Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, tetapi sumbernya belum jelas karena belum menyertakan kutipan pada kalimat. Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
![]() Peta interaktif Lombok | |
| Geografi | |
| Lokasi | Indonesia |
| Koordinat | 8°33′54″S 116°21′04″E / 8.565°S 116.351°E / -8.565; 116.351 |
| Kepulauan | Nusa Tenggara |
| Luas | 4,738,65 km2 |
| Titik tertinggi | Rinjani (3.726 m) |
| Pemerintahan | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Nusa Tenggara Barat |
| Kabupaten/kota | Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Kota Mataram |
| Kota terbesar | Mataram |
| Kependudukan | |
| Penduduk | 4.057.386 jiwa(2025[1]) |
| Kepadatan | 856/km2 jiwa/km2 |
| Kelompok etnik | Suku Sasak, Bali, Jawa |
| Info lainnya | |
| Zona waktu | |
Pulau Lombok (jumlah penduduk pada awal tahun 2025: 4.057.386 jiwa)[1] adalah sebuah pulau di gugusan Kepulauan Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih berbentuk bulat dengan semacam "ekor" di sisi barat daya yang panjangnya kurang lebih 70 km. Luas pulau ini mencapai 4.738,65 km² menempatkannya pada peringkat 108 dari daftar pulau berdasarkan luasnya di dunia. Namanya berasal dari Sasak lomboq, yang artinya "lurus, jujur". Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram.
Pembagian administratif

Pulau Lombok merupakan salah satu dari dua pulau besar yang termasuk dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat.[2] WIlayah Pulau Lombok terbagi menjadi 4 kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara dan Kota Mataram.[3]
Geografi
Selat Lombok menandai batas flora dan fauna Asia. Mulai dari pulau Lombok ke arah timur, flora dan fauna lebih menunjukkan kemiripan dengan flora dan fauna yang dijumpai di Australia daripada Asia.[4] Ilmuwan yang pertama kali menyatakan hal ini adalah Alfred Russel Wallace, seorang Inggris pada abad ke-19. Untuk menghormatinya maka batas ini disebut Garis Wallace.[butuh rujukan]
Topografi Pulau Lombok didominasi oleh morfologi gunung berapi karena keberadaan Gunung Rinjani di bagian utara. Gunung Rinjani termasuk gunung berapi tipe A.[5] Ketinggian Gunung Rinjai mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut dan menjadikannya gunung tertinggi ketiga di Indonesia.[6] Gunung ini terakhir meletus pada bulan Juni-Juli 1994. Pada tahun 1997 kawasan gunung dan danau Segara Anak ditengahnya dinyatakan dilindungi oleh pemerintah. Daerah selatan pulau ini sebagian besar terdiri atas tanah subur yang dimanfaatkan untuk pertanian, komoditas yang biasanya ditanam di daerah ini antara lain jagung, padi, kopi, tembakau dan kapas.[butuh rujukan]
Geologi
Bagian utara Pulau Lombok tersusun dari gunung api muda. Kerucut gunung api muda yang terdapat di sebelah utara adalah Punikan, Rinjani, dan Nangi. Bagian selatan Lombok disusun batuan yang berusia lebih tua, yaitu batuan breksi vulkanik, tufa, dan lempung dari periode tersier. Di atasnya terdapat formasi batukapur dengan fragmen tufa dasit. [7]
Demografi

Penduduk asli di Pulau Lombok adalah suku Sasak sekaligus yang menjadi etnis mayoritasnya.[8] Suku Sasak memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Bali, tetapi sebagian besar memeluk agama Islam. Sisa penduduk adalah orang Bali, Jawa, Tionghoa dan Arab.[butuh rujukan]
Bahasa
Di samping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam lima macam dialek yang berbeda yakni dialek Mataram Kota, Lombok utara, tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat dan Kota Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Agama
Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam. Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut Kristen, Penganut Buddha banyak dijumpai di Lombok Utara dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini. Organisasi keagamaan terbesar di Lombok adalah Nahdlatul Wathan (NW), organisasi ini juga banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan berbagai level dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi.[butuh rujukan]
Di Cakranegara (dulu bernama Kerajaan Mataram Karangasem) Kota Mataram sekarang, dulunya ditemukan Naskah Lontar Negara Kertagama oleh Ekspedisi belanda (KNIL) kemudian diambil lalu dibawa ke Belanda, naskah lontar ini adalah salah satu salinan naskah Jawa Kuno yang dibawa oleh imigran Bali ke pulau Lombok saat penaklukan Kerajaan Karangasem awal abad 17.
