Minggu, 20 September 2026
21:44 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Jyesta

Jyesta

Jyesta
Dewi rintangan dan kemalangan
250px-Jyeshtha_%28Alakshmi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jyesta dalam lukisan India (ca 1820), digambarkan membawa sapu dan tampah.
Nama lainAlaksmi, Mudewi
AfiliasiDewi
Atributsapu, tampah
Wahanakeledai
Dewa/dewi terkaitAlaksmi
KepercayaanHindu India
Keluarga
SaudaraLaksmi
PasanganDusaha

Jyesta (Dewanagari: ज्येष्ठा; ,IAST: Jyeṣṭhā, ज्येष्ठा) adalah dewi kesulitan dan kemalangan dalam agama Hindu.[1] Dia dipercaya sebagai kakak sekaligus antitesis dari Laksmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan. Di India Selatan, dia juga biasa dikenali dengan nama Mudewi (Mūdevi).[2]

Jyesta erat hubungannya dengan tempat-tempat buruk dan pelaku kejahatan. Dia juga terkait dengan kemalasan, kemiskinan, kegundahan, keburukan, dan biasa digambarkan bersama burung gagak. Kadangkala dia diidentikkan dengan Alaksmi, dewi kemalangan lainnya. Pemujaannya hanya dilakukan oleh kaum wanita saja, yang memohon agar dia menjauh dari rumah mereka.

Jyesta muncul dalam tradisi Hindu paling awal sekitar masa 300 SM. Pemujaannya mencapai puncak di India Selatan pada abad ke-7 dan ke-8. Pada abad ke-10, ketenarannya memudar, hingga akhirnya menghilang. Pada masa kini, banyak peninggalan arca kuno yang menggambarkan Jyesta, meskipun dia jarang dipuja lagi.

Legenda

250px-Jyestha%2C_Late_Chola_period%2C_South_India%2C_Benaras_Hindu_University_Museum.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arca Jyesta dari masa kerajaan Chola, koleksi Museum Universitas Hindu Benaras, India.

Banyak legenda Hindu yang mengisahkan bahwa kemunculan Jyesta terjadi saat peristiwa pengadukan samudra susu (Samudramantana). Biasanya dia dikisahkan lahir bersamaan dengan racun Kalakuta yang menyembur dari samudra, sedangkan Laksmi (antitesisnya) lahir ketika ramuan keabadian (tirta amerta) muncul dari dasar samudra.[3]

Menurut kitab Padmapurana, ketika pengadukan samudra sedang berlangsung, yang muncul pertama kali dari dalam samudra adalah racun (kalakuta). Kemudian racun tersebut ditelan oleh Dewa Siwa, lalu Jyesta muncul dari samudra dengan mengenakan busana merah. Dia menghadap para dewa untuk menanyakan tugas apa yang harus dia lakukan. Para dewa memintanya untuk tinggal di tempat yang sering terjadi keributan, tempat para pembohong dan pengumpat, kediaman orang jahat, dan tempat yang penghuninya berambut gondrong serta menyimpan tulang, tengkorak, dan abu pembakaran (praktisi ajaran bidah).[4]

Menurut Linggapurana, Dewa Wisnu membagi dunia menjadi sisi baik dan buruk. Dia menciptakan Laksmi (Sri) dan Jyesta dari proses pengadukan samudra susu. Saat Laksmi menikahi Wisnu, Jyesta menikahi Resi Dusaha. Setelah tinggal bersama, sang resi pun menyadari bahwa istrinya tidak tahan dengan suara atau penampakan benda yang membawa keberuntungan. Akhirnya dia menggugat Wisnu (dalam beberapa versi, ia menggugat Resi Markandeya). Wisnu (atau Markandeya) menyarankan Dusaha untuk mengajak Jyesta ke tempat-tempat yang buruk saja. Disebutkan bahwa Jyesta menjauhi orang-orang religius, sehingga dia pun menyandang gelar Alaksmi, "tidak membawa keberuntungan". Dia menghuni rumah yang penghuninya sering bertengkar, dan orang tua yang mengabaikan rasa lapar anak-anaknya. Konon dia juga nyaman berada di antara para praktisi ajaran yang dianggap sesat oleh agama Hindu. Merasa lelah akan sifat antisosial istrinya, Dusaha pun meninggalkan Jyesta di tempat pelaku ajaran dan ritual non-Weda. Kemudian Jyesta menghadap Wisnu setelah menyadari kesalahannya. Wisnu pun bersabda bahwa Jyesta akan tetap dipuja oleh para wanita.[5][6]

Catatan kaki

  1. Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 360. ISBN 0-8426-0822-2.
  2. Kampar (2002). Kamba Ramayana (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. hlm. 414. ISBN 978-0-14-302815-4.
  3. Leslie p. 120
  4. Leslie p. 121
  5. Kinsley (1997) pp. 178-9
  6. Leslie pp. 121-2

Referensi

Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Ikon rintisan

Artikel bertopik agama Hindu ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan