| Terjemahan dari Sati | |
|---|---|
| Indonesia | kewawasan, perhatian penuh, kesadaran penuh |
| Inggris | mindfulness, awareness, inspection, recollection, retention |
| Pali | sati |
| Sanskerta | स्मृति (smṛti) |
| Tionghoa | 念 (niàn) |
| Jepang | 念 (ネン) (rōmaji: nen) |
| Korea | 념 (RR: nyeom) |
| Tibet | དྲན་པ (Wylie: dran pa; THL: trenpa/drenpa) |
| Myanmar | သတိ |
| Thai | สติ (sati) |
| Vietnam | niệm |
| Khmer | សតិ (UNGEGN: sate) |
| Sinhala | සති |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 Cetasika |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
|
7 universal (sabbacittasādhāraṇa) |
|
25 indah (sobhana)
|
|
|
| Bagian dari seri tentang |
| Kewawasan |
|---|
|
Lainnya |
|
|
Sati (bahasa Pali;[1] Sanskerta: smṛti; Dewanagari: स्मृति), secara harfiah berarti "ingatan"[2] atau "retensi",[3] dan umumnya diterjemahkan sebagai perhatian penuh, kesadaran penuh, pengingatan, kewawasan, atau "ingat untuk mengamati",[4][a] adalah unsur penting dalam praktik pengembangan batin buddhis. Istilah ini memiliki makna yang saling berkaitan, yakni memanggil ke dalam ingatan dhamma yang bajik, seperti empat landasan kewawasan, lima indra, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan pencapaian pandangan terang,[5] serta praktik aktual untuk menjaga keawasan yang jernih terhadap dhamma[6] berupa fenomena jasmani dan batin, guna mencegah munculnya keadaan-keadaan yang tidak bajik dan mengembangkan keadaan-keadaan yang bajik.[7][8] Sati adalah faktor pertama dari tujuh faktor pencerahan. Kewawasan yang "benar" atau "tepat" (Pali: sammāsati; Sanskerta: samyaksmṛti) adalah unsur ketujuh dari Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Definisi
Istilah buddhis yang diterjemahkan sebagai "kewawasan" atau "ingat untuk mengamati"[4][a] berasal dari istilah Pali sati dan padanan Sanskertanya, smṛti. Menurut Robert Sharf, makna istilah-istilah ini telah menjadi pokok perdebatan dan pembahasan yang luas.[8] Smṛti awalnya berarti "mengingat", "mengenang", atau "menyimpan dalam batin", seperti dalam tradisi Weda untuk mengingat teks-teks suci. Istilah sati juga berarti "mengingat" ajaran kitab suci. Dalam Satipaṭṭhāna Sutta, istilah sati berarti menjaga keawasan akan kenyataan, tempat persepsi indra dipahami sebagai ilusi sehingga hakikat sejati fenomena dapat terlihat.[8] Sharf merujuk pada Milindapañha, yang menjelaskan bahwa munculnya sati memanggil ke dalam ingatan dhamma yang bajik, seperti empat landasan kewawasan, lima indra, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan pencapaian pandangan terang.[5]
Menurut Rupert Gethin:
[Sati] hendaknya dipahami sebagai hal yang memungkinkan keawasan akan keseluruhan cakupan dan jangkauan dhamma; sati adalah keawasan akan hal-hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain, dan karena itu keawasan akan nilai relatifnya. Jika diterapkan pada satipaṭṭhāna, agaknya ini berarti bahwa sati-lah yang membuat praktisi yoga "mengingat" bahwa perasaan apa pun yang ia alami berada dalam kaitan dengan seluruh ragam atau dunia perasaan yang dapat bajik atau tidak bajik, tercela atau tidak tercela, relatif rendah atau luhur, gelap atau terang.[9][b]
Sharf lebih lanjut mencatat bahwa hal ini tidak banyak berkaitan dengan "perhatian belaka" (bare attention), tafsiran kontemporer yang populer atas sati, "karena hal ini melibatkan, antara lain, pembedaan yang tepat atas bobot moral fenomena ketika fenomena itu muncul".[9] Menurut Vetter, jhāna mungkin merupakan praktik inti Buddha yang asli, yang membantu pemeliharaan kewawasan.[10]
Etimologi
Istilah ini berasal dari kata Pali sati dan padanan Sanskertanya, smṛti. Dari bahasa Sanskerta, istilah ini diterjemahkan menjadi trenpa dalam bahasa Tibet (Wylie: dran pa) dan niàn (念) dalam bahasa Tionghoa.
Pali
Pada tahun 1881, Thomas William Rhys Davids pertama kali menerjemahkan sati ke dalam bahasa Inggris sebagai mindfulness dalam sammāsati, yakni "Kewawasan Benar; batin yang aktif dan awas".[11] Sambil mencatat bahwa Daniel John Gogerly (1845) semula menerjemahkan sammāsati sebagai Correct meditation ("meditasi yang benar"),[12] Rhys Davids menjelaskan:
Sati secara harfiah berarti "ingatan", tetapi digunakan dalam kaitannya dengan ungkapan yang terus-menerus diulang, "wawas dan penuh pertimbangan" (sato sampajāno); dan berarti aktivitas batin serta kehadiran batin yang terus-menerus, yang merupakan salah satu kewajiban yang paling sering ditanamkan kepada umat Buddha yang baik.[13]
Henry Alabaster, dalam The Wheel of the Law: Buddhism Illustrated From Siamese Sources by the Modern Buddhist, A Life of Buddha, and an Account of the Phrabat (1871), sebelumnya telah mendefinisikan Satipatthan/Smrityupasthana sebagai "tindakan menjaga diri agar tetap wawas".[14]
Istilah Inggris mindfulness sudah ada sebelum digunakan dalam konteks buddhis (di Barat). Kata ini pertama kali tercatat sebagai mindfulness pada tahun 1530 (ketika John Palsgrave menerjemahkan kata Prancis pensée), sebagai mindfulnesse pada tahun 1561, dan mindfulness pada tahun 1817. Secara morfologis, istilah-istilah yang lebih awal mencakup mindful (pertama kali tercatat pada tahun 1340), mindfully (1382), dan kata usang mindiness (sekitar tahun 1200).[15]
John D. Dunne, profesor madya di Universitas Wisconsin–Madison yang penelitiannya berfokus terutama pada konsep "kewawasan" dalam konteks teoretis maupun praktis, menyatakan bahwa penerjemahan sati dan smṛti sebagai mindfulness membingungkan, dan bahwa sejumlah cendekiawan buddhis mulai berupaya menjadikan "retensi" sebagai padanan yang lebih tepat.[3]
Bhikkhu Bodhi juga menunjuk pada makna sati sebagai "ingatan":
Kata ini berasal dari kata kerja sarati, yang berarti "mengingat", dan terkadang dalam bahasa Pali sati masih dijelaskan dengan cara yang menghubungkannya dengan gagasan tentang ingatan. Namun, ketika digunakan dalam kaitannya dengan praktik meditasi, kita tidak memiliki kata dalam bahasa Inggris yang secara tepat menangkap apa yang dirujuknya. Seorang penerjemah awal dengan cerdik memakai kata mindfulness, yang bahkan tidak ada di kamus saya. Kata ini telah menjalankan perannya dengan sangat baik, tetapi tidak melestarikan kaitannya dengan ingatan, yang terkadang diperlukan untuk memahami suatu bagian teks.[2]
Dalam What Does Mindfulness Really Mean? A Canonical Perspective (2011), Bhikkhu Bodhi menegaskan bahwa sati bukan hanya "ingatan", tetapi juga "keawasan yang jernih akan peristiwa yang sedang berlangsung".[c] Ia juga mengutip komentar Thomas William Rhys Davids berikut sebagai pengamatan yang "sangat tajam":
Namun, sebagaimana terjadi pada banyak ungkapan lain yang lazim digunakan pada masa munculnya agama Buddha, suatu konotasi baru kemudian dilekatkan pada kata itu, konotasi yang memberinya makna baru dan membuat "ingatan" menjadi terjemahan yang sangat tidak memadai dan menyesatkan.
Sanskerta

Kata Sanskerta smṛti (स्मृति; juga dialihaksarakan secara beragam sebagai smriti, smRti, atau sm'Rti) secara harfiah berarti "yang diingat", dan merujuk baik pada "kewawasan" dalam agama Buddha maupun pada "suatu golongan teks bermetrum" dalam agama Hindu, yang dianggap berkedudukan kedua setelah kitab-kitab Śruti.
Sanskrit-English Dictionary karya Monier Monier-Williams membedakan delapan makna smṛti, "pengenangan, kenangan, memikirkan atau merenungkan, memanggil ke dalam ingatan, ingatan", antara lain:[16]
- ingatan sebagai salah satu vyabhicāri-bhāva (perasaan-perasaan sesaat);[d]
- Ingatan yang dipersonifikasikan, baik sebagai putri Daksa dan istri Anggira, maupun sebagai putri Dharma dan Medhā;
- keseluruhan tradisi suci atau apa yang diingat oleh para guru manusia (berlawanan dengan Śruti, yakni apa yang langsung didengar atau diwahyukan kepada para resi); dalam pengertian terluasnya, Smṛti mencakup enam Wedangga, sutra-sutra Śrauta dan Gṛhya, Manusmṛti, Itihasa (misalnya Mahabharata dan Ramayana), Purana, dan Nītiśāstra;
- keseluruhan kitab hukum yang diwariskan melalui hafalan atau tradisi (terutama kitab hukum Manusmṛti, Yājñavalkya Smṛti, dan enam belas pemberi hukum terilham sesudahnya), yang semuanya diyakini terilham dan mendasarkan ajarannya pada Weda.
Tionghoa

Para cendekiawan buddhis menerjemahkan smṛti dengan kata Tionghoa niàn (念), yang berarti "belajar; membaca nyaring; memikirkan; mengingat; mengingatkan". Niàn lazim digunakan dalam kata-kata Mandarin Standar modern seperti guānniàn (觀念; 观念) "konsep; gagasan", huáiniàn (懷念; 怀念) "mengenang; memikirkan", niànshū (念書; 念书) "membaca; belajar", dan niàntou (念頭; 念头) "pikiran; gagasan; niat". Dua istilah khusus buddhis adalah niànfó (念佛) "melafalkan nama Buddha; berdoa kepada Buddha" dan niànjīng (念經; 念经) "melantunkan sutra".
Aksara Han niàn (念) tersusun atas jīn (今) "kini; ini" dan xīn (心) "hati; batin". Bernhard Karlgren menjelaskan makna niàn secara grafis sebagai "merenung, berpikir; mempelajari, menghafal, mengingat; melafalkan, membaca; menghadirkan 今 (kini) pada 心 (batin)".[17] Aksara niàn atau nien (念) dilafalkan yeom atau yŏm (염) dalam bahasa Korea, nen (ネン) dalam bahasa Jepang, dan niệm dalam bahasa Vietnam.
A Dictionary of Chinese Buddhist Terms memberikan terjemahan dasar niàn sebagai berikut: "pengenangan, ingatan; memikirkan, merenungkan; mengulang, melantunkan; suatu pikiran; suatu saat."[18]
Digital Dictionary of Buddhism memberikan terjemahan niàn yang lebih terperinci, yakni "kewawasan, ingatan" (mindfulness, memory):
- Pengenangan (recollection; Sanskerta: smṛti; Tibet: dran pa). Mengingat kembali, mengenang. Hal yang diingat. Fungsi mengingat. Kerja batin yang tidak melupakan suatu objek. Keawasan (awareness), konsentrasi. Kewawasan terhadap Buddha (mindfulness of the Buddha), seperti dalam praktik Tanah Suci. Dalam teori Abhidharmakośa, salah satu dari sepuluh faktor yang hadir di mana-mana (大地法). Dalam Yogācāra, salah satu dari lima faktor batin yang bergantung pada objek (五別境);
- Pengenangan yang mantap (settled recollection; Sanskerta: sthāpana; Tibet: gnas pa). Memastikan pikiran seseorang;
- Memikirkan di dalam batin (to think within one's mind), tanpa mengungkapkannya dalam ucapan. Merenungkan (to contemplate); kebijaksanaan meditatif;
- Batin, kesadaran (mind, consciousness);
- Suatu pikiran; suatu momen pikiran; sekejap pikiran (a thought; a thought-moment; an instant of thought; Sanskerta: kṣaṇa);
- Kesabaran, ketabahan (patience, forbearance).[19]
Terjemahan lain
Istilah sati/smṛti telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai berikut:
- Perhatian (attention) (Jack Kornfield)
- Keawasan (awareness)
- Perhatian terpusat (concentrated attention) (Mahasi Sayadaw)
- Pemeriksaan (inspection) (Herbert Guenther)
- Perhatian yang wawas (mindful attention)
- Kewawasan (mindfulness)
- Kewawasan yang mengenang (recollecting mindfulness) (Alexander Berzin)
- Pengenangan (recollection) (Erik Pema Kunsang, Buddhadāsa)
- Keawasan reflektif (reflective awareness) (Buddhadāsa)
- Remindfulness (James H. Austin)[20]
- Retensi (retention)
- Pengenangan diri (self-recollection) (Jack Kornfield)
Praktik
Semula, kewawasan merupakan jalan menuju pembebasan, dengan memperhatikan pengalaman indrawi sehingga mencegah munculnya pikiran dan emosi yang mengganggu, yang menimbulkan rangkaian reaksi lebih lanjut yang berujung pada kelahiran kembali.[21][22] Dalam tradisi yang lebih kemudian, terutama Theravāda, kewawasan merupakan penangkal kebodohan batin (Pali: moha), dan karena itu dianggap sebagai salah satu "kekuatan" (Pali: bala) yang menunjang pencapaian [[nirwana|nibbāna]], terutama ketika disertai pemahaman jernih atas apa pun yang sedang terjadi. Nibbāna adalah keadaan ketika keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin (Pali: moha) telah diatasi dan ditinggalkan, serta tidak lagi ada dalam batin.
Satipaṭṭhāna: menjaga pintu indra
Satipaṭṭhāna Sutta (Sanskerta: Smṛtyupasthāna Sūtra) adalah teks awal yang membahas kewawasan. Kitab-kitab nikāya Theravāda menganjurkan agar seseorang menegakkan kewawasan (satipaṭṭhāna) dalam kehidupan sehari-hari, dengan menjaga sebisa mungkin keawasan yang tenang terhadap empat anupassanā (perenungan): jasmani, perasaan, batin, dan dhamma.
Menurut Grzegorz Polak, keempat anupassanā telah disalahpahami oleh tradisi buddhis yang berkembang kemudian, termasuk Theravāda, sebagai empat landasan yang berbeda. Menurut Polak, keempat anupassanā tidak merujuk pada empat landasan yang berbeda, tetapi pada keawasan akan empat aspek yang berbeda dalam membangkitkan kewawasan:[23]
- enam landasan indra yang perlu disadari (kāyānupassanā);
- perenungan terhadap vedanā (perasaan), yang muncul dari kontak antara indra dan objeknya (vedanānupassanā);
- keadaan-keadaan batin yang berubah sebagai hasil praktik ini (cittānupassanā);
- perkembangan dari lima rintangan menuju tujuh faktor pencerahan (dhammānupassanā).
Rupert Gethin mencatat bahwa Gerakan Vipassanā kontemporer menafsirkan Satipaṭṭhāna Sutta sebagai "uraian tentang bentuk murni meditasi pandangan terang (vipassanā)" yang tidak memerlukan samatha (ketenangan) maupun jhāna. Namun, dalam agama Buddha prasektarian, penegakan kewawasan ditempatkan sebelum praktik jhāna, serta dikaitkan dengan ditinggalkannya lima rintangan dan masuknya ke jhāna pertama.[24][e]
Menurut Paul Williams, yang merujuk pada Erich Frauwallner, kewawasan merupakan jalan menuju pembebasan, yakni "terus-menerus mengamati pengalaman indrawi untuk mencegah munculnya keinginan yang akan mendorong pengalaman masa depan menuju kelahiran kembali".[21][f] Buddhadāsa juga berpendapat bahwa kewawasan menyediakan sarana untuk mencegah munculnya pikiran dan emosi yang mengganggu, yang menimbulkan rangkaian reaksi lebih lanjut yang berujung pada lahirnya kembali ego serta pikiran dan perilaku yang mementingkan diri sendiri.[22]
Menurut Vetter, jhāna mungkin merupakan praktik inti Buddha yang asli, yang membantu pemeliharaan kewawasan.[10]
Sampajañña, appamāda, dan ātappa
Sati terkenal diterjemahkan sebagai "perhatian belaka" (bare attention) oleh Nyanaponika Thera. Namun, dalam praktik buddhis, "kewawasan" lebih dari sekadar "perhatian belaka"; istilah ini memiliki makna yang lebih menyeluruh dan aktif, yakni sampajañña (Sanskerta: saṃprajanya), "pemahaman jernih", dan appamāda (Sanskerta: apramāda), "kewaspadaan".[25][g] Ketiga istilah ini terkadang (secara membingungkan) sama-sama diterjemahkan sebagai "kewawasan", padahal masing-masing memiliki nuansa makna tersendiri.
Dalam korespondensi yang tersedia untuk umum antara Bhikkhu Bodhi dan B. Alan Wallace, Bodhi menjelaskan pandangan Y.M. Nyanaponika Thera tentang "kewawasan benar" dan sampajañña sebagai berikut:
Saya perlu menambahkan bahwa Y.M. Nyanaponika sendiri tidak menganggap "perhatian belaka" sebagai sesuatu yang menangkap makna satipaṭṭhāna secara utuh, melainkan hanya mewakili satu tahap, yakni tahap awal, dalam pengembangan meditatif kewawasan benar. Ia berpendapat bahwa dalam praktik kewawasan benar yang tepat, sati harus dipadukan dengan sampajañña, pemahaman jernih, dan hanya ketika keduanya bekerja bersama, kewawasan benar dapat memenuhi tujuannya.[26][h]
Dalam Satipaṭṭhāna Sutta, sati dan sampajañña dipadukan dengan ātappa (Sanskerta: ātāpa), "ketekunan" atau "semangat yang berkobar", dan ketiganya bersama-sama membentuk yoniso manasikāra (Sanskerta: yoniśo manaskāra), "perhatian yang tepat" atau "perenungan yang bijak".[27]
| Pali | Indonesia | Sanskerta | Tionghoa | Tibet (Wylie) |
|---|---|---|---|---|
| sati | kewawasan, perhatian penuh, kesadaran penuh | smṛti स्मृति | 念 (niàn) | dran pa |
| sampajañña | pemahaman jernih | saṃprajanya संप्रजन्य | 正知 (zhèngzhī) | shes bzhin |
| appamāda | kewaspadaan | apramāda अप्रमाद | 不放逸 (bù fàngyì) | bag yod |
| ātappa | ketekunan | ātāpa आताप | 勇猛 (yǒngměng) | |
| manasikāra | perhatian | manaskāra मनस्कार | 作意 (zuòyì) | yid la byed pa |
| satipaṭṭhāna | landasan kewawasan | smṛtyupasthāna स्मृत्युपस्थान | 念住 (niànzhù) | dran pa nye bar gzhag pa |
Ānāpānasati: kewawasan terhadap napas
Ānāpānasati (Pali; Sanskerta: ānāpānasmṛti; Tionghoa: 安那般那, ānnàbānnà; Sinhala: ආනා පානා සති), yang berarti "kewawasan terhadap napas" (sati berarti kewawasan; ānāpāna merujuk pada napas masuk dan napas keluar), adalah bentuk meditasi buddhis yang kini lazim dalam aliran Theravāda, Tibet, Zen, dan Tiantai, serta dalam program-program kewawasan yang berbasis di Barat. Ānāpānasati berarti merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh gerak napas di dalam tubuh, sebagaimana dipraktikkan dalam konteks kewawasan. Menurut tradisi, ānāpānasati semula diajarkan oleh Buddha dalam sejumlah sutta, termasuk Ānāpānasati Sutta (MN 118).[i]
Kitab-kitab Āgama dari masa Buddhisme awal membahas sepuluh bentuk kewawasan.[j] Menurut Nan Huaijin, Ekottara Āgama lebih menekankan kewawasan terhadap napas dibandingkan metode-metode lainnya, dan memberikan ajaran yang paling terperinci tentang bentuk kewawasan yang satu ini.[28]
Vipassanā: pandangan terang
Satipaṭṭhāna, sebagai empat landasan kewawasan, dan ānāpānasati, kewawasan terhadap napas, digunakan untuk mencapai vipassanā, yaitu pandangan terang terhadap hakikat sejati kenyataan sebagai sesuatu yang tidak kekal dan anattā atau śūnyatā, yakni tanpa hakikat yang kekal.[29][30]
Dalam konteks Theravāda, hal ini mencakup pandangan terang terhadap tiga corak keberadaan, yakni ketidakkekalan (anicca) dan ketidakpuasan (dukkha) segala sesuatu yang terkondisi, serta tanpa-diri (anattā). Dalam konteks Mahāyāna, hal ini mencakup pandangan terang terhadap apa yang secara beragam disebut sebagai śūnyatā, dharmatā, ketakterpisahan antara penampakan dan kekosongan (ajaran dua kebenaran), kejernihan dan kekosongan, atau kebahagiaan dan kekosongan.[31]
Vipassanā umumnya digunakan sebagai salah satu dari dua kutub dalam penggolongan jenis-jenis praktik buddhis, sedangkan kutub lainnya adalah samatha (Pali; Sanskerta: śamatha).[32] Meskipun kedua istilah ini muncul dalam Suttapiṭaka,[k] Gombrich dan Brooks berpendapat bahwa pembedaan keduanya sebagai dua jalan terpisah berasal dari tafsiran paling awal atas Suttapiṭaka,[37] bukan dari sutta itu sendiri.[38][l] Vipassanā dan samatha digambarkan sebagai kualitas-kualitas yang menunjang pengembangan batin (bhāvanā). Menurut Vetter, Bronkhorst, dan Gombrich, pandangan terang yang membedakan terhadap ketidakkekalan sebagai jalan pembebasan tersendiri merupakan perkembangan yang lebih kemudian,[39][40][41] di bawah tekanan perkembangan pemikiran keagamaan India yang memandang "pandangan terang yang membebaskan" sebagai hal yang mutlak bagi pembebasan.[10] Hal ini mungkin juga disebabkan oleh tafsiran yang terlalu harfiah dari para skolastik belakangan atas terminologi yang digunakan Buddha,[42] serta oleh masalah-masalah yang terkait dengan praktik jhāna dan kebutuhan untuk mengembangkan metode yang lebih mudah.[43] Menurut Wynne, Buddha memadukan pemantapan meditatif dengan keawasan yang wawas dan "pandangan terang terhadap hakikat pengalaman meditatif ini".[44]
Berbagai tradisi berbeda pendapat tentang teknik mana yang termasuk ke dalam kutub yang mana.[45] Menurut ortodoksi Theravāda kontemporer, samatha digunakan sebagai persiapan bagi vipassanā, yakni untuk menenangkan batin dan memperkuat konsentrasi agar kerja pandangan terang dapat berlangsung, yang membawa pada pembebasan.
Meditasi vipassanā menjadi populer di Barat melalui Gerakan Vipassanā buddhis modern, yang meneladani praktik-praktik meditasi Theravāda,[46] menggunakan vipassanā dan ānāpāna (ānāpānasati, kewawasan terhadap napas) sebagai teknik utamanya, serta menekankan ajaran Satipaṭṭhāna Sutta.
Kewawasan dalam psikologi
Praktik kewawasan, yang diwarisi dari tradisi buddhis, digunakan dalam psikologi untuk meringankan berbagai kondisi mental dan fisik, termasuk gangguan obsesif-kompulsif dan kecemasan, serta untuk mencegah kekambuhan depresi dan kecanduan narkoba.[47]
Perhatian belaka
Georges Dreyfus menyatakan keberatannya terhadap definisi kewawasan sebagai "perhatian belaka" (bare attention) atau "keawasan yang tidak mengolah, tidak menghakimi, dan berpusat pada saat kini" (nonelaborative, nonjudgmental, present-centered awareness). Ia menegaskan bahwa kewawasan dalam konteks buddhis juga berarti "mengingat", yang menunjukkan bahwa fungsi kewawasan juga mencakup penyimpanan informasi. Dreyfus menyimpulkan kajiannya sebagai berikut:
[P]enyamaan kewawasan dengan perhatian belaka mengabaikan, atau setidaknya meremehkan, implikasi kognitif kewawasan, yaitu kemampuannya untuk menyatukan berbagai aspek pengalaman sehingga membawa pada pemahaman jernih tentang hakikat keadaan batin dan jasmani. Dengan terlalu menekankan sifat kewawasan yang tidak menghakimi dan berpendapat bahwa masalah-masalah kita bersumber dari konseptualitas, para penulis kontemporer berisiko menggiring pada pemahaman yang berat sebelah tentang kewawasan sebagai suatu bentuk keheningan lapang yang bermanfaat secara terapeutik. Menurut saya, penting untuk tidak melupakan bahwa kewawasan bukan sekadar teknik terapeutik, melainkan kemampuan alami yang memainkan peran sentral dalam proses kognitif. Aspek inilah yang tampaknya diabaikan ketika kewawasan direduksi menjadi suatu bentuk keawasan yang tidak menghakimi dan berpusat pada saat kini atas pengalaman seseorang.[48]
Robert H. Sharf mencatat bahwa praktik buddhis bertujuan untuk mencapai "pandangan benar", bukan sekadar "perhatian belaka" (bare attention):
Teknik Mahasi tidak menuntut pengenalan terhadap ajaran buddhis (terutama abhidhamma), tidak menuntut kepatuhan pada norma etika yang ketat (terutama kehidupan monastik), dan menjanjikan hasil yang sangat cepat. Hal ini dimungkinkan dengan menafsirkan sati sebagai keadaan "keawasan belaka" (bare awareness), yakni persepsi yang tidak termediasi dan tidak menghakimi atas segala sesuatu "sebagaimana adanya", yang tidak dipengaruhi oleh pengondisian psikologis, sosial, atau budaya sebelumnya. Gagasan kewawasan semacam ini berseberangan dengan epistemologi buddhis pramodern dalam beberapa hal. Praktik-praktik buddhis tradisional lebih diarahkan untuk memperoleh "pandangan benar" dan kearifan etis yang tepat, alih-alih "tanpa pandangan" dan sikap tidak menghakimi.[49]
Jay L. Garfield, dengan mengutip Śāntideva dan sumber-sumber lain, menegaskan bahwa kewawasan terbentuk dari penyatuan dua fungsi, yaitu memanggil ke dalam ingatan dan menjaga dalam ingatan dengan waspada. Ia menunjukkan bahwa terdapat hubungan langsung antara praktik kewawasan dan pengembangan moralitas, setidaknya dalam konteks agama Buddha, yang menjadi sumber tafsiran-tafsiran modern tentang kewawasan.[50]
Lihat pula
- Buddhisme dan psikologi
- Meditasi Buddhis
- Henepola Gunaratana
- Mahasi Sayadaw
- Metakognisi
- Nepsis (Kekristenan Ortodoks Timur)
- S. N. Goenka
- Thich Nhat Hanh
- Vipassanā
Referensi
Catatan
- 1 2 Tentang makna "ingat untuk mengamati", lihat Vimalaramsi (2015, hlm. 4). Menurut Heyward (2025, hlm. 376), "dalam praktik buddhis, sati merujuk pada kualitas keawasan akan saat kini sekaligus pengingatan, yang mencakup kemampuan untuk hadir sepenuhnya dan untuk ingat menjaga kehadiran tersebut."
- ↑ Dikutip dari Gethin, Rupert M. L. (1992), The Buddhist Path to Awakening: A Study of the Bodhi-Pakkhiyā Dhammā. Brill's Indological Library, 7. Leiden dan New York: Brill.
- ↑ Bhikkhu Bodhi: "Namun, kita tidak semestinya memberikan bobot yang berlebihan pada [makna ingatan] ini. Ketika menyusun terminologi yang dapat menyampaikan pokok-pokok dan praktik-praktik utama ajarannya sendiri, Buddha mau tidak mau harus memanfaatkan kosakata yang tersedia baginya. Untuk menamai praktik yang menjadi tiang utama sistem meditasinya, ia memilih kata sati. Namun, di sini sati tidak lagi berarti ingatan. Sebaliknya, Buddha memberikan makna baru pada kata itu, yang selaras dengan sistem psikologi dan meditasinya sendiri. Karena itu, merupakan kesalahan mendasar untuk bersikeras membaca makna lama berupa ingatan ke dalam konteks yang baru.… Saya yakin aspek sati inilah yang menjadi penghubung antara dua makna kanonisnya yang utama: sebagai ingatan dan sebagai keawasan yang jernih akan peristiwa yang sedang berlangsung.… Dalam sutta Pali, sati masih memiliki peran lain dalam kaitannya dengan meditasi, tetapi peran-peran itu justru memperkuat pencirian sati sebagai keawasan yang jernih dan penghadiran yang gamblang."[7]
- ↑ Lihat pula wisdomlib.org, Vyabhicaribhava, yang menerjemahkan smṛti sebagai "pengenangan".
- ↑ Gethin: "Kini sutta ini sering dibaca sebagai uraian tentang bentuk murni meditasi pandangan terang (vipassanā) yang melewati meditasi ketenangan (samatha) dan empat penyerapan (jhāna), sebagaimana digariskan dalam uraian jalan buddhis yang terdapat, misalnya, dalam Sāmaññaphala Sutta. [...] Namun, tradisi yang lebih awal tampaknya tidak selalu membacanya demikian, melainkan mengaitkan keberhasilan dalam latihan menegakkan kewawasan dengan ditinggalkannya lima rintangan dan penyerapan pertama."[24]
- ↑ Frauwallner, E. (1973), History of Indian Philosophy, penerj. V. M. Bedekar, Delhi: Motilal Banarsidass. Dua jilid, hlm. 150 dan seterusnya.
- ↑ "[D]alam diskursus buddhis, terdapat tiga istilah yang bersama-sama memetakan ranah kewawasan [...] sati (Sanskerta: smṛti), sampajañña (Sanskerta: saṃprajanya), dan appamāda (Sanskerta: apramāda)."[25]
- ↑ Menurut korespondensi ini, Y.M. Nyanaponika menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya tinggal bersama dan dirawat oleh Bodhi. Bodhi menyebut Nyanaponika sebagai "kalyāṇamitta terdekat dalam hidup saya sebagai seorang bhikkhu".
- ↑ Dalam Tripitaka Pali, petunjuk ānāpānasati disajikan dalam bentuk satu rangkap-empat (empat petunjuk) atau empat rangkap-empat (enam belas petunjuk). Uraian empat rangkap-empat yang paling terkenal, yang dijadikan dasar hari libur nasional di negara-negara Theravāda (lihat Uposatha), adalah Ānāpānasati Sutta dalam Majjhimanikāya (MN), sutta ke-118 (misalnya, lihat Thanissaro, 2006). Khotbah-khotbah lain yang menguraikan keempat rangkap-empat secara lengkap terdapat dalam Ānāpānasaṁyutta (bab 54) dari Saṁyuttanikāya, seperti SN 54.6, SN 54.8, dan SN 54.13. Uraian ānāpānasati dalam satu rangkap-empat terdapat, misalnya, dalam Kāyagatāsati Sutta (MN 119), Mahāsatipaṭṭhāna Sutta (DN 22), dan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10).
- ↑ Ekottara Āgama mendaftarkan:[28]
- kewawasan terhadap Buddha
- kewawasan terhadap Dhamma
- kewawasan terhadap Saṅgha
- kewawasan terhadap pemberian
- kewawasan terhadap alam-alam surga
- kewawasan terhadap penghentian dan peristirahatan
- kewawasan terhadap disiplin
- kewawasan terhadap napas
- kewawasan terhadap jasmani
- kewawasan terhadap kematian
- ↑ AN 4.170 (Pali):
“Yo hi koci, āvuso, bhikkhu vā bhikkhunī vā mama santike arahattappattiṁ byākaroti, sabbo so catūhi maggehi, etesaṁ vā aññatarena.
Katamehi catūhi? Idha, āvuso, bhikkhu samathapubbaṅgamaṁ vipassanaṁ bhāveti[...]
Puna caparaṁ, āvuso, bhikkhu vipassanāpubbaṅgamaṁ samathaṁ bhāveti[...]
Puna caparaṁ, āvuso, bhikkhu samathavipassanaṁ yuganaddhaṁ bhāveti[...]
Puna caparaṁ, āvuso, bhikkhuno dhammuddhaccaviggahitaṁ mānasaṁ hoti[...]
Terjemahan:
Sahabat, siapa pun, bhikkhu atau bhikkhunī, yang menyatakan pencapaian kearahatan di hadapanku, semuanya melakukannya melalui salah satu dari empat jalan. Apakah empat itu?
Ada kasus seorang bhikkhu mengembangkan pandangan terang yang didahului ketenangan. [...]
Lalu ada kasus seorang bhikkhu mengembangkan ketenangan yang didahului pandangan terang. [...]
Lalu ada kasus seorang bhikkhu mengembangkan ketenangan berpasangan dengan pandangan terang. [...]
Lalu ada kasus seorang bhikkhu yang kegelisahan batinnya terkait Dhamma [Kom.: noda-noda pandangan terang] telah terkendali dengan baik.[33]
AN 2.30 Vijjābhāgiya Sutta:
"Dua kualitas ini mengambil bagian dalam pengetahuan jernih. Apakah dua itu? Ketenangan (samatha) dan pandangan terang (vipassanā).
Ketika ketenangan dikembangkan, apa tujuannya? Batin dikembangkan. Dan ketika batin dikembangkan, apa tujuannya? Nafsu ditinggalkan.
Ketika pandangan terang dikembangkan, apa tujuannya? Kearifan dikembangkan. Dan ketika kearifan dikembangkan, apa tujuannya? Ketidaktahuan ditinggalkan.
Tercemar oleh nafsu, batin tidak terbebas. Tercemar oleh ketidaktahuan, kearifan tidak berkembang. Maka, dari luruhnya nafsu, terdapat pembebasan batin; dari luruhnya ketidaktahuan, terdapat pembebasan melalui kearifan."[34]
SN 43.2 (Pali): "Katamo ca, bhikkhave, asaṅkhatagāmimaggo? Samatho ca vipassanā."[35] Terjemahan: "Dan apakah, para bhikkhu, jalan menuju yang tak terkondisi? Ketenangan dan pandangan terang."[36] - ↑ Brooks: "Meskipun banyak komentar dan terjemahan khotbah-khotbah Buddha menyatakan bahwa Buddha mengajarkan dua jalan praktik, yang satu disebut samatha dan yang lain vipassanā, sebenarnya tidak ada satu tempat pun dalam sutta yang dapat dijadikan dasar pasti untuk klaim itu."[38]
Sitasi
- ↑ "Sati". The Pali Text Society's Pali-English Dictionary. Digital Dictionaries of South Asia, University of Chicago.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link) - 1 2 "Interview with Bhikkhu Bodhi: Translator for the Buddha". Inquiring Mind. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-18. Diakses tanggal 2021-12-18.
- 1 2 Kuliah di Stanford University Center for Compassion and Altruism Research and Education, sekitar menit ke-18:03 Diarsipkan 20 November 2012 di Wayback Machine
- 1 2 Vimalaramsi 2015, hlm. 4.
- 1 2 Sharf 2014, hlm. 943. "Demikian pula, Paduka, ketika sati muncul, ia memanggil ke dalam ingatan dhamma yang bajik dan yang tidak bajik, yang tercela dan yang tidak tercela, yang rendah dan yang luhur, yang gelap dan yang terang, beserta pasangan-pasangannya: inilah empat landasan kewawasan, inilah empat upaya benar, inilah empat dasar keberhasilan, inilah lima indra, inilah lima kekuatan, inilah tujuh faktor pencerahan, inilah jalan mulia berunsur delapan, inilah ketenangan, inilah pandangan terang, inilah pengetahuan, inilah kebebasan. Dengan demikian, sang praktisi yoga menempuh dhamma yang patut ditempuh dan tidak menempuh dhamma yang tidak patut ditempuh; ia merangkul dhamma yang patut dirangkul dan tidak merangkul dhamma yang tidak patut dirangkul."
- ↑ Gethin 1992.
- 1 2 Bhikkhu Bodhi. "Investigating the Dhamma" (PDF). Buddhist Publication Society. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-10-27. Diakses tanggal 2021-10-27.
- 1 2 3 Sharf 2014, hlm. 942.
- 1 2 Sharf 2014, hlm. 943.
- 1 2 3 Vetter 1988.
- ↑ T. W. Rhys Davids, penerj., 1881, Buddhist Suttas, Clarendon Press, hlm. 107.
- ↑ D. J. Gogerly, "On Buddhism", Journal of the Ceylon Branch of the Royal Asiatic Society, 1845, hlm. 7–28 dan 90–112.
- ↑ Rhys Davids, 1881, hlm. 145.
- ↑ Henry Alabaster, The Wheel of the Law: Buddhism Illustrated From Siamese Sources by the Modern Buddhist, A Life of Buddha, and an Account of the Phrabat, Trubner & Co., London, 1871, hlm. 197.
- ↑ Oxford English Dictionary, edisi ke-2, 2002.
- ↑ Monier-Williams Online Dictionary Diarsipkan 2007-07-09 di Wayback Machine. Definisi-definisi ini telah disederhanakan.
- ↑ Bernhard Karlgren, 1923, Analytic Dictionary of Chinese and Sino-Japanese, Paul Geunther, hlm. 207. Cetak ulang Dover.
- ↑ A Dictionary of Chinese Buddhist Terms: With Sanskrit and English Equivalents and a Sanskrit-Pali Index. Motilal Banarsidass. 1977. ISBN 978-81-208-0319-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-09-14. Diakses tanggal 2024-09-14.
- ↑ "Digital Dictionary of Buddhism".
- ↑ James H. Austin (2014), Zen-Brain Horizons: Toward a Living Zen, MIT Press, hlm. 83.
- 1 2 Williams & Tribe 2000, hlm. 46.
- 1 2 Buddhadasa 2014, hlm. 78–80, 101–102, 117 (catatan 42).
- ↑ Polak 2011.
- 1 2 Gethin, Rupert, Sayings of the Buddha: New Translations from the Pali Nikayas (Oxford World's Classics), 2008, hlm. 142.
- 1 2 "Buddhism and Mindfulness". Friends of the Western Buddhist Order (FWBO). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-11-14. Diakses tanggal 2014-05-13.
- ↑ "The Nature of Mindfulness and Its Role in Buddhist Meditation: A Correspondence between B. Alan Wallace and the Venerable Bhikkhu Bodhi" (PDF). 2006. hlm. 4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2014-09-10. Diakses tanggal 2014-05-13.
- ↑ Thanissaro Bhikkhu, "Mindfulness Defined", hlm. 2.
- 1 2 Nan Huaijin. Working Toward Enlightenment: The Cultivation of Practice. York Beach: Samuel Weiser. 1993. hlm. 118–119, 138–140, 146.
- ↑ Thrangu Rinpoche, Khenchen (2004). Essentials of Mahamudra: Looking Directly at the Mind. Wisdom Publications. ISBN 978-0861713714.
- ↑ Henepola Gunaratana, Mindfulness in Plain English, Wisdom Publications, hlm. 21.
- ↑ Reginald A. Ray (2004). "Vipashyana". Buddhadharma: The Practitioner's Quarterly. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-02. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ "What is Theravada Buddhism?". Access to Insight. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Agustus 2013. Diakses tanggal 17 Agustus 2013.
- ↑ "AN 4.170 Yuganaddha Sutta: In Tandem". Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight. 2010-07-03. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-06-19. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ "AN 2.30 Vijja-bhagiya Sutta: A Share in Clear Knowing". Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight. 2010-08-08. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2013-06-19. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ "SN 43.2". Agama.buddhason.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2014-01-02. Diakses tanggal 2013-05-30.
- ↑ Bhikkhu Bodhi, The Connected Discourses of the Buddha, hlm. 1373.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 96–144.
- 1 2 Brooks 2006.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxxiv–xxxvii.
- ↑ Bronkhorst 1993.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 131.
- ↑ Gombrich 1997, hlm. 96–134.
- ↑ Vetter 1988, hlm. xxxv.
- ↑ Wynne, Alexander (2007). "Conclusion". The Origin of Buddhist Meditation. Routledge. hlm. 94–95. ISBN 978-1134097401. At least we can say that liberation, according to the Buddha, was not simply a meditative experience but an insight into meditative experience. The Buddha taught that meditation must be accompanied by a careful attention to the basis of one's experience—the sensations caused by internal and external objects - and eventually an insight into the nature of this meditative experience. The idea that liberation requires a cognitive act of insight went against the grain of Brahminic meditation, where it was thought that the yogin must be without any mental activity at all, 'like a log of wood'.
- ↑ Schumann 1974.
- ↑ McMahan 2008.
- ↑ Siegel, D. J. (2007). "Mindfulness training and neural integration: Differentiation of distinct streams of awareness and the cultivation of well-being". Social Cognitive and Affective Neuroscience. 2 (4): 259–63. doi:10.1093/scan/nsm034. PMC 2566758.
- ↑ "Is Mindfulness Present-Centered and Nonjudgmental? A Discussion of the Cognitive Dimensions of Mindfulness" Diarsipkan 2018-10-05 di Wayback Machine, oleh Georges Dreyfus.
- ↑ "Geoffrey Samuel". Transcultural Psychiatry. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-01. Diakses tanggal 2021-12-18.
- ↑ "Mindfulness and Ethics: Attention, Virtue and Perfection" Diarsipkan 2018-10-05 di Wayback Machine, oleh Jay Garfield.
Sumber buku
- Buddhadasa (2014). Heartwood of the Bodhi Tree. Wisdom Publications. ISBN 978-1-61429-152-7.
- Boccio, Frank Jude (2004). Mindfulness Yoga: The Awakened Union of Breath, Body and Mind (Edisi ke-1). Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-335-4.
- Brahmavamso (2006). Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator's Handbook. Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-275-5.
- Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass
- Brooks, Jeffrey S. (2006), A Critique of the Abhidhamma and Visuddhimagga, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2012-08-30, diakses tanggal 2021-12-15
- Gethin, Rupert M. L. (1992), The Buddhist Path to Awakening: A Study of the Bodhi-Pakkhiyā Dhammā, Brill
- Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began: The Conditioned Genesis of the Early Teachings, New Delhi: Munshiram Manoharlal
- Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975). Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle). Dharma Publishing.
- Gunaratana, Henepola (2011). Mindfulness in Plain English (Edisi Edisi Ulang Tahun ke-20). Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-906-8. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-09-02. Diakses tanggal 2014-05-13.
- Hanh, Thich Nhat (1996). The Miracle of Mindfulness: A Manual on Meditation. Beacon Press.
- Heyward, Carolyn (2025). "The History and Theoretical Framework of Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)". Dalam Wen Li, Wendy; Griffith, Gemma M.; Shapiro, Shauna; Zhu, Zhuohong (ed.). The Palgrave Handbook of Third-Wave Psychotherapies. Palgrave Macmillan.
- Hoopes, Aaron (2007). Zen Yoga: A Path to Enlightenment through Breathing, Movement and Meditation. Kodansha International.
- McMahan, David L. (2008), The Making of Buddhist Modernism, Oxford University Press, ISBN 9780195183276
- Polak, Grzegorz (2011). Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology. UMCS.
- Sharf, Robert (2014). "Mindfulness and Mindlessness in Early Chan" (PDF). Philosophy East and West. 64 (4): 933–964. doi:10.1353/pew.2014.0074. ISSN 0031-8221. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2016-09-13. Diakses tanggal 2015-10-10.
- Schumann, Hans Wolfgang (1974), Buddhism: An Outline of Its Teachings and Schools, Theosophical Publishing House
- Siegel, Ronald D. (2010). The Mindfulness Solution: Everyday Practices for Everyday Problems. New York: Guilford Press. ISBN 978-1-60623-294-1.
- Vetter, Tilmann (1988). The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism. Brill.
- Vimalaramsi, Bhante (2015), A Guide to Tranquil Wisdom Insight Meditation, Dhamma Sukha Publishing
- Weiss, Andrew (2004). Beginning Mindfulness: Learning the Way of Awareness. New World Library.
- Williams, Paul; Tribe, Anthony (2000). Buddhist Thought: A Complete Introduction to the Indian Tradition. London: Routledge. ISBN 0-415-20700-2.
Pranala luar
- Mindfulness Research Guide dari American Mindfulness Research Association (Inggris)
- Oxford University Mindfulness Research Centre (Inggris)
- What is Mindfulness?, Tricycle: Buddhism for Beginners (Inggris)
| Topik utama | |
|---|---|
| Tradisi |
|