Minggu, 20 September 2026
14:25 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Ānāpānasati

Ānāpānasati

Untuk sati secara umum, lihat Sati (Buddhisme).
Arca Buddha yang digambarkan sedang melakukan ānāpānasati
Arca Buddha yang sedang melakukan ānāpānasati
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Kewawasan
60px-Lotus_position.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kategori

Ānāpānasati (bahasa Pali; Sanskerta: ānāpānasmṛti), yang berarti "kewawasan terhadap napas" (sati berarti kewawasan, kesadaran penuh, perhatian penuh;[1] ānāpāna merujuk pada napas masuk dan napas keluar[2]), adalah praktik memperhatikan napas. Praktik ini merupakan bentuk meditasi buddhis yang paling khas, dikaitkan dengan Buddha Gotama, dan diuraikan dalam sejumlah sutta, terutama Ānāpānasati Sutta (MN 118).[a]

Turunan praktik ānāpānasati dijumpai dalam Buddhisme Theravāda, Tibet, Zen, dan Tiantai, serta dalam program-program kewawasan yang berbasis di Barat.

Perenungan fenomena jasmani

Ānāpānasati Sutta menetapkan kewawasan terhadap napas masuk dan napas keluar sebagai salah satu unsur kewawasan terhadap jasmani, dan menganjurkan praktik kewawasan terhadap napas sebagai sarana untuk mengembangkan tujuh faktor pencerahan, yang merupakan rumusan atau gambaran alternatif atas proses jhāna: sati (kewawasan), dhammavicaya (penyelidikan), viriya (kegigihan), pīti (kegiuran), passaddhi (ketenangan), samādhi (penyatuan batin), dan upekkhā (keseimbangan batin). Menurut sutta ini dan sutta lainnya, pengembangan faktor-faktor tersebut membawa pada pembebasan (Pali: vimutti; Sanskerta: mokṣa) dari dukkha (penderitaan) dan pada pencapaian Nibbāna.

Turunan ānāpānasati merupakan praktik meditasi inti dalam tradisi Buddhisme Theravāda, Tiantai, dan Chan, serta menjadi bagian dari program-program kewawasan yang berbasis di Barat. Menurut Anālayo, baik pada masa kuno maupun modern, ānāpānasati kemungkinan merupakan metode buddhis yang paling banyak digunakan untuk merenungkan fenomena jasmani.[3]

Praktik

Ānāpānasati Sutta

Praktik kewawasan yang diuraikan dalam Ānāpānasati Sutta adalah pergi ke hutan, duduk di bawah pohon, lalu sekadar mengamati napas:[4]

Ketika menarik napas panjang, ia memahami, 'Aku menarik napas panjang'; atau ketika mengembuskan napas panjang, ia memahami, 'Aku mengembuskan napas panjang.' Atau ketika menarik napas pendek, ia memahami, 'Aku menarik napas pendek'; atau ketika mengembuskan napas pendek, ia memahami, 'Aku mengembuskan napas pendek.' Ia melatih dirinya, 'Aku akan menarik napas dengan merasakan seluruh tubuh.' Ia melatih dirinya, 'Aku akan mengembuskan napas dengan merasakan seluruh tubuh.' Ia melatih dirinya, 'Aku akan menarik napas sambil menenangkan bentukan jasmani.' Ia melatih dirinya, 'Aku akan mengembuskan napas sambil menenangkan bentukan jasmani.'[5]

Sambil menarik dan mengembuskan napas, pemeditasi berlatih:

  • melatih batin agar peka terhadap satu atau lebih dari hal berikut: seluruh tubuh (sabbakāya), kegiuran (pīti), kebahagiaan (sukha), batin itu sendiri (citta), dan bentukan batin (cittasaṅkhāra);
  • melatih batin agar terpusat pada satu atau lebih dari ketidakkekalan (anicca), peluruhan nafsu (virāga), pelenyapan (nirodha), dan pelepasan (paṭinissagga);
  • memantapkan, menggembirakan, atau membebaskan batin.

Menurut Buddha Gotama, apabila praktik ini dijalankan dan dikembangkan dengan baik, praktik ini membawa manfaat besar,[5] serta menunjang pengembangan kewawasan sebagai salah satu faktor pencerahan:

Kapan pun seorang bhikkhu tetap terfokus pada jasmani dalam dan pada dirinya sendiri, dengan tekun, berkesadaran jernih, dan wawas, menyingkirkan keserakahan dan kesedihan terkait dunia, pada saat itu kewawasannya mantap dan tanpa kelengahan. Ketika kewawasannya mantap dan tanpa kelengahan, kewawasan sebagai faktor pencerahan pun terbangkitkan. Ia mengembangkannya, dan baginya faktor itu mencapai puncak perkembangannya.[5]

Perkembangan pascakanonis

Artikel utama: Gaṇanā

Salah satu metode pascakanonis yang populer dan masih digunakan hingga kini terdiri atas empat tahap:

  1. Berulang kali menghitung embusan napas dalam putaran sepuluh
  2. Berulang kali menghitung tarikan napas dalam putaran sepuluh
  3. Memusatkan perhatian pada napas tanpa menghitung
  4. Memusatkan perhatian hanya pada titik tempat napas masuk dan keluar dari lubang hidung (yakni area lubang hidung dan bibir atas)[6][b]

Oleh tradisi Theravāda, praktik menghitung napas dikaitkan dengan Visuddhimagga karya Buddhaghosa,[6] tetapi Abhidharmakośakārikā karya Vasubandhu juga mengajarkan penghitungan napas hingga sepuluh. Sutra-sutra dhyāna, yang didasarkan pada praktik Sarvāstivāda dan diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa oleh An Shigao, juga menganjurkan penghitungan napas, dan menjadi dasar praktik Zen.[7] Dalam sutra-sutra dhyāna, hal ini disusun menjadi ajaran yang disebut "enam aspek" atau "enam sarana":

Praktik ini dimulai dengan "menghitung" (Sanskerta: gaṇanā), yaitu menghitung napas dari satu hingga sepuluh. Setelah hal ini dapat dilakukan tanpa kesalahan hitung (doṣa), praktisi melangkah ke tahap kedua, yaitu "mengikuti" (anugama), yang berarti dengan saksama mengikuti napas masuk saat memasuki tubuh dan bergerak dari tenggorokan, melalui jantung, pusar, ginjal, dan paha, hingga ke jari-jari kaki, lalu gerakan sebaliknya dari napas keluar hingga meninggalkan tubuh. Berikutnya adalah "konsentrasi" (sthāpanā), yang berarti memusatkan perhatian pada suatu bagian tubuh, dari ujung hidung hingga ibu jari kaki. Pada tahap keempat, yang disebut "pengamatan" (upalakṣaṇā), praktisi memahami bahwa udara yang dihirup dan diembuskan, demikian pula bentuk (rūpa), batin (citta), dan fungsi-fungsi batin (caitta), pada hakikatnya terdiri atas empat unsur besar. Dengan demikian, ia menganalisis lima gugusan. Selanjutnya adalah "pembalikan" (vivarta), yaitu mengalihkan objek pengamatan dari udara yang dihirup dan diembuskan ke "akar-akar bajik" kemurnian (kuśalamūla) dan akhirnya ke "dharma duniawi tertinggi". Tahap terakhir disebut "pemurnian" (pariśuddhi) dan menandai masuknya ke tahap "realisasi Jalan", yang dalam literatur Abhidharma menunjuk pada tahap "pemasuk arus" (srotaāpanna) yang pasti akan membawa sang praktisi menuju Nirwana dalam tidak lebih dari tujuh kehidupan.[7]

Sumber modern

Ānāpānasati tradisional mengajarkan pengamatan napas masuk dan napas keluar dengan memusatkan perhatian pada udara yang keluar-masuk lubang hidung, tetapi para pengikut Gerakan Vipassanā dari Myanmar menganjurkan pemusatan perhatian pada gerakan perut ketika bernapas.[8] Aliran-aliran buddhis lain juga mengajarkan hal tersebut sebagai titik fokus alternatif.[9]

Menurut John Dunne, agar praktik ini berhasil, seseorang hendaknya berdedikasi pada praktik tersebut dan menetapkan tujuan sesi meditasinya.[10] Menurut Philip Kapleau, dalam praktik Zen seseorang dapat memilih untuk melakukan ānāpānasati sambil duduk, berdiri, berbaring, atau berjalan, atau secara bergantian antara meditasi duduk, berdiri, berbaring, dan berjalan.[11] Kemudian ia dapat memusatkan perhatian pada napas yang melewati hidung: tekanan pada lubang hidung pada setiap tarikan napas, dan rasa napas yang bergerak di sepanjang bibir atas pada setiap embusan napas.[11] Pada kesempatan lain, praktisi dianjurkan untuk memperhatikan napas pada tanden, suatu titik sedikit di bawah pusar dan di bawah permukaan tubuh.[11] Praktisi dapat memilih untuk menghitung setiap tarikan napas, "1, 2, 3, ..." dan seterusnya hingga 10, lalu memulai lagi dari 1. Sebagai alternatif, orang terkadang juga menghitung embusan napas: "1, 2, 3, ...", baik pada tarikan maupun embusan napas.[11] Apabila hitungan terlewat, seseorang hendaknya memulai lagi dari awal.

Jenis praktik yang dianjurkan dalam The Three Pillars of Zen adalah menghitung "1, 2, 3, ..." pada tarikan napas selama beberapa waktu, lalu beralih menghitung pada embusan napas, kemudian, setelah seseorang semakin konsisten dalam menjaga hitungan, mulai memperhatikan napas tanpa menghitung. Ada pula praktisi yang menghitung napas sepanjang hidupnya.[12] Siswa pemula sering kali dianjurkan untuk menjalankan praktik harian singkat sekitar 10 atau 15 menit sehari. Selain itu, seorang guru atau pembimbing sering kali dianggap penting dalam praktik buddhis, demikian pula saṅgha atau komunitas umat Buddha, sebagai penopang.

Ketika perhatian teralihkan dari napas, entah oleh pikiran atau hal lain, yang dialami baik oleh praktisi pemula maupun yang mahir, seseorang cukup mengembalikan perhatiannya pada napas. Philippe Goldin menyatakan bahwa "pembelajaran" yang penting terjadi pada saat praktisi mengembalikan perhatiannya pada objek fokus, yaitu napas.[13]

Pernapasan aktif dan pernapasan pasif

Lihat pula: Pranayama

Ānāpānasati paling umum dipraktikkan dengan perhatian yang terpusat pada napas, tanpa upaya apa pun untuk mengubah pernapasan.

Dalam nyanyian tenggorokan yang dipraktikkan sebagian biksu di Tibet dan Mongolia,[14] embusan napas yang panjang dan lambat selama pelantunan merupakan inti praktik. Bunyi lantunan juga berfungsi memusatkan batin dalam konsentrasi satu titik (samādhi), sementara rasa diri luruh ketika kesadaran terserap dalam alam bunyi murni.[butuh rujukan]

Dalam sebagian meditasi Zen Jepang, penekanannya adalah menjaga "kekuatan di area perut"[15] (bahasa Tionghoa: dantian; bahasa Jepang: tanden) dan pernapasan dalam yang lambat selama embusan napas panjang, juga untuk membantu mencapai keadaan batin berkonsentrasi satu titik. Ada pula "metode bambu", yakni menarik dan mengembuskan napas secara terputus-putus, seolah-olah sedang mengusapkan tangan di sepanjang batang bambu.[12]

Manfaat yang dibuktikan secara ilmiah

Praktik memusatkan perhatian mengubah otak sedemikian rupa sehingga kemampuan tersebut meningkat seiring waktu; otak tumbuh sebagai tanggapan terhadap meditasi.[16] Meditasi dapat dipandang sebagai latihan batin, serupa dengan belajar mengendarai sepeda atau bermain piano.

Para pemeditasi yang berpengalaman dalam meditasi perhatian terfokus (ānāpānasati termasuk salah satu jenisnya) menunjukkan penurunan respons kebiasaan dalam uji Stroop selama 20 menit, yang menurut Richard Davidson dan rekan-rekannya mungkin menunjukkan berkurangnya perilaku respons yang reaktif secara emosional dan otomatis.[16] Telah dibuktikan secara ilmiah bahwa ānāpānasati meningkatkan konektivitas di otak.[17]

Buddhisme Theravāda

Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Enam belas langkah

Ānāpānasati Sutta (MN 118) menguraikan enam belas langkah meditasi napas yang tersusun dalam empat rangkap-empat (catukka), yang masing-masing berpadanan dengan salah satu dari empat landasan kewawasan: jasmani, perasaan, batin, dan kualitas-kualitas batin (dhamma).[5] Dua rangkap-empat pertama masing-masing berpuncak pada penenangan suatu "bentukan" (saṅkhāra). Pada rangkap-empat pertama, bentukan itu adalah napas itu sendiri, yang oleh Cūḷavedalla Sutta (MN 44) digolongkan sebagai bentukan jasmani (kāyasaṅkhāra). Pada rangkap-empat kedua, bentukan itu adalah persepsi dan perasaan, yang oleh sutta yang sama digolongkan sebagai bentukan batin (cittasaṅkhāra).[18] Visuddhimagga karya Buddhaghosa yang lebih kemudian juga menguraikan enam belas cara untuk mendekati praktik ini.[19]

Enam belas langkah ānāpānasati dalam MN 118[5]
SatipaṭṭhānaĀnāpānasatiRangkap-empat
1. Perenungan jasmani
(Kāyānupassanā)
1. Bernapas panjang (mengetahui napas)Rangkap-empat pertama
2. Bernapas pendek (mengetahui napas)
3. Mengalami seluruh tubuh
4. Menenangkan bentukan jasmani
2. Perenungan perasaan
(Vedanānupassanā)
5. Mengalami kegiuranRangkap-empat kedua
6. Mengalami kebahagiaan
7. Mengalami bentukan batin
8. Menenangkan bentukan batin
3. Perenungan batin
(Cittānupassanā)
9. Mengalami batinRangkap-empat ketiga
10. Menggembirakan batin
11. Memantapkan batin
12. Membebaskan batin
4. Perenungan dhamma
(Dhammānupassanā)
13. Merenungkan ketidakkekalanRangkap-empat keempat
14. Merenungkan peluruhan nafsu
15. Merenungkan pelenyapan
16. Merenungkan pelepasan

Tafsiran kontemporer

Ānāpānasati Sutta menyatakan bahwa kewawasan terhadap napas, apabila dikembangkan dan dijalankan, menyempurnakan empat landasan kewawasan; keempatnya menyempurnakan tujuh faktor pencerahan, dan ketujuh faktor ini pada gilirannya menyempurnakan pengetahuan sejati (vijjā) dan pembebasan (vimutti).[5]

Y.M. Webu Sayadaw, seorang guru meditasi asal Myanmar, mengajarkan ānāpānasati dan menyebutnya "jalan pintas menuju Nibbāna" yang "dapat digunakan siapa pun" serta "jalan lurus menuju Nibbāna". Ia berpesan kepada murid-muridnya bahwa mereka tidak perlu mengetahui keenam belas cara yang diuraikan dalam Visuddhimagga, cukup kenyataan napas masuk dan napas keluar.[19]

Ānāpānasati juga dapat dipraktikkan bersama objek meditasi tradisional lainnya, termasuk empat landasan kewawasan[c] dan mettā bhāvanā.[d]

Buddhisme Tionghoa

250px-Buddhacinga_Fotudeng.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhacinga, biksu yang datang ke Tiongkok dan menyebarluaskan metode-metode ānāpānasmṛti.

Pada abad ke-2, seorang biksu bernama An Shigao datang ke Tiongkok dan menjadi salah satu penerjemah pertama kitab suci buddhis ke dalam bahasa Tionghoa. Ia menerjemahkan suatu versi Ānāpānasmṛti Sūtra antara tahun 148 dan 170 M. Meskipun pernah diyakini telah hilang,[20] terjemahan aslinya ditemukan kembali di Amanosan Kongō-ji, Osaka, Jepang, oleh Profesor Ochiai Toshinori pada tahun 1999.[21][22] Sementara itu, komentarnya merupakan teks yang jauh lebih panjang daripada yang terdapat dalam Ekottara Āgama, dan berjudul "Ānāpānasmṛti Sūtra Agung" (大安般守意經; Taishō 602).

Pada masa kemudian, Buddhacinga, yang lebih dikenal sebagai Fotudeng (佛圖澄; 231–349 M), datang dari Asia Tengah ke Tiongkok pada tahun 310 dan menyebarluaskan agama Buddha secara luas. Ia dikisahkan telah memperlihatkan banyak kesaktian, dan berhasil membuat para panglima perang di wilayah Tiongkok tersebut beralih memeluk agama Buddha.[23] Ia terkenal karena mengajarkan metode-metode meditasi, terutama ānāpānasmṛti. Fotudeng mengajarkan ānāpānasmṛti secara luas melalui metode menghitung napas, untuk meredakan pernapasan sekaligus memusatkan batin ke dalam keadaan konsentrasi meditatif yang damai.[24] Dengan mengajarkan metode meditasi di samping doktrin, Fotudeng dengan cepat memopulerkan agama Buddha. Menurut Nan Huaijin, "Di samping segala uraian teoretisnya tentang kekosongan dan keberadaan, agama Buddha juga menawarkan metode-metode yang dapat diandalkan untuk realisasi sejati atas kesaktian dan konsentrasi meditatif. Inilah alasan agama Buddha mulai berkembang begitu pesat di Tiongkok bersama Fotudeng."[24]

Seiring semakin banyaknya biksu seperti Kumārajīva, Dharmanandi, Gautama Saṃghadeva, dan Buddhabhadra yang datang ke Timur, terjemahan teks-teks meditasi pun ikut berdatangan, yang sering kali mengajarkan berbagai metode ānāpānasmṛti yang digunakan di India. Metode-metode ini kemudian terintegrasi ke dalam berbagai tradisi buddhis, serta ke dalam tradisi nonbuddhis seperti Taoisme.

Pada abad ke-6, aliran Tiantai terbentuk, dengan mengajarkan Satu Kendaraan (Sanskerta: Ekayāna), yakni kendaraan untuk mencapai Kebuddhaan, sebagai prinsip utamanya, serta tiga bentuk śamatha-vipaśyanā yang dikaitkan dengan perspektif meditatif tentang kekosongan, keberadaan sementara, dan jalan tengah, sebagai metode untuk mengembangkan realisasi.[25] Aliran Tiantai menekankan ānāpānasmṛti sesuai dengan prinsip śamatha dan vipaśyanā. Di Tiongkok, pemahaman Tiantai tentang meditasi dikenal sebagai yang paling sistematis dan menyeluruh.[26] Pendiri aliran Tiantai, Zhiyi, menulis banyak komentar dan risalah tentang meditasi. Di antara teks-teks tersebut, Śamatha-vipaśyanā Ringkas (Hanzi:小止觀; Pinyin:Xiǎo Zhǐguān), Mahāśamatha-vipaśyanā (摩訶止觀; Móhē Zhǐguān), dan Enam Gerbang Dharma yang Halus (六妙法門; Liù Miào Fǎmén) adalah yang paling banyak dibaca di Tiongkok.[26] Zhiyi menggolongkan pernapasan menjadi empat kategori utama: terengah-engah (; chuǎn), pernapasan yang tidak tergesa-gesa (; fēng), pernapasan yang dalam dan tenang (; ), serta keheningan atau keadaan diam (; ). Zhiyi berpendapat bahwa tiga jenis pernapasan pertama keliru, sedangkan yang keempat benar, dan bahwa pernapasan hendaknya mencapai keheningan dan keadaan diam.[27] Y.M. Hsuan Hua, yang mengajarkan Chan dan Buddhisme Tanah Suci, juga mengajarkan bahwa pernapasan luar mencapai keadaan hening dalam meditasi yang benar:

Praktisi yang cukup terampil tidak bernapas secara eksternal. Pernapasan luar itu telah berhenti, tetapi pernapasan dalam tetap berfungsi. Dalam pernapasan dalam, tidak ada embusan napas melalui hidung atau mulut, tetapi seluruh pori-pori di tubuh bernapas. Orang yang bernapas secara internal tampak seperti telah mati, tetapi sebenarnya ia belum mati. Ia tidak bernapas secara eksternal, tetapi pernapasan dalamnya telah hidup.[28]

Buddhisme Indo-Tibet

Dalam silsilah Buddhisme Tibet, ānāpānasmṛti dilakukan untuk menenangkan batin guna mempersiapkan seseorang bagi berbagai praktik lainnya.

Dua filsuf Mahāyāna terpenting, Asaṅga dan Vasubandhu, masing-masing dalam bab-bab Śrāvakabhūmi dari Yogācārabhūmi-śāstra dan dalam Abhidharmakośa, menegaskan bahwa mereka memandang ānāpānasmṛti sebagai praktik mendalam yang membawa pada vipaśyanā (sesuai dengan ajaran Buddha dalam Suttapiṭaka).[29] Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh cendekiawan Leah Zahler, "tradisi praktik yang berkaitan dengan uraian Vasubandhu atau Asaṅga tentang meditasi napas kemungkinan besar tidak diwariskan ke Tibet."[30] Asaṅga mengaitkan enam belas tahap ānāpānasmṛti dengan empat smṛtyupasthāna dengan cara yang sama seperti Ānāpānasmṛti Sūtra, tetapi karena ia tidak menyatakannya secara eksplisit, hal ini luput dari perhatian para komentator Tibet sesudahnya.[31]

Akibatnya, silsilah Tibet terbesar, Gelug, memandang ānāpānasmṛti hanya sebagai praktik persiapan yang berguna untuk menenangkan batin, dan tidak lebih dari itu.[30] Zahler menulis:

Tradisi praktik yang tersirat dalam Khazanah itu sendiri, dan juga dalam Tingkatan Para Pendengar karya Asaṅga, adalah tradisi di mana kewawasan terhadap napas menjadi dasar bagi penalaran induktif atas topik-topik seperti lima gugusan; sebagai hasil penalaran induktif tersebut, pemeditasi maju melalui jalan persiapan, jalan penglihatan, dan jalan meditasi para Pendengar. Tampaknya setidaknya mungkin bahwa Vasubandhu maupun Asaṅga menyajikan versi masing-masing dari metode semacam itu, yang analog dengan tetapi berbeda dari meditasi pandangan terang Theravāda modern, dan bahwa para cendekiawan Gelukpa tidak mampu merekonstruksinya tanpa adanya tradisi praktik karena besarnya perbedaan antara jenis penalaran meditatif induktif berbasis pengamatan ini dan jenis-jenis penalaran meditatif yang menggunakan konsekuensi (thal 'gyur, prasaṅga) atau silogisme (sbyor ba, prayoga) yang sudah dikenal kaum Gelukpa. Dengan demikian, meskipun para cendekiawan Gelukpa memberikan tafsiran terperinci atas sistem meditasi napas yang dipaparkan dalam teks-teks Vasubandhu dan Asaṅga, mereka mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan tahap-tahap lebih tinggi dari meditasi napas yang dipaparkan dalam teks-teks tersebut. [...] tampaknya baik para penulis buku teks Gelukpa maupun cendekiawan modern seperti Lati Rinpoche dan Gendun Lodro tidak berada dalam posisi untuk menyimpulkan bahwa momen pertama tahap kelima dalam sistem meditasi napas Vasubandhu bertepatan dengan pencapaian pandangan terang khusus, dan bahwa, oleh karena itu, empat tahap pertama pastilah merupakan metode untuk mengembangkan pandangan terang khusus.[32]

Zahler melanjutkan:

[T]ampaknya [...] bahwa suatu tradisi meditatif yang terdiri atas analisis berbasis pengamatan, yakni penalaran induktif di dalam meditasi, tidak diwariskan ke Tibet; apa yang oleh para penulis Gelukpa disebut meditasi analitis adalah penalaran silogistis di dalam meditasi. Dengan demikian, Jamyang Shaypa gagal mengenali kemungkinan adanya 'meditasi analitis' yang berbasis pengamatan, bahkan ketika ia mengutip bagian-bagian tentang meditasi napas dari Khazanah Pengetahuan Nyata karya Vasubandhu dan, terutama, Tingkatan Para Pendengar karya Asaṅga yang tampaknya menggambarkannya.[33]

Stephen Batchelor, yang selama bertahun-tahun menjadi biksu dalam silsilah Gelukpa, mengalami hal ini secara langsung. Ia menulis, "praktik kewawasan yang sistematis semacam itu tidak terlestarikan dalam tradisi-tradisi Tibet. Para lama Gelugpa mengetahui metode-metode tersebut dan dapat menunjuk uraian panjang tentang kewawasan dalam karya-karya Abhidharma mereka, tetapi penerapan hidup dari praktik tersebut sebagian besar telah hilang. (Hanya dalam dzog-chen, dengan gagasan 'kesadaran' [rig pa], kita menemukan sesuatu yang serupa.) Bagi banyak orang Tibet, istilah 'kewawasan' itu sendiri (sati dalam bahasa Pali, yang dalam bahasa Tibet dialihbahasakan sebagai dran pa) telah dipahami hampir semata-mata sebagai 'ingatan' atau 'kenangan'."[34]

Namun, sebagaimana dicatat Batchelor, dalam tradisi-tradisi lain, khususnya Kagyu dan Nyingma, kewawasan yang didasarkan pada praktik ānāpānasmṛti dianggap sebagai sarana yang cukup mendalam untuk menenangkan batin guna mempersiapkannya bagi praktik-praktik yang lebih tinggi, yaitu Dzogchen dan Mahāmudrā. Bagi kaum Kagyupa, dalam konteks mahāmudrā, ānāpānasmṛti dipandang sebagai cara ideal bagi pemeditasi untuk beralih menjadikan batin itu sendiri sebagai objek meditasi dan membangkitkan vipaśyanā atas dasar tersebut.[35] Guru Kagyu/Nyingma kontemporer terkemuka, Chögyam Trungpa, yang menggemakan pandangan Mahāmudrā Kagyu, menulis, "pernapasanmu adalah hal terdekat yang dapat kau peroleh sebagai gambaran batinmu. Dalam arti tertentu, pernapasan adalah potret batinmu... Anjuran tradisional dalam silsilah para pemeditasi yang berkembang dalam tradisi Kagyu-Nyingma didasarkan pada gagasan memadukan batin dan napas."[36] Kaum Gelukpa mengakui bahwa batin itu sendiri dapat dijadikan objek meditasi, tetapi, menurut laporan Zahler, kaum Gelukpa tidak menganjurkannya dengan "apa yang tampaknya merupakan polemik sektarian yang terselubung tipis terhadap meditasi Kesempurnaan Agung [Dzogchen] Nyingma dan Segel Agung [mahāmudrā] Kagyu."[37]

Dalam tradisi tantra Pañcakrama yang dinisbatkan kepada Nāgārjuna (dari Vajrayāna), menghitung napas dalam ānāpānasmṛti dikatakan sudah cukup untuk membangkitkan pengalaman vipaśyanā (meskipun hal ini terjadi dalam konteks "praktik tantra formal tahap penyempurnaan dalam yogatantra tertinggi").[38][39]

Lihat pula

Referensi

Catatan

  1. Dalam Tripitaka Pali, petunjuk ānāpānasati disajikan dalam bentuk satu rangkap-empat (catukka; empat petunjuk) atau empat rangkap-empat (enam belas petunjuk). Uraian empat rangkap-empat yang paling terkenal, yang dijadikan dasar hari libur nasional di negara-negara Theravāda (lihat Uposatha), adalah Ānāpānasati Sutta dalam Majjhimanikāya, sutta ke-118 (misalnya, lihat Thanissaro, 2006). Khotbah-khotbah lain yang menguraikan keempat rangkap-empat secara lengkap terdapat dalam Ānāpānasaṁyutta (bab 54) dari Saṁyuttanikāya, seperti SN 54.6 (Thanissaro, 2006a), SN 54.8 (Thanissaro, 2006b), dan SN 54.13 (Thanissaro, 1995a). Uraian ānāpānasati dalam satu rangkap-empat terdapat, misalnya, dalam Kāyagatāsati Sutta (MN 119; Thanissaro, 1997), Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (DN 22; Thanissaro, 2000), dan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10; Thanissaro, 1995b).
  2. Penggunaan metode menghitung ini tidak ditemukan dalam Tripitaka Pali dan dikaitkan dengan Buddhaghosa dalam Visuddhimagga. Menurut Visuddhimagga, menghitung napas (gaṇanā) adalah teknik pendahuluan yang membuat seseorang peka terhadap muncul dan lenyapnya napas, dan ditinggalkan begitu seseorang telah mencapai keterhubungan wawas yang ajek (anubandhanā) dengan napas masuk dan napas keluar (Vism VIII, 195–196). Menghitung napas secara terus-menerus dapat menimbulkan kantuk atau berkembangbiaknya pikiran (lihat, misalnya, Anālayo 2006, hlm. 133, catatan 68).
  3. Dalam pengantar penerjemah untuk DN 22, Thanissaro (2000) menulis:
    Sekilas, empat landasan dalam praktik satipaṭṭhāna terdengar seperti empat latihan meditasi yang berbeda, tetapi MN 118 [Ānāpānasati Sutta] menjelaskan bahwa keempatnya dapat berpusat pada satu praktik tunggal: menjaga napas dalam batin. Ketika batin bersama napas, keempat landasan itu hadir di sana. Perbedaannya hanya terletak pada kehalusan fokus seseorang.... [S]eiring pemeditasi semakin terampil untuk tetap bersama napas, praktik satipaṭṭhāna memberikan kepekaan yang lebih besar dalam mengupas lapisan-lapisan keterlibatan yang semakin halus pada saat sekarang, hingga tidak ada lagi yang menghalangi pembebasan total.
  4. Menurut Kamalashila (2004),[halaman dibutuhkan] seseorang dapat mempraktikkan ānāpānasati dengan sikap mettā bhāvanā untuk mencegah (pada sebagian praktisi) semacam disosiasi atau keterputusan yang tidak semestinya dari dunia.

Sitasi

  1. Nyanatiloka; Nyanaponika (2007). Buddhist dictionary: manual of Buddhist terms and doctrines (Edisi 5th Revised). Chiang Mai: Silkworm Books. hlm. 194. ISBN 978-974-9511-30-5.
  2. Davids, Thomas William Rhys; Stede, William (1993). Pali-English dictionary (Edisi Reprint). Delhi: Motilal Banarsidass. hlm. 115. ISBN 978-81-208-1144-7.
  3. Anālayo (2003), hlm. 125.
  4. Majjhimanikāya, sutta no. 118, bagian no. 2; Satipaṭṭhāna Sutta
  5. 1 2 3 4 5 6 "Ānāpānasati Sutta: Mindfulness of Breathing". Majjhima Nikaya. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. dhammatalks.org. 2006. 118.
  6. 1 2 Kamalashila (2004). Meditation: The Buddhist Way of Tranquillity and Insight (Edisi ke-2). Birmingham: Windhorse Publications. ISBN 1-899579-05-2.
  7. 1 2 Deleanu, Florin (1992). "Mindfulness of Breathing in the Dhyāna Sūtras" (PDF). Transactions of the International Conference of Orientalists in Japan. 37: 42–57.
  8. Lee, Raymond L. M.; Ackerman, Susan Ellen (1997). Sacred Tensions: Modernity and Religious Transformation in Malaysia. University of South Carolina Press. hlm. 78.
  9. Johnson, Will (2012). Breathing through the whole body: The Buddha's instructions on integrating mind, body and breath. Simon and Schuster.
  10. John Dunne membahas fenomenologi buddhis dari sudut pandang tekstual Indo-Tibet di "Research Projects | the Center for Compassion and Altruism Research and Education". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-11-20. Diakses tanggal 2016-02-05.
  11. 1 2 3 4 Kapleau, Philip (2000). The Three Pillars of Zen. New York: Anchor Books. ISBN 0-385-26093-8.
  12. 1 2 Katsuki Sekida (1975). Zen Training: Methods and Philosophy. Weatherhill.
  13. Philippe Goldin dalam Cognitive Neuroscience of Mindfulness Meditation, menit ke-11:00
  14. "The One Voice Chord". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-01-17. Diakses tanggal 2007-01-19.
  15. "Tanden: Source of Spiritual Strength". Diarsipkan dari asli tanggal 2012-01-12. Diakses tanggal 2011-09-25.
  16. 1 2 Lutz, A; Slagter, HA; Dunne, JD; Davidson, RJ (April 2008). "Attention regulation and monitoring in meditation". Trends Cogn. Sci. (Regul. Ed.). 12 (4): 163–9. doi:10.1016/j.tics.2008.01.005. PMC 2693206. PMID 18329323.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. Luders, Eileen; Clark, Kristi; Narr, Katherine L.; Toga, Arthur W. (2011). "Enhanced brain connectivity in long-term meditation practitioners". NeuroImage. 57 (4): 1308–1316. doi:10.1016/j.neuroimage.2011.05.075. PMC 3176828. PMID 21664467.
  18. "Culavedalla Sutta: The Shorter Set of Questions-and-Answers (MN 44)". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. Diakses tanggal 19 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. 1 2 Webu Sayadaw (1991). "Introduction". The Essential Practice: Dhamma Discourses of Venerable Webu Sayadaw, Part I. The Wheel Publication. Diterjemahkan oleh Roger Bischoff. Kandy: Buddhist Publication Society. Diakses tanggal 19 September 2026.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  20. Thich, Nhat Hanh (2008). "Appendix Three - A Brief History". Breathe! You Are Alive : Sutra on the Full Awareness of Breathing. Parallax Press. ISBN 9781935209263. OCLC 1003952392. The original translation by Shi Gao of the Sanskrit (or Prakrit) text into Chinese has probably been lost. The Da An Ban Shou Yi Jing is only the commentary that was originally printed below the text of the sutra.
  21. Hung, Hunglung (2015). "A Study of Dunhuang Manuscript S 4221". Journal of Indian and Buddhist Studies (Indogaku Bukkyogaku Kenkyu). 63 (3): 1133–1140. doi:10.4259/ibk.63.3_1133.
  22. Deleanu, Florin (2003-03-31). "The Newly Found Text of the An ban shou yi jing Translated by An Shigao". Journal of the International College for Advanced Buddhist Studies (dalam bahasa Jepang). 6 (6): 170–133. doi:10.15056/00000161.
  23. Nan (1997), hlm. 80–81.
  24. 1 2 Nan (1997), hlm. 81.
  25. Nan (1997), hlm. 91.
  26. 1 2 Luk (1964), hlm. 110.
  27. Luk (1964), hlm. 125.
  28. Hsuan Hua. The Chan Handbook. 2004. hlm. 44.
  29. Zahler (2009), hlm. 107–108.
  30. 1 2 Zahler (2009), hlm. 108.
  31. Zahler (2009), hlm. 119–126.
  32. Zahler (2009), hlm. 108, 113.
  33. Zahler (2009), hlm. 306.
  34. Batchelor, Stephen (1990). The Faith to Doubt: Glimpses of Buddhist Uncertainty. Berkeley: Parallax Press. hlm. 8.
  35. Brown (2006), hlm. 221–234.
  36. The Path is the Goal, dalam The Collected Works of Chogyam Trungpa, Vol. Two. Shambhala Publications. hlm. 49, 51.
  37. Zahler (2009), hlm. 131–132.
  38. Brown (2006), hlm. 221.
  39. Mathes (2013), hlm. 378.

Sumber buku

Sumber primer

Bacaan lanjutan

  • Mindfulness with Breathing oleh Buddhadāsa Bhikkhu. Wisdom Publications, Boston, 1996. ISBN0-86171-111-4.
  • Breath by Breath oleh Larry Rosenberg. Shambhala Classics, Boston, 1998. ISBN1-59030-136-6.
  • Tranquillity and Insight oleh Amadeo Sole-Leris. Shambhala, 1986. ISBN0-87773-385-6.
  • The Anapanasati Sutta / A Practical Guide to Mindfulness of Breathing and Tranquil Wisdom Meditation oleh Bhante Vimalaramsi. Yin Shun Foundation, Januari 1999; edisi pertama (1999). ASIN: B00183T9XW.
  • Breathing Like a Buddha oleh Ajahn Sucitto. Amaravati Publications, 2022. ISBN978-1-78432-189-5.

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan