| Bahasa Bugis Sape
Basa Ugi Sape | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Dituturkan di | Indonesia | ||||
| Wilayah | |||||
Penutur | tidak diketahui[1] | ||||
| |||||
| Kode bahasa | |||||
| ISO 639-3 | – | ||||
| Glottolog | Tidak ada | ||||
| L •B •PW | |||||
| Pemberitahuan | |
|---|---|
| Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek. | |
| Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.
Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini. | |
| 06.01, Jumat, 9 Oktober, 2026 (UTC) • Sebanyak 1.635 artikel belum dinilai | |
Bahasa Bugis Sape adalah dialek bahasa Bugis yang dituturkan oleh komunitas diaspora etnis Bugis di wilayah pesisir Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.[2] Dialek ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Sulawesi Selatan yang berinduk pada bahasa Bugis di wilayah asalnya.[2] Penggunaan bahasa Bugis di wilayah ini berfungsi sebagai sarana interaksi sosial harian di lingkungan domestik sekaligus identitas kultural penanda komunitas diaspora Bugis di timur Pulau Sumbawa.[3] Berdasarkan pengujian dialektometri kebahasaan, bahasa Bugis dialek Sape diklasifikasikan sebagai dialek yang mandiri akibat proses pemisahan geografis dan migrasi maritim yang panjang.[4]
Sejarah
Secara historis, keberadaan penutur bahasa Bugis di wilayah Sape terkait erat dengan pola migrasi maritim dan hubungan politik tradisional antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dengan Kesultanan Bima sejak berabad-abad lalu.[5] Hubungan dagang dan pemukiman pelaut Bugis di pesisir timur Bima terekam dalam naskah sastra klasik setempat yang mendokumentasikan eksistensi komunitas Bugis di Sape saat menghadapi berbagai dinamika sosiokultural.[6] Interaksi perkawinan campur dan asimilasi sosial antara para pelaut pendatang dari Sulawesi Selatan dengan penduduk asli setempat lambat laun membentuk kelompok masyarakat hibrida di wilayah pesisir pantai.[7] Kelompok masyarakat nelayan pesisir tersebut tetap merawat tradisi tutur leluhur mereka dari generasi ke generasi, namun menyerap elemen budaya material lokal secara berdampingan.[5]
Distribusi geografis
Secara geografis, persebaran penutur bahasa Bugis dialek Sape ini berpusat di wilayah pesisir kecamatan Sape, dengan konsentrasi populasi terbesar berada di desa Bugis.[3] Kantong pemukiman penutur ini membentuk komunitas linguistik yang strategis karena posisinya di Selat Sape yang menghubungkan Pulau Sumbawa dengan Pulau Komodo, Pulau Flores, serta jalur pelayaran menuju Indonesia Timur.[8] Di wilayah sebaran sosiolinguistik Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, bahasa Bugis dialek Sape ini berdampingan dengan bahasa Bajau dialek Soro di Dompu.[9] Hasil penghitungan dialektometri kuantitatif menunjukkan persentase perbedaan antardialek luar daerah asal tersebut berkisar antara 51% hingga 80%, yang mempertegas kedudukan masing-masing sebagai variasi dialek lokal terpisah.[2]
Penggunaan
Populasi pengguna bahasa Bugis dialek Sape tersebar di dalam wilayah administrasi desa Bugis, di kecamatan Sape, namun jumlahnya tidak mencakup keseluruhan dari total penduduk desa setempat.[3] Berdasarkan pencatatan sosiolinguistik deskriptif berbasis data sektoral wilayah, kuantitas penutur aktif yang menggunakan bahasa Bugis dialek Sape ini terkonsentrasi pada beberapa rukun tetangga dan perkampungan nelayan di pesisir pelabuhan.[1] Angka vitalitas penutur asli dialek ini cenderung mengalami fluktuasi kepunahan bertahap akibat kuatnya dominasi penggunaan bahasa Bima dan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi antaretnis di ruang publik kecamatan Sape.[1][10]
Ciri khas
Berdasarkan analisis variasi unsur kebahasaan, bahasa Bugis dialek Sape dicirikan oleh pemisahan sosiolinguistik dan variasi leksikal yang membedakannya dengan dialek bahasa Bugis di wilayah asalnya.[3] Struktur kebahasaan dialek ini secara dinamis mempertahankan komponen fonologi asli bahasa Bugis, tetapi mengalami adaptasi kontak bahasa secara eksternal melalui adopsi leksikon maritim serta integrasi istilah lokal dari lingkungan sosiokultural daerah baru.[11] Hubungan kemasyarakatan yang intensif antara populasi penutur dialek Sape dengan komunitas penutur bahasa asli setempat, yaitu bahasa Bima, secara sosiolinguistik memicu terjadinya lanskap kedwibahasaan serta memengaruhi pilihan kata dalam pola komunikasi harian masyarakat di wilayah sekitar Pelabuhan Sape.[12]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 Erwan, Lalu (2020). "Kontak Bahasa antara Masyarakat Tutur Bahasa Bajo dan Mbojo di Kabupaten Bima dan Dompu". Mabasan: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra. 14 (1): 72–85.
- 1 2 3 "Bahasa Bugis di Provinsi Nusa Tenggara Barat". Laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- 1 2 3 4 Damhujin (2017). "Bahasa Bugis di Kabupaten Bima dan Dompu". Mabasan: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra. 11 (1): 15–28.
- ↑ Mahsun (2006). "Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Bugis di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat". Linguistika: Budaya, Bahasa, dan Pengajaran. 13 (25).
- 1 2 Suhartono (2014). "Multikulturalisme di Bima pada Abad X – XVII". Paramita: Historical Studies Journal. 24 (2): 165–176.
- ↑ Chambert-Loir, Henri (1982). Syair Kerajaan Bima. Jakarta: Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh.
- ↑ Noorduyn, Jacobus (1987). "Makassar and the East Indonesia Maritime Trading Network". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (dalam bahasa Inggris). 143 (4): 469–495.
- ↑ Andaya, Leonard Y. (2004). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century (dalam bahasa Inggris). The Hague: Martinus Nijhoff.
- ↑ Lembaga Jurnal Indonesia (2019). Distribusi dan Pemetaan Varian-varian Bahasa Bugis di Kabupaten Bima dan Dompu (Laporan). Garba Rujukan Digital.
- ↑ Badan Pusat Statistik Kabupaten Bima (2024). Kecamatan Sape Dalam Angka 2024 (Laporan). BPS Kabupaten Bima.
- ↑ Damhujin (2018). "Distribusi dan Pemetaan Bentuk dan Jenis-Jenis Karya Sastra Bahasa Bugis di Kabupaten Bima dan Dompu". Mabasan: Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra. 12 (2): 102–115.
- ↑ Bawa, I Wayan; Jendra, I Wayan (1981). Struktur Bahasa Bugis Dialek Nusa Tenggara Barat (Laporan). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Daftar pustaka
- Andaya, Leonard Y. (2004). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century (dalam bahasa Inggris). The Hague: Martinus Nijhoff.
- Kridalaksana, Harimurti (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-9792235708.
- Mahsun (2006). "Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Bugis di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat". Linguistika: Budaya, Bahasa, dan Pengajaran. 13 (25).