Senin, 21 September 2026
05:47 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Thina

Thina

Faktor mental dalam Buddhisme

Untuk faktor-mental kantuk/kelambanan yang membersamainya, lihat Middha.
Terjemahan dari
thina
Indonesiakemalasan
Inggrissloth
lethargy
gloominess
foggymindedness
Palithina; thīna
Sanskertastyāna
Tionghoa惛沉
Tibetརྨུག་པ།
(Wylie: rmug pa;
THL: mukpa
)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Thina atau thīna (Pali; Sanskerta: styāna; Dewanagari: स्त्यान), diterjemahkan sebagai kemalasan, kelesuan, atau kesuraman, adalah suatu faktor mental dalam Buddhisme. Thina didefinisikan sebagai kelesuan atau ketumpulan batin, yang ditandai dengan kurangnya daya dorong. Dalam tradisi Theravāda, thina dikatakan terjadi bersamaan dengan middha (kantuk, kelambanan), yang didefinisikan sebagai kondisi tidak sehat yang ditandai dengan ketidakmampuan, kurangnya energi, dan pertentangan terhadap aktivitas yang baik.[1] Kedua faktor mental yang berhubungan tersebut diungkapkan sebagai thina-middha (kemalasan-kantuk). Dalam tradisi Mahayana, styāna diartikan sebagai faktor mental yang menyebabkan batin menjadi menarik diri, tidak jelas, dan tidak dapat fokus.[2][3]

Kemalasan diidentifikasi dalam konteks:

  • Salah satu dari lima rintangan dalam praktik meditasi (dikombinasikan dengan middha)
  • Salah satu dari empat belas faktor mental yang tidak baik dalam ajaran Abhidhamma Theravāda
  • Berkaitan erat dengan istilah Sanskerta kausīdya (kemalasan spiritual), yang diidentifikasi sebagai salah satu dari dua puluh faktor tidak baik sekunder dalam ajaran Abhidharma Mahayana

Definisi

Theravāda

Dalam terjemahannya atas Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menjelaskan:

Thina (kemalasan) adalah kelesuan atau ketumpulan batin. Ciri khasnya adalah kurangnya daya dorong. Fungsinya adalah untuk menghilangkan energi/usaha (viriya). Thina terwujud sebagai tenggelamnya batin. Penyebab langsungnya adalah perhatian yang tidak bijaksana (ayoniso manasikāra) terhadap kebosanan, rasa kantuk, dll.[1]

Kemalasan dan kelambanan/kantuk (middha) selalu muncul bersamaan, dan berlawanan dengan energi (viriya). Thina diidentifikasikan sebagai gangguan kesadaran (citta-gelañña, "lesu pikiran"), middha sebagai gangguan kumpulan faktor batin (kāya-gelañña, "lesu fisik"). Sebagai pasangan, keduanya merupakan salah satu dari lima rintangan, yang diatasi dengan faktor-mental penempelan-awal (vitakka).

Kitab Aṭṭhasālinī (II, Kitab I, Bagian IX, Bab II, 255) menjelaskan tentang kemalasan dan kelambanan/kantuk: “Tidak adanya usaha, kesulitan karena ketidakmampuan, adalah maknanya.” Kemudian, kita membaca definisi kemalasan dan kelambanan/kantuk sebagai berikut:

Gabungan “kemalasan-kelambanan” (thina-middha) adalah kemalasan ditambah kelambanan/kantuk; kemalasan memiliki ciri-ciri tidak adanya, atau pertentangan, terhadap energi/usaha (viriya), penghancuran energi/usaha (viriya) sebagai fungsinya, tenggelamnya keadaan-keadaan yang terkait sebagai manifestasinya; kelambanan memiliki ciri-ciri tidak terkendali, menutup pintu-pintu kesadaran sebagai fungsi, menyusut dalam menerima objek, atau kantuk sebagai manifestasi; dan keduanya memiliki pikiran yang tidak sistematis, dalam tidak membangkitkan diri dari ketidakpuasan dan kemalasan (atau pemanjaan), sebagai penyebab langsungnya.[4]

Nina van Gorkom menjelaskan:

Bila ada thina dan middha, maka tidak ada energi (viriya), tidak ada semangat untuk melakukan dāna, untuk mengamalkan sīla, untuk mendengarkan Dhamma, untuk mempelajari Dhamma atau untuk mengembangkan ketenangan, tidak ada energi/usaha (viriya) untuk memperhatikan kenyataan yang muncul saat ini.[4]

Mahāyāna

The Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu kemalasan? Kemalasan adalah cara ketika batin tidak dapat berfungsi dengan baik dan dikaitkan dengan moha (delusi/kebodohan batin). Fungsinya adalah untuk membantu semua emosi dasar dan dekat.[2]

Mipham Rinpoche menyatakan:

Kemalasan termasuk dalam kategori delusi. Artinya menarik diri, tidak mampu berpikir, dan tidak mampu fokus pada suatu objek karena beban tubuh dan batin. Hal ini menjadi penopang bagi emosi yang mengganggu.[3]

Alexander Berzin menjelaskan:

Batin yang berkabut (rmugs-pa) merupakan bagian dari kenaifan/kebodohan batin (moha). Ini adalah perasaan berat pada tubuh dan batin yang membuat batin tidak jernih, tidak berguna, dan tidak mampu memunculkan penampakan kognitif dari objeknya atau memahami objek tersebut dengan benar. Ketika batin benar-benar menjadi tidak jernih, karena batin yang berkabut, ini adalah ketumpulan batin (bying-ba).[5]

Referensi

  1. 1 2 Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 84
  2. 1 2 Guenther (1975), Kindle Locations 944-945.
  3. 1 2 Kunsang (2004), hlm. 29.
  4. 1 2 Gorkom (2010), Definition of Sloth, Torpor, and Doubt
  5. Berzin (2006)

Daftar pustaka

  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan