Kamis, 29 Oktober 2026
16:01 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Cetanā

Faktor mental dalam agama Buddha

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Hasrat (Buddhisme), Tekad (Buddhisme), atau Nafsu (Buddhisme).
Untuk kegunaan lain, lihat Kehendak (disambiguasi).
Terjemahan dari
cetanā
Indonesiakehendak, niat
Inggrisvolition,
intention,
directionality of mind,
attraction,
urge
Palicetanā
Sanskertaचेतना (cetanā)
Tionghoa思
Tibetསེམས་པ།
(Wylie: sems pa;
THL: sempa
)
Myanmarစေတနာ
Thaiเจตนา
(RTGS: chettana)
Khmerចេតនា
(UNGEGN: chétânéa; ALA-LC: cetanā; IPA: [ceːtanaː])
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, cetanā (Pali dan Sanskerta; Wylie Tibet: sems pa), diterjemahkan sebagai kehendak, niat, intensi, atau volisi, didefinisikan sebagai faktor mental yang menggerakkan atau mendesak batin ke arah tertentu, menuju objek atau tujuan tertentu.[1][2] Faktor mental ini merupakan faktor mental paling penting dalam menentukan kualitas suatu karma (perbuatan berkehendak) sebagai baik atau buruk.[3] Cetanā diidentifikasi dalam ajaran Buddha sebagai berikut:

Theravāda

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
icon PortalBuddhisme

Definisi

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menyatakan:

Cetanā... adalah faktor mental yang berkenaan dengan aktualisasi suatu tujuan, yakni aspek konatif atau kehendak dari kognisi. Maka dari itu, cetanā diartikan sebagai kehendak (volition). Kitab komentar menjelaskan bahwa cetanā mengatur faktor-faktor mental yang terkait dalam bertindak atas objek. Ciri khasnya adalah keadaan berkehendak, fungsinya adalah mengumpulkan (kamma), dan manifestasinya adalah koordinasi. Penyebab langsungnya adalah keadaan-keadaan terkait. Seperti halnya seorang kepala murid membacakan pelajarannya sendiri dan juga meminta murid-murid yang lain membacakan pelajaran mereka sendiri, demikian pula ketika kemauan mulai bekerja pada objeknya, ia mengatur keadaan-keadaan yang terkait untuk melakukan tugasnya juga...[3]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa cetanā didefinisikan dalam empat batasan:[4]

  • Karakteristik: berkehendak (cetayitalakkhaṇa).
  • Fungsi: mengoordinasi (āyūhanarasa).
  • Manifestasi: pengaturan (saṃvidahanapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: dhamma-dhamma yang berasosiasi dengannya.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:

Pada saat kita berbicara tentang kamma, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang faktor-mental (cetasika) kehendak yang mendasari setiap perbuatan, baik itu melalui tindakan, ucapan, maupun yang hanya melalui pikiran. Kehendak muncul di semua kesadaran (citta). Dengan kata lain, kehendak muncul di setiap momen kehidupan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan kamma hanyalah kehendak yang muncul di kesadaran yang baik (kusala-citta) dan kesadaran yang tidak baik (akusala-citta) [kehendak yang muncul di kesadaran resultan (vipāka-citta) dan fungsional (kiriya-citta) tidak bisa disebut sebagai kamma]. Hal ini terjadi karena kemampuan kehendak yang terkemuka dan menjadi pemimpin (padhāna) dari semua formasi-formasi batin (saṅkhāra) dalam hal mengoordinasi dan mengakumulasikan perbuatan baik maupun perbuatan tidak baik yang telah terjadi di masa lalu. Kehendak bisa terlahir dari kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-tubuh dan kontak-batin.[4]

Kitab Atthasālinī (I, Bagian IV, Bab I, 111) menyatakan bahwa cetanā memiliki karakteristik mengoordinasikan dhamma terkait (citta dan cetasika lainnya) pada objek, dan fungsinya adalah 'menghendaki':

... Tidak ada yang namanya kehendak tanpa karakteristik pengoordinasian di keempat alam keberadaan; semua kehendak memiliki karakteristik/ciri pengoordinasian. Namun, fungsi 'berbuat' (dalam konteks karma) hanya ada pada kesadaran baik (kusala) dan tidak baik (akusala) [tidak ada pada kesadaran fungsional (kiriya)]... Ia memiliki 'pengarahan' sebagai manifestasinya. Ia muncul mengarahkan keadaan-keadaan yang berhubungan, seperti murid utama, kepala tukang kayu, dan sebagainya yang memenuhi tugas-tugas mereka sendiri dan orang lain.[5]

Hubungan dengan karma

Dalam tradisi Buddhis, cetanā dianggap sebagai faktor mental paling penting dalam menghasilkan karma.

Bhikkhu Bodhi menyatakan (dari sudut pandang Theravāda):

Kehendak merupakan faktor mental yang paling penting dalam menghasilkan kamma karena kehendaklah yang menentukan kualitas etika suatu tindakan.[3]

Mahāyāna

Definisi

Geshe Tashi Tsering menyatakan:[6]

Niat [...] juga disebut kemauan. Inilah unsur yang mengoordinasikan dan mengarahkan kegiatan setiap unsur lain di dalam pikiran utama berkenaan dengan objeknya. Begitu perasaan hadir, niat menggerakkan pikiran kita ke arah tertentu.
Niat merupakan faktor yang mengaktualisasikan perasaan yang telah dicetuskan. Bila perasaan yang timbul setelah bersentuhan dengan suatu benda adalah ketertarikan, maka niat menggerakkan pikiran maju ke arah benda tersebut. Misalnya, saya mencium aroma mangga matang di toko yang saya lewati, dan timbullah perasaan tertarik. Niat adalah perubahan dalam proses mental ke arah pembelian.

Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu cetanā? Ini adalah aktivitas mental yang mendorong pikiran ke depan. Ia memiliki fungsi untuk membuat pikiran menetap pada apa yang positif, negatif, atau tidak pasti.[2]
Ia merupakan suatu peristiwa mental yang membangkitkan dan mendesak pikiran beserta peristiwa-peristiwa terkaitnya terhadap suatu objek. Dari semua peristiwa mental, peristiwa ini dikatakan sebagai yang paling penting karena kekuatan peristiwa mental ini mengarahkan pikiran dan setiap peristiwa mental pada objek. Sama seperti besi yang tidak bisa tidak tertarik oleh magnet, demikian pula pikiran tidak bisa tidak tertuju pada suatu objek melalui peristiwa mental ini.[2]
Kehendak (sems-pa) menyebabkan aktivitas mental menghadapi suatu objek atau bergerak ke arahnya. Secara umum, ia menggerakkan kontinum mental untuk mengambil suatu objek secara kognitif. Kontinum mental (sems-rgyud, arus batin) adalah rangkaian momen aktivitas mental yang bersifat individual dan abadi.[7]

Mipham Rinpoche menyatakan:

Cetanā menggambarkan proses pikiran [perhatian] bergerak menuju dan terlibat dengan suatu objek. Dari segi pendukungnya ada enam, seperti cetanā pada saat mata bertemu [yaitu antara objek, indra dan kesadaran], dan seterusnya.[1]

Cetanā beroperasi dengan enam dukungan, atau sepanjang enam saluran:[1][2]

  1. Cetanā yang didukung situasi penglihatan/visual
  2. Cetanā yang didukung situasi pendengaran
  3. Cetanā yang didukung situasi pembauan
  4. Cetanā yang didukung situasi pengecapan
  5. Cetanā yang didukung situasi penyentuhan/perabaan
  6. Cetanā yang didukung situasi pikiran

Hubungan dengan karma

Alexander Berzin menjelaskan (dari sudut pandang Mahayana):

[Menurut pandangan Asanga], karma (bahasa Tibet: las) adalah dorongan mental. Ini sinonim dengan faktor mental dari suatu dorongan (Tibet: sems-pa). Dorongan adalah faktor mental yang menyertai setiap momen pengalaman kita. Itulah faktor mental yang membawa kita ke arah pengalaman tertentu, entah sekadar melihat atau mendengarkan sesuatu, atau, dalam kasus ini, melakukan sesuatu terhadapnya, mengatakannya, atau memikirkannya. Baik karma fisik, verbal, maupun mental, dorongan karma adalah faktor mental berupa hasrat untuk melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu. Seperti dorongan untuk memukul seseorang, untuk mengatakan kebenaran, atau memikirkan kerinduan terhadap orang yang dicintai. Itu juga merupakan dorongan mental untuk terus melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu, serta dorongan mental untuk berhenti terlibat di dalamnya dan melakukan, mengatakan, atau memikirkan sesuatu yang lain. Biasanya, kita tidak menyadari sama sekali dorongan atau impuls mental ini. Dalam terminologi Barat, kita akan mengatakan mereka biasanya "tidak sadar".[8]

Terjemahan alternatif

  • Atrraction (Erik Pema Kunsang)
  • Directionality of mind (Herbert Guenther)
  • Urge (Alexander Berzin)
  • Volition (Bhikkhu Bodhi)

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 Erik Pema Kunsang (translator) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books. hlm. 23.
  2. 1 2 3 4 Herbert V. Guenther & Leslie S. Kawamura, Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition. (Kindle Loc. 386-392).
  3. 1 2 3 Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 80
  4. 1 2 Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 40–41. ISBN 978-623-94342-7-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Gorkom (2010), Definition of volition[pranala dihapus]
  6. ↑ Geshe Tashi Tsering 2006, Kindle Loc. 648-653.
  7. ↑ Berzin (2006)
  8. ↑ Berzin (2008)

Sumber

  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Berzin, Alexander (2008), Clearing Away Extraneous Conceptions about Karma
  • Bhikkhu Bodhi (2003), Comprehensive Manual of Abhidhamma, Penerbitan Pariyatti
  • Geshe Tashi Tsering (2006), Buddhist Psychology: The Foundation of Buddhist Thought, Volume III, Perseus Books Group, Kindle Edition
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" karya Ye-shes rgyal-mtshan, Dharma Publishing. Edisi Kindle.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1 . Buku Atlantik Utara.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas[pranala dihapus], Zolag

Pranala luar

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan