Minggu, 20 September 2026
19:48 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Surya (dewa)

Surya (dewa)

Matahari, dewa matahari Hindu

"Batara Surya" beralih ke halaman ini. Untuk Surya, lihat Surya (disambiguasi).
Surya
Dewa Matahari[1]
Pemimpin planet-planet
Parabrahman[a]
Anggota Navagraha
250px-Suryabhagavan_%28cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nama lain
  • Aditya
  • Wiwaswat
  • Martanda
  • Sawitra
  • Baskara
  • Banu
  • Diwakara
  • Suryanarayana
  • Rawi
  • Katirawan
  • Prabakara
Afiliasi
KediamanSuryaloka
PlanetMatahari
Mantra
Senjata
WahanaKereta yang ditarik delapan kuda, dikendalikan oleh Aruna.[3]
HariMinggu
Angka1
Pemujaan
PerayaanPongal, Sankranti[4] ,Chhath, Samba Dashami
Keluarga
Orang tua
SaudaraPara Aditya, meliputi:
PasanganSaranya dan Caya[note 1]
AnakPutra: Putri:

Surya (Dewanagari: सूर्य; ,IAST: Sūrya, सूर्य) adalah sebutan untuk Matahari,[8] sekaligus dewa Matahari dalam agama Hindu.[8] Surya memiliki berbagai nama lain dalam sastra Hindu, di antaranya ialah Aditya (Dewanagari: आदित्य; ,IAST: Āditya, आदित्य), Rawi (Dewanagari: रावि; ,IAST: Ravi, रावि) dan Wiwaswat (Dewanagari: विवस्वत्; ,IAST: Vivasvat, विवस्वत्).[9][10][11] Secara tradisional, dia dipuja sebagai lima dewa utama dalam tradisi Hindu Smarta, yang kelimanya dianggap setara dalam Panchayatana puja dan dimaksudkan untuk merealisasikan Brahman.[12]

Dalam ikonografi, Surya sering digambarkan sedang mengendarai kereta yang ditarik oleh kuda, biasanya berjumlah tujuh,[3] melambangkan tujuh warna dari suatu cahaya, dan tujuh hari dalam sepekan.[9][13] Surya juga dilambangkan dengan Cakra, ditafsirkan sebagai Darmacakra. Surya merupakan penguasa rasi Singha (Leo), salah satu dari 12 rasi bintang zodiak menurut astrologi Hindu. Surya (alias Aditya atau Rawi) juga menjadi penamaan untuk hari Minggu, menurut kalender Hindu.[14]

Surya juga disebut sebagai ayah Sugriwa dan Karna, yang memegang peran penting dalam dua wiracarita Hindu, masing-masing berjudul Ramayana dan Mahabharata. Surya menjadi dewa utama yang dipuja-puja oleh tokoh-tokoh dalam dua wiracarita tersebut.[15][16]

Pemujaan

Selama abad pertengahan, Surya dipuja bersama-sama dengan Brahma saat pagi hari, Siwa saat siang, dan Wisnu saat senja.[9][17] Dalam beberapa pustaka dan kesenian dari zaman kuno, Surya tampil secara sinkretis bersama dengan Indra, Ganesa, dan dewata lainnya.[9][13] Surya juga merpakan dewa yang dapat ditemukan dalam kesenian dan sastra Buddhisme dan Jainisme.

Setelah sempat bertahan sebagai dewa utama dalam Hinduisme―lebih lama daripada dewa-dewi Weda lainnya―pemujaan terhadap Surya mengalami penurunan drastis sekitar abad ke-13 Masehi, kemungkinannya disebabkan oleh penghancuran kuil dan candi Matahari oleh Muslim di India Utara. Kuil dan candi untuk pemujaan Surya tidak dibangun lagi di tempat lain, dan beberapa kuil lama dipugar ulang untuk memuja dewa (atau dewi) lainnya. Beberapa kuil utama Dewa Surya masih tersisa dan berdiri hingga sekarang, tetapi banyak yang tidak dipakai untuk tempat peribadatan utama. Dalam aspek-aspek tertentu, pemujaan Dewa Surya digabungkan bersama dengan pemujaan dewa-dewi yang lebih populer seperti Wisnu dan Siwa, atau dipuja sebagai dewa yang posisinya di bawah naungan mereka.[18]

Dewa Surya terutama dimuliakan secara istimewa dalam aliran Hinduisme yang disebut Saura dan Smarta, di negara bagian Rajasthan, Gujarat, Madhya Pradesh, Bihar, Maharashtra, Uttar Pradesh, Jharkhand, dan Odisha. Perayaan-perayaan besar dan perziarahan untuk memuja Surya meliputi: Makar Sankranti, Pongal, Samba Dashami, Ratha Saptami, Chath puja, dan Kumbha Mela.[19][20][21]

Mitologi

250px-Suryadeva.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Surya dengan Saranyu dan Caya.

Surya memiliki tiga istri: Saranyu (juga disebut Saraniya, Saranya, Sanjna, atau Sangya) dan Caya. Saranyu adalah ibu dari Waiwaswata Manu (Manu ketujuh), dan si kembar Yama (dewa kematian) dan adiknya Yami. Dia juga melahirkan dewa kembar yang dikenal sebagai Aswin, dokter para dewa.

Purana

Dalam pustaka Purana dikisahkan bahwa Saranyu―karena tidak sanggup menyaksikan cahaya terang dari Surya―menciptakan tiruan dirinya yang bernama Caya dan memerintahkannya untuk bertindak sebagai istri Surya selama dia tidak ada. Caya memiliki dua putra dari Surya: Sawarni Manu (Manu kedelapan) dan Sani (dewa planet Saturnus). Dua putra Surya, Sani dan Yama bertanggung jawab untuk mengadili kehidupan manusia. Sani memberi hasil dari perbuatan seseorang saat mereka masih hidup―melalui hukuman dan pahala yang setimpal―sementara Yama memberi hasil dari perbuatan seseorang setelah kematian.[22]

Itihasa

Dalam salah satu pustaka Itihasa yaitu Mahabharata, dikisahkan bahwa Putri Kunti dari bangsa Yadawa mempelajari sebuah mantra dari seorang resi, Durwasa. Jika mantra diucapkan, ia dapat memanggil setiap dewa dan melahirkan anak dari dewa tersebut. Untuk menguji kekuatan mantra ini, Kunti mencoba memanggil Surya. Ketika Surya muncul, ia takut dan memohon agar sang dewa kembali ke asalnya. Namun sebelum kembali, Surya merasa wajib untuk memberikan keturunan kepada Kunti sebagai keistimewaan dari mantra yang telah diucapkan.

Secara ajaib, Surya menyebabkan Kunti melahirkan anak, tetapi keperawanannya akan tetap terjaga sehingga Kunti―sebagai putri yang belum menikah―tidak perlu merasa malu atau menjadi cibiran masyarakatnya. Akan tetapi, Kunti memutuskan untuk membuang anaknya. Akhirnya anak tersebut dipungut oleh pasangan Adirata dan Radha, dan diberi nama Karna. Ia menjadi salah satu karakter utama dalam kisah perang besar di Kurukshetra.

Pewayangan

Batara Surya ini adalah Dewa yang menjadi tumpuan mahluk hidup di alam dunia ini terutama tumbuhan dan hewan, Batara Surya terkenal sangat sakti mandraguna dan menjadi salah satu Dewa andalan di kahyangan. Batara Surya terkenal senang memberikan pusaka-pusaka atau ajian-ajian yang dimilikinya terhadap orang-orang yang dipilihnya.

Dewa ini terkenal mempunyai banyak anak dari berbagai wanita (diantaranya dari Dewi Kunti yang melahirkan Adipati Karna dalam kisah Mahabharata).

Batara Surya kena batunya ketika Anoman menyalahkan Batara Surya atas kejadian yang menimpa Ibunya Dewi Anjani dan neneknya yang dikutuk menjadi tugu oleh suaminya sendiri. Anoman merasa Batara Surya harus bertanggung jawab sehingga Anoman dengan ajiannya mengumpulkan awan dari seluruh dunia untuk menutupi alam dunia sehingga sinar sang surya tidak bisa mencapai bumi. Untungnya kejadian ini dapat diselesaikan secara baik-baik sehingga Anoman dengan sukarela menyingkirkan kembali awan-awannya sehingga alam dunia terkena sinar mentari kembali.

Mantra Surya Stawa

Om Adityasya Param Jyoti, Rakta Teja Namo'stute, Sweta Pangkaja Madhyasta, Bhaskaraya Namo Stute.

Arti: Om Ya Tuan yang berwujud kemegahan yang agung, putra Aditi, dengan cahaya merah sembah kehadapanmu, dikau yang berstana di tengah teratai putih, sembah kepadamu, pembuat sinar.

Lihat pula

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Surya.

Catatan

  1. Menurut agama Hindu aliran Saura, Surya diyakini sebagai Tuhan Yang Mahakuasa.

Referensi

  1. Encyclopaedia of Hinduism. Sarup & Sons. 1999. ISBN 9788176250641.
  2. Wendy Doniger (1999). Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions. Merriam-Webster. hlm. 1039. ISBN 978-0-87779-044-0.
  3. 1 2 Jansen, Eva Rudy. The Book of Hindu Imagery: Gods, manifestations, and their meaning. hlm. 65.
  4. South Indian Hindu Festivals and Traditions. Abhinav Publications. 2005. ISBN 9788170174158.
  5. Pāṇḍeya, Lālatā Prasāda (1971). "Sun-worship in Ancient India".
  6. Dalal, Roshen (18 April 2014). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths. Penguin UK. ISBN 978-81-8475-396-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. Bhattacharyya, Asoke Kumar (1995). A Pageant of Indian Culture: Art and Archaeology. Abhinav Publications. ISBN 978-81-7017-273-4.
  8. 1 2 Dalal, p. 399
  9. 1 2 3 4 Dalal, pp. 5, 311
  10. van der Geer, Alexandra Anna Enrica (2008). Animals in Stone: Indian Mammals Sculptured Through Time. BRILL. hlm. 236–. ISBN 978-90-04-16819-0.
  11. Gopal, Madan (1990). K. S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm. 76.
  12. Flood, Gavin (1996). An Introduction to Hinduism. Cambridge University Press. ISBN 9780521438780.
  13. 1 2 Shimkhada, Deepak (1984). "The Masquerading Sun: A Unique Syncretic Image in Nepal". Artibus Asiae. 45 (2/3): 223–229. doi:10.2307/3249732. JSTOR 3249732.
  14. Dalal, p. 89
  15. Vyas, R. T.; Shah, Umakant Premanand (1995). Studies in Jaina Art and Iconography and Allied Subjects. Abhinav Publications. hlm. 23–24. ISBN 978-81-7017-316-8.
  16. Blurton, T. Richard (1993). Hindu Art. Harvard University Press. hlm. 118. ISBN 978-0-674-39189-5.
  17. Pathak, Ratnesh K., Humes, Cynthia Ann (1993) "Lolark Kund: Sun and Shiva Worship in the City of Light", [in] Living Banaras: Hindu Religion in Cultural Context, Bradley R. Hertel, Cynthia Ann Humes, [eds] pp. 206–211, SUNY Press, ISBN0791413314
  18. Melton, J. Gordon (2011). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations. ABC-CLIO. hlm. 547–548. ISBN 978-1-59884-205-0. Makar Sankranti is a festival held across India, under a variety of names, to honour the god of the sun, Surya.
  19. Eck, Diana L. (2013). India: A Sacred Geography. Random House. hlm. 152–154. ISBN 978-0-385-53192-4.
  20. Lochtefeld, James G. (2002). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism. Vol. N–Z. The Rosen Publishing Group. hlm. 514. ISBN 978-0-8239-3180-4.
  21. Effectuation of Shani Adoration, pg. 10, at http://books.google.com/books?id=RnzLgxvmOFkC&pg=PA9&dq=shani+karma&cd=2#v=onepage&q=shani%20karma&f=false
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
250px-Draupadi_and_Pandavas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-A_Vishva-rupa_print.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-The_start_of_the_great_battle.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wangsa
Candra
Leluhur
Keluarga Kuru
(Korawa)
Keluarga Yadu
(Yadawa)
Tokoh lain
Brahmana
Kesatria
Lainnya
Non-manusia
Dewa
Cerita
berbingkai
Lokasi
Kerajaan
Kota dan
desa
Bentang
alam
Keluarga
Konsep dan
peristiwa


Ikon rintisan

Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. The number of Surya's wives varies across different scriptures. Typically, he is shown with two wives—Sanjna and Chhaya—but some texts also include others such as Rajni, Prabha, Nikshubha, Mahashveta, and Usha, though some of these are mentioned as synonyms of the main two.[5][6][7]
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan