Rabu, 23 September 2026
19:06 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Tilotama

Tilotama

250px-Fronton_Cambodge_Mus%C3%A9e_Guimet_9972.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sunda, Upasunda dan Tilottama - 967

Dalam mitologi Hindu, Tilotama (Sanskerta: तिलोत्तमा; Tilottamā) adalah salah satu dari tujuh bidadari utama di kahyangan yang berasal dari benih wijen. Ia diciptakan oleh Dewa Wiswakarma atas permohonan Dewa Brahma untuk menghancurkan dua asura kuat, yaitu Sunda dan Upasunda. Oleh karena kecantikan Tilotama, asura Sunda dan Upasunda yang semula tak terpisahkan, menjadi bertikai bahkan kemudian saling bunuh untuk memperebutkan Tilotama. Kedua asura yang menebar ketakutan di antara manusia dan para dewa ini memang hanya dapat dihancurkan bila mereka saling membinasakan.

Tilotama dalam pewayangan Jawa

Budaya pewayangan Jawa memiliki kisah berbeda mengenai mitologi tentang Tilotama dari India. Dikisahkan pada suatu ketika, Bambang Kumbayana, yaitu Resi Drona yang masih muda, yang berasal dari negeri Atasangin berniat mengunjungi sahabatnya, yaitu Sucitra, sebutan bagi Prabu Drupada muda, yang kini bertahta di Kerajaan Pancala. Tiba-tiba perjalanannya terhalang oleh lautan. Karena melihat tak ada cara untuk menyeberangi lautan, akhirnya Kumbayana mengucapkan janji bahwa siapapun yang dapat menolongnya menyeberangi lautan akan dianggapnya sebagai saudara bila berjenis kelamin pria, dan akan diperistrinya jika berjenis kelamin wanita.

Tiba-tiba muncullah seekor kuda putih bersayap di hadapannya. Menganggap kuda putih itu adalah utusan dewata untuk menolongnya, Kumbayana segera naik ke atas punggung kuda tersebut. Sesampainya di seberang kuda putih itu menagih janji Kumbayana. Karena ternyata kuda itu berjenis kelamin betina, maka Kumbayana harus menikahi kuda tersebut. Kumbayana sedang kebingungan menepati janjinya kepada kuda putih itu, ketika tiba-tiba kuda putih itu berubah wujud menjadi seorang wanita cantik yang ternyata adalah Tilotama yang tengah menjalani hukuman dewata dengan hidup sebagai seekor kuda putih bersayap.

Melihat wujud asli Tilotama, barulah Kumbayana bersedia memperistri dirinya. Mereka hidup sebagai suami istri sampai Tilotama melahirkan seorang putera bagi Kumbayana, yaitu Aswatama. Setelah itu Tilottama meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kahyangan. Tilotama berjanji kepada Kumbayana akan selalu menjaga keselamatan Aswatama. Ini terbukti Aswatama berhasil selamat sampai akhir perang Bharatayuddha dan bahkan melakukan serangan malam ke kubu Pandawa di akhir perang dan menyudahi hidup beberapa kesatria dari pihak Pandawa. Namun karena melanggar janjinya kepada Tilotama untuk tidak menengok ke belakang selama Aswatama berusaha mencapai perkemahan Pandawa, Tilotama meninggalkannya dan sejak saat itu Aswatama hidup dalam kegelapan.

Pranala luar

Tilotama menurut mitologi Hindu India
250px-Draupadi_and_Pandavas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-A_Vishva-rupa_print.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

250px-The_start_of_the_great_battle.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wangsa
Candra
Leluhur
Keluarga Kuru
(Korawa)
Keluarga Yadu
(Yadawa)
Tokoh lain
Brahmana
Kesatria
Lainnya
Non-manusia
Dewa
Cerita
berbingkai
Lokasi
Kerajaan
Kota dan
desa
Bentang
alam
Keluarga
Konsep dan
peristiwa
Ikon rintisan

Artikel bertopik Mahabharata ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan