| बर्बरीक | |
|---|---|
Arca kepala Barbarika saat prosesi padayatra di Rajasthan, 2008. | |
| Tokoh dalam mitologi Hindu | |
| Nama | Barbarika |
| Ejaan Dewanagari | बर्बरीक |
| Ejaan IAST | Barbarīka |
| Arti nama | [berambut] seperti suku Barbara[1] |
| Nama lain | Khatushyamji |
| Kitab referensi | Skandapurana |
| Golongan | asura |
| Ras | danawa |
| Senjata | panah sakti |
| Ayah | Gatotkaca |
| Ibu | Ahilawati (Maurwi) |
Barbarika (Dewanagari: बर्बरीक; ,IAST: Barbarīka, बर्बरीक), dalam kisah Mahabharata versi Rajasthan, adalah putra Gatotkaca (putra Bima, salah satu Pandawa) dan Ahilawati alias Maurwi (putri Mura, seorang danawa). Catatan mengenai Barbarika tidak ada dalam buku Mahabharata terjemahan Kisari Mohan Ganguli (1883–1896), tetapi terdapat dalam Skandapurana. Kisah Barbarika juga dikembangkan sebagai cerita sisipan Mahabharata lokal yang populer di Rajasthan, India.[2] Di sana ia dipuja sebagai dewa utama Kuil Khatu Shyam.
Kisah
Barbarika merupakan putra Gatotkaca, sehingga ia merupakan cucu Bima, anggota Pandawa yang kedua. Tak lama setelah lahir, tubuhnya cepat berkembang sampai menjadi pria muda. Gatotkaca menamainya Barbarika karena rambutnya seperti rambut suku Barbara, salah satu bangsa biadab pada zaman India Kuno.[1] Ia belajar ilmu peperangan dari ibunya, Ahilawati yang juga dikenal sebagai Maurwi (putri Mura). Astadewa memberikannya anugerah berupa tiga anak panah yang akan selalu tepat sasaran dan tidak pernah luput dari targetnya.[3]
Kehidupan sebelumnya
Di kehidupan sebelumnya, Barbarika adalah seorang yaksa (makhluk surgawi). Ketika Bumi mengeluh kepada para dewa tentang beban berat yang ditanggungnya akibat kejahatan manusia, yaksa tersebut dengan sombong berkata bahwa ia sendiri bisa turun dan menyelesaikan semua masalah di muka Bumi tanpa bantuan para dewa. Karena kesombongan tersebut, ia dikutuk oleh Dewa Brahma bahwa ia akan mati di tangan inkarnasi (awatara) Dewa Wisnu.[4]
Dipenggal oleh Kresna
Ketika Barbarika mendapat kabar bahwa kakeknya (Bima) akan berperang melawan para pangeran Kuru (Korawa), ia segera meninggalkan kampung halaman untuk turut membela keluarganya. Sebelumnya, ia berjanji kepada Maurwi bahwa ia akan selalu berada di pihak yang sedang tidak unggul dalam pertempuran. Sementara itu, Kresna sedang menyurvei setiap kesatria yang akan berperang. Ia ingin mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan oleh setiap kesatria untuk mengakhiri perang.
Saat Barbarika ditemui oleh Kresna―dan diberikan pertanyaan yang sama seperti para kesatria sebelumnya―ia mengaku dapat mengakhiri perang hanya dalam beberapa detik saja. Ia menjelaskan bahwa anak panahnya yang sakti dapat mengejar sasaran dan tidak akan pernah luput. Kresna pun menguji klaim Barbarika dengan menyuruhnya untuk memanah seluruh daun kering dari sebuah pohon ara. Sesuai permintaan, anak panah Barbarika berhasil menghancurkan daun-daun kering dari pohon tersebut. Namun satu anak panah tampak hanya berputar mengelilingi kaki Kresna. Barbarika pun menyadari bahwa Kresna sedang menginjak daun kering, dan memohon agar Kresna bergeser sehingga panah saktinya dapat menunaikan tugas. Akhirnya Kresna pun yakin bahwa anak panah sakti Barbarika akan memenangkan pertempuran yang akan datang.
Saat Kresna bertanya kepada siapakah Barbarika berpihak, ia menjawab bahwa ia telah berjanji kepada ibunya untuk selalu berada di pihak yang kurang unggul. Ia pun menegaskan bahwa jumlah pasukan Pandawa lebih sedikit daripada Korawa, sehingga ia akan membantu Pandawa. Namun Kresna menjelaskan suatu paradoks: Barbarika memiliki panah sakti yang tidak akan luput pada sasaran, sehingga pihak mana pun yang dibela Barbarika, maka secara otomatis mereka akan menjadi pihak yang lebih unggul, demikian pula sebaliknya. Mendengar penjelasan Kresna, Barbarika pun bingung sehingga Kresna memberikan solusi. Menurut tradisi India Kuno, medan laga harus disucikan dengan menghaturkan kepala kesatria pemberani. Maka dari itu, Barbarika menghaturkan kepalanya secara sukarela kepada Kresna.
Dalam budaya lokal
Di Nepal, seorang raja suku Kirati bernama Yalambar dipercaya sebagai tokoh Barbarika yang diceritakan dalam Mahabharata. Menurut legenda lokal, ia berjumpa dengan Dewa Indra, penguasa kahyangan yang sedang berpelesiran ke lembah-lembah pegunungan dalam wujud manusia, sementara para penduduk asli lembah Kathmandu menggambarkannya sebagai Akasha Bhairava.[5]
Di Rajasthan, Barbarika dimuliakan sebagai "Khatu Shyam" dan dipuja di Kuil Khatu Shyam,[6] sementara di Gujarat, ia dipuja sebagai "Baliyadev".[7]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 Chapter 60 - The Birth of Barbarīka, Section 2 - Kaumārikā-khaṇḍa
- ↑ Parmeshwaranand, Swami (2001). Encyclopaedic Dictionary of Puranas. Sarup & Sons. hlm. 155. ISBN 978-81-7625-226-3.
- ↑ Alf Hiltebeitel (2009). Rethinking India's Oral and Classical Epics. University of Chicago Press. hlm. 431. ISBN 9780226340555. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2016. Diakses tanggal 28 Oktober 2015.
- ↑ Barbarika, Barbarīka, Barbarikā: 7 definitions
- ↑ "{title}". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2013. Diakses tanggal 17 Januari 2014.
- ↑ "जानिये कौन हैं ये खाटू श्याम महाराज". newstrend.news (dalam bahasa Hindi). Newstrend. 14 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Mei 2020.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Pravase. "Baliyabapa Temple, Lambha Baliyadev Mandir, Ahmedabad|Pravase". pravase.co.in (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-12-30.
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||


