Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Empal gentong" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |

Empal gentong adalah makanan khas masyarakat Cirebon, Jawa Barat. Makanan ini mirip dengan gulai. Makanan ini dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong (periuk tanah liat). Daging yang digunakan dalam makanan ini terdiri dari daging sapi dan jeroan seperti usus dan babat.[1]
Selain menggunakan kayu bakar dan gentong, empal gentong disajikan menggunakan kucai (Allium tuberosum) dan sambal berupa cabai kering giling. Makanan ini dapat disajikan dengan nasi atau lontong.[2]
Etimologi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘empal’ bermakna daging yang dipotong pipih, direbus, dan dibumbui, lalu digoreng. Sedangkan cara pengolahan daging sapi dalam empal gentong merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Arab, India, dan Tiongkok.[3]
Sejarah
Empal gentong merupakan hidangan kuliner yang lahir pada abad ke-15. Makanan ini lahir karena adanya akulturasi budaya dari bangsa Indonesia, Arab, India, dan Tiongkok. Pada zaman itu, Cirebon menjadi tempat pertemuan (melting pot) masyarakat dari berbagai negara. Banyak orang berpendapat bahwa empal gentong pertama kali lahir di Desa Battembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.[1]
Referensi
- 1 2 Syahroni, Ony. "Menilik Sejarah Empal Gentong, Kuliner Nikmat Khas Cirebon". detikjabar. Diakses tanggal 2026-06-06.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2021-05-22). "Sejarah Empal Gentong yang Mirip Gulai, Dulu Pakai Daging Kerbau Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-06-06.
- ↑ "Empal Gentong, Bukti Akulturasi Budaya dalam Kuliner Khas Cirebon". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-06-06.

Artikel bertopik makanan atau minuman Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |