Artikel ini bukan mengenai Isa.
| Terjemahan dari issā | |
|---|---|
| Indonesia | iri hati; iri |
| Inggris | jealousy, envy |
| Pali | issā |
| Sanskerta | irshya, īrṣyā |
| Tionghoa | 嫉 |
| Tibet | ཕྲག་དོག (Wylie: phrag dog; THL: tradok) |
| Khmer | ឫស្យា (UNGEGN: reusya) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 Cetasika |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
|
7 universal (sabbacittasādhāraṇa) |
|
25 indah (sobhana)
|
|
|
Issā (Pali; Sanskerta: ईर्ष्य, īrṣyā), diterjemahkan sebagai iri hati atau keirihatian, adalah suatu faktor mental yang biasanya dikategorikan sebagai tidak baik. Iri hati diartikan sebagai suatu keadaan batin ketika seseorang sangat berhasrat untuk mendapatkan kekayaan dan kehormatan bagi dirinya sendiri, tetapi tidak mampu menanggung keunggulan orang lain.[1][2]
Issā diidentifikasi dalam konteks:
- Satu dari empat belas faktor mental tidak baik dalam ajaran Abhidhamma Theravāda
- Termasuk dalam kategori dosa dalam aliran Theravāda
- Salah satu dari sepuluh kotoran batin dalam aliran Theravada (menurut kitab Dhammasaṅgaṇī)
- Salah satu dari dua puluh faktor mental tidak baik tambahan dalam ajaran Abhidharma Mahayana
- Salah satu dari lima racun dalam aliran Mahayana
- Termasuk dalam kategori kemarahan (bahasa Sanskerta: pratigha) dalam aliran Mahayana[1][2]
Definisi
Abhidhamma Theravāda
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa issā didefinisikan dalam empat batasan:[3]
- Karakteristik: iri hati atas keberhasilan orang lain (parasampattīnaṃ usūyanalakkhaṇaṃ).
- Fungsi: tidak senang dengan keberhasilan orang lain (anabhiratirasa).
- Manifestasi: membuang muka (vimukhabhāvapaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: kesuksesan orang lain (parasampattipadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
- Issā adalah faktor-mental yang tidak senang setiap kali melihat orang lain sedang menikmati keberhasilan, keberuntungan, kekayaan, dan kebahagiaannya. Issā muncul di kesadaran yang berakar pada kebencian (dosa-mūla-citta) dan perasaan yang menyertai adalah perasaan tidak senang (domanassa-vedanā). Inilah mengapa kemunculan issā selalu membuat hati seseorang gelap gulita, suram, dan muram. Kesuraman hatinya kadang terpancar di wajah sehingga membuat sinar wajahnya pun menjadi suram dan senyumnya pun kecut. Oleh karena issā, seseorang bisa melakukan sesuatu untuk menghancurkan kebahagiaan orang lain. Issā tidak bisa menerima fakta bahwa semua makhluk mempunyai hak untuk bahagia dan dengan demikian membuat hati kehilangan cinta kasih serta akal sehatnya.[3]
Referensi
- 1 2 Guenther (1975), Kindle Locations 890-891.
- 1 2 Kunsang (2004), hlm. 26.
- 1 2 Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. hlm. 101. ISBN 978-623-94342-7-4.
Daftar pustaka
- Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
- Goleman, Daniel (2008). Destructive Emotions: A Scientific Dialogue with the Dalai Lama. Bantam. Kindle Edition.
- Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
- Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.