| Bahasa Bugis Sebira
Basa Ugi Sebira | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Dituturkan di | Indonesia | ||||
| Wilayah | Pulau Sebira (DKI Jakarta) | ||||
| Etnis | Bugis | ||||
Penutur | per. 450–550 | ||||
| |||||
| Kode bahasa | |||||
| ISO 639-3 | – | ||||
| Glottolog | Tidak ada | ||||
| L •B •PW | |||||
| Pemberitahuan | |
|---|---|
| Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek. | |
| Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini. | |
| 16.01, Rabu, 30 September, 2026 (UTC) • Sebanyak 1.635 artikel belum dinilai | |
Bahasa Bugis Sebira (Bugis: Basa Ugi Sebira) adalah dialek bahasa Bugis yang dituturkan oleh komunitas suku Bugis di Pulau Sebira, pulau berpenghuni paling utara di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.[1][2]
Meskipun berada dalam wilayah administrasi ibu kota, letak geografis Pulau Sebira terisolasi ratusan kilometer dari Sulawesi Selatan dan lebih dekat ke daratan Sumatera (terutama Lampung).[3] Dialek ini terbentuk pasca-migrasi nelayan asal Bone sekitar tahun 1974–1975. Akibat keterpisahan geografis yang lama, bahasa ini mengalami perkembangan internal serta kontak bahasa sekunder dengan bahasa Melayu Kepulauan Seribu (bahasa Orang Pulo) dan bahasa Indonesia.[3][4]
Penggunaan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kepulauan Seribu, total populasi penduduk Pulau Sebira berkisar antara 500 hingga 600 jiwa.[2] Sekitar 90% dari keseluruhan penduduknya merupakan keturunan etnis Bugis asal Bone, sehingga pulau ini sering dijuluki sebagai "Pulau Bugis" di DKI Jakarta.[3]
Jumlah penutur aktif dialek ini diperkirakan mencapai 450 hingga 550 jiwa. Bahasa ini dituturkan lintas generasi dalam aktivitas domestik sehari-hari dan industri perikanan lokal.
Distribusi geografis
Sebaran penutur bahasa Bugis dialek Sebira terlokalisasi di area pemukiman di Pulau Sebira (Rukun Warga 003, Kelurahan Pulau Harapan), terutama di sekitar kawasan pelabuhan nelayan dan area pemukiman padat RT 001 dan RT 002.
Ciri khas
Menurut data pemetaan bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, bahasa Bugis di DKI Jakarta memiliki persentase perbedaan leksikostatistik sebesar 45% jika dibandingkan dengan dialek induknya di Sulawesi.[1]
Perbedaan ini ditandai oleh beberapa ciri:
- Penyusutan kosakata agraris: Kosakata yang berkaitan dengan pertanian mengalami pergeseran atau hilang, digantikan oleh istilah maritim, navigasi, dan perikanan laut dalam.
- Asimilasi fonetis: Penutur muda mulai mengadopsi struktur artikulasi bahasa Melayu Kepulauan Seribu, seperti pelafalan bunyi hambat glotal (glottal stop) pada akhir kata secara lebih tebal.
- Retensi leksikal: Dialek ini tetap mempertahankan sejumlah kosakata intim domestik khas bahasa Bugis dialek Bone tahun 1970-an yang sebagian besar sudah mengalami pergeseran pada penutur Bugis perkotaan di Sulawesi Selatan hari ini.
Lihat juga
Referensi
- 1 2 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2026). "Bahasa Bugis di Provinsi DKI Jakarta". Labbineka Kemendikdasmen RI.
- 1 2 Suryanto. (2023). "Nelayan-Nelayan Terakhir Sabira". ANTARA Foto.
- 1 2 3 Kurniawan, A. (2023). "Mengunjungi Sebira, Pulau Terjauh Jakarta". Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI.
- ↑ Simanjuntak, J. (2021). "Katalog Repositori Institusi: Tinjauan Historis Pemukiman Warga Pulau Sebira". Repositori Universitas Kristen Indonesia.
Daftar pustaka
- Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2021). Kamus Pokok Bahasa Bugis-Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.