Sejarah
Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa sasak laeq berarti waktu lampau), tetapi sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang kemudian dikalahkan oleh kerajaan Warmadewa yang berasal dari Bali. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok antara lain Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samarkaton dan Selaparang.
Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Selama periode abad ke 15-16 pulau Lombok dikatakan berada dalam kekuasaan Kerajaan Gelgel, Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam dan kekuasaannya berakhir pada tahun 1725 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang.[9] Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di Ampenan). Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun, Lombok kemudian berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda secara langsung. Kedatangan Belanda ke pulau Lombok disambut oleh para bangsawan sasak dan kemudian menyeragamkan diri menggunakan gelar Lalu dan meninggalkan gelar Raden dan Jro. Namun keadaan kemudian terjadi ekskalasi yang menimbulkan bibit perpecahan dan konflik antara pemerintah Hindia Belanda dan para penguasa lokal.
Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia.[butuh rujukan]
Sejarah kunjungan dan pengamatan Wallace
Pulau Lombok menjadi tempat pengamatan Alfred Russel Wallace dalam perjalanan dari Singapura menuju Makassar pada 1856. Dalam The Malay Archipelago, ia menguraikan kegiatan pengumpulan burung, perjalanan di sekitar pelabuhan Ampenan, dan kunjungan ke pedalaman pulau. Pengamatannya mencakup perbedaan fauna Lombok dengan Bali, vegetasi di kawasan yang dikunjunginya, pengairan lahan pertanian, serta perdagangan beras. Uraian tersebut menggambarkan keadaan yang ditemuinya pada abad ke-19 dan penafsiran yang disusunnya berdasarkan koleksi serta perjalanan itu.[10]
Kunjungan Wallace pada 1856
Wallace mencapai Lombok setelah singgah di pantai utara Bali dalam pelayaran dari Singapura. Ia semula bermaksud menunggu kapal yang dapat membawanya ke Makassar. Perjalanan dari Buleleng menuju Ampenan berlangsung sekitar dua hari. Ketika tiba, teluk tempat kapalnya berlabuh terlindung dari angin tenggara, tetapi pantainya memiliki gelombang pecah yang menyulitkan pendaratan. Buku menggunakan ejaan Ampanam untuk pelabuhan tersebut. Wallace membawa perlengkapan dan kotak koleksinya ke darat, kemudian tinggal dengan seorang pedagang Inggris bernama Carter.[10]
Tempat tinggal Carter juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang dan kantor perdagangan. Bangunan-bangunannya menggunakan bambu dan atap rumput, dengan pagar bambu mengelilingi halaman. Wallace mencatat bahwa bahan bangunan sedang sulit diperoleh karena kebutuhan pembangunan kembali setelah kebakaran yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Keterangan tentang kebakaran itu ditempatkan dalam pembahasan keadaan pelabuhan saat kedatangannya, ketika rumah dan bangunan perdagangan sedang dibangun kembali.[10]
Pada awal masa tinggalnya, Wallace menyusuri kawasan di sekitar Ampenan dan mengunjungi pedagang lain yang tinggal beberapa mil dari pelabuhan. Jalur yang dilaluinya mencakup jalan dengan deretan pohon, persawahan berpengairan, padang berpasir di dekat laut, dan bagian pantai. Ia mencari burung dan serangga di rawa, tanah datar bervegetasi teki, lahan budidaya, serta bukit rendah. Setelah mengumpulkan burung di sekitar kota, ia memutuskan berpindah ke Labuan Tring, di ujung selatan teluk, setelah menerima informasi mengenai kawasan yang belum banyak dibudidayakan.[10]
Pengumpulan spesimen di Labuan Tring
Perjalanan ke Labuan Tring dilakukan dengan perahu bercadik bersama dua asistennya, Ali dan Manuel. Perahu bergerak menyusuri pantai dengan mendayung dan menariknya dari darat pada sebagian perjalanan. Di tempat tujuan, Wallace memperoleh tempat tinggal pada bagian depan rumah seorang penduduk asal Ambon bernama Daud. Ruangan itu digunakan untuk menerima tamu sekaligus menjadi tempat makan, tidur, dan bekerja bagi Wallace. Ia menata kegiatan pengumpulan serta penyiapan koleksi burung dari tempat tinggal tersebut.[10]
Kondisi ruangan membatasi penanganan koleksi. Sebuah kotak dipakai sebagai meja makan, tempat duduk ketika menguliti burung, dan tempat menyimpan kulit burung yang telah dikeringkan. Untuk mengurangi gangguan semut, Wallace meminjam bangku dan menempatkan setiap kakinya di dalam tempurung kelapa berisi air. Kotak serta bangku itu juga harus menampung kotak serangga dan kulit burung yang masih dalam proses pengeringan. Di samping terbatasnya ruang, kegiatan kerja berlangsung di ruangan yang tetap digunakan tuan rumah dan para tamunya.[10]
Wallace menjelaskan bahwa keterbatasan tempat dan waktu pemeliharaan membuatnya harus memilih kelompok hewan yang dikumpulkan. Kulit burung dan bahan hewan lain memerlukan pengeringan serta pengawasan karena menarik semut, lalat, dan hewan yang masuk ke rumah. Ia tidak dapat menambahkan setiap jenis bahan yang dijumpai, seperti kerangka, reptil dalam cairan pengawet, kayu, atau buah. Penjelasan itu menyertai uraian mengenai cara kerja pengumpulan sejarah alam di Labuan Tring.[10]
Bentang alam dan vegetasi yang dicatat
Sekitar Labuan Tring, Wallace menggambarkan bukit vulkanik yang mengapit lembah datar dan kawasan terbuka. Bukit-bukit ditutupi semak, bambu, serta pohon dan tumbuhan berduri, sedangkan dataran memiliki banyak palma. Semak yang rapat menyulitkan pergerakan dengan senapan maupun jaring serangga. Kondisi tersebut juga mempersulit pengambilan burung yang telah ditembak di dalam vegetasi. Ia menghubungkan bentuk vegetasi yang pendek dan berduri dengan tanah vulkanik yang kering serta iklim setempat, sebagai penafsirannya atas kawasan itu.[10]
Di antara tumbuhan yang tidak berduri, Wallace menyebut anggota famili Apocynaceae sebagai kelompok yang sering ditemui. Ia mencatat buah dengan bentuk, warna, dan struktur beragam, termasuk buah yang membuka dan memperlihatkan biji berwarna merah. Buah tersebut dimakan beberapa burung yang diamatinya, dari kakatua sampai burung kecil yang disebutnya Zosterops. Uraian ini ditempatkan bersama pengamatan mengenai tumbuhan di tepi jalan dan hubungan antara tumbuhan berbuah dengan burung di kawasan pengumpulan.[10]
Salah satu palma yang dibahasnya adalah tumbuhan yang disebut penduduk sebagai gubbong dan ditempatkan dalam genus Corypha. Wallace mengamati pohon yang masih berdaun, pohon yang sedang berbunga atau berbuah, serta batang pohon mati di kawasan yang sama. Menurut uraiannya, palma itu berbunga pada ujung batang, kemudian menghasilkan banyak buah bulat berwarna hijau sebelum mati. Pohon berbuah didatangi merpati hijau dan kelompok monyet yang memakan atau menjatuhkan buahnya. Nama genus dan istilah gubbong mengikuti penamaan dalam buku.[10]
Burung dan lingkungan pencarian makan
Di sekitar Ampenan, Wallace memperoleh burung yang disebutnya Oriolus broderpii dan Tropidorhynchus timoriensis. Burung pertama dijumpai pada pohon ara di jalan tempat pasar berlangsung. Burung kedua dibahas bersama suara panggilannya dan nama setempat yang ditulis sebagai quaich-quaich. Pengumpulan di lingkungan pelabuhan itu kemudian dilanjutkan di Labuan Tring, tempat Wallace menjumpai susunan burung yang menurutnya berbeda dari pulau-pulau di sebelah barat.[10]
Kakatua putih dengan jambul kuning termasuk burung yang sering dijumpainya di Labuan Tring. Wallace menempatkan kehadiran kakatua dan beberapa burung pengisap madu dalam perbandingan dengan fauna di sebelah barat Lombok. Ia juga membahas burung pembuat gundukan yang dinamainya Megapodius gouldii. Dalam uraian tentang famili Megapodiidae, telur diletakkan di dalam pasir, tanah, atau timbunan bahan organik dan menetas dengan panas dari lingkungan atau penguraian bahan tersebut. Keterangan ini merupakan bagian dari pembahasan sejarah alamnya, dengan penamaan yang digunakan dalam buku.[10]
Wallace mencatat merpati hijau pada pohon palma berbuah dan menemukan buah palma di tembolok burung yang dikumpulkannya. Ia memperoleh delapan jenis burung raja-udang, termasuk Halcyon fulgidus, yang menurut catatannya ditemukan di semak jauh dari air. Burung itu dikaitkan dengan pencarian siput dan serangga di tanah. Ia juga menjumpai Merops ornatus yang bertengger di tempat terbuka, terbang menangkap serangga, lalu kembali ke tenggeran. Pengamatan tersebut membedakan lokasi pencarian makan beberapa burung dalam kawasan yang sama.[10]
Burung yang disebutnya Pitta concinna dicari di dataran kering dengan semak rapat dan lapisan daun gugur. Wallace menjelaskan bahwa burung itu bergerak di tanah, mencari serangga, serta bersembunyi ketika terganggu. Ia mengenali keberadaannya melalui suara dua nada dan bunyi pergerakan pada daun kering. Untuk memperoleh spesimen, ia menunggu di jalur sempit dan menirukan panggilannya. Keterangan mengenai teknik pengumpulan ini menjelaskan mengapa sebagian burung lebih sulit diperoleh daripada jenis yang berada pada pohon berbuah atau kawasan terbuka.[10]
Perbandingan fauna dengan Bali dan Jawa
Dalam pembahasan biogeografi kelompok pulau Timor, Wallace menggunakan Lombok sebagai salah satu lokasi perbandingan antara burung dari Jawa dan burung yang berkerabat dengan bentuk-bentuk Australia. Ia mencatat sejumlah burung yang dilihatnya di Bali tetapi tidak dijumpainya selama pengumpulan di Lombok, walaupun kedua pulau hanya dipisahkan selat yang sempit. Sebaliknya, kakatua dan beberapa kelompok burung pengisap madu dijumpainya di Lombok. Perbandingan ini didasarkan pada kunjungan serta koleksi yang dibahas dalam buku.[10]
Daftar yang digunakan Wallace memuat 63 jenis burung dari Lombok, 86 dari Flores, dan 118 dari Timor. Angka-angka tersebut merupakan jumlah yang dikenal dalam pembahasannya, bukan inventaris burung masa kini. Ia mengingatkan bahwa perbedaan jumlah jenis khas antarpulau dipengaruhi luasnya pengumpulan yang telah dilakukan. Koleksi dari Timor lebih luas dibandingkan Flores, sementara koleksi Flores lebih luas daripada Lombok. Karena itu, Wallace tidak memperlakukan setiap perbedaan jumlah sebagai ukuran yang telah ditentukan secara lengkap.[10]
Dalam tabel perbandingannya, 33 jenis burung Lombok juga ditempatkan sebagai jenis yang ditemukan di Jawa, sedangkan empat jenis juga ditemukan di Australia. Ketika burung yang berkerabat dekat ikut diperhitungkan, jumlah masing-masing menjadi 34 dan tujuh. Wallace menggunakan perubahan perbandingan itu sepanjang Lombok, Flores, dan Timor untuk menafsirkan penyebaran burung dari dua arah. Penjelasannya menghubungkan selat, jarak antarpulau, dan kesempatan kedatangan individu baru dengan perbedaan fauna yang dicatatnya.[10]
Wallace juga mengemukakan dugaan mengenai perubahan hubungan daratan dan laut dalam menjelaskan fauna kelompok pulau tersebut. Ia menafsirkan kesamaan dan perbedaan burung sebagai hasil penyebaran, perubahan jenis, serta perubahan jarak antardaratan pada masa sebelumnya. Dalam argumennya, Bali dan Lombok dibahas sebagai pulau yang didominasi pembentukan vulkanik. Penjelasan itu merupakan hipotesis geografi alam yang dikemukakannya dalam buku dan perlu dibaca dalam konteks pengetahuan serta data yang digunakan pada abad ke-19.[10]
Pertanian dan pengairan di pedalaman
Setelah kembali dari Labuan Tring, Wallace melakukan perjalanan ke pedalaman bersama Ross. Keduanya melewati Mataram, yang disebut dalam buku sebagai tempat kediaman penguasa Lombok. Jalan menuju kota melintasi persawahan, sedangkan di dalam kota terdapat jalan lebar dengan deretan pohon dan rumah di balik dinding tanah. Sesudah Mataram, jalur perjalanan memasuki daerah berombak dan bukit rendah. Wallace mengamati lahan pertanian yang diratakan menjadi petak-petak mengikuti kemiringan tanah.[10]
Sistem irigasi yang diuraikannya memungkinkan air dialirkan ke petak tertentu dan dikeluarkan dari petak lainnya. Ukuran petak berbeda menurut bentuk lereng, dari lahan luas sampai petak kecil. Pada perjalanan yang sama, ia melihat lahan bekas panen, lahan yang sedang dibajak, dan tanaman padi dalam beberapa tahap pertumbuhan. Di antara persawahan juga terdapat tembakau, mentimun, ubi jalar, umbi lain, kacang-kacangan, dan jagung. Parit serta saluran kecil mengalirkan air melintasi jalur perjalanan menuju lahan yang akan ditanami.[10]
Keadaan pertanian berubah ketika rombongan mencapai wilayah lebih tinggi dan kering. Air lebih terbatas, sehingga budidaya terutama terdapat pada lahan datar kecil di dekat aliran air. Di kawasan tersebut Wallace menjumpai tanah berombak dengan rumput pendek, kelompok pohon, dan semak. Ia hanya melewati satu bagian kecil hutan dengan pepohonan tinggi dalam perjalanan itu. Rombongan kemudian mencapai Kopang, yang ditempatkannya dekat pusat pulau, dan bermaksud tinggal beberapa hari untuk mengumpulkan burung serta melihat lingkungan sekitarnya.[10]
Perdagangan dan kegiatan masyarakat
Jalan yang dilalui Wallace menghubungkan kawasan pertanian dengan pasar dan pelabuhan. Ia mencatat perempuan membawa beras, buah, serta sayuran, dan kuda membawa muatan padi menuju Ampenan. Di beberapa tempat terdapat penjual makanan di bawah pohon atau bangunan beratap sederhana. Barang yang dijual mencakup tebu, minuman nira, nasi, telur asin, dan pisang goreng. Gambaran perjalanan itu menunjukkan bentuk pengangkutan hasil pertanian dan tempat perdagangan makanan yang ditemuinya sepanjang jalan.[10]
Pada pembahasan perdagangan, Wallace menyebut beras dan kopi sebagai komoditas Lombok dan Bali. Beras ditanam di dataran, sedangkan kopi dikaitkan dengan daerah perbukitan. Ia mencatat pengiriman beras melalui Ampenan ke pulau-pulau lain, Singapura, dan Tiongkok. Beras dibawa ke pelabuhan menggunakan kuda beban, dan pembayaran dalam kegiatan perdagangan yang dilihatnya menggunakan uang tembaga Tiongkok. Buku juga menyebut pengiriman itik serta kuda kecil dari Lombok.[10]
Wallace mencatat kegiatan menangkap capung di sekitar jalan, pagar, dan parit ketika padi sedang berbunga. Penangkapan dilakukan dengan tangkai yang memiliki ranting berperekat pada ujungnya. Capung kemudian dikumpulkan dalam wadah kecil dan diolah sebagai makanan. Ia menguraikan penggorengan capung dengan bawang serta udang yang diawetkan, atau tanpa tambahan tersebut. Catatan mengenai konsumsi serangga ini terbatas pada praktik yang dibahasnya dalam perjalanan, tanpa penetapan frekuensi atau persebarannya di seluruh pulau.[10]
Dalam keterangan mengenai penduduk, Wallace menggunakan nama Sassaks untuk orang Sasak dan membedakannya dari kelompok penguasa asal Bali. Ia menyebut Islam pada penduduk Sasak dan Hindu pada kelompok penguasa yang dibahasnya. Pengalaman rombongan di Kopang memperlihatkan adanya kebutuhan memperoleh izin dari penguasa untuk tinggal dan mengumpulkan burung. Karena izin belum diperoleh selama kunjungan itu, Wallace dan Ross kembali ke Ampenan. Sesudahnya, Wallace memperoleh kesempatan bertemu penguasa Lombok dan memperlihatkan sebagian kulit burung serta koleksi serangganya.[10]
Pariwisata

Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya sektor di Lombok yang berkembang.[butuh rujukan]
Destinasi objek pariwisata
Wisata alam
- Pantai Senggigi
- Cakranegara, Mataram
- Gili Air
- Gili Meno
- Gili Trawangan
- Gunung Rinjani
- Pantai Kuta Mandalika, Lombok
- Air Terjun Sendang Gile
- Gili Sundak
- Hutan Monyet Pusuk
- Sentanu
- Air Terjun Koperan
- Sekotong
- Gili kedis
- Gili nanggu
- Gili poh
- Gili gede
- Gili asahan
Wisata budaya
Catatan kaki
- 1 2 "Demografi penduduk di situs NTB". Diakses tanggal 2025-01-15.
{{cite web}}:|archive-url=tidak valid: stempel waktuPemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Tim Penyusun Buku Nusa Tenggara Barat Dalam Data Tahun 2015 (2015). Nusa Tenggara Barat dalam Data 2015 (PDF). Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Barat. hlm. 3. ISBN 978-602-97223-1-4.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Nama numerik: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Septiawan, Wahyudi (2023). Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam Angka 2023. BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat. hlm. 3. ISSN 0215-2215.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ http://www.lombokindonesia.org/magnificent-lombok-indonesia/
- ↑ Tim Pusat Studi Gempa Nasional (September 2018). Irsyam, M., Hanifa, N. R., dan Djarwadi, D. (ed.). Kajian Rangkaian Gempa Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat: 29 Juli 2018 (M6.4), 5 Agustus 2018 (M7.0), 19 Agustus 2018 (M6.9) (PDF). Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman. hlm. 54. ISBN 978-602-5489-13-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pangestu, Dwi, dkk. (Desember 2017). Masterplan Pengelolaan Sampah Taman Nasional Gunung Rinjani 2018-2038. Mataram: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. hlm. 1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Van Bemmelen, R.W. (Mei 1949). The Geology of Indonesia. Den Haag: V.F.A. Government Printing Office. hlm. 504.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Mulhimmah, Baiq Ratna (Oktober 2017). Firdaus, M. (ed.). Mengenal Busana Adat Sasak (PDF). Mataram: Sanabil. hlm. 1. ISBN 978-602-6223-37-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ (Indonesia) Sejarah Nusa Tenggara Barat, situs Departemen Dalam Negeri Diarsipkan 2007-09-26 di Wayback Machine
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Wallace, Alfred Russel (2024). Sejarah Nusantara (The Malay Archipelago): Perjalanan, Penjelajahan, serta Kajian Manusia dan Alam Indonesia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. ISBN 978-623-164-492-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Lihat pula
Pranala luar
- (Inggris) Lombok Indonesia
- (Inggris) Lombok history, with detailed map
Pulau di Nusa Tenggara Barat | |
|---|---|
| Mataram | |
| Kabupaten Bima | |
| Kabupaten Dompu | |
| Kabupaten Sumbawa | |
Lihat juga: Daftar pulau di Bali & Nusa Tenggara dan Indonesia | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
