Selasa, 22 September 2026
05:37 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Ketu

Ketu

Ketu
Anggota Nawagraha
Ketu
Dewanagariकेतु
IASTKetu
AfiliasiGraha, Asura, Swarbanu
KediamanKetuloka
MantraOṃ Viprachitti Putra Simhika Putra Om Navagraha Ketave Namaḥ
Senjatatombak
Wahanaburung hering
Keluarga
Orang tuaWipraciti (ayah), Singika (ibu)
SaudaraRahu
PasanganCitraleka[1]

Ketu (Dewanagari: केतु; ,IAST: Ketu, केतु) adalah simpul orbit Bulan dalam astrologi Hindu.[2][3][4] Dalam mitologi Hindu, ia dipersonifikasikan sebagai makhluk―bersama dengan Rahu―yang tercipta dari bagian tubuh raksasa Swarbanu, yang dipenggal oleh Dewa Wisnu. Ketu biasanya digambarkan sebagai ular, atau makhluk setengah ular, sementara Rahu ialah raksasa tanpa badan. Keduanya diyakini sebagai penyebab terjadnya gerhana.

Secara astronomi, Rahu dan Ketu mengacu kepada titik persilangan jalur Surya (Matahari) dan Candra (Bulan) di bola langit, dan tidak mengacu kepada "planet" secara fisik.[5] Maka, Rahu dan Ketu masing-masing sepadan dengan simpul orbit bulan di utara dan selatan. Gerhana terjadi apabila Matahari dan Bulan berada di salah satu titik tersebut, yang secara mitologi dijelaskan sebagai ditelannya benda langit oleh Ketu. Ia diyakini bertanggung jawab atas terjadinya gerhana bulan.[5]

Mitologi

Menurut mitologi Hindu, Ketu merupakan badan dari raksasa Swarbanu yang dipenggal oleh Wisnu, sedangkan kepala raksasa tersebut berbah menjadi Rahu. Kisah pemisahan kepala dan badan ini berkaitan dengan mitos "Samudramantana" yang muncul beberapa kali dalam pustaka Purana dan Itihasa. Menurut mitos tersebut, dikisahkan bahwa para dewa dan asura (raksasa) pernah menjalin kerja sama untuk mencari ramuan keabadian bernama amerta di Ksirasagara. Saat ramuan tersebut berhasil ditemukan, para dewa segera mengeklaimnya sehingga menimbulkan protes dari para asura. Akibatnya, Dewa Wisnu turun tangan sehingga amerta berhasil dikuasai sepenuhnya oleh para dewa.

Salah satu anggota asura yang berada dalam peristiwa tersebut ialah Swarbanu. Demi memperoleh jatah amerta, ia nekat menyamar sebagai dewa, lalu turut mengantre pembagian amerta. Dewa Surya (Aditya) dan Candra (Soma) yang bermata cemerlang mengetahui penyamaran Swarbanu lalu segera melaporkannya kepada Wisnu. Wisnu pun segera memenggal Swarbanu dengan Cakra Sudarsana, tepat saat sang raksasa sedang menenggak amerta. Karena amerta telah melewati kerongkongannya, maka ia tidak bisa mati. Kepalanya melayang di udara menjadi Rahu, sementara badannya menjadi Ketu. Sementara itu, menurut kitab Adiparwa, bagian "Astikaparwa", badannya tidak berubah menjadi Ketu, melainkan jatuh ke Bumi dan mengakibatkan gempa dahsyat.[6]

Penggambaran

250px-BritishmuseumKetu.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Ketu, koleksi British Museum, Inggris.
250px-Ketudeva.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Ketu di kuil Navagraha Surendrapuri, India.

Dalam ikonografi Hindu, Ketu dapat digambarkan sebagai seorang pemuda dengan dua lengan, yang satu menunjukkan gestur Warada-mudra, yang satu lagi membawa gada. Ia menunggangi burung hering atau burung nasar. Kadangkala Ketu digambarkan beratribut ular atau berwujud manusia setengah ular.[7]

Referensi

  1. "Chitralekha (Deity)".
  2. "The less known story of Rahu and Ketu!". speakingtree.in.
  3. "Role Of Ketu in Astrology". shrivinayakaastrology.com.
  4. "Ketu Astrological significance". heerejawharat.com.
  5. 1 2 Santhanam, R. Brihat Parashara Hora Shastra (vol. 1). hlm. 24.
  6. Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), "Astika Parva: Section XIX", The Mahabharata of Krishna Dvaipayana Vyasa (dalam bahasa Inggris), Sacred-Text.com
  7. Navagraha Ketu, Drik Panchang

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ketu.
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan