namun secara sintaksis merupakan kata tersendiri—seperti klitik 'll dalam bahasa Inggris.[25] Klitik sederhana digunakan sebagai penjelas penunjuk yang dilekatkan pada nomina atau frasa nomina sebelumnya; contohnya, klitik ni("ini") dalam dengan ni ("orang ini").[26][27] Klitik khusus, bila dilekatkan pada nomina, menunjukkan kepunyaan ''inalienable'', dan bila dilekatkan pada yang lain merepresentasikan hubungan antara agen dan pasien.[27] Sebagai contoh, klitik ku (ada pula yang menyebut kò atau k, tergantung dialeknya) yang menunjukkan kepemilikan orang pertama ("aku"), bila dilekatkan dengan nomina ime ("tangan") akan menjadi imengku ("tanganku").[17]

Ragam

Dialek

Bahasa Sasak memiliki keragaman dialek, baik secara fonologi, kosakata maupun tata bahasa.[5] Umumnya, penutur jati bahasa Sasak mengidentifikasi setidaknya lima dialek, dinamai berdasarkan kata yang digunakan untuk merujuk pada "begitu" dan "begini": Kutó-Kuté (Sasak Utara), Nggetó-Nggeté (Sasak Timur Laut), Menó-Mené (Sasak Tengah), Ngenó-Ngené (Sasak Timur-Tengah, Sasak Barat-Tengah) dan Meriaq-Meriku (Sasak Selatan-Tengah).[1][2] Namun, menurut ahli bahasa Peter K. Austin, klasifikasi tradisional ini tidak "sepenuhnya mecerminkan keragaman geografis yang ekstensif ... di dalam bahasa Sasak".[a][1] Selain itu, beberapa dialek memiliki tingkat kesalingpahaman yang rendah.[2]

Tingkatan bahasa

Bahasa Sasak memiliki tingkatan-tingkatan dengan perbedaan kosakata, yang penggunaannya terikat pada status sosial relatif penutur terhadap lawan bicara.[1] Ini sistem yang serupa dengan yang ada di bahasa tetangganya yaitu bahasa Jawa dan Bali,[5] maupun bahasa Korea.[28] Ada tiga tingkatan dalam bahasa Sasak untuk menandakan status pembicara (rendah, pertengahan, dan tinggi),[1] ditambah satu dimensi merendah-hormat yang mendandai hubungan antara pembicara dengan orang lain (yang bukan lawan bicara).[29] Contohnya, kata ganti orang kedua dapat disebut sebagai kamu (tingkat rendah), side (pertengahan), pelinggih (tinggi) atau dekaji (menghormati).[30] "Makan" dapat diterjemahkan sebagai mangan (rendah), bekelór (pertengahan), madaran (tinggi) atau majengan (menghormati).[30]

Semua tingkatan, kecuali ragam paling rendah, disebut sebagai bahasa alus ("halus" atau "sopan") dalam bahasa Sasak.[5] Ragam-ragam alus dipakai dalam konteks resmi dan kepada orang dengan status sosial yang lebih tinggi, terutama terhadap para mènak (kasta tinggi tradisional, yang mencakup sekitar delapan persen populasi suku Sasak).[5] Sistem ini juga dapat ditemukan pada dialek-dialek bahasa Sasak secara umum. Meski untuk kosakata di tingkatan paling rendah ada banyak variasi dialektal, bentuk kosakata alus selalu konsisten di seluruh dialek.[30] Menurut spesialis bahasa-bahasa Indonesia Bernd Nothofer, sistem ini diadopsi dari bahasa Bali atau Jawa.[11]

Sastra

Orang Sasak memilki tradisi menulis dengan perantara daun lontar yang dikeringkan.[11] Tradisi baca-tulis mungkin dikenalkan pada abad ke-14 oleh kemaharajaan Hindu-Buddha Majapahit, yang pengaruhnya mencapai pulau Lombok.[31] Naskah-naskah lontar tertua yang bertahan berasal dari abad ke-19; banyak di antaranya yang dikumpulkan oleh pemerintah Belanda dan disimpan di perpustakaan-perpustakaan Leiden atau Bali.[11] Selain itu, Museum Matarm di Lombok juga mengoleksi beberapa naskah, dan banyak juga individu atau keluarga yang menyimpannya sebagai pusaka untuk diwariskan lintas generasi.[11]

Naskah-naskah lontar ini masih dibacakan dalam pementasan yang disebut pepaòsan.[32] Pembacaan naskah ini dilakukan dalam beberapa acara penting, termasuk pemakaman, pernikahan, dan khitanan.[32] Masyarakat Sasak di perdesaan membaca naskah lontar sebagai bagian dari ritual untuk memastikan kesuburan hewan ternak mereka.[32] Peter K. Austin, dalam penggambarannya mengenai sebuah pepaòsan dalam acara khitanan pada tahun 2002,[33] menyebutkan bahwa pementasan tersebut menggunakan salinan kertas dari naskah asli alih-alih daun lontar.[34]

Lontar Lombok ditulis dalam bahasa Sasak, bahasa Kawi (bahasa sastra berdasarkan bahasa Jawa Kuna) atau kombinasi keduanya.[3] Naskah-naskah ini menggunakan aksara hanacaraka, sebuah sistem penulisan yang hampir serupa dengan aksara Bali.[3] Huruf dasarnya terdiri dari sebuah konsonan ditambah bunyi vokal a.[3] Lima huruf pertamanya disebut ha, na, ca, ra dan ka, maka aksara ini dinamai demikian.[3] Suku kata dengan bunyi vokal selain a dituliskan dengan menambahkan diakritik di atas, di bawah, atau di samping huruf dasar.[3] Konsonan akhir dan gabungan konsonan juga bisa dituliskan dengan aksara ini.[3]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Kutipan asli: "reflect fully the extensive geographical variation ... found within Sasak"

Kutipan

  1. 1 2 3 4 5 6 7 Austin 2012, hlm. 231.
  2. 1 2 3 4 Bahasa Sasak di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 Austin 2010, hlm. 36.
  4. ↑ "Bahasa Sasak". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  5. 1 2 3 4 5 6 Austin 2010, hlm. 33.
  6. ↑ Austin 2010, hlm. 32.
  7. 1 2 3 Shibatani 2008, hlm. 869.
  8. 1 2 3 4 Adelaar 2005, hlm. 357.
  9. ↑ Blust 2010, hlm. 81-82.
  10. ↑ Smith 2017, hlm. 443, 456.
  11. 1 2 3 4 5 6 7 Austin 2010, hlm. 35.
  12. 1 2 PHOIBLE 2014.
  13. ↑ Donohue 2007, hlm. 527.
  14. 1 2 3 4 Seifart 2006, hlm. 294.
  15. 1 2 3 4 5 Austin 2012, hlm. 232.
  16. 1 2 Austin 2004, hlm. 4.
  17. 1 2 Austin 2004, hlm. 5.
  18. 1 2 3 Wouk 1999, hlm. 98.
  19. ↑ Wouk 1999, hlm. 99.
  20. 1 2 Austin 2013, hlm. 31.
  21. 1 2 3 Wouk 1999, hlm. 93.
  22. 1 2 Austin 2013, hlm. 33.
  23. ↑ Austin 2013, hlm. 43.
  24. ↑ Austin 2013, hlm. 43-44.
  25. ↑ Austin 2004, hlm. 2-3.
  26. ↑ Austin 2004, hlm. 6.
  27. 1 2 Austin 2004, hlm. 18.
  28. ↑ Goddard 2005, hlm. 215.
  29. ↑ Austin 2012, hlm. 231-232.
  30. 1 2 3 Austin 2010, hlm. 34.
  31. ↑ Austin 2010, hlm. 31.
  32. 1 2 3 Austin 2010, hlm. 39.
  33. ↑ Austin 2010, hlm. 42.
  34. ↑ Austin 2010, hlm. 44.

Daftar pustaka

Pranala luar

Aceh-Cam
Gayo-Batak
Sumatra Barat Laut
Melayu
Minangkabau
Melayu Barisan Selatan
Musi
Lampung
Lain-lain

1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan