
Acintya (Dewanagari: अचिन्त्य; ,IAST: Acintya,; arti: "tak terjangkau pikiran"),[1][2] adalah suatu konsep teologi dan simbolis dalam Hinduisme di Indonesia yang mendeskripsikan sifat-sifat ketuhanan. Acintya merupakan suatu konsep sekaligus lambang ikonografis bahwa realitas sejati berada di luar nalar, tak berwujud [fisik], dan tak disembah secara langsung.
Konsep dan makna
Acintya merupakan representasi simbolis dan personal dari sifat-sifat Tuhan yang berada di luar jangkauan pikiran. Ia dikenal sejak zaman kuno dalam budaya Hindu Jawa dan Bali sebelum penggunaan istilah Sang Hyang Widhi–pada umat Hindu Bali masa kini–untuk mengacu kepada konsep ketuhanan. Dalam tradisi Saiwa, Acintya diyakini sebagai manifestasi dari Siwa, dewa yang utama.
Acintya seringkali berkaitan dengan konsep pemujaan terhadap dewa matahari, Surya.[3] Hubungan tersebut menyiratkan suatu makna bahwa seperti halnya Matahari yang tidak mampu dipandang secara langsung, demikian pula sifat-sifat Tuhan tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh akal manusia.
Dalam sebagian besar wujud ikonisnya, Acintya dilambangkan sebagai sosok manusia tanpa busana, dengan pancaran di beberapa titik tubuhnya. Sosok yang telanjang melambangkan kesadaran murni, mengindikasikan kondisi pikiran yang tidak lagi terbelenggu pada sensasi indrawi.[4]
Lihat pula
Referensi
- ↑ Margaret J. Wiener (1995). Visible and Invisible Realms: Power, Magic, and Colonial Conquest in Bali. University of Chicago Press. hlm. 51–55. ISBN 978-0-226-88580-3.
- ↑ Helen M. Creese (2016). Bali in the Early Nineteenth Century: The Ethnographic Accounts of Pierre Dubois. BRILL Academic. hlm. 226–227. ISBN 978-90-04-31583-9.
- ↑ Toh, Irene; Morillot, Juliette; Guthrie-Haer, Debbie (2010). Bali: A traveller's companion. Editions Didier Millet. hlm. 45–46. ISBN 9789814260268.
- ↑ Hobart, Angela (2003). Healing Performances of Bali: Between Darkness and Light. Berghahn Books. hlm. 151. ISBN 9781571814814.