Sabtu, 17 Oktober 2026
00:33 WIB
TERKINI
Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super

Kakusandha

Bagikan:

Kakusandha (bahasa Pali: Kakusandha; bahasa Sanskerta: Krakucchanda) adalah seorang Buddha dalam tradisi Buddhis yang disebut dalam sejumlah teks Kanon Pali dan literatur Buddhis Sanskerta. Dalam tradisi Theravada, Kakusandha merupakan Buddha pertama dari bhadrakalpa, atau "kalpa keberuntungan", dan termasuk dalam kelompok Tujuh Buddha Kuno. Ia ditempatkan setelah Vessabhū dan sebelum Koṇāgamana, Kassapa, dan Gautama Buddha.[1][2]

Dalam Buddhavaṃsa, salah satu kitab dalam Khuddaka Nikāya, Kakusandha merupakan Buddha ke-25 dari 29 Buddha yang disebutkan dengan nama. Dalam tradisi Buddhis Sanskerta, Krakucchanda juga ditempatkan sebagai salah satu Buddha dalam bhadrakalpa, tetapi kerangka daftar Buddha dalam tradisi tersebut berbeda dari daftar Buddhavaṃsa.[3]

Nama dan identitas

Nama Pali Kakusandha bersesuaian dengan nama Sanskerta Krakucchanda. Kedua bentuk tersebut merujuk kepada tokoh Buddha yang sama dalam tradisi Pali dan Sanskerta.[1]

Kakusandha juga dikenal dalam konteks kelompok saptatathāgata, atau Tujuh Buddha Kuno. Kelompok tersebut terdiri atas tiga Buddha terakhir dari kalpa sebelumnya, yaitu Vipassī, Sikhī, dan Vessabhū, serta empat Buddha pertama dari bhadrakalpa, yaitu Kakusandha, Koṇāgamana, Kassapa, dan Gautama Buddha.[2]

Kedudukan dalam bhadrakalpa

Menurut tradisi Buddhis, Kakusandha merupakan Buddha pertama dari bhadrakalpa. Setelahnya muncul Koṇāgamana, Kassapa, dan Gautama. Dengan demikian, Kakusandha menempati posisi awal dalam rangkaian Buddha yang dikaitkan dengan kalpa sekarang.[1]

Dalam tradisi Pali, daftar tersebut kemudian dilanjutkan dengan Metteyya Buddha, yang diyakini akan muncul pada masa mendatang. Karena itu, Buddhavaṃsa menyebut 29 Buddha dengan nama, sedangkan konsep bhadrakalpa dalam tradisi Sanskerta dapat memuat daftar yang jauh lebih panjang.[3][1]

Kakusandha dalam Kanon Pali

Kakusandha disebut dalam beberapa bagian Kanon Pali. Salah satu sumber terpenting adalah Dīgha Nikāya 14, Mahāpadāna Sutta, yang memuat kisah mengenai tujuh Buddha, termasuk Kakusandha.[4]

Dalam Mahāpadāna Sutta, Kakusandha disebut sebagai salah satu Buddha yang muncul pada masa lampau. Teks tersebut memberikan sejumlah informasi mengenai garis keturunannya, masa hidup manusia pada zamannya, tempat pencapaian pencerahan, serta siswa utamanya.[4]

Kakusandha juga menjadi tokoh dalam Saṃyutta Nikāya 12.7, yang dikenal sebagai Kakusandha Sutta. Dalam sutta tersebut, Kakusandha digambarkan ketika masih menjadi bodhisatwa yang belum mencapai pencerahan dan sedang merenungkan persoalan kelahiran, usia tua, kematian dan kelahiran kembali.[5]

Namanya juga muncul dalam Saṃyutta Nikāya 15.20, yang menghubungkan masa Kakusandha dengan perubahan nama Gunung Vepulla di wilayah Rajgir dan perubahan nama masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.[6]

Riwayat menurut Buddhavaṃsa

Riwayat Kakusandha yang lebih terperinci terdapat dalam bagian Kakusandhabuddhavaṃsa dari Buddhavaṃsa. Teks tersebut merupakan sumber utama bagi rincian biografis Kakusandha dalam tradisi Theravada.[7]

Kelahiran dan kehidupan awal

Menurut tradisi Buddhavaṃsa, Kakusandha lahir di Khemāvatī. Ayahnya bernama Aggidatta dan ibunya bernama Visākhā. Ia berasal dari keluarga Brahmana.[7]

Tradisi yang sama menyebut bahwa ia menjalani kehidupan rumah tangga selama 4.000 tahun sebelum meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah meninggalkan kehidupan rumah tangga, ia menjalani pertapaan selama delapan bulan sebelum mencapai pencerahan.[7]

Rincian mengenai usia dan lamanya kehidupan tersebut merupakan bagian dari kronologi religius dalam tradisi Buddhis dan tidak diperlakukan sebagai data sejarah yang dapat diverifikasi secara independen.

Pencerahan

Buddhavaṃsa menyebut bahwa Kakusandha mencapai pencerahan di bawah pohon sirīsa atau sirisa. Sumber lain dalam tradisi Pali juga mengaitkan pohon tersebut dengan pencapaian pencerahannya.[7][4]

Setelah mencapai pencerahan, Kakusandha mengajarkan Dharma. Buddhavaṃsa menghubungkannya dengan beberapa peristiwa pengajaran Dharma dan penyebaran ajarannya di antara manusia serta makhluk lain.[7]

Siswa dan pendukung

Menurut Buddhavaṃsa, siswa utama Kakusandha adalah Vidhura dan Sañjīva. Buddhija disebut sebagai pembantu pribadinya.[7]

Sumber yang sama juga menyebut Sāmā dan Campā sebagai siswa perempuan utama serta Accuta dan Sumana sebagai pendukung laki-laki utama. Nandā dan Sunandā disebut sebagai pendukung perempuan utama.[7]

Parinibbana

Dalam tradisi Buddhavaṃsa, Kakusandha mencapai parinibbana setelah menjalani kehidupan selama 40.000 tahun. Teks tersebut menyebut bahwa ia meninggal di Khemā dan sebuah stupa didirikan untuk reliknya.[7]

Angka 40.000 tahun tersebut merupakan bagian dari tradisi tekstual Buddhis. Tidak terdapat bukti sejarah atau biologis yang dapat digunakan untuk memverifikasi umur tersebut sebagai fakta kehidupan manusia.

Khemāvatī dan Gotihawa

Dalam tradisi Buddhis, tempat kelahiran Kakusandha dikaitkan dengan Khemāvatī. Salah satu situs yang secara tradisional diidentifikasi dengan tempat kelahirannya adalah Gotihawa di wilayah Kapilavastu, Nepal.[8]

Lumbini Development Trust menyebut Gotihawa sebagai tempat yang diidentifikasi sebagai tempat kelahiran dan pencerahan Krakucchanda Buddha. Situs tersebut memiliki sebuah pilar yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Ashoka serta sebuah stupa kuno.[8]

Data arkeologi mengenai Gotihawa menunjukkan keberadaan stupa yang berasal dari sekitar abad ke-3 SM dan sebuah bagian pilar Asoka. UNESCO mencatat bahwa pilar tersebut tidak memiliki prasasti yang masih dapat dibaca dan berdiri di atas alas batu aslinya.[9]

Dengan demikian, Gotihawa merupakan situs arkeologi penting yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi ziarah Buddhis, tetapi bukti arkeologis tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan keberadaan historis Kakusandha sebagai individu.

Kakusandha dalam tradisi Sanskerta

Dalam literatur Buddhis Sanskerta, Kakusandha dikenal sebagai Krakucchanda. Ia juga ditempatkan sebagai Buddha pertama dari bhadrakalpa dalam sejumlah sumber tradisi Sanskerta.[1]

Tradisi Sanskerta memiliki kerangka mengenai para Buddha yang berbeda dari tradisi Pali. Krakucchanda disebut sebagai salah satu dari 1.000 Buddha yang dikaitkan dengan bhadrakalpa dalam tradisi tersebut.[1]

Perbedaan daftar tersebut menunjukkan bahwa posisi Kakusandha perlu dipahami berdasarkan tradisi tekstual yang digunakan. Penyebutan "Buddha ke-25" secara khusus merujuk pada urutan dalam Buddhavaṃsa, bukan kedudukan universal dalam seluruh tradisi Buddhis.[3]

Tujuh Buddha Kuno

Kakusandha merupakan salah satu dari Tujuh Buddha Kuno atau saptatathāgata. Kelompok ini terdiri atas tujuh Buddha yang ditempatkan melintasi dua kalpa besar dalam kosmologi Buddhis.[2]

Tiga Buddha pertama dalam daftar adalah:

Vipassī
Sikhī
Vessabhū

Empat Buddha berikutnya adalah:

Kakusandha
Koṇāgamana
Kassapa
Gautama Buddha

Dalam tradisi tersebut, tiga Buddha pertama merupakan Buddha terakhir dari kalpa sebelumnya, sedangkan empat Buddha terakhir merupakan Buddha pertama dari bhadrakalpa.[2]

Representasi dan situs yang dikaitkan

Kakusandha dikenal dalam tradisi seni Buddhis melalui representasi bersama Buddha-Buddha lain dari masa lampau. Konsep Tujuh Buddha Kuno, misalnya, telah muncul dalam seni Buddhis India dan digambarkan dalam konteks stupa serta pohon bodhi.[2]

Di Nepal, Gotihawa menjadi salah satu situs ziarah yang dikaitkan dengan Kakusandha. Lumbini Development Trust memasukkan Gotihawa dalam rangkaian situs Buddhis di kawasan Kapilavastu dan menyebutnya sebagai tempat kelahiran Krakucchanda Buddha menurut tradisi.[8]

Kedudukan historis

Kakusandha merupakan tokoh yang diketahui terutama melalui literatur Buddhis dan tradisi keagamaan. Sumber-sumber Kanon Pali menyebutnya secara jelas, tetapi tidak memberikan bukti independen yang memungkinkan seluruh rincian biografinya diverifikasi secara historis.[4][5]

Rincian seperti umur 40.000 tahun, lamanya kehidupan rumah tangga, serta jumlah makhluk yang dikatakan mencapai pencerahan dalam pengajarannya berasal dari tradisi tekstual Buddhis. Karena itu, rincian tersebut lebih tepat disajikan sebagai bagian dari kepercayaan atau narasi keagamaan daripada sebagai fakta sejarah yang telah terbukti.[7]

Di sisi lain, keberadaan situs kuno di Gotihawa memberikan bukti arkeologis mengenai praktik dan perkembangan ziarah Buddhis di kawasan tersebut sejak masa Maurya. Bukti tersebut mendukung pentingnya kawasan itu dalam sejarah Buddhisme, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan keberadaan historis Kakusandha.[9]

Lihat pula

Tujuh Buddha Kuno
Bhadrakalpa
Buddhavaṃsa
Kanon Pali
Gautama Buddha
Koṇāgamana
Kassapa Buddha
Gotihawa
Kapilavastu

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 "Krakucchanda". Encyclopedia of Buddhism. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  2. 1 2 3 4 5 "Saptatathāgata". Encyclopedia of Buddhism. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  3. 1 2 3 "List of the named Buddhas in the Pali Canon". Encyclopedia of Buddhism. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  4. 1 2 3 4 "DN 14 Mahāpadāna Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  5. 1 2 "SN 12.7 Kakusandha Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  6. ↑ "SN 15.20 Pabbatūpama Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "24. The Chronicle of Kakusandha Buddha". E-Piṭak. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  8. 1 2 3 "Gotihawa: The Birthplace of Krakuchhanda Buddha". Lumbini Development Trust. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.
  9. 1 2 "Gotihawa". UNESCO World Heritage Centre. Diakses tanggal 4 Oktober 2026.

Pranala luar

Krakucchanda di Encyclopedia of Buddhism
Mahāpadāna Sutta (DN 14) di SuttaCentral
Kakusandha Sutta (SN 12.7) di SuttaCentral
Pabbatūpama Sutta (SN 15.20) di SuttaCentral
Kakusandhabuddhavaṃsa di E-Piṭak
Gotihawa di Lumbini Development Trust
Gotihawa di UNESCO World Heritage Centre
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan