| Bahasa Nusa Penida
ᬩᬲᬩᬮᬶᬦᬸᬲᬧᭂᬦᬶᬤ Basa Bali Nusa Penida Basa Nosa | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Dituturkan di | Indonesia | ||||||||||||
| Wilayah | Bali (Nusa Penida) | ||||||||||||
| Etnis | Bali Nusa Penida (Nak Nusé) | ||||||||||||
Penutur | 59.900 (2022)[1] | ||||||||||||
| |||||||||||||
| Dialek | Sub-dialek: Ped Sakti Bunga Mekar Batumadeg Batukandik Klumpu Kutampi Kaler Kutampi Batununggul Suana Tanglad Sekartaji Pejukutan | ||||||||||||
| Status resmi | |||||||||||||
Diakui sebagai bahasa minoritas di | |||||||||||||
| Diatur oleh | |||||||||||||
| Kode bahasa | |||||||||||||
| ISO 639-3 | – | ||||||||||||
| Glottolog | nusa1244 | ||||||||||||
| |||||||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||||||
Peta persebaran dialek:
Wilayah tempat bahasa Bali Nusa Penida sebagai bahasa mayoritas
Wilayah tempat bahasa Bali Nusa Penida sebagai bahasa minoritas yang signifikan | |||||||||||||
![]() Peta interaktif yang menunjukkan persebaran penuturan bahasa Bali di wilayah Pulau Bali, Nusa Penida, Pulau Lombok dan sekitarnya. Tekan peta untuk mengakses peta interaktif. | |||||||||||||
| Koordinat: 8°44′0″S 115°32′0″E / 8.73333°S 115.53333°E / -8.73333; 115.53333 | |||||||||||||
| L •B •PW | |||||||||||||


ProyekWiki BahasaArtikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 666 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.

Bahasa Bali Nusa Penida (yang disebut oleh penuturnya sebagai Basa Nosa) adalah sebuah dialek bahasa Bali yang dituturkan oleh penduduk setempat yang dikenal sebagai Nak Nusé di Nusa Penida, sebuah pulau di sebelah selatan Bali yang secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Klungkung. Dialek ini dianggap sebagai yang paling berbeda di antara dialek-dialek bahasa Bali lainnya karena memiliki ciri-ciri unik yang tidak ditemukan pada variasi bahasa Bali lainnya. Akibat isolasi geografis Nusa Penida dari daratan utama Bali, dialek ini terkadang sulit dipahami oleh penutur bahasa Bali dari daratan utama.[4][5] Dialek Nusa Penida sering kali diklasifikasikan sebagai bagian dari dialek Bali Aga/Mula yang dituturkan oleh masyarakat Bali Aga di wilayah dataran tinggi Bali.[4]
Keunikan dialek Nusa Penida dibandingkan dengan dialek Bali daratan umumnya terletak pada aspek fonologi, morfologi, dan intonasi. Dialek Nusa Penida berbeda tidak hanya dalam hal intonasi, tetapi juga dalam kosakatanya.[6] Intonasi penutur Nusa Penida yang cenderung berdurasi pendek dan nada tinggi juga memberikan tantangan bagi penutur bahasa Bali daratan untuk memahami apa yang dibicarakan. Selain itu, seperti dialek Bali Aga, dialek Nusa Penida tidak memiliki sistem tutur tingkatan bahasa atau register yang terdapat pada dialek Bali dataran rendah.[7][8]
Klasifikasi
Dialek Nusa Penida merupakan sebuah dialek dari Bahasa Bali yang sendirinya termasuk dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam rumpun Melayu-Polinesia, bahasa Bali berada di subcabang Bali-Sasak-Sumbawa.[9]
Dialek ini sering kali digolongkan sebagqi sub-dialek dari lain dalam bahasa Bali, yakni bahasa Bali Aga. Hal ini dikarenakan dialek NP memiliki persamaan ciri kebahasaan dengan dialek Aga yang oleh Jendra, dkk. (1997) dijabarkan sebagai berikut:[6]
- Distribusi fonem /h/ pada awal dan tengah kata;
- Masih ditemukannya akhiran /-ñə/ dan /-cə/ yang merupakan alofoni morfem dari akhiran /-ə/;
- Intonasi pembicaraan penutur cenderung memiliki tempo yang cepat dan tekanan yang lebih keras;
- Kosakata dalam dialek Nusa Penida memiliki kemiripan dengan kosakata yang ada di dialek Aga dan sub-dialeknya yang lain.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan lain yang cukup mencolok antara kedua dialek, yakni hilangnya atau berkurangnya distribusi fonem /a/ pada posisi akhir kata.[6]
Sejarah
Terdapat dugaan bahwa keberadaan basa Nosa berkaitan dengan invasi Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh patih Gajah Mada terhadap Kerajaan Bali. Setelah upacara pengangkatannya sebagai "Patih Amangkubhumi Majapahit" pada tahun 1336 M (1258 Saka), Gajah Mada bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Bali, termasuk Nusa Penida yang disebut sebagai Gurun (?)[a] dalam Sumpah Palapa oleh Gajah Mada. Penaklukan ini disinyalir memengaruhi kondisi kebahasaan di Pulau Bali maupun Nusa Penida.[6]
Persebaran
Saat ini, dialek Nusa Penida terutama digunakan di wilayah Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua komunitas di Nusa Penida menggunakan dialek Nusa Penida. Terdapat beberapa kelompok masyarakat yang berkomunikasi menggunakan dialek yang berbeda. Di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan—yang terletak di sebelah Nusa Penida—serta di sebagian kecil wilayah Nusa Penida yang berdekatan dengan pulau-pulau tersebut, terdapat dialek khas yang cukup berbeda dari dialek Nusa Penida. Salah satu perbedaan yang paling mencolok terlihat pada kata-kata seperti *eda* (kamu) dan *kola* (saya) dalam dialek Nusa Penida. Penutur dialek Nusa Lembongan menggunakan kata-kata seperti *cai* atau *ci* (kamu) dan *cang* (saya). Contoh lainnya adalah *əndək* (dialek Nusa Penida) dan *tusing* (dialek Nusa Lembongan), *geleng-cenik*, *hangken-kenken*, dan sebagainya.[4] Hanya 13 dari 16 desa di Nusa Penida yang menggunakan dialek Nusa Penida. Desa-desa sisanya menggunakan dialek Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, atau dialek yang menyerupai bahasa Bali wilayah daratan Klungkung—seperti dialek yang dituturkan di Kampung Desa Toyapakeh, salah satu desa di Nusa Penida yang tidak menggunakan dialek Nusa Penida.[4]
Dialek Nusa Penida juga digunakan di luar wilayah Nusa Penida, terutama akibat migrasi para penuturnya setelah letusan Gunung Agung pada tahun 1963 serta adanya program transmigrasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Penutur penting pindah ke Sumatera bagian selatan, khususnya ke Bandar Lampung, Palembang, Mesuji, dan Lampung Selatan.[10]
Fonologi
Dialek ini sering diklasifikasikan sebagai sub-dialek dari varian lain dalam bahasa Bali, yaitu bahasa Bali Aga. Namun, terdapat perbedaan yang mencolok antara kedua dialek tersebut, yaitu hilangnya atau berkurangnya fonem /a/ di akhir kata. Klasifikasi ini muncul karena dialek Nusa Penida memiliki kesamaan ciri linguistik dengan dialek Aga, yang dijelaskan sebagai berikut:
- Distribusi fonem /h/ di awal dan tengah kata;
- Kehadiran akhiran /-ñə/ dan /-cə/, yang merupakan morfem alofonik dari akhiran /-ə/;
- Intonasi penutur cenderung memiliki tempo yang lebih cepat dan tekanan yang lebih kuat;
- Kosakata dalam dialek Nusa Penida menyerupai dialek Aga dan sub-dialek lainnya.
Ciri-ciri yang dijelaskan di atas juga menunjukkan bahwa dialek Bali Aga dan dialek Nusa Penida masih mempertahankan ciri-ciri Jawa Kuna yang telah hilang dalam Jawa modern dan bahasa Bali daratan.[11]
Tata bahasa
Berikut ini perbandingan beberapa kosakata dalam dialek Nusa Penida dan bahasa Bali standar:
| Nusa Penida | Bali standar | Glosa |
|---|---|---|
| kola, kela | cang, tiyang | aku |
| jaba | dija, ija | dimana |
| éda, ida | awaké, cai, ci | kamu |
| lepéh | kenyel | lelah |
| homah | umah | rumah |
| géléng | cenik | kecil |
| hoba | suba, ba | sudah |
| honya | onya | semua |
| behas | baas | beras |
| behat | baat | berat |
| endék | tusing, sing | tidak |
| hangken | kénkén | kenpa |
| layah | seduk, layah | lapar |
| toya, yéh | yéh, toya | air |
| dəpinñə | dəpin | biarkan |
| pohun | puwun | terbakar |
| paloh | aluh | mudah |
| japan | binjepan | nanti |
| taloh | taluh | telur |
| abian, kamol | abian | kebun |
| beneh | beneh | benar |
| mekrocokan | mecanda | bercanda |
| hang | anak, nak | orang |
Jika dalam bahasa Bali standar lazim menggunakan huruf [u] sebagai huruf awalan, maka dalam dialek Nusa Penida huruf [u] diganti dan diucapkan menjadi [o]. Selain itu, huruf [o] dan [h] biasanya lebih sering digunakan dalam awal kata, misalnya seperti pada kata homah, honya, hoba, hobat, dan poles.
Lihat juga
Catatan
Referensi
- ↑ "Kecamatan Nusa Penida dalam populasi dan bahasa 2022" (PDF). Badan Pusat Statistik. 2022. hlm. 1379. Diakses tanggal 4 Juli 2022.
- ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
- 1 2 3 4 ""Basa Nosa", Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?". tatkala.co. 2020-05-17. Diakses tanggal 2024-06-03.
- ↑ Wiriani, Ni Made (2017-07-19). "Negasi dalam Bahasa Bali Dialek Nusa Penida: Sebuah Penelitian Awal". Proceedings of International Seminar Language Maintenance and Shift (LAMAS) VII. Semarang: 448–451. eISSN 2540-8755. ISSN 2088-6799.
- 1 2 3 4 Tangkas, Made Reland Udayana; Suari, A. A. Pt (28-10-2023). "Pemertahanan Bahasa Bali Dialek Nusa Penida sebagai Sumber Konten Kreatif: Kajian Sosiolinguistik Kanal YouTube Alit Werdi Suputra". Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) (dalam bahasa American English). 13 (2): 541–566. doi:10.24843/JKB.2023.v13.i02.p08. ISSN 2580-0698.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ Citrawati, Putu Wahyu; Teguh, I Wayan; Widarsini, Putu N; Wahyu, Gede Eka (27-09-2019). "Morfologi Bahasa Bali Aga Dialek Sembiran, di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng". Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana. 26 (2): 196. doi:10.24843/ling.2019.v26.i02.p10. ISSN 2656-6419.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ Matradewi, Ni Ketut WIdhiarcani; Sosiowati, I. Gusti Ayu Gde (2023-09-20). "Loyalty as Language Attitude to Sustain Nusa Penida Balinese Language". Asian Journal of Engineering, Social and Health (dalam bahasa Inggris). 2 (9): 932–944. doi:10.46799/ajesh.v2i9.128. ISSN 2980-4841.
- ↑ Adelaar, K. Alexander (2005). "The Austronesian languages of Asia and Madagascar: a historical perspective". Dalam Adelaar, K. Alexander; Himmelmann, Nikolaus (ed.). The Austronesian languages of Asia and Madagascar. London: Routledge. hlm. 1–42.
- ↑ Templat:Kutip tesis
- ↑ Templat:Kutip jurnal


