Jumat, 06 November 2026
17:13 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Pitara

Pitara

arwah leluhur dalam kepercayaan Hindu

Bagikan:
250px-%E0%A8%AC%E0%A9%87%E0%A8%B0%E0%A9%80_%E0%A8%B9%E0%A9%87%E0%A8%A0%E0%A8%BE%E0%A8%82_%E0%A8%AC%E0%A8%A3%E0%A9%80_%E0%A8%B9%E0%A9%8B%E0%A8%88_%E0%A8%AA%E0%A8%BF%E0%A9%B1%E0%A8%A4%E0%A8%B0%E0%A8%BE%E0%A8%82_%E0%A8%A6%E0%A9%80_%E0%A8%AE%E0%A9%9C%E0%A9%8D%E0%A8%B9%E0%A9%80.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah altar di bawah pohon yang digunakan untuk menghaturkan sesajen kepada leluhur; tradisi di Haryana, India Utara.

Pitara atau Pitra (Dewanagari: पितृ; ,IAST: Pitṛ,; dalam transliterasi Hunter ditulis Pitri) adalah arwah leluhur menurut kepercayaan Hindu. Setelah kematian seseorang, pelaksanaan antyesti (upacara kremasi) diyakini dapat menghantarkan almarhum ke Pitraloka, alam para leluhur. Tidak terlaksananya upacara tersebut dapat menyebabkan arwah bergentayangan di Bumi dalam wujud preta.[1]

Hari amawasya (Tilem dalam tradisi Hindu Bali),[2] serta perayaan Pitripaksa saat bulan Aswin menurut kalender Hindu dianggap sebagai hari baik untuk bersembahyang kepada leluhur.[3][4]

Tradisi India

Pemujaan terhadap leluhur merupakan praktik sejak zaman India Kuno. Tradisi peringatan hari kematian masih diperingati di sejumlah daerah di India, dan hari kematian bapak/ibu seseorang melibatkan sejumlah pelaksanaan ritual dan pengadaan sesajen, sebagaimana termaktub dalam pustaka Purana.[5] Bola-bola nasi (piṇḍa) biasanya dihaturkan pada hari-hari tertentu, dengan kepercayaan bahwa arwah leluhur perlu diberi sesajen oleh keturunannya. Untuk keluarga pemuka agama atau rohaniwan, sesajen kepada leluhur perlu dihaturkan setiap hari. Meskipun sastra Weda menyatakan bahwa leluhur seseorang telah mencapai swarga, banyak umat Hindu meyakini Samsara atau siklus reinkarnasi, yang menyebabkan setiap jiwa mengalami kelahiran dan kematian berulang kali sampai mereka mencapai kebebasan spiritual yang disebut moksa.[6]

Menurut kepercayaan di India, dewa api Agni diyakini mengantarkan arwah almarhum ke Pitraloka dengan asap yang muncul saat kremasi.[7]

Para pitara sering diumpamakan sebagai burung, sebab mereka dikatakan sering menengok ke bawah (Bumi);dalam sastra kuno Baudhayana dinyatakan bahwa pitara dapat mengubah bentuk menyerupai burung. Hal tersebut menyebabkan adanya praktik pemberian pakan kepada burung-burung saat upacara kremasi dan ritual lainnya yang berkaitan dengan pemujaan kepada leluhur (pitrayadnya).[8]

Sastra Hindu Mahabharata mengajarkan konsep untuk hidup dengan penuh kebajikan demi para leluhur yang terlebih dahulu meninggal. Daripada memuja, dikatakan bahwa kewajiban bagi seluruh keturunan laki-laki ialah melaksanakan upacara untuk para leluhurnya.[9]

Sayana, seorang cendekiawan pada masa kekaisaran Vijayanagara menganggap bahwa setiap orang lahir dengan menanggung utang para leluhurnya. Utang ini dilunasi perlahan-lahan dengan cara melanjutkan keturunan. Tindakan tersebut dinyatakan melindungi garis keturunan dan memperpanjang usia pitara. Menurutnya, dunia para pitara hanya bisa dicapai oleh orang-orang saleh, dan tidak bisa dijangkau oleh orang yang tidak menghormati dewa-dewi serta melukai kaum brahmana.[10]

Referensi

  1. ↑ Cush, Denise; Robinson, Catherine; York, Michael (2012-08-21). Encyclopedia of Hinduism (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 599. ISBN 978-1-135-18978-5.
  2. ↑ Bhatt, Dr G. P.; Deshpande, Dr N. A. (2013-01-01). The Padma-Purana Part 2: Ancient Indian Tradition and Mythology Volume 40 (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 688. ISBN 978-81-208-3907-6.
  3. ↑ Buck, Cecil Henry (1977). Faiths, Fairs & Festivals of India (dalam bahasa Inggris). Asian Educational Services. hlm. 98. ISBN 978-81-206-1304-1.
  4. ↑ Melton, J. Gordon (2011). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. hlm. 698. ISBN 978-1-59884-205-0.
  5. ↑ The Vishńu Puráńa (Vishṇupurāṇam), a System of Hindu Mythology and Tradition, Translated from the Original Sanscrit, and Illustrated by Notes Derived Chiefly from Other Puráńas, by H. H. Wilson (dalam bahasa Inggris). 1840. hlm. 329.
  6. ↑ Mani, Vettam (2015-01-01). Puranic Encyclopedia: A Comprehensive Work with Special Reference to the Epic and Puranic Literature (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass. hlm. 36. ISBN 978-81-208-0597-2.
  7. ↑ Michaels, Axel (2021-08-10). Hinduism: Past and Present (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 144. ISBN 978-0-691-23401-4.
  8. ↑ Garg, Gaṅgā Rām (1992). Encyclopaedia of the Hindu World (dalam bahasa Inggris). Concept Publishing Company. hlm. 443. ISBN 978-81-7022-375-7.
  9. ↑ Sutton, Nicholas (2000). Religious Doctrines in the Mahābhārata (dalam bahasa Inggris). Motilal Banarsidass Publ. hlm. 90. ISBN 978-81-208-1700-5.
  10. ↑ Singh, Nagendra Kr (1997). Vedic Mythology (dalam bahasa Inggris). APH Publishing. hlm. 97. ISBN 978-81-7024-867-5.
Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu


Ikon rintisan

Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan