Minggu, 27 September 2026
11:48 WIB
TERKINI
Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung
Markandeya

Markandeya

Markandeya
मार्कण्‍डेय
Lukisan karya Raja Ravi Varma, menggambarkan Siwa Kalantaka muncul melindungi Markandeya yang memeluk lingga.
Lukisan karya Raja Ravi Varma, menggambarkan Siwa Kalantaka muncul melindungi Markandeya yang memeluk lingga.
Tokoh dalam mitologi Hindu
NamaMarkandeya
Ejaan Dewanagariमार्कण्‍डेय
Ejaan IASTMārkaṇḍeya
Gelarresi
Kitab referensiPurana; Mahabharata
Golonganciranjiwi
Kastabrahmana
AyahMerkandu

Markandeya (Dewanagari: मार्कण्‍डेय; ,IAST: Mārkaṇḍeya, मार्कण्‍डेय) adalah nama salah satu resi kuno menurut agama Hindu, terlahir dalam klan Resi Bregu. Ia merupakan putra Merkandu dan Marudmati. Ia diagungkan sebagai pemuja Siwa dan Wisnu, serta disebutkan beberapa kali dalam kisah-kisah Purana. Khususnya Markandeyapurana, memuat dialog antara Markandeya dan seorang resi bernama Jaimini, dan beberapa bab dalam Bhagawatapurana didedikasikan untuk doa-doa yang dipanjatkannya.[1] Ia juga disebutkan dalam Mahabharata.[2] Markandeya dikenali oleh berbagai kalangan dan aliran agama Hindu.

Dalam khazanah Nusantara, nama ini mungkin berkaitan dengan tokoh Bagawat Resi Makandria dalam Naskah Carita Parahyangan.

Lolos dari kematian

Dalam mitologi Hindu dikisahkan bahwa Resi Merkandu melaksanakan tapa brata ke hadapan Dewa Siwa demi memperoleh keturunan. Sang dewa berkenan dengan usaha Merkandu dan mengetahui keinginan sang resi, lalu ia memberikan dua pilihan: seorang anak yang kurang cerdas dan berperilaku buruk tetapi bermur panjang, atau seorang anak yang cerdas dan berbudi pekerti luhur tetapi berumur pendek. Merkandu memilih yang kedua, sehingga ia memperoleh putra yang bersifat mulia, dikenal sebagai "Markandeya" yang secara harfiah berarti "putra Merkandu". Markandeya menguasai Weda dan Dharmasastra sejak usia muda. Dari orang tuanya, ia mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengisi sisa umurnya dengan melaksanakan tapa brata memuja Siwa dalam bentuk arca lingga.

Pada hari kematiannya, para Yamaduta atau utusan Yama sang dewa kematian tidak berhasil mencabut nyawa Markandeya karena tubuhnya diselimuti oleh energi perlindungan dari Siwa. Maka dari itu, Yama sendiri memutuskan untuk mencabut nyawanya. Melihat Yama datang menjemputnya, Markandeya memeluk lingga Siwa erat-erat. Yama melemparkan jerat kematiannya ke tubuh Markandeya, yang secara tidak langsung juga mengenai lingga Siwa. Tiba-tiba Siwa muncul dengan rupa murka, lalu membunuh Yama untuk menyelamatkan Markandeya. Melihat Yama tewas, para dewa memohon agar Siwa menghidupkannya kembali. Siwa pun memenuhi permohonan para dewa dan bersamaan dengan itu, kondisi fisik Markandeya akan tetap muda selamanya.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Srimad Bhagavatam, Canto 12, Chapter 8: Markandeya's Prayers to Nara-Narayana Rishi". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-03-14. Diakses tanggal 2012-12-01.
  2. ↑ The Wisdom of the Mahabharata
  3. ↑ Mani, Vettam (1975). Puranic encyclopaedia : a comprehensive dictionary with special reference to the epic and Puranic literature. Robarts - University of Toronto. Delhi : Motilal Banarsidass. hlm. 488. ISBN 978-0-8426-0822-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)

Pranala luar

Manu
Kesatria
Keturunan
Swayambu Manu
Keturunan Priyabrata
Keturunan Utanapada
Dinasti Surya
Dinasti Candra
Brahmana
dan Resi
Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan