| Terjemahan dari Samatha | |
|---|---|
| Indonesia | ketenangan |
| Inggris | calm, tranquility, serenity, calm abiding |
| Pali | samatha |
| Sanskerta | शमथ (IAST: śamatha) |
| Tionghoa | 止 (Pinyin: zhǐ) |
| Jepang | 止 (rōmaji: shi) |
| Korea | 지 (止) (RR: ji) |
| Tibet | ཞི་གནས་ (Wylie: zhi gnas; THL: shyiné) |
| Myanmar | သမထ |
| Thai | สมถะ |
| Vietnam | chỉ |
| Khmer | សមថ |
| Sinhala | සමථ (samatha) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Terjemahan dari Vipassanā | |
|---|---|
| Indonesia | pandangan terang |
| Inggris | insight, clear-seeing, special seeing, distinct seeing |
| Pali | vipassanā |
| Sanskerta | विपश्यना (IAST: vipaśyanā) |
| Tionghoa | 觀 (Pinyin: guān) |
| Jepang | 観 (rōmaji: kan) |
| Korea | 관 (觀) (RR: gwan) |
| Tibet | ལྷག་མཐོང་ (Wylie: lhag mthong; THL: lhak-thong) |
| Myanmar | ဝိပဿနာ |
| Thai | วิปัสสนา |
| Vietnam | minh sát, quán |
| Khmer | វិបស្សនា (UNGEGN: vĭbâssânéa) |
| Sinhala | විදර්ශනා; විපස්සනා (vidarśanā; vipassanā) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Kewawasan |
|---|
|
Lainnya |
|
|
Samatha[a] ("ketenangan",[b] "kedamaian",[c] "ketenteraman keawasan"[d]) dan vipassanā[e] ("pandangan terang", "wawasan"; terj. har. 'melihat, memandang (-passanā) secara khusus, istimewa (vi-)'[1]) adalah dua kualitas batin yang dikembangkan beriringan dalam praktik buddhis.
Dalam Tripitaka Pali dan Āgama, kedua kualitas ini bukan praktik yang sepenuhnya terpisah, melainkan unsur dari "satu jalan tunggal", dan "dipenuhi" melalui pengembangan (bhāvanā) kewawasan (sati; sering pula diterjemahkan sebagai "perhatian penuh" atau "kesadaran penuh") dan meditasi (jhāna) serta faktor-faktor jalan lainnya.[2][3] Meskipun jhāna berperan sentral dalam jalan buddhis, vipassanā jarang disebut tersendiri, dan biasanya diuraikan bersama samatha.[2][3]
Abhidhamma Piṭaka dan kitab-kitab komentar menguraikan samatha dan vipassanā sebagai dua teknik terpisah, dengan memaknai samatha sebagai meditasi konsentrasi, dan vipassanā sebagai praktik untuk memperoleh pandangan terang. Dalam tradisi Theravāda, vipassanā adalah praktik yang mencari "pandangan terang atas hakikat sejati kenyataan", yang dirumuskan sebagai anicca ("ketidakkekalan"), dukkha ("penderitaan, ketidakpuasan"), dan anattā ("ketiadaan diri"), yaitu tiga corak keberadaan.[4][5] Dalam tradisi-tradisi Mahāyāna, vipaśyanā dirumuskan sebagai pandangan terang atas śūnyatā ("kekosongan") dan Benih Kebuddhaan.
Dalam Theravāda modern, hubungan antara samatha dan vipassanā masih diperdebatkan. Praktik meditasi ditemukan ulang dalam tradisi Theravāda pada abad ke-18 hingga ke-20 berdasarkan pembacaan masa kini atas Satipaṭṭhāna Sutta, Visuddhimagga, dan teks-teks lain, dengan berpusat pada vipassanā dan "pandangan terang kering" serta mengecilkan peran samatha.[6] Vipassanā menjadi sangat penting dalam Gerakan Vipassanā abad ke-20,[7] yang lebih mengutamakan vipassanā daripada samatha.
Sebagian pengkritik[misalnya siapa?] menunjukkan bahwa keduanya merupakan unsur yang sama-sama diperlukan dalam latihan buddhis, sementara pengkritik lain[misalnya siapa?] berpendapat bahwa jhāna bukanlah latihan konsentrasi terpusat pada satu titik.
Terminologi
Samatha
Istilah samatha (Pali; Sanskerta: śamatha) dapat diterjemahkan sebagai "ketenangan, ketenteraman" (tranquility);[4][8] "ketenteraman batin" (tranquility of the mind);[8] "ketenteraman keawasan" (tranquillity of awareness);[9] "kedamaian" (serenity);[10] "ketenangan" (calm);[8] "ketenangan meditatif" (meditative calm);[8] atau "keheningan hati" (quietude of the heart).[8]
Istilah Tibet untuk śamatha adalah ཞི་གནས་ (shiné; Wylie: zhi-gnas).[11] Medan makna kata Sanskerta śama dan kata Tibet shi adalah "penenangan", "pelambatan atau pendinginan", dan "istirahat".[11] Medan makna kata Tibet né adalah "berdiam atau tinggal", yang diandaikan sebagai makna suku kata terakhir kata Sanskertanya, thā.[12] Menurut Jamgon Kongtrul, istilah-istilah itu merujuk pada "kedamaian" dan "penenangan" batin serta pikiran.[11]
Vipassanā
Vipassanā adalah kata Pali yang terbentuk dari awalan "vi-" dan akar verbal "-passanā":[1]
- vi-
- "khusus", "istimewa";[1] "dengan cara khusus", "ke dalam, menembus";[5] "jernih".[13]
- -passanā
- "melihat";[1] "memandang", "mencerap";[5] "bebas dari prasangka".[13]
Makna harfiahnya adalah "melihat secara istimewa" (super-seeing),[1] tetapi kata ini kerap diterjemahkan sebagai "pandangan terang" (insight) atau "melihat dengan jernih" (clear-seeing).[butuh rujukan] Henepola Gunaratana mendefinisikan vipassanā sebagai "[m]emandang sesuatu dengan jernih dan cermat, melihat tiap unsurnya sebagai hal yang berbeda dan terpisah, serta menembus sampai ke dasar sehingga mencerap kenyataan paling mendasar dari hal itu".[5] Menurut Mitchell Ginsberg, vipassanā adalah "[p]andangan terang atas bagaimana segala sesuatu sebenarnya, bukan bagaimana kita mengira keadaannya".[13]
Berkaitan dengan vipassanā adalah istilah Pali paccakkha (sekerabat dengan kata Sanskerta pratyakṣa), "dapat dicerap oleh indra", secara harfiah "di depan mata", yang merujuk pada persepsi pengalaman langsung. Dengan demikian, jenis penglihatan yang ditunjuk oleh vipassanā adalah persepsi langsung, bukan pengetahuan yang diperoleh dari penalaran atau argumen.[butuh rujukan]
Dalam bahasa Tibet, vipaśyanā disebut lhaktong (Wylie: lhag mthong). Lhak berarti "lebih tinggi", "unggul", "lebih besar", sedangkan tong berarti "pandangan, melihat". Jadi, lhaktong dapat diterjemahkan sebagai "penglihatan unggul", "pandangan agung", atau "kebijaksanaan tertinggi". Istilah ini dapat ditafsirkan sebagai "cara melihat yang unggul", dan juga sebagai "melihat apa yang merupakan hakikat esensial". Sifatnya adalah kejernihan, yakni terangnya batin.[14]
Asal-usul dan perkembangan
Buddhisme awal
Menurut Thanissaro Bhikkhu, "samatha, jhāna, dan vipassanā semuanya merupakan bagian dari satu jalan tunggal".[2] Menurut Keren Arbel, samatha dan vipassanā bukan praktik tersendiri, melainkan kualitas batin yang dipenuhi praktisi seiring ia mengembangkan faktor-faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan, termasuk sati ("kewawasan") dan jhāna ("meditasi").[3] Dalam Sutta Piṭaka, istilah "vipassanā" nyaris tidak disebut, sedangkan teks-teks itu kerap menyebut jhāna sebagai praktik meditasi yang harus dijalankan. Sebagaimana ditulis Thanissaro Bhikkhu,
Ketika [sutta-sutta Pali] menggambarkan Buddha menyuruh para siswa-Nya pergi bermeditasi, sutta-sutta itu tidak pernah mengutip Beliau berkata "pergilah lakukan vipassanā", melainkan selalu "pergilah lakukan jhāna". Sutta-sutta itu juga tidak pernah menyamakan kata "vipassanā" dengan teknik kewawasan apa pun. Dalam segelintir kasus yang menyebut vipassanā, sutta-sutta itu hampir selalu memasangkannya dengan samatha, bukan sebagai dua metode alternatif, melainkan sebagai dua kualitas batin yang dapat "diperoleh" atau "dimiliki" seseorang, dan yang hendaknya dikembangkan bersama.[2]
Menurut Vetter dan Bronkhorst, jhāna merupakan "praktik pembebasan" asli Buddha.[15][16][17] Vetter selanjutnya berpendapat bahwa Jalan Mulia Berunsur Delapan merupakan kumpulan praktik yang mempersiapkan seseorang untuk, dan mengantarkannya pada, praktik jhāna.[18] Vetter dan Bronkhorst juga mencatat bahwa jhāna tidak terbatas pada konsentrasi terpusat pada satu titik, yang tampaknya diuraikan dalam jhāna pertama, tetapi berkembang menjadi keseimbangan batin dan kewawasan,[19][20][f] yang "lahir dari samādhi".[21] Wynne mencatat bahwa pada tahap itu seseorang tidak lagi terserap dalam konsentrasi, tetapi secara wawas menyadari objek-objek sembari bersikap tak acuh terhadapnya,[22] yakni "mengarahkan keadaan penyerapan meditatif menuju keawasan yang wawas terhadap objek".[23]
Sejumlah sutta menyebut samatha dan vipassanā sebagai kualitas batin yang dikembangkan beriringan.[g] Dalam SN 43.2, Samathavipassanā Sutta, Buddha menyatakan: "Dan apakah, para bhikkhu, jalan yang menuju yang tak berkondisi? Samatha dan vipassanā..."[24] Dalam SN 35.245, Kiṃsuka Sutta (Sutta Pohon Kiṃsuka), Buddha memberikan perumpamaan panjang yang menggambarkan kedamaian dan pandangan terang sebagai "sepasang utusan yang cepat" yang menyampaikan pesan nibbāna (Pali; Skt.: nirvāṇa) melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan.[h] Dalam AN 2.30 (SuttaCentral: AN 2.31), Vijjābhāgiya Sutta, Buddha menyatakan:
Dua kualitas ini mengambil bagian dalam pengetahuan jernih. Apakah yang dua itu? Samatha (ketenangan, ketenteraman) dan vipassanā (pandangan terang).
Ketika samatha dikembangkan, tujuan apakah yang dicapainya? Batin berkembang (cittaṁ bhāvīyati). Dan ketika batin berkembang, tujuan apakah yang dicapainya? Nafsu (rāga) ditinggalkan.
Ketika vipassanā dikembangkan, tujuan apakah yang dicapainya? Kebijaksanaan (paññā) berkembang. Dan ketika kebijaksanaan berkembang, tujuan apakah yang dicapainya? Ketidaktahuan (avijjā) ditinggalkan.Tercemar oleh rāga, citta tidak terbebas. Tercemar oleh avijjā, paññā tidak berkembang. Maka dari memudarnya rāga, terdapat ceto-vimutti (pembebasan batin). Dari memudarnya avijjā, terdapat paññā-vimutti (pembebasan kebijaksanaan).[25]
Yang Mulia Ānanda melaporkan bahwa orang-orang mencapai kearahatan (arahatta) melalui salah satu dari empat cara:
Sahabat-sahabat, siapa pun, biku atau bikuni, yang menyatakan pencapaian kearahatan di hadapanku, semuanya melakukannya melalui salah satu dari empat jalan. Apakah yang empat itu?
Ada kasus ketika seorang biku mengembangkan vipassanā yang didahului samatha. [...]
Lalu ada kasus ketika seorang biku mengembangkan samatha yang didahului vipassanā. [...]
Lalu ada kasus ketika seorang biku mengembangkan samatha beriringan dengan vipassanā. [...]
Lalu ada kasus ketika kegelisahan batin seorang biku terkait dhamma [Kom.: kekotoran pandangan terang] telah terkendali dengan baik.
Pemisahan samatha dan vipassanā
Buddhaghosa, dalam risalah skolastik Theravāda yang berpengaruh, Visuddhimagga, menyatakan bahwa jhāna dibangkitkan oleh samatha, lalu jhāna itu direnungkan dengan kewawasan sehingga menjadi objek vipassanā, dan si perenung menyadari bahwa jhāna ditandai oleh tiga corak.[26] Orang yang memakai metode ini disebut "penempuh kendaraan ketenangan" (Pali: samatha yānika).[6] Namun, guru buddhis modern seperti Henepola Gunaratana menyatakan bahwa hampir tidak ada bukti metode ini dalam sutta-sutta Pāḷi.[27] Beberapa sutta menguraikan metode "pandangan terang belaka" atau "pandangan terang kering", yang hanya menjalankan vipassanā, dengan memeriksa fenomena jasmani dan batin sehari-hari untuk memahami tiga corak.[6] Menurut Gombrich, gagasan pencerahan tanpa meditasi kemungkinan besar tidak pernah dibayangkan oleh Buddha maupun dalam teks-teks paling awal, melainkan berkembang belakangan melalui tafsir harfiah dan perdebatan di kalangan biku, yang jejaknya terekam dalam sebagian sutta yang lebih muda.[28] Brooks bahkan berpendapat bahwa pembedaan sebagai dua jalan terpisah sama sekali tidak dapat ditemukan dalam sutta-sutta.[j]
Menurut Richard Gombrich, dalam Buddhisme awal terjadi perkembangan yang mengubah doktrin sehingga paññā dipandang sebagai sarana alternatif menuju pencerahan, di samping praktik meditasi.[29] Sutta-sutta memuat jejak debat kuno di kalangan para biku mengenai tafsir ajaran dan pengembangan pandangan terang, misalnya antara para pemeditasi (jhāyī) dan para biku yang menempuh jalan intelektual (dhamma-yoga).[30] Dari debat-debat itu tumbuh gagasan bahwa pandangan terang belaka sudah cukup untuk mencapai pembebasan, dengan memahami tiga corak (sifat) keberadaan (tilakkhaṇa), yaitu dukkha (penderitaan), anattā (ketiadaan diri), dan anicca (ketidakkekalan).[31] Sebuah esai di Access to Insight, yang merujuk pada uraian Thanissaro Bhikkhu, juga menyebut bahwa samatha dan vipassanā memiliki "peran yang menyatu", sedangkan "Abhidhamma [Theravāda] dan kitab-kitab komentar, sebaliknya, menyatakan bahwa samatha dan vipassanā adalah dua jalan meditasi yang berbeda".[k]
Gunaratana mencatat bahwa "[s]umber klasik bagi pembedaan antara dua kendaraan, yakni kedamaian dan pandangan terang, adalah Visuddhimagga".[32] Ajahn Brahm (yang, seperti Bhikkhu Thanissaro, berasal dari Tradisi Hutan Thai) menulis:
Sebagian tradisi berbicara tentang dua jenis meditasi, yaitu meditasi pandangan terang (vipassanā) dan meditasi ketenangan (samatha). Sebenarnya keduanya adalah segi yang tak terpisahkan dari proses yang sama. Ketenangan adalah kebahagiaan damai yang lahir dari meditasi; pandangan terang adalah pemahaman jernih yang lahir dari meditasi yang sama. Ketenangan membawa pada pandangan terang dan pandangan terang membawa pada ketenangan.[33]
Theravāda dan gerakan vipassanā
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
|
|
|
|
|
Ordo (Nikāya atau Gaṇa) |
|
|
|
Menjelang abad ke-10, meditasi tidak lagi dipraktikkan dalam tradisi Theravāda karena adanya keyakinan bahwa Buddhisme telah merosot dan pembebasan tidak lagi dapat dicapai sampai kedatangan Buddha mendatang, Metteyya.[4][l] Meditasi ditemukan ulang di Myanmar (Burma) pada abad ke-18 oleh Medawi (1728–1816), yang berujung pada munculnya Gerakan Vipassanā pada abad ke-20. Gerakan ini menciptakan ulang meditasi vipassanā, mengembangkan teknik meditasi yang disederhanakan (berdasarkan Satipaṭṭhāna Sutta, Ānāpānasati Sutta, Visuddhimagga, dan teks-teks lain), serta menekankan satipaṭṭhāna dan pandangan terang belaka.[34][35] Dalam pendekatan ini, samatha dipandang sebagai persiapan bagi vipassanā, yang menenangkan batin dan memperkuat konsentrasi agar pandangan terang atas ketidakkekalan dapat muncul, yang membawa pada pembebasan. Pada akhirnya, teknik-teknik ini bertujuan mencapai tahap pemasuk arus, yang menjamin perkembangan selanjutnya menuju pencerahan penuh, walaupun kita hidup di zaman kemerosotan.[m]
Samatha
Menurut tradisi Theravāda, samatha merujuk pada teknik-teknik yang membantu menenangkan batin. Samatha diyakini dikembangkan melalui samādhi, yang ditafsirkan tradisi komentar Theravāda sebagai meditasi konsentrasi, yaitu kemampuan menumpukan perhatian pada satu objek persepsi. Salah satu teknik utama untuk tujuan ini adalah kewawasan atas pernapasan (Pali: ānāpānasati).[36]: 36–37 Umumnya ditafsirkan bahwa samatha semestinya dijalankan sebagai pendahuluan bagi, dan bersamaan dengan, praktik kebijaksanaan.[36]: 36
Objek meditasi samatha
Beberapa praktik meditasi, seperti perenungan atas objek kasiṇa, mendukung pengembangan samatha; yang lain, seperti perenungan atas gugus (khandha), mendukung pengembangan vipassanā; sedangkan yang lain lagi, seperti kewawasan atas pernapasan, secara klasik dipakai untuk mengembangkan kedua kualitas batin itu.[37]
Visuddhimagga (abad ke-5 M) menyebut empat puluh objek meditasi. Kewawasan (sati) atas pernapasan (ānāpāna: ānāpānasati; Skt. ānāpānasmṛti) adalah praktik samatha yang paling umum (meskipun istilah ini juga dipakai untuk meditasi vipassanā). Samatha juga dapat mencakup praktik samādhi lainnya.
Tanda dan tahap kegiuran dalam meditasi samatha
| Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna | ||||
| Faktor jhāna (jhānaṅga) | Jhāna pertama | Jhāna kedua | Jhāna ketiga | Jhāna keempat |
|---|---|---|---|---|
| Vitakka (penempatan awal) |
✓ (terasing dari kāma dan akusala-dhammā) |
✗ | — | — |
| Vicāra (penempatan sinambung) | ||||
| Pīti (kegembiraan) |
✓ (lahir dari viveka) |
✓ (lahir dari samādhi; sampasādana internal) |
✗ | — |
| Sukha (kebahagiaan) |
✓ (mengalami dengan kāya) |
✗ (adukkhamasukhaṁ upekkhā-sati-pārisuddhi) | ||
| Ekaggatā (kemanunggalan, keterpusatan) |
✓ | ✓ | ✓ | ✓ (sati-pārisuddhi-citt-ekaggatā) |
Buddhisme Theravāda menguraikan pengembangan samatha dalam kerangka tiga citra batin atau 'tanda' (nimitta) yang berurutan[n] dan lima tahap kegiuran (pīti).[o] Menurut tradisi Theravāda, pīti, yaitu perasaan gembira, sukacita, atau kegiuran, muncul dari ditinggalkannya lima rintangan demi konsentrasi pada satu objek.[39] Tahap-tahap ini diuraikan penafsir Theravāda Buddhaghosa dalam Visuddhimagga (juga dalam Aṭṭhasālinī) dan oleh Upatissa yang lebih awal (pengarang Vimuttimagga). Setelah konsentrasi akses (upacāra-samādhi) mantap, seseorang dapat memasuki empat jhāna, keadaan penyerapan penuh sukacita yang kuat, ketika seluruh tubuh diliputi pīti.
Ragam pemahaman samatha
Dalam tradisi Theravāda terdapat beragam pemahaman tentang samatha:[p]
- Di Sri Lanka, samatha mencakup semua meditasi yang diarahkan pada objek statis.[40]
- Di Burma, samatha mencakup semua praktik konsentrasi yang bertujuan menenangkan batin.
- Tradisi Hutan Thai yang berasal dari Ajahn Mun dan dipopulerkan oleh Ajahn Chah menekankan ketakterpisahan samatha dan vipassanā serta keharusan menjalankan keduanya.
Vipassanā
Dalam Theravāda modern, pembebasan diyakini dicapai melalui pandangan terang atas sifat fenomena yang sementara. Hal ini dicapai dengan menegakkan sati (kewawasan) dan samatha melalui praktik ānāpānasati (kewawasan atas pernapasan), dengan menggunakan kewawasan untuk mengamati ketidakkekalan dalam perubahan jasmani dan batin, demi memperoleh pandangan terang (P: vipassanā, S: vipaśyanā; P: paññā, S: prajñā) atas hakikat sejati fenomena.[41][42]
Gerakan Vipassanā
Istilah vipassanā sering dicampuradukkan dengan Gerakan Vipassanā, yang memopulerkan ajaran dan praktik vipassanā yang baru. Gerakan ini bermula pada dasawarsa 1950-an di Burma, tetapi dikenal luas terutama melalui guru-guru buddhis Amerika seperti Joseph Goldstein, Tara Brach, Gil Fronsdal, Sharon Salzberg, dan Jack Kornfield. Gerakan ini berdaya tarik luas karena merangkul beragam kebijaksanaan buddhis dan nonbuddhis, puisi, serta sains. Bersama tradisi Zen Amerika modern, gerakan ini menjadi salah satu ilham utama bagi "gerakan kewawasan" yang dikembangkan Jon Kabat-Zinn dan lainnya. Gerakan Vipassanā, yang juga dikenal sebagai Gerakan Meditasi Pandangan Terang (Insight Meditation Movement), berakar pada Buddhisme Theravāda dan kebangkitan kembali teknik-teknik meditasi, terutama "Metode Burma Baru", Tradisi Hutan Thai, dan pengaruh modern[7] atas tradisi-tradisi di Sri Lanka, Burma, Laos, dan Tailan.
Dalam Gerakan Vipassanā, penekanannya ada pada Satipaṭṭhāna Sutta dan penggunaan kewawasan untuk memperoleh pandangan terang atas ketidakkekalan diri. Gerakan ini berpendapat bahwa pengembangan samatha yang kuat dapat merugikan,[43] sikap yang membuat Gerakan Vipassanā dikritik, terutama di Sri Lanka.[44][45] "Metode Burma Baru" dikembangkan oleh U Nārada (1868–1955) dan dipopulerkan oleh Mahasi Sayadaw (1904–1982) serta Nyanaponika Thera (1901–1994). Tokoh Burma berpengaruh lainnya antara lain Ledi Sayadaw dan Mogok Sayadaw, juga Mother Sayamagyi dan S. N. Goenka, yang keduanya murid Sayagyi U Ba Khin.[46] Guru Thai yang berpengaruh antara lain Ajahn Chah dan Buddhadasa. Guru India yang terkenal adalah Dipa Ma.
Tahap-tahap praktik
Praktik dimulai dengan tahap persiapan, yaitu praktik sīla (moralitas): melepaskan pikiran dan keinginan duniawi.[47][48] Jeff Wilson mencatat bahwa moralitas adalah unsur hakiki praktik buddhis dan juga ditekankan oleh generasi pertama guru Barat pascaperang. Namun, dalam gerakan kewawasan masa kini, moralitas sebagai unsur praktik sebagian besar telah dibuang, sehingga "mengaburkan" asal-usul kewawasan.[47]
Praktisi kemudian menjalankan ānāpānasati (kewawasan atas pernapasan), yang dalam Satipaṭṭhāna Sutta diuraikan sebagai pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon untuk sekadar mengamati napas: jika napasnya panjang, ia mengetahui bahwa napasnya panjang; jika napasnya pendek, ia mengetahui bahwa napasnya pendek.[49][50] Dalam "Metode Burma Baru", praktisi memperhatikan setiap fenomena batin atau jasmani yang muncul dengan menjalankan vitakka, yaitu mencatat atau menamai fenomena jasmani dan batin (misalnya "bernapas, bernapas"), tanpa melibatkan fenomena itu dengan pemikiran konseptual lebih lanjut.[48][51] Dengan mencatat munculnya fenomena jasmani dan batin, pemeditasi menjadi menyadari bagaimana kesan indra muncul dari kontak antara indra dan fenomena jasmani serta batin,[48] sebagaimana diuraikan dalam lima khandha dan paṭiccasamuppāda. Menurut Sayadaw U Pandita, keawasan dan pengamatan seseorang atas sensasi itu dilepaskan dari segala jenis respons jasmani, yang mengondisikan ulang respons impulsif seseorang terhadap rangsangan sehingga ia cenderung tidak bereaksi berlebihan, baik secara jasmani maupun emosional, terhadap peristiwa di dunia.[52]
Praktisi juga menjadi menyadari perubahan tanpa henti yang terlibat dalam pernapasan, serta muncul dan lenyapnya kewawasan.[53] Pencatatan ini disertai perenungan atas sebab-musabab dan ajaran buddhis lainnya, yang membawa pada pandangan terang atas dukkha, anattā, dan anicca.[48][53] Ketika ketiga corak ini telah dipahami, perenungan mereda[butuh klarifikasi], dan proses pencatatan menjadi lebih cepat, mencatat fenomena secara umum tanpa harus menamainya.[48][41][42]
Menurut guru meditasi Thai Ajahn Lee, praktik samatha dan vipassanā bersama-sama memungkinkan seseorang mencapai berbagai kekuatan batin dan pengetahuan luhur (Pali: abhiññā), termasuk pencapaian nibbāna, sedangkan praktik vipassanā saja memungkinkan pencapaian nibbāna, tetapi tidak kekuatan batin atau pengetahuan luhur lainnya.[54]
Vipassanā jhāna
Vipassanā jhāna adalah tahap-tahap yang menggambarkan perkembangan samatha dalam praktik meditasi vipassanā sebagaimana diuraikan dalam meditasi Vipassanā Burma modern.[55] Murid Mahasi Sayadaw, Sayadaw U Pandita, menguraikan empat vipassanā jhāna sebagai berikut:[56]
- Pemeditasi pertama-tama menjelajahi hubungan tubuh dan batin sebagai satu kesatuan nondual, sambil menemukan tiga corak. Jhāna pertama terdiri atas melihat hal-hal ini serta hadirnya vitakka dan vicāra. Fenomena menampakkan diri sebagai muncul dan lenyap.
- Dalam jhāna kedua, praktik tampak tanpa upaya. Vitakka dan vicāra sama-sama lenyap.
- Dalam jhāna ketiga, pīti, yaitu kegiuran, juga lenyap: yang tersisa hanya kebahagiaan (sukha) dan konsentrasi.
- Jhāna keempat muncul, ditandai oleh kemurnian kewawasan berkat keseimbangan batin. Praktik membawa pada pengetahuan langsung. Rasa nyaman lenyap karena luruhnya segala fenomena tampak jelas. Praktik memperlihatkan setiap fenomena sebagai tidak stabil, sementara, dan mengecewakan. Keinginan untuk menjadi terbebaskan pun muncul.
Kritik
Meditasi samatha dan jhāna (Skt. dhyāna) sering dianggap bersinonim oleh Theravāda modern, tetapi empat jhāna melibatkan keawasan yang meningkat, bukan penyempitan batin.[butuh rujukan]
Vetter mencatat bahwa samādhi dapat merujuk pada empat tahap meditasi jhāna, tetapi hanya tahap pertama yang merujuk pada konsentrasi kuat, yang darinya muncul tahap-tahap lain, termasuk kewawasan.[q]
Menurut Richard Gombrich, urutan empat rūpa-jhāna menggambarkan dua keadaan kognitif yang berbeda.[20][r][s] Gombrich dan Wynne mencatat bahwa, sementara jhāna kedua menunjukkan keadaan penyerapan, dalam jhāna ketiga dan keempat seseorang keluar dari penyerapan itu dan secara wawas menyadari objek sembari bersikap tak acuh terhadapnya.[22] Menurut Gombrich, "tradisi belakangan telah memalsukan jhāna dengan menggolongkannya sebagai intisari jenis meditasi yang terkonsentrasi dan menenangkan, sambil mengabaikan unsur yang lain, yang justru lebih tinggi."[20] Alexander Wynne lebih lanjut menjelaskan bahwa skema jhāna kurang dipahami.[57] Menurut Wynne, kata-kata yang mengungkapkan penanaman keawasan, seperti sati, sampajāno, dan upekkhā, disalahterjemahkan atau dipahami sebagai faktor-faktor tertentu dari keadaan meditatif,[57] padahal kata-kata itu merujuk pada cara tertentu dalam mencerap objek indra.[t]
Tradisi utara
Tradisi buddhis India utara seperti Sarvāstivāda dan Sautrāntika menjalankan meditasi sebagaimana diuraikan dalam teks seperti Abhidharmakośakārikā karya Vasubandhu dan Yogācārabhūmi-śāstra. Abhidharmakośakārikā menyatakan bahwa vipaśyanā dijalankan, setelah seseorang mencapai samādhi ("penyerapan"), dengan mengembangkan empat landasan kewawasan (smṛtyupasthāna).[58] Menurut Vasubandhu, hal ini dicapai
[d]engan mempertimbangkan ciri-ciri khas (svalakṣaṇa) dan ciri-ciri umum (sāmānyalakṣaṇa) dari tubuh, perasaan, batin, dan dharma.
"Ciri-ciri khas" berarti sifat dirinya (svabhāva).
"Ciri-ciri umum" menandakan kenyataan bahwa "Semua hal berkondisi tidak kekal; semua dharma yang tidak murni adalah penderitaan; dan semua dharma kosong (śūnya) dan tanpa diri (anātmaka)."[58]
Abhidharmasamuccaya karya Asaṅga menyatakan bahwa praktik śamatha-vipaśyanā merupakan bagian dari awal jalan seorang Bodhisatwa, dalam "jalan persiapan" yang pertama (sambhāramārga).[59]
Sthavira nikāya, salah satu aliran buddhis awal yang menjadi asal tradisi Theravāda, menekankan pandangan terang yang seketika: "Dalam Sthaviravāda [...] kemajuan pemahaman datang sekaligus, 'pandangan terang' (abhisamaya) tidak datang 'secara bertahap' (berturut-turut, anupūrva)."[60]
Mahāsāṃghika, aliran buddhis awal lainnya, memiliki doktrin ekakṣaṇacitta, "yang menurutnya seorang Buddha mengetahui segala sesuatu dalam satu momen pikiran".[61] Namun, proses ini dimaksudkan hanya berlaku bagi Buddha dan pratyekabuddha. Umat awam mungkin harus mengalami berbagai tingkat pandangan terang untuk tercerahkan sepenuhnya.
Mahāyāna
Tradisi skolastik Mahāyāna India yang belakangan, sebagaimana tercermin dalam Bodhisattvacaryāvatāra karya Śāntideva, memandang śamatha sebagai prasyarat mutlak bagi vipaśyanā. Jadi, seseorang perlu memulai dengan meditasi berdiam dalam ketenangan, lalu melanjutkan ke pandangan terang.[butuh rujukan] Dalam komentar Pañjikā karya Prajñākaramati (Wylie: shes rab 'byung gnas blo gros) atas Bodhisattvacaryāvatāra, vipaśyanā didefinisikan sekadar sebagai "kebijaksanaan (prajñā) yang berhakikat pengetahuan menyeluruh atas kenyataan sebagaimana adanya".[62]
Śamatha
Sejumlah sūtra Mahāyāna membahas śamatha, biasanya bersamaan dengan vipaśyanā. Salah satu yang paling terkemuka, Sūtra Awan Permata (Ārya Ratnamegha Sūtra, Tib. phags-pa dkon-mchog sprin-gyi mdo, Tionghoa 寶雲經 T658, 大乘寶雲經 T659), membagi semua bentuk meditasi ke dalam śamatha atau vipaśyanā, dengan mendefinisikan śamatha sebagai "kesadaran yang terpusat pada satu titik" dan vipaśyanā sebagai "melihat ke dalam hakikat segala sesuatu".[63]
Sūtra Penyingkap Misteri (Saṃdhinirmocana Sūtra), sebuah sūtra Yogācāra, juga kerap dijadikan sumber ajaran tentang śamatha. Samādhirāja Sūtra sering dikutip tradisi Kagyu sebagai sumber penting petunjuk śamatha, terutama melalui komentar Gampopa,[64] walaupun cendekiawan Andrew Skilton, yang meneliti Samādhirāja Sūtra secara mendalam, melaporkan bahwa sūtra itu sendiri "tidak memuat uraian berarti tentang praktik meditasi ataupun keadaan batin".[65]
Vipaśyanā: prajñā dan śūnyatā
Tradisi Mahāyāna menekankan prajñā, yaitu pandangan terang atas śūnyatā, dharmatā, ajaran dua kebenaran, kejernihan dan kekosongan, atau kebahagiaan dan kekosongan:[66]
[J]udul sekumpulan besar literatur Mahāyāna awal, Prajñāpāramitā, menunjukkan bahwa sampai batas tertentu sejarawan dapat mengekstrapolasi kecenderungan untuk mengagungkan pandangan terang, prajñā, dengan mengorbankan ketiadaan nafsu, virāga, yaitu pengendalian emosi.[42]
Akṣayamatinirdeśa Mahāyāna menyebut vipaśyanā sebagai melihat fenomena sebagaimana adanya, yakni kosong, tanpa diri, tak terlahir, dan tanpa kemelekatan. Sūtra Prajñāpāramitā dalam 8.000 baris menyatakan bahwa praktik pandangan terang adalah tidak mengambil alih dharma apa pun, termasuk lima gugus:
Demikian pula, seorang Bodhisatwa yang menapaki kebijaksanaan sempurna dan berkembang sedemikian rupa tidak berdiam dan bahkan tidak dapat berdiam dalam bentuk, perasaan, persepsi, dorongan, dan kesadaran... Pandangan terang terkonsentrasi seorang Bodhisatwa ini disebut "tidak mengambil alih segala dharma".[67]
Meskipun Theravāda dan Mahāyāna umumnya dipahami sebagai aliran Buddhisme yang berbeda, penekanan keduanya pada pandangan terang merupakan titik temu: "Dalam praktik dan pemahaman, Zen sebenarnya sangat dekat dengan Tradisi Hutan Theravāda, walaupun bahasa dan ajarannya sangat dipengaruhi Taoisme dan Konfusianisme."[68][u]
Mahāyāna Asia Timur
| Bagian dari seri mengenai |
| Buddhisme Han 汉传佛教 / 漢傳佛教 |
|---|
|
Tokoh utama |
|
Arsitektur |
Buddhisme Tionghoa
Dalam Buddhisme Tionghoa, karya guru Tiantai Zhiyi (seperti Mohe Zhiguan, "Śamatha-vipaśyanā Agung") termasuk teks paling berpengaruh yang membahas meditasi vipaśyanā dari sudut pandang Mahāyāna. Zhiyi mengajarkan perenungan atas skandha, āyatana, dhātu, kleśa, pandangan salah, dan beberapa unsur lain.[69] Demikian pula, teks berpengaruh Kebangkitan Keyakinan dalam Mahāyāna memuat bagian tentang meditasi ketenangan dan pandangan terang. Teks itu menyatakan:
Ia yang menjalankan "pengamatan jernih" hendaknya mengamati bahwa semua fenomena berkondisi di dunia tidak tetap dan tunduk pada perubahan serta kehancuran seketika; bahwa semua aktivitas batin muncul dan padam dari saat ke saat; dan bahwa, karenanya, semua itu menimbulkan penderitaan. Ia hendaknya mengamati bahwa semua yang telah dibayangkan pada masa lalu sekabur mimpi, bahwa semua yang dibayangkan pada masa depan akan seperti awan yang tiba-tiba muncul. Ia juga hendaknya mengamati bahwa keberadaan jasmani semua makhluk hidup di dunia tidak murni dan bahwa di antara segala hal kotor itu tidak ada satu pun yang dapat dicari dengan sukacita.[70]
Chan/Zen
Tradisi Zen menganjurkan praktik śamatha dan vipaśyanā secara bersamaan, dan hal ini disebut praktik iluminasi hening.[71] Teks Chan klasik yang dikenal sebagai Sutra Mimbar menyatakan:
Penenangan adalah hakikat kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan adalah fungsi alami penenangan [yaitu prajñā dan samādhi]. Pada saat prajñā, samādhi ada di dalamnya. Pada saat samādhi, prajñā ada di dalamnya. Bagaimana samādhi dan prajñā bisa setara? Keduanya seperti cahaya pelita. Ketika pelita ada, ada cahaya. Ketika tidak ada pelita, ada kegelapan. Pelita adalah hakikat cahaya. Cahaya adalah fungsi alami pelita. Meskipun namanya berbeda, pada hakikatnya keduanya pada dasarnya identik. Ajaran samādhi dan prajñā persis seperti ini.[71]
Buddhisme Chan menekankan pandangan terang seketika (subitisme),[60] walaupun dalam tradisi Chan pandangan terang ini harus diikuti pembinaan bertahap. "Latihan bertahap" ini diungkapkan dalam ajaran seperti Lima Tingkat pencerahan, ilustrasi Sepuluh Lembu yang merinci langkah-langkah di jalan, "Tiga Gerbang Misterius" Linji, dan "empat cara mengetahui" Hakuin Ekaku.
Tradisi Indo-Tibet
|
Bagian dari seriBuddhisme Tibet | |
|---|---|
| Sejarah | |
| Kronologi Waktu · Topik lainnya | |
| Mazhab | |
| Nyingma · Kagyu · Sakya · Gelug · Bön | |
| Ajaran Inti | |
| Tiga Corak Umum · Skandha · Kosmologi · Saṃsāra · Kelahiran Kembali · Bodhisattva · Dhamma · Hukum Sebab Musabab · Karma | |
| Tokoh Buddhis | |
| Gautama Buddha · Padmasambhava · Je Tsongkhapa · Dalai Lama · Panchen Lama · Lama · Karmapa Lama · Rinpoche · Geshe · Terton · Tulku | |
| Kebuddhaan · Avalokiteśvara · Empat Tingkat Pencerahan · Yoga Tantra · Paramita · Meditasi · Umat awam | |
| Changzhug · Drepung · Dzogchen · Ganden · Jokhang · Kumbum · Labrang · Mindroling · Namgyal · Narthang · Nechung · Palcho · Ralung · Ramoche · Sakya · Sanga · Sera · Shalu · Tashilhunpo · Tsurphu · Yerpa | |
| Chotrul Duchen · Dajyur · Losar · Dosmoche · Monlam · Sho Dun · Losoong | |
| Naskah | |
| Kangyur · Tengyur · Kitab Suci Tibet · Sutra Mahayana | |
| Mandala · Thangka · Ashtamangala · Pohon Fisiologi | |
|
| |
Dalam Buddhisme Tibet, praktik śamatha dan vipaśyanā sangat dipengaruhi teks Mahāyāna Bhāvanākrama karya guru India Kamalaśīla. Kamalaśīla mendefinisikan vipaśyanā sebagai "pembedaan kenyataan" (bhūta-pratyavekṣā) dan "memahami secara tepat hakikat sejati dharma".[72]
Menurut Thrangu Rinpoche, ketika śamatha dan vipaśyanā digabungkan (seperti dalam pendekatan arus utama Madhyamaka Śāntideva dan Kamalaśīla), melalui śamatha emosi yang mengganggu ditinggalkan, yang karenanya memudahkan vipaśyanā, "melihat dengan jernih". Vipaśyanā dikembangkan melalui penalaran, logika, dan analisis bersamaan dengan śamatha.
Sebaliknya, dalam tradisi siddha pendekatan langsung Mahāmudrā dan Dzogchen, vipaśyanā dipastikan secara langsung melalui memandang ke dalam batin sendiri. Setelah pengenalan awal vipaśyanā ini, kemantapan śamatha dikembangkan di dalam pengenalan itu. Menurut Thrangu Rinpoche, dalam pendekatan langsung juga lazim untuk terlebih dahulu mengembangkan śamatha secukupnya untuk menunjang vipaśyanā.[73] Dzogchen Ponlop Rinpoche memetakan hubungan perkembangan praktik śamatha dan vipaśyanā sebagai berikut:
Cara kedua segi meditasi ini dipraktikkan adalah bahwa seseorang memulai dengan praktik shamatha; atas dasar itu, menjadi mungkin untuk mempraktikkan vipashyana atau lhagthong. Melalui praktik vipashyana yang didasarkan pada dan dijalankan di tengah shamatha, seseorang akhirnya mempraktikkan penyatuan [yuganaddha] shamatha dan vipashyana. Penyatuan itu membawa pada pengalaman yang sangat jernih dan langsung atas hakikat segala sesuatu. Hal ini membawa seseorang sangat dekat pada apa yang disebut kebenaran mutlak.[74]
Śamatha
Para penulis Tibet biasanya mendefinisikan praktik śamatha sebagai keadaan ketika batin tetap terpaku pada satu objek tanpa bergerak. Dakpo Tashi Namgyal, misalnya, mendefinisikan śamatha sebagai:
dengan memusatkan batin pada objek apa pun sehingga mempertahankannya tanpa gangguan... dengan memfokuskan batin pada suatu objek dan mempertahankannya dalam keadaan itu sampai akhirnya batin tersalurkan ke dalam satu arus perhatian dan kerataan.[75]
Menurut Geshe Lhundup Sopa, śamatha adalah:
sekadar keterpusatan satu titik batin (cittaikāgratā) pada objek meditasi (ālambana). Apa pun objeknya... jika batin dapat tetap pada objeknya secara terpusat pada satu titik, secara spontan dan tanpa upaya (nābhisaṃskāra), dan selama waktu yang dikehendaki pemeditasi, batin itu sedang mendekati pencapaian pemantapan meditatif (śamatha).[75]
Śamatha menunjang segi konsentrasi benar dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Hasil śamatha yang berhasil kadang dicirikan sebagai penyerapan meditatif (samādhi, ting nge ’dzin) dan keseimbangan meditatif (samāhita, mnyam-bzhag), serta sebagai kebebasan dari lima penghalang (āvaraṇa, sgrib-pa). Śamatha juga dapat menghasilkan siddhi berupa kewaskitaan (abhijñā, mngon shes) dan emanasi magis (nirmāṇa, sprul pa).[76]
Menurut Culadasa[butuh klarifikasi], "Samatha memiliki lima ciri: perhatian yang stabil tanpa upaya (samādhi), kewawasan yang kuat (sati), kegiuran [pīti], ketenteraman [passaddhi], dan keseimbangan batin [upekkhā]. Keadaan samatha yang lengkap dihasilkan dari bekerja dengan perhatian yang stabil dan kewawasan sampai kegiuran muncul. Kegiuran lalu berangsur-angsur matang menjadi ketenteraman, dan keseimbangan batin muncul dari ketenteraman itu. Batin yang berada dalam samatha adalah sarana ideal untuk mencapai Pandangan Terang."[77] Menurut Culadasa, samatha dan vipassanā sama-sama dihasilkan melalui perhatian yang stabil (samādhi) dan kewawasan (sati), dan keduanya diperlukan untuk mencapai pencerahan.[78] Perhatian yang stabil dan kewawasan harus dikembangkan bersama, ibarat dua sayap burung, karena perhatian yang stabil tanpa kewawasan hanya berujung pada kelesuan yang menyenangkan, sedangkan kewawasan tidak dapat dikembangkan tanpa perhatian yang stabil.[79]
Sembilan Tahap Ketenteraman

Rumusan ini terdapat dalam berbagai sumber Yogācāra seperti Abhidharmasamuccaya dan bab Śrāvakabhūmi dalam Yogācārabhūmi-śāstra.[80] Rumusan ini juga terdapat dalam Mahāyānasūtrālaṅkāra, yang menunjukkan kemiripan cukup besar dalam susunan dan isi dengan Bodhisattvabhūmi.[v] Dalam skema ini, praktik śamatha dikatakan berkembang melalui sembilan "kediaman batin" atau "sembilan tahap melatih batin" (Skt. navākārā cittasthiti, Tib. sems gnas dgu), yang menuju śamatha yang sesungguhnya (padanan "konsentrasi akses" dalam sistem Theravāda), dan dari situ menuju keadaan konsentrasi meditatif yang disebut dhyāna pertama (Pali: jhāna; Tib. bsam gtan), yang sering dikatakan sebagai keadaan ketenteraman atau kebahagiaan.[81][82]
"Sembilan Kediaman Batin" sebagaimana diuraikan Kamalaśīla adalah:[83][81]
- Penempatan batin (Skt. cittasthāpana, Tib. འཇོག་པ – sems ’jog-pa) terjadi ketika praktisi mampu menempatkan perhatiannya pada objek meditasi, tetapi tidak mampu mempertahankan perhatian itu lama. Gangguan, kelesuan batin, dan rintangan lain lazim terjadi.
- Penempatan berkesinambungan (Skt. saṃsthāpana, Tib. རྒྱུན་དུ་འཇོག་པ – rgyun-du ‘jog-pa) terjadi ketika praktisi mengalami momen-momen perhatian yang berkesinambungan pada objek sebelum terganggu. Menurut B. Alan Wallace, inilah saat pemeditasi mampu mempertahankan perhatian pada objek meditasi selama sekitar satu menit.[84]
- Penempatan berulang (Skt. avasthāpana, Tib. བླན་ཏེ་འཇོག་པ – slan-te ’jog-pa) adalah ketika perhatian praktisi tertambat pada objek selama sebagian besar sesi praktik; lebih jauh, ia mampu segera menyadari ketika pegangan batinnya atas objek terlepas, dan memulihkan perhatian itu dengan cepat. Sakyong Mipham Rinpoche menyarankan bahwa kemampuan mempertahankan perhatian selama 108 napas adalah tolok ukur yang baik bahwa tahap ini telah tercapai.[85]
- Penempatan dekat (Skt. upasthāpana, Tib. ཉེ་བར་འཇོག་པ – nye-bar ’jog-pa) terjadi ketika praktisi mampu mempertahankan perhatian sepanjang sesi meditasi (satu jam atau lebih) tanpa sama sekali kehilangan pegangan batin atas objek meditasi. Pada tahap ini praktisi mencapai kekuatan kewawasan. Meskipun demikian, tahap ini masih mengandung bentuk halus kegelisahan serta kelesuan atau kekenduran.[86]
- Penjinakan (Skt. damana, Tib. དུལ་བར་བྱེད་པ – dul-bar byed-pa) adalah tingkat ketika praktisi mencapai ketenteraman batin yang dalam, tetapi masih harus waspada terhadap bentuk halus kekenduran atau kelesuan, yakni keadaan batin yang damai yang dapat disalahartikan sebagai berdiam dalam ketenangan yang diharapkan. Dengan memusatkan diri pada manfaat masa depan dari tercapainya śamatha, praktisi dapat "mengangkat" (Tib. gzengs-bstod) batinnya dan menjadi lebih terfokus serta jernih.[87]
- Penenangan (Skt. śamana, Tib. ཞི་བར་བྱེད་པ་ – zhi-bar byed-pa) adalah tahap ketika kelesuan atau kekenduran batin yang halus tidak lagi menjadi kesulitan besar, tetapi praktisi masih rentan terhadap kegelisahan halus yang muncul di tepian perhatian meditatif. B. Alan Wallace berpendapat bahwa tahap ini baru tercapai setelah ribuan jam latihan yang tekun.[88]
- Penenangan penuh (Skt. vyupaśamana, Tib. རྣམ་པར་ཞི་བར་བྱེད་པ་ – rnam-par zhi-bar byed-pa) adalah penghalusan tahap sebelumnya; meskipun praktisi masih mungkin mengalami kegelisahan atau kelesuan halus, keduanya jarang terjadi, dan praktisi dapat dengan mudah mengenali serta menenangkannya.
- Pemusatan satu titik (Skt. ekotīkaraṇa, Tib. རྩེ་གཅིག་ཏུ་བྱེད་པ་ – rtse-gcig-tu byed-pa) adalah "kediaman" kedua terakhir; inilah tahap praktik ketika praktisi dapat mencapai tingkat konsentrasi tinggi hanya dengan sedikit upaya, dan tanpa terganggu bahkan oleh kekenduran atau kegelisahan halus sepanjang sesi meditasi.
- Penempatan seimbang (Skt. samādhāna, Tib. མཉམ་པར་འཇོག་པ་བྱེད་པ་ – mnyam-par ’jog-pa) adalah tahap akhir praktik śamatha dalam model ini, yang berarti pemeditasi kini dapat mencapai konsentrasi penyerapan (Skt. samādhi, Tib. ting-nge-‘dzin) tanpa upaya dan mempertahankannya selama sekitar empat jam tanpa gangguan apa pun.[88]
- Śamatha (Tib. ཞི་གནས་ – shyiné), sebagai puncak praktik ini, kadang dicantumkan sebagai tahap kesepuluh.
Vipaśyanā
Buddhisme Mahāyāna India menggunakan penyelidikan deduktif (menerapkan gagasan pada pengalaman) maupun penyelidikan induktif (menarik kesimpulan dari pengalaman langsung) dalam praktik vipaśyanā. (Keduanya berturut-turut bersesuaian dengan "bentuk kontemplatif" dan "bentuk eksperiensial" dalam aliran Theravāda yang diuraikan di atas.)[w] Menurut Leah Zahler, hanya tradisi analisis deduktif dalam vipaśyanā yang diteruskan ke Tibet dalam konteks sūtrayāna.[89][x] Seorang cendekiawan menggambarkan pendekatannya sebagai berikut: "gambaran keseluruhan yang dilukiskan Kamalaśīla adalah semacam pergantian berurutan antara pengamatan dan analisis yang berlangsung sepenuhnya di dalam ranah konsentrasi meditatif", dengan bagian analisisnya berupa penalaran Madhyamaka. Di Tibet, pemeriksaan langsung atas pengalaman dari saat ke saat sebagai sarana membangkitkan pandangan terang menjadi semata-mata dikaitkan dengan Vajrayāna.[y][z]
Mahāmudrā dan Dzogchen
Śamatha didekati dengan cara yang agak berbeda dalam tradisi mahāmudrā sebagaimana dipraktikkan dalam silsilah Kagyu. Sebagaimana dijelaskan Traleg Kyabgon Rinpoche,
Dalam praktik meditasi ketenteraman Mahāmudrā [...] kita memperlakukan semua pikiran secara sama agar memperoleh jarak dan ketidakmelekatan yang cukup dari keadaan batin kita saat ini, yang memungkinkan kita masuk secara alami ke dalam keadaan tenteram tanpa upaya atau rekayasa [...] Agar batin mengendap, kita perlu menangguhkan penilaian yang kita kenakan pada aktivitas batin kita [...] penting bahwa kita tidak berusaha menciptakan keadaan tenteram, tetapi membiarkan batin memasuki ketenteraman secara alami. Inilah gagasan penting dalam tradisi Mahāmudrā, yakni gagasan tidak-melakukan. Kita tidak melakukan meditasi ketenteraman; kita membiarkan ketenteraman muncul dengan sendirinya, dan ketenteraman akan muncul hanya jika kita berhenti menganggap keadaan meditatif sebagai sesuatu yang harus kita lakukan secara aktif [...] Boleh dikatakan, memergoki diri sendiri saat sedang terdistraksi adalah ujian sejati meditasi ketenteraman, karena yang penting bukanlah kemampuan mencegah munculnya pikiran atau emosi, melainkan kemampuan memergoki diri kita dalam keadaan batin atau emosi tertentu. Inilah intisari meditasi ketenteraman [dalam konteks Mahāmudrā] [...] Gaya meditasi Mahāmudrā tidak mendorong kita menuju berbagai tingkat konsentrasi meditatif yang secara tradisional diuraikan dalam manual meditasi eksoteris [...] Dari sudut pandang Mahāmudrā, kita hendaknya tidak mendambakan keseimbangan meditatif ataupun membenci pikiran diskursif dan emosi yang bertentangan, tetapi memandang kedua keadaan itu dengan keseimbangan batin. Sekali lagi, yang penting bukanlah hadir tidaknya keseimbangan meditatif, melainkan apakah kita mampu mempertahankan keawasan atas keadaan batin kita. Jika pikiran yang mengganggu muncul, dan pasti akan muncul, kita hendaknya sekadar mengenali pikiran dan emosi itu sebagai fenomena yang sementara.[90]
Bagi kaum Kagyupa, dalam konteks mahāmudrā, śamatha melalui kewawasan atas pernapasan dianggap sebagai cara ideal bagi pemeditasi untuk beralih ke menjadikan batin itu sendiri sebagai objek meditasi dan membangkitkan vipaśyanā atas dasar itu.[91]
Pendekatan yang cukup mirip terhadap śamatha terdapat dalam dzogchen semde (Sanskerta: mahāsandhi cittavarga). Dalam sistem semde, śamatha adalah yang pertama dari empat yoga (Tib. naljor, Wylie: rnal-’byor),[92] sedangkan yang lainnya adalah vipaśyanā (Wylie: lhag-mthong), nondualitas (advaya, Tib. nyime, Wylie: gnyis-med),[93] dan kehadiran spontan (anābhoga atau nirābhoga, Tib. lhundrub, Wylie: lhun-grub).[94] Keempatnya sejajar dengan empat yoga mahāmudrā.
Ajahn Amaro, murid lama dalam tradisi Theravāda Hutan Thai Ajahn Chah, juga berlatih pendekatan śamatha dzogchen semde di bawah bimbingan Tsoknyi Rinpoche. Ia menemukan kemiripan dalam pendekatan kedua tradisi terhadap śamatha.[95]
Mahāmudrā dan Dzogchen menggunakan vipaśyanā secara luas. Hal ini mencakup sebagian metode tradisi lain, tetapi juga pendekatan khas mereka sendiri. Keduanya memberi penekanan lebih besar pada meditasi atas citra simbolis. Selain itu, dalam jalan Vajrayāna (tantrik), hakikat sejati batin ditunjukkan oleh guru, dan hal ini berfungsi sebagai bentuk pandangan terang yang langsung.[aa]
Praktik serupa dalam agama lain
Meditasi dari tradisi keagamaan lain juga dapat dipandang sebagai meditasi samatha, yang berbeda dalam fokus konsentrasinya. Dalam arti ini, samatha bukanlah meditasi yang semata-mata buddhis. Samatha, dengan fokus terpusat pada satu titik dan konsentrasi batinnya, sekerabat dengan "anggota" keenam aṣṭāṅga yoga/rāja yoga, yaitu konsentrasi (dhāraṇā). Untuk pembahasan lebih lanjut, lihat Yoga Sūtra karya Patañjali.
Lihat pula
- Buddhisme
- Kammaṭṭhāna
- Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga
- International Meditation Centre
- Global Vipassana Pagoda
- Jñāna
- Meditasi
- Mekanisme saraf meditasi kewawasan
- Buddhisme sekuler
- Upasana
- Vipassana Meditation Centre
- Buddha Vipassī
- Zazen
- Taoisme
- Yudaisme
- Kekristenan
- Hinduisme
- Islam
Catatan
- ↑ Pali: samatha; Sanskerta: śamatha शमथ; Hanzi: 止; Pinyin: zhǐ; Tibet: ཞི་གནས་; Wylie: zhi gnas; calm ("ketenangan") atau tranquility ("ketenteraman").
- ↑ Khippapanyo 2020, menerjemahkannya sebagai "Inggris: tranquility" dalam bahasa Inggris. Bedakan dari istilah upekkhā, yang juga sering diterjemahkan sebagai "ketenangan".
- ↑ Gunaratana 2009, hlm. 200 menerjemahkannya sebagai "serenity" dalam bahasa Inggris.
- ↑ Thanissaro Bhikkhu 1998b menerjemahkannya sebagai "tranquillity of awareness" dalam bahasa Inggris. Bedakan dari istilah passaddhi, yang juga sering diterjemahkan sebagai "ketenteraman".
- ↑ Pali: vipassanā; Sanskerta: vipaśyanā विपश्यना; Sinhala: විදර්ශනා (vidarśanā).
- ↑ Publikasi asli: Gombrich 2007.
- ↑ Lihat Tatiyasamādhisutta ("Sutta Empat Jenis Orang"), AN 4.94.
- Bodhi 2005, hlm. 269–70, 440 catatan 13. Lihat pula Thanissaro Bhikkhu 1998b.
- ↑ Bodhi 2000, hlm. 1251–53. Lihat pula Thanissaro Bhikkhu 1998d, yang mengidentifikasi sutta ini sebagai SN 35.204.
- ↑ Bodhi 2005, hlm. 268, 439 catatan 7, 9, 10. Lihat pula Thanissaro Bhikkhu 1998c.
- ↑ Brooks 2006: "Meskipun banyak kitab komentar dan terjemahan khotbah Buddha menyatakan bahwa Buddha mengajarkan dua jalan praktik, yang satu disebut 'shamata' dan yang lain disebut 'vipassanā', sebenarnya tidak ada satu tempat pun dalam sutta-sutta yang dapat dijadikan dasar pasti untuk klaim itu."
- ↑ Access to Insight 2005, catatan 14: "Uraian tentang peran menyatu samatha dan vipassanā ini didasarkan pada ajaran meditasi Buddha sebagaimana tersaji dalam sutta-sutta (lihat "One Tool Among Many" karya Thanissaro Bhikkhu). Abhidhamma dan kitab-kitab komentar, sebaliknya, menyatakan bahwa samatha dan vipassanā adalah dua jalan meditasi yang berbeda (lihat, misalnya, The Jhanas in Theravada Buddhist Meditation karya H. Gunaratana, bab 5)."
- ↑ Sharf 1995, hlm. 241: "Kenyataannya, berlawanan dengan citra yang disebarkan para apologis abad ke-20, praktik yang kita sebut meditasi jarang memainkan peran besar dalam kehidupan monastik buddhis. Gagasan yang meluas tentang mappo atau 'zaman kemerosotan terakhir dharma' memperkuat anggapan bahwa 'pencerahan' sebenarnya bukan tujuan yang layak bagi para biksu yang hidup pada masa yang tidak menguntungkan."
- ↑ Fronsdal 1998, hlm. 2: "Tujuan utama Mahasi menawarkan bentuk praktik vipassanā-nya adalah pencapaian tingkat pertama dari empat tingkat kesucian tradisional Theravāda (yaitu pemasukan arus; sotāpatti) melalui perealisasian nibbāna, atau pencerahan."
Sharf 1995, hlm. 256: "'Cicipan' awal nibbāna menandai pencapaian sotāpatti, tingkat pertama dari empat tingkat pencerahan, yang menjadikan pemeditasi seorang 'makhluk mulia' (ariya-puggala) yang ditakdirkan terbebas dari roda keberadaan (saṃsāra) dalam waktu relatif singkat." - ↑ Ketiga nimitta itu adalah tanda persiapan, tanda yang diperoleh, dan tanda padanan. Ketiganya merupakan citra batin atas objek meditasi, tetapi juga dipahami sebagai persepsi atau sensasi yang muncul selama praktik. Ketiganya menunjukkan tingkat kehalusan keadaan keawasan meditatif.
- ↑ Lima tahap kegiuran:[38]
- Kegiuran kecil (khuddikā pīti): membuat bulu roma berdiri
- Kegiuran sesaat (khaṇikā pīti): muncul sesaat seperti kilatan petir yang berulang
- Kegiuran yang membanjiri (okkantikā pīti): menyapu tubuh seperti ombak, berulang-ulang, lalu mereda
- Kegiuran yang mengangkat (ubbegā pīti): sensasi tubuh terangkat ke udara
- Kegiuran yang meresapi (pharaṇā pīti): meliputi seluruh tubuh hingga menyentuh setiap bagiannya, menandakan 'konsentrasi akses'.
- ↑ Shankman 2008 secara komparatif menelaah perlakuan terhadap samatha dalam sutta-sutta, dalam tradisi komentar Visuddhimagga, dan di kalangan sejumlah guru Theravāda terkemuka masa kini dengan beragam orientasi.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxvi, catatan 9; hlm. 13: "...lebih tepatnya, dhyāna pertama tampaknya, setelah beberapa waktu, menghasilkan keadaan konsentrasi yang kuat, yang darinya tahap-tahap lain muncul; tahap kedua disebut samādhija [...] lahir dari samādhi"
- ↑ Publikasi asli: Gombrich 2007.
- ↑ Gombrich 2007: "Saya tahu ini kontroversial, tetapi menurut saya jhāna ketiga dan keempat dengan demikian sangat berbeda dari yang kedua."
- ↑ Wynne 2007, hlm. 106–107: "Dengan demikian, ungkapan sato sampajāno dalam jhāna ketiga pasti menunjukkan keadaan keawasan yang berbeda dari penyerapan meditatif jhāna kedua (cetaso ekodibhāva). Ungkapan itu menyiratkan bahwa subjek sedang melakukan sesuatu yang lain daripada tetap berada dalam keadaan meditatif, yakni bahwa ia telah keluar dari penyerapannya dan kini kembali menyadari objek. Hal yang sama berlaku bagi kata upek(k)hā: kata ini tidak menunjukkan 'keseimbangan batin' yang abstrak, [tetapi] berarti menyadari sesuatu dan tak acuh terhadapnya [...] Jhāna ketiga dan keempat, menurut saya, menggambarkan proses mengarahkan keadaan penyerapan meditatif menuju keawasan yang wawas terhadap objek."
- ↑ Khantipalo 1984, hlm. 71 menganjurkan penggunaan pertanyaan mirip kōan, "Siapa?", untuk menembus "sifat tanpa diri lima gugus ini": "Dalam Buddhisme Zen, teknik ini dirumuskan dalam beberapa kōan, seperti 'Siapa yang menyeret mayat ini ke mana-mana?'"
- ↑ Tan 2004 memberikan uraian lengkap tentang tahap-tahap ini.
- ↑ Zahler 2009, hlm. 108–109, 113: "Tradisi praktik yang diisyaratkan oleh Treasury [Abhidharmakośa] itu sendiri, dan juga oleh Grounds of Hearers karya Asaṅga, adalah tradisi yang menjadikan kewawasan atas pernapasan dasar bagi penalaran induktif mengenai topik-topik seperti lima gugus; sebagai hasil penalaran induktif itu, pemeditasi maju melalui jalan persiapan, jalan melihat, dan jalan meditasi para Pendengar. Setidaknya mungkin saja Vasubandhu dan Asaṅga menyajikan versi masing-masing dari metode semacam itu, yang analog dengan tetapi berbeda dari meditasi pandangan terang Theravāda modern, dan bahwa cendekiawan Gelukpa tidak mampu merekonstruksinya karena tiadanya tradisi praktik, akibat besarnya perbedaan antara jenis penalaran meditatif induktif berbasis pengamatan ini dan jenis penalaran meditatif yang menggunakan konsekuensi (thal 'gyur, prasaṅga) atau silogisme (sbyor ba, prayoga) yang dikenal kaum Gelukpa. Karena itu, meskipun cendekiawan Gelukpa memberikan tafsir terperinci atas sistem meditasi napas yang diuraikan dalam teks-teks Vasubandhu dan Asaṅga, mereka mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan tahap-tahap lebih tinggi meditasi napas yang diuraikan dalam teks-teks itu [...] tampaknya baik para penulis buku ajar Gelukpa maupun cendekiawan modern seperti Lati Rinpoche dan Gendun Lodro tidak berada dalam posisi untuk menyimpulkan bahwa momen pertama tahap kelima sistem meditasi napas Vasubandhu bertepatan dengan pencapaian pandangan terang khusus dan bahwa, karenanya, empat tahap pertama pasti merupakan metode untuk mengembangkan pandangan terang khusus."
- ↑ Tradisi ini diuraikan Kamalaśīla dalam tiga teks Bhāvanākrama-nya (terutama yang kedua), dengan mengikuti pendekatan yang diuraikan dalam Laṅkāvatāra Sūtra.[89]
- ↑ Menurut cendekiawan Tibet masa kini Thrangu Rinpoche, Vajrayāna mengembangkan pengalaman langsung. Thrangu Rinpoche 2003, hlm. 56: "Pendekatan dalam sutra-sutra [...] adalah mengembangkan pemahaman konseptual atas kekosongan dan secara bertahap menghaluskan pemahaman itu melalui meditasi, yang akhirnya menghasilkan pengalaman langsung atas kekosongan [...] kita bergerak dari pemahaman konseptual yang dihasilkan analisis dan inferensi logis menuju pengalaman langsung [...] hal ini memakan banyak waktu [...] pada dasarnya kita menjadikan penalaran inferensial sebagai metode atau jalan kita. Ada alternatif [...] yang diajarkan Buddha dalam tantra-tantra [...] perbedaan utama antara pendekatan sutra dan pendekatan Vajrayāna (mantra rahasia atau tantra) adalah bahwa dalam pendekatan sutra kita menjadikan penalaran inferensial sebagai jalan dan dalam pendekatan Vajrayāna kita menjadikan pengalaman langsung sebagai jalan. Dalam Vajrayāna kita mengembangkan pengalaman yang sederhana dan langsung, atau 'memandang'. Kita melakukannya terutama dengan sekadar memandang langsung batin kita sendiri."
- ↑ Thrangu Rinpoche 1994, hlm. 91–93: "Secara umum ada dua jenis meditasi: meditasi paṇḍita, yaitu cendekiawan, dan meditasi nonanalitis atau meditasi langsung kusulu, atau yogi sederhana... meditasi analitis paṇḍita terjadi ketika seseorang memeriksa dan menganalisis sesuatu secara menyeluruh sampai terbentuk pemahaman yang sangat jernih atasnya... Meditasi langsung yang nonanalitis disebut meditasi kusulu dalam bahasa Sanskerta. Istilah ini diterjemahkan sebagai trömeh dalam bahasa Tibet, yang berarti 'tanpa kerumitan' atau sangat sederhana, tanpa analisis dan pembelajaran seorang cendekiawan besar. Sebaliknya, batin dibiarkan rileks tanpa menerapkan analisis sehingga ia sekadar berdiam dalam hakikatnya. Dalam tradisi sūtra ada sejumlah meditasi nonanalitis, tetapi sebagian besar tradisi ini menggunakan meditasi analitis."
- ↑ Thrangu Rinpoche 2001 menguraikan pendekatan yang menggunakan guru: "Dalam jalan Sūtra, seseorang maju dengan memeriksa dan menganalisis fenomena menggunakan penalaran. Ia mengenali bahwa semua fenomena tidak memiliki keberadaan sejati dan bahwa semua penampakan hanyalah saling bergantung dan tanpa hakikat inheren. Fenomena itu kosong namun tampak, tampak namun kosong. Jalan Mahāmudrā berbeda karena seseorang maju dengan menggunakan petunjuk tentang hakikat batin yang diberikan gurunya. Hal ini disebut menjadikan persepsi langsung atau pengalaman langsung sebagai jalan. Buah śamatha adalah kemurnian batin, batin yang tidak terusik oleh konsepsi keliru atau kekotoran emosional. Buah vipaśyanā adalah pengetahuan (prajñā) dan kebijaksanaan murni (jñāna). Jñāna disebut kebijaksanaan tentang hakikat fenomena dan muncul melalui perealisasian hakikat sejati fenomena."
Referensi
Sitasi
- 1 2 3 4 5 Perdue (2014).
- 1 2 3 4 Thanissaro Bhikkhu 1997.
- 1 2 3 Arbel 2016, hlm. 183.
- 1 2 3 Buswell (2004), hlm. 889.
- 1 2 3 4 Gunaratana 2011, hlm. 21.
- 1 2 3 Buswell 2004, hlm. 889–890.
- 1 2 McMahan 2008.
- 1 2 3 4 5 Khippapanyo (2020).
- ↑ Thanissaro Bhikkhu (1998b).
- ↑ Gunaratana (2009), hlm. 200.
- 1 2 3 Ray (2004), hlm. 69.
- ↑ Ray (2004), hlm. 70.
- 1 2 3 Ginsberg (1996), hlm. 96.
- ↑ Ray (2004), hlm. 74.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxi–xxii.
- ↑ Bronkhorst 1993.
- ↑ Cousins 1996, hlm. 58.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxx.
- ↑ Vetter 1988, hlm. 13.
- 1 2 3 Wynne 2007, hlm. 140, catatan 58.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxvi, catatan 9.
- 1 2 Wynne 2007, hlm. 106–107, 140, catatan 58.
- ↑ Wynne 2007, hlm. 106–107.
- ↑ Bodhi 2000, hlm. 1372–73.
- ↑ Thanissaro Bhikkhu 1998a.
- ↑ Gunaratana, Henepola (1995). "The Jhānas in Theravāda Buddhist Meditation". After emerging from a jhāna the meditator will proceed to examine the jhanic consciousness and to discern the way it exemplifies the three universal marks.
- ↑ Gunaratana, Henepola (4 Januari 2008). "Should we come out of Jhāna to practice Vipassanā?". budsas.net. Diakses tanggal 2022-11-01.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 96–97, 131.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 131.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 96–97, 130–131.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 96–134.
- ↑ Henepola Gunaratana (1995). "The Jhanas in Theravada Buddhist Meditation". Accesstoinsight.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-07-09. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ Brahm (2006). Mindfulness, Bliss, and Beyond. Wisdom Publications, Inc. hlm. 25. ISBN 0-86171-275-7., merujuk MN 151, syair 13–19, dan AN IV, 125–27.
- ↑ Buswell (2004), hlm. 890.
- ↑ McMahan 2008, hlm. 189.
- 1 2 Thanissaro (2020). The Mirror of Insight. Dhammatalks.com (dipublikasikan 2020-05-17).
- ↑ Bhikkhu Bodhi (1999). "The Noble Eightfold Path: The Way to the End of Suffering". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-02-14.
- Nyanaponika 1996, hlm. 108.
- ↑ Gethin 1998, hlm. 182–83.
- ↑ Henepola Gunaratana (10 Mei 2009). "The Jhanas In Theravada Buddhist Meditation". Wisdom Library. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Desember 2016. Diakses tanggal 25 Maret 2023.
- ↑ Schumann 1997.
- 1 2 Nyanaponika 1998.
- 1 2 3 Gombrich 1997, hlm. 133.
- ↑ Bond 1992, hlm. 167.
- ↑ Bond 1992, hlm. 162–171.
- ↑ Robert H. Sharf. "Mindfulness or Mindlessness: Traditional and Modern Buddhist Critiques of "Bare Awareness". McGill University. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-06. Diakses tanggal 2014-05-25.
- ↑ Stuart 2020.
- 1 2 Wilson 2014, hlm. 54–55.
- 1 2 3 4 5 Mahāsi Sayādaw (2016). "5: Practical Instructions" (PDF). Manual of Insight. Vipassanā Mettā Foundation. ISBN 9781614292777.
- ↑ "Anapanasati Sutta: Mindfulness of Breathing". Majjhima Nikāya. Vol. 118. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 2006. 2.
- ↑ "Satipaṭṭhāna Sutta: The Establishing of Mindfulness Discourse". Majjhima Nikāya. Vol. 10.
- ↑ Bhante Bodhidhamma (2013-09-12). "Vipassanā as taught by The Mahasi Sayadaw of Burma". Buddhism now. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-03-24.
- ↑ Sayadaw U Pandita (Mei 2004). "How to Practice Vipassanā Insight Meditation". Shambhala Sun. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-08-27.
- 1 2 Goenka, S.N. "The Art of Living: Vipassana Meditation". Dhamma.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-05-25. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ Dhammadharo, Ajaan Lee (1982). The Craft of the Heart (PDF) (dalam bahasa Inggris). Taveekij Press. hlm. 93–95. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-07-09. Diakses tanggal 2021-07-04.
- ↑ Ingram, Daniel M. (2018). "34. The Vipassana Jhanas". Mastering the core teachings of the Buddha. Aeon. hlm. 278–293. ISBN 9781911597100.
- ↑ Sayadaw U Pandita (1993). "5. The Vipassanā Jhānas". In this Very Life: The Liberation Teachings of the Buddha (Edisi 2nd). Boston: Wisdom Publications.
- 1 2 Wynne 2007, hlm. 106.
- 1 2 De La Vallée Poussin (terj.); Pruden, Leo M. (terj.) Abhidharmakośabhāṣyam of Vasubandhu Jil. III hlm. 925
- ↑ Asaṅga (2001). Abhidharmasamuccaya: The Compendium of the Higher Teaching. Diterjemahkan oleh Rahula, Walpola; Boin-Webb, Sara. Asian Humanities Press. hlm. xxiii.
- 1 2 Warder 2000, hlm. 284.
- ↑ Gomez 1991, hlm. 69.
- ↑ Shantideva (1997). A Guide to the Bodhisattva Way of Life. Shambhala. hlm. 90. ISBN 978-1-55939-802-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-05-06. Diakses tanggal 2019-01-28.
- ↑ "How to practice Calm-Abiding Meditation," Dharma Fellowship Diarsipkan 2009-02-14 di Wayback Machine.
- ↑ Chogyam Trungpa (2003). Gimian, Carolyn Rose (ed.). Collected Works. Vol. II. Shambhala Publications. hlm. 19.
- ↑ Skilton, Andrew (2002). "State or Statement?: Samādhi in Some Early Mahāyāna Sūtras". The Eastern Buddhist. 34 (2): 57.
- ↑ Defined by Reginald A. Ray. ""Vipashyana," by Reginald A. Ray. Buddhadharma: The Practitioner's Quarterly, Summer 2004". Archive.thebuddhadharma.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-02. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ "1. The Practice of the Knowledge of All Modes". The Prajna Paramita Sutra on the Buddha-Mother's Producing the Three Dharma Treasures, Spoken by the Buddha. Tripitaka. Vol. 0227. Diterjemahkan oleh Babcock Copper, Richard; Danapala. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-11-15.
- ↑ "Through the Looking Glass, Essential Buddhism". Bhikkhucintita Blog. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2014-01-04. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ Fa Qing (30 Agustus 2013). "The Śamatha and Vipaśyanā in Tian Tai" (PDF). Poh Ming Tse Symposium 2013: One Master Three Meditative Traditions. Singapura: 30–47. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-05-24.
- ↑ Asvaghosha (1967). "The Awakening of Faith in Mahayana" (PDF). Diterjemahkan oleh Hakeda, Yoshito S. Columbia University Press. hlm. 33. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 Juli 2015. Diakses tanggal 25 Maret 2023.
- 1 2 Guo Gu, Silent Illumination Guo Gu Diarsipkan 2017-08-22 di Wayback Machine., Insight Journal 2014.
- ↑ Adam, Martin T. "Two Concepts of Meditation and Three Kinds of Wisdom in Kamalaśīla's Bhāvanākramas: A Problem of Translation" (PDF). Buddhist Studies Review. 23 (1): 78–79.
- ↑ Thrangu Rinpoche (2014). Essentials of Mahāmudrā: Looking Directly at the Mind. Wisdom Publications.
- ↑ Ray (2004), hlm. 76.
- 1 2 Powers, John (2007). "Meditation". Introduction to Tibetan Buddhism (Edisi Revised). Ithaca, N.Y.: Snow Lion. hlm. 86.
- ↑ Lati Rinpoche; Denma Locho Rinpoche (1996). Meditative States in Tibetan Buddhism. Diterjemahkan oleh Leah Zahler; Jeffrey Hopkins. Wisdom Publications. hlm. 53–85. ISBN 0-86171-119-X.
- ↑ Yates, Immergut & Graves 2015, hlm. xxiv.
- ↑ Yates, Immergut & Graves 2015, hlm. xxiii.
- ↑ Yates, Immergut & Graves 2015, hlm. xxv.
- ↑ Lihat Abhidharmasamuccaya Diarsipkan 2014-10-14 di Wayback Machine.
- 1 2 Wallace, A: 'The Attention Revolution', Wisdom Publications, edisi pertama, 2006, hlm. 6 Diarsipkan 2014-07-28 di Wayback Machine.
- ↑ The Practice of Tranquility & Insight: A Guide to Tibetan Buddhist Meditation oleh Thrangu Rinpoche. Snow Lion Publications; edisi ke-2. 1998 ISBN1-55939-106-5 hlm. 19
- ↑ Meditative States in Tibetan Buddhism oleh Lati Rinpoche, Denma Locho Rinpoche, Leah Zahler, Jeffrey Hopkins. Wisdom Publications: 25 Desember 1996. ISBN0-86171-119-X hlm. 53–85
- ↑ "Wallace, A: 'The Attention Revolution', Wisdom Publications, first ed., 2006, p.30". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-12. Diakses tanggal 2007-02-25.
- ↑ "Nine Stages of Training the Mind". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-10-15. Diakses tanggal 2012-11-09.
- ↑ "Wallace, A: 'The Attention Revolution', Wisdom Publications, first ed., 2006, p.62". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-12. Diakses tanggal 2007-02-25.
- ↑ "Achieving Shamatha by Dr. Alexander Berzin on StudyBuddhism.com". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-08-08. Diakses tanggal 2016-06-20.
- 1 2 "Wallace, A: 'The Attention Revolution', Wisdom Publications, first ed., 2006, p.99". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-03-12. Diakses tanggal 2007-02-25.
- 1 2 Adam, Martin (2008). "Some Notes on Kamalasila's Understanding of Insight Considered as the Discernment of Reality (bhūta-pratyavekṣā)". Buddhist Studies Review. 25 (2): 3. doi:10.1558/bsrv.v25i2.194.
- ↑ Traleg Kyabgon (2004). Mind at Ease: Self-Liberation through Mahamudra Meditation. Shambhala Publications. hlm. 149–152, 157. ISBN 9781590301562.
- ↑ Pointing Out the Great Way: The Stages of Meditation in the Mahamudra tradition oleh Dan Brown. Wisdom Publications: 2006 hlm. 221–34
- ↑ "Dharmakirti College: Curriculum". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-10-03. Diakses tanggal 2009-09-29.
- ↑ Klein & Wangyal (2006), hlm. 349.
- ↑ Klein & Wangyal (2006), hlm. 357, 359.
- ↑ Ajahn Amaro (2001). "Ajahn Chah's View of 'the View'". Broad View, Boundless Heart (PDF). Redwood Valley, Calif.: Abhayagiri Buddhist Monastery. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 Desember 2010. Diakses tanggal 25 Maret 2023.
Daftar pustaka
Sumber buku
- Arbel, Keren (2016), Early Buddhist Meditation: The Four Jhanas as the Actualization of Insight, Routledge, doi:10.4324/9781315676043, ISBN 9781317383994
- Bodhi, Bhikkhu (2000), The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Saṃyutta Nikāya, Boston: Wisdom Publications, ISBN 978-0-86171-331-8
- Bodhi, Bhikkhu (2005), In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon, Boston: Wisdom Publications, ISBN 978-0-86171-491-9
- Bond, George D. (1992), The Buddhist Revival in Sri Lanka: Religious Tradition, Reinterpretation and Response, Motilal Banarsidass Publishers
- Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass Publ.
- Brooks, Jeffrey S. (2006), A Critique of the Abhidhamma and Visuddhimagga, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-08-30, diakses tanggal 2012-08-28
- Buswell, Robert, ed. (2004), Encyclopedia of Buddhism (PDF), MacMillan, ISBN 978-0-02-865718-9, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-06-29, diakses tanggal 2020-02-08
- Cousins, L. S. (1996), "The origins of insight meditation" (PDF), dalam Skorupski, T. (ed.), The Buddhist Forum IV, seminar papers 1994–1996 (pp. 35–58), London, UK: School of Oriental and African Studies, diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-05-07, diakses tanggal 2022-05-06
- Fronsdal, Gil (1998), "Chapter 9: Insight Meditation in the United States: Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness", dalam Prebish, Charles S.; Tanaka, Kenneth K. (ed.), The Faces of Buddhism in America, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-06-07, diakses tanggal 2010-12-07
- Gethin, Rupert (1998), The Foundations of Buddhism, Oxford: Oxford University Press, ISBN 0-19-289223-1
- Ginsberg, Mitchell (1996), The Far Shore: Vipassanā, the Practice of Insight, Motilal Banarsidass
- Gomez, Luis O. (1991), "Purifying Gold: The Metaphor of Effort and Intuition in Buddhist Thought and Practice", dalam Gregory, Peter N. (ed.), Sudden and Gradual. Approaches to Enlightenment in Chinese Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers
- Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began. The Conditioned Genesis of the Early Teachings, New Delhi: Munshiram Manoharlal Publishers
- Gunaratana, Henepola (2011), Mindfulness in plain English, Wisdom Publications, hlm. 21, ISBN 978-0861719068, diarsipkan dari asli tanggal 2017-01-02, diakses tanggal 2016-05-27
- Gunaratana, Henepola (2009), Beyond Mindfulness in Plain English: An Introductory Guide to Deeper States of Meditation, Simon and Schuster
- Khantipalo, Bhikkhu (1984), Calm and Insight. A buddhist Manual for Meditators, London and Dublin: Curzon Press Ltd.
- Khippapanyo, Venerable Acariya (2020), Treasure Trove, San Fran Dhammaram Temple
- Klein, Anne Carolyn; Wangyal, Geshe Tenzin, Rinpoche (2006). Unbounded Wholeness. Oxford University Press. ISBN 0-19-517849-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) - McMahan, David L. (2008), The Making of Buddhist Modernism, Oxford University Press, ISBN 9780195183276
- Nyanaponika (1996), The Heart of Buddhist Meditation, York Beach, ME: Samuel Weiser, ISBN 0-87728-073-8
- Nyanaponika (1998), Het hart van boeddhistische meditatie (The heart of Buddhist Meditation), Asoka
- Perdue, Daniel E. (2014-05-27). The Course in Buddhist Reasoning and Debate: An Asian Approach to Analytical Thinking Drawn from Indian and Tibetan Sources. Shambhala Publications. ISBN 9780834829558. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-12. Diakses tanggal 2019-10-19.
- Ray, Reginald A., ed. (2004). "The Practice of Hinayana". In the Presence of Masters: Wisdom from 30 Contemporary Tibetan Buddhist Teachers. Boston, Massachusetts: Shambhala. ISBN 978-1-57062-849-8.
- Schumann, Hans Wolfgang (1997), Boeddhisme, Asoka
- Shankman, Richard (2008). The Experience of Samādhi: An In-depth Exploration of Buddhist Meditation. Shambhala. ISBN 978-1-59030-521-8.
- Stuart, Daniel M. (2020), S.N. Goenka: Emissary of Insight, Shambhala Publications, ISBN 9781611808186, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-11-16, diakses tanggal 2020-12-18
- Thrangu Rinpoche (1994), The Practice of Tranquillity & Insight: A Guide to Tibetan Buddhist Meditation, Shambhala Publications, ISBN 0-87773-943-9
- Thrangu Rinpoche (2001), Looking Directly at Mind: The Moonlight of Mahāmudrā
- Thrangu Rinpoche (2003), Pointing out the Dharmakaya, Snow Lion, ISBN 1-55939-203-7
- Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
- Warder, A.K. (2000), Indian Buddhism, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers
- Wilson, Jeff (2014), Mindful America: The Mutual Transformation of Buddhist Meditation and American Culture, Oxford University Press
- Wynne, Alexander (2007), The Origin of Buddhist Meditation, Routledge
- Culadasa (John Yates) Immergut, Matthew; Graves, Jeremy (2015). The Mind Illuminated: A Complete Meditation Guide Integrating Buddhist Wisdom and Brain Science. Dharma Treasure Press. ISBN 978-0-9908477-0-0.
- Zahler, Leah (2009), Study and Practice of Meditation: Tibetan Interpretations of the Concentrations and Formless Absorptions, Ithaca, N.Y.: Snow Lion Publications, ISBN 978-1-55939-325-6
Sumber jurnal
- Sharf, Robert H. (1995), "Buddhist Modernism and the Rhetoric of Meditative Experience" (PDF), NUMEN, 42 (3): 228–283, doi:10.1163/1568527952598549, hdl:2027.42/43810
Sumber web
- "What is Theravada Buddhism?". Access to Insight. 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Agustus 2013. Diakses tanggal 17 Agustus 2013.
- Gombrich, Richard (2007), "Religious Experience in Early Buddhism", The Oxford Centre for Hindu Studies (kuliah audio), OCHS Library, diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-04, diakses tanggal 2018-10-18
- Tan, Piya (2004). "The Taming of the Bull: Mind-training and the formation of Buddhist traditions" (PDF). dharmafarer.org. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-07-18.
- Thanissaro Bhikkhu (1997), One Tool Among Many. The Place of Vipassana in Buddhist Practice, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2010-04-12, diakses tanggal 2010-01-24
- "Vijja-bhagiya Sutta: A Share in Clear Knowing". Access to Insight. AN 2.30. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 1998a. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-06-19. Diakses tanggal 25 Maret 2023.
- "Samadhi Sutta: Concentration (Tranquillity and Insight)". Access to Insight. AN 4.94. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 1998b. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-10-13.
- "Yuganaddha Sutta: In Tandem". Access to Insight. AN 4.170. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 1998c. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-06-19.
- "Kimsuka Sutta: The Riddle Tree". Access to Insight. SN 35.204. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. 1998d. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-01.
Bacaan lanjutan
- Buddhadasa Bhikkhu (2014), Heartwood of the Bodhi Tree, Wisdom Publications
Pranala luar
- The Samatha Trust (Inggris), lembaga amal di Britania Raya yang sejak 1973 membina praktik dan kajian dalam tradisi samatha-vipassanā.
- Gil Fronsdal, "Theravāda Spirituality in the West" (Inggris), Insight Meditation Center. Kajian sejarah masuknya Theravāda dan praktik vipassanā ke Barat.
- Meditasi vipassanā sebagaimana diajarkan S.N. Goenka dalam tradisi Sayagyi U Ba Khin, situs resmi pusat-pusat meditasi Goenka (versi bahasa Indonesia).
| Topik utama | |
|---|---|
| Tradisi |
|
| Yogas Klasik | |
|---|---|
| Yoga lain | Agni Yoga · Anahata Yoga · Anusara Yoga · Artistic Yoga · Ashtanga Vinyasa Yoga · Atma Yoga · Dream Yoga · Hatha yoga · Integral yoga · Kriya yoga · Kundalini yoga · Nada yoga · Natya Yoga · Sahaja Yoga · Sivananda Yoga · Six Yogas of Naropa (Tummo) · Surat Shabd Yoga · Viniyoga · Yantra Yoga · Yoga Nidra |
| Teks | |
| Raja Yoga limbs | |
| Daftar | |
| Topik terkait | |

