Minggu, 20 September 2026
11:36 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Dosa (Buddhisme)

Dosa (Buddhisme)

Konsep kebencian yang menjadi salah satu dari sumber kejahatan dalam Buddhisme

Terjemahan dari
dosa
Indonesiakebencian,
ketidaksukaan,
penolakan,
keengganan
Inggrishatred, aversion, anger, hostility, ill will
Palidosa
(𑀤𑁄𑀲)
Sanskertadveṣa
(Dev: द्वेष)
Tionghoa瞋(T) / 瞋(S)
Korea
(RR: jin)
Tibetཞེ་སྡང
(Wylie: zhe sdang;
THL: shyédang
)
Myanmarဒေါသ
Thaiโทสะ
VietnamSân
Khmerទោសៈ, ទោស
(UNGEGN: Toŭsăk, Toŭh)
Daftar Istilah Buddhis
Terjemahan dari
tanpa kebencian
Indonesiatanpa-kebencian
Inggrisnon-aggression,
non-hatred,
imperturbability,
non-anger
Paliadosa; abyāpāda
Sanskertaadvesha, adveṣa
Tionghoa無瞋(T) / 无瞋(S)
Korea무진
(RR: mujin)
Tibetཞེས་སྡང་མེད་པ།
(Wylie: zhes sdang med pa;
THL: shyé dang mepa
)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, dosa (Pali; Sanskerta: dveṣa), diterjemahkan sebagai kebencian, ketidaksukaan, penolakan (bedakan dari nekkhamma), keengganan, atau aversi,[1][2][3][4] adalah suatu keadaan mental yang ditandai dengan adanya penolakan terhadap sesuatu yang tidak disukai. Dosa (kebencian) merupakan suatu faktor mental berupa pengotor batin yang menjadi salah satu dari tiga akar kejahatan (ti akusalamūla)—lobha, dosa, dan moha.[5][6] Untuk menghindari timbulnya kebencian dalam arus kesadaran, seseorang dianjurkan menjalankan lima latihan kemoralan, yakni dengan pelaksanaan Pancasila (bahasa Pali: pañcasīla).[7]

Dosa diidentifikasi dalam konteks-konteks berikut:

Faktor mental dengan sifat-sifat yang berlawanan dari kebencian adalah tanpa-kebencian (Pali: adosa; Sanskerta: adveṣa).

Adosa (Pali; Sanskerta: adveṣa), diterjemahkan sebagai tanpa-kebencian, adalah suatu faktor mental indah dalam Buddhisme. Faktor mental ini memiliki sifat-sifat yang berlawanan dari faktor mental kebencian. Pada saat faktor mental tanpa-kebencian berkembang maksimal, maka tanpa-kebencian akan berubah menjadi cinta kasih yang tulus dan tidak membeda-bedakan (mettā).[9]

Tanpa-kebencian diidentifikasi dalam konteks-konteks berikut:

  • Satu dari dua puluh lima faktor mental indah dalam ajaran Abhidhamma Theravāda
    • Faktor mental yang, jika dikembangkan secara maksimal, dapat berubah menjadi cinta kasih (mettā)
  • Satu dari sebelas faktor mental yang baik dalam ajaran Abhidharma Mahayana

Istilah-istilah terkait

Dalam psikologi Buddhis, berbagai manifestasi dari kebencian diklasifikasikan ke dalam beberapa istilah spesifik yang masing-masing merupakan antitesis atau musuh dari sifat-sifat luhur (Brahmavihāra). Terdapat sikap-sikap pengganggu yang harus dibasmi secara berurutan oleh disiplin-disiplin etis ini, yaitu niat buruk (vyāpāda), kekejaman (vihesa), keengganan (arati), dan nafsu (rāga).[10]

Empat sifat luhur dalam Buddhisme Theravāda
Sutta Abhidhamma Visuddhimagga
Sifat luhur
(brahmavihāra)
Faktor mental
(cetasika)
Musuh dekat
(āsannapaccatthika)
Musuh jauh
(dūrapaccatthika)
cinta kasih (mettā) tanpa-kebencian (adosa) nafsu (rāga) niat jahat (vyāpāda/byāpāda)
belas kasih (karuṇā) belas kasih (karuṇā) dukacita batiniah duniawi
(gehasita-domanassa)
kekejaman (vihesā/vihiṃsā)[11]
simpati positif (muditā) simpati positif (muditā) sukacita batiniah duniawi
(gehasita-somanassa)
rasa tidak-senang (arati)
ketenangan (upekkhā) keseimbangan batin (tatramajjhattatā) tanpa-pengetahuan (aññāṇa) nafsu dan antipati (rāgapaṭighā)

Vyāpāda

Vyāpāda (ejaan alternatif: byāpāda) merujuk pada niat jahat, niat buruk, permusuhan, atau kedengkian. Kondisi batin ini merupakan dorongan yang menginginkan makhluk lain mengalami kemalangan, kehancuran, atau penderitaan.[butuh rujukan] Dalam kerangka ajaran Buddha, vyāpāda diklasifikasikan sebagai salah satu dari lima rintangan batin (nīvaraṇa) yang menghalangi pencapaian penyerapan meditatif (jhāna).[12] Menurut Mahā-Rāhulovāda Sutta (MN 62), vyāpāda adalah antitesis dari cinta kasih universal (mettā).[13] Pengembangan mettā berfungsi untuk melenyapkan kecenderungan vyāpāda, sikap pengganggu yang berlawanan dan harus dibasmi dengan pengembangan cinta kasih.[10]

Vihesā

Vihesā (bahasa Pāli; varian ejaan: vihiṃsā) diartikan sebagai kekejaman atau niat untuk menganiaya. Istilah ini merujuk pada dorongan batin atau pikiran kejam (vihiṃsā-vitakka) yang ingin melihat makhluk lain tersiksa dan terlukai.[14] Vihesā (kekejaman) adalah suatu sikap pengganggu yang merupakan antitesis dari welas asih (karuṇā).[10] Dalam instruksi Sang Buddha kepada Rāhula pada Mahā-Rāhulovāda Sutta, ditekankan bahwa praktik meditasi welas asih (karuṇā bhāvanā) berfungsi secara khusus sebagai penawar untuk menghancurkan pikiran yang kejam (vihesā) ini.[15] Lebih lanjut, dalam Visuddhimagga, vihesā juga diklasifikasikan sebagai "musuh jauh" (dūrapaccatthika) dari sifat welas asih (karuṇā).[16]

Arati

Arati diartikan sebagai keengganan, ketidaksenangan, kebosanan, atau rasa hambar terhadap suatu objek.[butuh rujukan] Dalam konteks pengembangan batin, arati adalah antitesis dari simpati atas keberhasilan orang lain (muditā), suatu sikap pengganggu yang merupakan kebalikan dari apresiasi simpatik.[10] Dalam Mahā-Rāhulovāda Sutta, praktik muditā diajarkan secara spesifik untuk mengikis habis rasa keengganan ini.[15] Lebih lanjut, dalam Visuddhimagga, arati juga diklasifikasikan sebagai "musuh jauh" (dūrapaccatthika) dari simpati (muditā).[17] Ketika seseorang dihadapkan pada keberhasilan atau kesejahteraan (sampatti) makhluk lain, batin yang diliputi arati akan menolak untuk turut bersukacita, memalingkan muka, atau merasa enggan mengapresiasinya.

Paṭigha

Paṭigha didefinisikan oleh sumber-sumber Theravāda sebagai: antipati,[18] kemarahan (anger), penolakan (repulsion), benturan (collision);[19] permusuhan (animosity); iritasi/kejengkelan (irritation); kemurkaan (indignation).[20] Berdasarkan penjelasan Mahā-Rāhulovāda Sutta, paṭigha adalah sifat pengganggu yang menjadi antitesis langsung dari pengembangan keseimbangan batin (upekkhā).[15] Praktik meditasi upekkhā dikembangkan secara spesifik dengan tujuan untuk melenyapkan dan mengikis habis kecenderungan antipati (paṭigha) tersebut.[10] Lebih lanjut, dalam Visuddhimagga, kegagalan dalam menjaga ketenangan ini dapat memicu munculnya paṭigha sebagai "musuh jauh" dari upekkhā.[21]

Nyanatiloka Mahathera memberikan definisi berikut:[22]

  1. Dalam arti etis, kata ini berarti: 'keengganan' (repugnance), rasa dongkol (grudge), kekesalan (resentment), kemarahan (anger), dan merupakan sinonim dari byāpāda, 'niat buruk' (ill-will; lihat nīvaraṇa) dan dosa, 'kebencian' (hate; lihat mūla). Ini adalah salah satu dari kecenderungan laten (anusaya).
  2. 'Reaksi-(indra)'. Diterapkan pada kognisi pancaindra, paṭigha muncul dalam konteks berikut:
    • (a) paṭigha-saññā ('persepsi reaksi-indra'): dikatakan tidak ada dalam pencerapan nonmateri (lihat jhāna 5). Terjemahan alternatif: persepsi-resistensi (resistance-perception), persepsi-refleks (reflex-perception).
    • (b) paṭigha-samphassa ('kesan [mental] yang disebabkan oleh reaksi sensoris rangkap-lima'; D. 15): lihat phassa.
    • (c) sappaṭigha-rūpa ('jasmani yang bereaksi') dan appaṭigha ('tidak bereaksi'): merupakan klasifikasi Abhidhamma untuk jasmani yang muncul dalam Dhs. 659, 1050. Sappaṭigha adalah sebutan bagi organ-organ indra fisik yang bereaksi atau merespons terhadap rangsangan indra, serta objek-objek indra fisik yang membentur atau memberikan dampak pada organ indra. Semua jasmani lainnya adalah appaṭigha—tidak bereaksi dan tidak membentur. Kedua istilah ini telah diterjemahkan secara bervariasi sebagai resisten atau tidak resisten, merespons atau tidak merespons, serta dengan atau tanpa benturan.

Metode Abhidhamma

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dosa-cetasika

Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, moha adalah suatu faktor-mental tidak baik. Dosa-cetasika didefinisikan dalam empat batasan sebagai berikut:

  • Karakteristik: ganas atau kasar (caṇḍikkalakkhaṇa).
  • Fungsi: menyebar (visappanarasa) membakar sandarannya sendiri (attano nissayadahanarasa).
  • Manifestasi: menyerang atau menyakiti (dussanapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: landasan kemunculan kebencian (āghātavatthupadaṭṭhāna).

Kemunculan faktor-mental kebencian (dosa-cetasika) selalu disertai oleh perasaan tidak senang terhadap objek apa pun yang ditangkap oleh salah satu dari enam indra — mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan hati/batin.[23]

Adosa-cetasika

Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, faktor-mental adosa (tanpa-kebencian) memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan faktor-mental dosa. Adosa-cetasika adalah suatu faktor-mental indah, dan didefinisikan dalam empat batasan sebagai berikut:[23]

  • Karakteristik: ketiadaan sifat galak atau bengis (acaṇḍikka-lakkhaṇa) atau ketiadaan lawan (avirodhalakkhaṇa).
  • Fungsi: melenyapkan kemarahan (āghātavinaya-rasa) atau menyingkirkan tekanan dan demam nafsu amarah (pariḷāhavinayarasa).
  • Manifestasi: keadaan hati yang menyenangkan (sommabhāvapaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: tidak disebutkan.

Lebih lanjut, dijelaskan:[23]

Tanpa-kebencian (adosa) dipahami dengan cara yang sama [seperti faktor-mental alobha], yaitu bukan keadaan batin yang muncul tanpa adanya faktor-mental kebencian (dosa). Kesadaran yang berakar pada keserakahan (lobha-mūla-citta) juga muncul tanpa disertai dengan kebencian (dosa), tetapi bukan berarti pada saat itu terdapat faktor-mental tanpa-kebencian (adosa). Jadi, tanpa-kebencian (adosa) adalah faktor-mental yang merupakan kebalikan dari faktor-mental kebencian (dosa).[note 1]

Jika faktor mental tanpa-kebencian (adosa-cetasika) dikembangkan secara maksimal, maka faktor-mental tersebut berkembang menjadi suatu kualitas yang disebut sebagai cinta kasih (mettā).

Catatan

  1. Dengan kata lain, tradisi menganggap dosa-cetasika dan adosa-cetasika sebagai dua entitas yang berbeda dan berdiri sendiri. Adosa-cetasika tidak semata-mata berarti "tidak ada dosa-cetasika", meskipun keduanya tidak dapat muncul secara bersamaan dalam suatu kesadaran (citta).

Referensi

  1. "Dosha, Dosa, Doṣa, Dosā, Doṣā, Ḍosā: 45 definitions". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2008-06-30. Diakses tanggal 2024-08-10.
  2. Rhys Davids, Thomas William; William Stede (1921). Pali-English Dictionary. Motilal Banarsidass Publishing House. hlm. 323, 438. ISBN 978-81-208-1144-7.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal; Ranjung Yeshe wiki entry for zhe sdang
  3. Buswell, Robert E. Jr.; Lopez, Donald S. Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. hlm. 29. ISBN 978-1-4008-4805-8.; Eric Cheetham (1994). Fundamentals of Mainstream Buddhism. Tuttle. hlm. 314. ISBN 978-0-8048-3008-9.
  4. Nāgārjuna (1996). Mūlamadhyamakakārikā of Nāgārjuna. Diterjemahkan oleh Kalupahana, David J. Motilal Banarsidass Publishing House. hlm. 72. ISBN 978-81-208-0774-7.; Mengutip: The attainment of freedom from the three poisons of lust (raga), hatred (dvesa) and confusion (moha) by a person who is understood as being in the process of becoming conditioned by various factors (not merely by the three poisons)....
  5. "The Noble Eightfold Path: The Way to the End of Suffering". www.accesstoinsight.org. Diakses tanggal 2024-08-10.
  6. "AN 6.39: Nidānasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-08-10.
  7. "Tiga Permulaan Kejahatan (akusalamūla)". Bhagavant.com. 2017-10-10.
  8. Nāgārjuna (1996). Mūlamadhyamakakārikā of Nāgārjuna. Diterjemahkan oleh Kalupahana, David J. Motilal Banarsidass Publishing House. hlm. 72. ISBN 978-81-208-0774-7.; Mengutip: The attainment of freedom from the three poisons of lust (raga), hatred (dvesa) and confusion (moha) by a person who is understood as being in the process of becoming conditioned by various factors (not merely by the three poisons)....
  9. Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 151–152. ISBN 978-623-94342-7-4.
  10. 1 2 3 4 5 Nārada 1987, hlm. 138.
  11. "Definitions of Vihesa, Vihesā". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2014-08-03. Diakses tanggal 2024-09-20.
  12. Bodhi 2007, hlm. 267.
  13. Ñāṇamoli & Bodhi 1995.
  14. Anālayo 2009, hlm. 597.
  15. 1 2 3 Ñāṇamoli & Bodhi 1995, hlm. 531.
  16. Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 98.
  17. Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 99.
  18. Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 105. ISBN 978-623-94342-7-4.
  19. A.P. Buddhadatta Mahathera, Concise Pali-English and English-Pali Dictionary
  20. Venerable Ajahn Payutto (Phra Payutto), Awakened Beings, section "Eight Noble Beings"
  21. Buddhaghosa 2010, Bab IX, par. 100.
  22. Buddhist Door, Buddhist Dictionary, entry for "paṭigha"
  23. 1 2 3 Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94342-7-4.

Daftar pustaka

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Ikon rintisan

Artikel bertopik Buddhisme ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan