Senin, 12 Oktober 2026
00:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka
Angeun lada

Angeun lada

Bagikan:
250px-Angeun_Lada_Banten.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Angeun Lada khas Banten

Angeun Lada merupakan salah satu hidangan khas masyarakat Banten yang berakar dari masyarakat Suku Sunda. Biasa dihidangkan pada hari-hari besar seperti Idulfitri, Iduladha, pernikahan, sunatan dan lainnya.[1] Hidangan ini sudah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda dari Provinsi Banten pada tahun 2016.[2][3]

Etimologi

Secara etimologi, nama makanan ini terdiri dari gabungan dua kata dalam bahasa sunda yakni: angeun yang artinya sayur dan lada yang artinya pedas. Sehingga digabungkan menjadi sayur pedas atau sayur yang memiliki rasa pedas.[4]

Bahan baku dan penyajian

Bahan baku utama dari hidangan ini yaitu jeroan kerbau atau sapi. Namun bisa juga diganti dengan kepala sapi atau kambing dan ikan. Bumb yang digunakan dalam hidangan ini yaitu cabai merah, bawang merah, bawang putih, serai, salam, lengkuas, cabai kecil, kemiri, jahe, kunyit, kencur, merica dan tomat, dan daun walang yang menjadi ciri khas hidangan.[4] Angeun lada biasanya disajikan sebagai makanan pendamping nasi atau ketupat.[3] Hidangan ini merupakan menu utama masyarakat Banten pada berbagai kesempatan penting, seperti Hari Raya Lebaran (Idulfitri dan Iduladha), acara hajatan, kumpul keluarga, pernikahan dan sunatan, acara selamatan (di pedesaan, karena bahan pokoknya dianggap mahal). Angeun Lada dapat dinikmati baik saat sarapan, siang, maupun malam hari.[5]

Ciri khas dan rasa

Angeun lada bersifat berkuah yang memiliki rasa pedas dan gurih, serta kaya akan rempah. Kuahnya cenderung kental dan berwarna kemerahan karena penggunaan cabai. Lemak dan potongan daging kecil-kecil seukuran dadu terlihat mengambang pada kuahnya. Salah satu ciri khas utama yang membedakan Angeun lada dari masakan berkuah lainnya adalah penggunaan daun walang atau dikenal sebagai Walangan. Daun walang memiliki aroma yang sangat menyengat, mirip seperti serangga walang sangit, dan memberikan cita rasa yang sangat khas dan segar. Meskipun aromanya mungkin terasa sedikit aneh bagi orang yang baru pertama kali mencicipinya, aroma dan rasa walang tidak terlalu menyengat ketika dimakan bersama daging.[5] Daun walang banyak dijumpai di daerah selatan Banten dan mengandung minyak atsiri. Masyarakat Baduy bahkan menggunakan tumbuhan walang sebagai pengusir hama padi dengan cara membakarnya di saung huma (gubuk ladang).[6] Bahan baku utama Angeun Lada bervariasi, tetapi umumnya menggunakan babat sapi, daging kerbau, daging sapi, atau daging kambing. Selain itu, dapat juga dicampur dengan sayuran.[5][7]

Ketersediaan dan pelestarian

Saat ini, masakan Angeun Lada sudah jarang dijual dan hanya dapat dijumpai di warung makan pada lokasi-lokasi tertentu di sekitar Kabupaten Lebak, Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung.

Referensi

  1. ↑ Rizkoh, Fathul. "Angeun Lada, Kuliner Warisan Budaya dari Banten yang Gurih Pedas". detikfood. Diakses tanggal 2026-06-06.
  2. ↑ "Warisan Budaya". referensi.data.kemendikdasmen.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-06-06.
  3. 1 2 "Mencicipi Angeun Lada, Kuliner Unik Warisan Budaya Banten". kumparan. Diakses tanggal 2026-06-06.
  4. 1 2 "Angeun Lada Sajian Kuliner Khas Kabupaten Pandeglang Beraroma Semerbak Daun Walang". Pemerintah Provinsi Banten. 2024-01-19. Diakses tanggal 2026-06-06.
  5. 1 2 3 Kumparan 2023.
  6. ↑ Ayo Jalan-Jalan 2025.
  7. ↑ Hyperlocal, IDN Times (2024-03-04). "Resep Angeun Lada Khas Banten yang Super Pedas dan Nikmat". IDN Times Banten. Diakses tanggal 2025-10-18.

Pranala luar

Hidangan umum
Makanan
120px-Tumpeng-Jawa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Minuman
Jajanan
Hidangan sampingan
Minuman beralkohol
Aceh
Batak
Gayo
Lampung
Melayu
Mentawai
Minangkabau
Nias
Palembang
Rejang
Badui
Betawi
Cirebon–Indramayu
Jawa
Madura
Sunda
Banjar
Dayak
Melayu Kalimantan
Alor
Bali
Bima
Flores
Sasak
Sumba
Sumbawa
Timor
Bugis, Makassar, dan Luwu
Buton, Muna, dan Wakatobi
Gorontalo
Mandar
Minahasa
Mongondow
Poso
Tolaki
Toraja
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan