Rabu, 30 September 2026
04:08 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Kamarimurti

Kamarimurti

Bagikan:
Kamari
Siwa sebagai pembakar dewa asmara
250px-Kama_Shiva.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
AfiliasiSiwa
PustakaMatsyapurana, Siwapurana, Wamanapurana, Kakawin Smaradahana
KepercayaanHindu

Kamarimurti (Dewanagari: कामारिमूर्ति; ,IAST: Kāmārimūrti, कामारिमूर्ति), atau disebut Kamari (Dewanagari: कामारि; ,IAST: Kāmāri,; arti: "pembunuh Kama") saja, merupakan salah satu wujud atau aspek dewa Hindu Siwa dalam kapasitasnya sebagai pembakar Kama (alias Madana, dewa asmara) sebagaimana yang tercatat dalam sastra Hindu. Menurut berbagai kitab Hindu, Siwa membakar Kama dengan mata ketiganya sebab dewa asmara tersebut telah mengganggu meditasinya. Kisah tersebut populer dalam tradisi Hindu, dan dikenal pula dengan istilah Madanabhasma ("pengabuan Madana"), Kamadahana ("pembunuhan Kama"), atau Smaradahana ("pembunuhan dewa asmara").

Kepustakaan

Deskripsi Kamari (pembunuh Kama) sebagai salah satu aspek Siwa, termaktub dalam beberapa kitab Agama aliran Saiwa Siddhanta, terutama Watulagama dan Diptagama.[1] Rincian tentang kisah bagaimana Siwa menyandang gelar atau dijuluki sebagai Kamari tercatat dalam sejumlah Purana (kitab legenda Hindu). Kitab-kitab Purana yang memuat kisah Siwa sebagai Kamari, meliputi: Matsyapurana, Padmapurana, Siwapurana, dan Wamanapurana.[2][3]

Kisah tersebut juga tersebar sampai ke Asia Tenggara—khususnya pulau Jawa, Nusantara—dan diadaptasi menjadi suatu kakawin (kitab syair Jawa Kuno) yang berjudul Kakawin Smaradahana. Dalam berbagai versi yang termuat dalam kitab-kitab itu terdapat satu kesamaan, yaitu Kama (dewa asmara) ditugaskan untuk menggagalkan pertapaan Siwa.

Kisah

Latar belakang

Menurut mitologi Hindu, seorang asura bernama Taraka (Tarakasura) memperoleh anugerah kekuatan digdaya. Dengan kekuatannya, dia menyerbu Swarga, menaklukkan para dewa-dewi, dan menjadi momok bagi penghuni dunia. Menurut prasyarat anugerah yang diterima Taraka, hanya putra Dewa Siwa yang dapat membunuhnya. Namun saat itu Siwa sedang menarik diri dari kesibukan dunia dan melakukan meditasi setelah kematian istrinya, Sati (Daksayani). Maka dari itu, para dewa berusaha mencari cara agar Siwa bangkit dari dukacita dan melanjutkan keturunan demi menyelamatkan dunia. Di bawah kepemimpinan Indra, para dewa mengutus Kamajaya (Kama) untuk membangkitkan gairah Siwa dan membuatnya jatuh cinta kepada Parwati, putri dewa gunung Himawan, yang merupakan reinkarnasi dari Sati.[4]

Pembakaran Kama

lossy-page1-250px-The_god_Indra_talks_to_the_god_Kama_who_is_embracing_his_beloved_wife_Ratih%2C_Or._3390_198.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lukisan Bali karya I Ketut Gedé, menggambarkan Dewa Indra bernegosiasi dengan Dewa Kama, yang sedang berpelukan dengan istrinya, Dewi Ratih.

Kisah pembakaran Kama dalam versi yang paling kuno terurai dalam kitab Matsyapurana (sloka 227–255).[5][2] Dalam versi ini, Kamajaya pada mulanya menolak sebab berisiko tinggi dan berpotensi untuk membangkitkan kemarahan Siwa. Namun Indra terus meyakinkan dirinya bahwa tugas yang ia emban merupakan harapan demi kedamaian dunia.[4] Kamajaya pun akhirnya berangkat dengan ditemani Dewi Ratih (dewi kenikmatan) dan dewa musim semi (Madhu atau Wasanta).[6]

Kamadewa memecahkan konsentrasi Siwa melalui beberapa tahap. Sebagai dewa hasrat, dia menyebarkan perasaan iri, benci, dan marah ke pikiran Siwa, untuk menggoyahkan keseimbangan spiritualnya. Kamadewa juga mengatur agar lebah beterbangan, bunga bermekaran, dan angin sepoi-sepoi mengganggu meditasi Siwa.[7] Setelah upaya pemecahan konsentrasi Siwa dianggap berhasil, Kamajaya meluncurkan anak panah Mohana (khayalan dan nafsu birahi) ke jantung Siwa, membuat Siwa berpikir sesaat tentang sosok Parwati. Namun, Siwa segera sadar bahwa meditasinya sedang diganggu. Dia pun membuka mata ketiganya, menyemburkan api yang segera membakar Kamajaya sampai menjadi abu.[8] Kemudian Ratih memohon agar suaminya dihidupkan kembali. Dengan prihatin, Siwa menyatakan bahwa Kamajaya akan hidup kembali tetapi tanpa tubuh. Dia akan dikenal sebagai Anangga ("Yang tidak memiliki tubuh"), senantiasa ada tapi tidak terlihat.[9][10]

Meskipun kitab Matsyapurana menjadi dasar bagi versi-versi cerita lainnya, tapi kitab Siwapurana Wamanapurana memberikan pemahaman dan sisipan baru terhadap kisah itu. Dalam Siwapurana, Kamajaya diceritakan sebagai dewa arogan dan merasa hebat, tetapi Siwa lebih unggul dan tidak mudah dikendalikan oleh hasrat. Anak panah Kamajaya tidak berhasil sepenuhnya menembus Siwa, menunjukkan bahwa Siwa sebagai dewa petapa kebal terhadap godaan bahkan oleh dewa asmara sekalipun. Namun sebagaimana dikisahkan dalam Matsyapurana, kehancuran Kamajaya bukan berarti pemusnahan hasrat, melainkan perubahannya. Siwa membuat Kamajaya bersatu dengannya, dan menjadi gana (pelayan Siwa). Tindakan tersebut tidak hanya melambangkan pengendalian Siwa atas hasrat, tapi juga mengakui persistensinya dalam wujud yang lebih halus dan terkendali;[11] sedangkan Siwapurana menekankan gagasan bahwa hasrat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, tapi di bawah kendali melalui praktik spiritual yang disiplin.[12]

Kitab Kalikapurana dan Siwapurana menghubungkan pembakaran Kamajaya dengan kutukan Brahma karena Kamajaya menembakkan anak panah pertamanya ke arah Brahma dan putra-putra Brahma lainnya (Manasaputra, yang terlahir melalui pikiran), yang menyebabkan Brahma jatuh cinta secara inses kepada Sandya—putrinya sendiri—kemudian ditegur oleh Siwa.[13]

Galeri

  • Litograf pembakaran Kamajaya, dari India (1890), koleksi Museum Seni Metropolitan, New York City.
    Litograf pembakaran Kamajaya, dari India (1890), koleksi Museum Seni Metropolitan, New York City.
  • Lukisan Bali yang menggambarkan Dewa Kama sedang membidik Dewa Siwa yang bermeditasi, karya I Ketut Gedé.
    Lukisan Bali yang menggambarkan Dewa Kama sedang membidik Dewa Siwa yang bermeditasi, karya I Ketut Gedé.
  • Lukisan Bali yang menggambarkan Siwa (kiri) menampakkan wujudnya yang bengis saat membakar Dewa Kama, karya I Ketut Gedé.
    Lukisan Bali yang menggambarkan Siwa (kiri) menampakkan wujudnya yang bengis saat membakar Dewa Kama, karya I Ketut Gedé.

Referensi

  1. ↑ S. Sridhar Swaminathan (2012), Sinirvddha Dash (ed.), ICONOGRAPHICAL REPRESENTATION OF ŚIVA AS GLEANED FROM SAIVĀGAMA, University of Madras: Department of Sanskrit{{citation}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 41
  2. 1 2 Benton 2006, hlm. 39.
  3. ↑ Klaus Klostermaier, (2000) Hinduism: A Short History. Oxford: One World Publications.
  4. 1 2 Benton 2006, hlm. 40.
  5. ↑ Daniel Ingalls (1968). Sanskrit poetry, from Vidyākara's "Treasury". Harvard University Press. ISBN 978-0-674-78865-7., p.58
  6. ↑ Benton 2006, hlm. 41.
  7. ↑ Benton 2006, hlm. 45–46.
  8. ↑ Benton 2006, hlm. 46–47.
  9. ↑ Benton 2006, hlm. 49–50.
  10. ↑ Wendy Doniger O'Flaherty, (1975) Hindu Myths: A Sourcebook Translated from the Sanskrit. London: Penguin Books, p.157-159
  11. ↑ Benton 2006, hlm. 50-51.
  12. ↑ Benton 2006, hlm. 54.
  13. ↑ www.wisdomlib.org (2018-09-21). "Kāma is cursed but blessed later [Chapter 3]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-11.

Bacaan lebih lanjut

Konsep
Hindu omkaar
Dewa
individual
Dewi
individual
Aditya
Dasawatara
Dikpala
Mahawidya
Matrika
Nawadewata
Nawadurga
Nawagraha
Trimurti
Brahma
Wisnu
Siwa
Dewa
Dewi
Dewa
Dewi
Artikel terkait: Brahman ·Tuhan dalam agama Hindu
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan