Selasa, 22 September 2026
04:00 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Sukha

Untuk kegunaan lain, lihat Sukha (disambiguasi).
Terjemahan dari
Sukha
InggrisHappiness, ease, or bliss
Tionghoa樂 (佛教)
(Pinyin: )
Jepang樂 (仏教)
(rōmaji: Raku)
Korea악 (불교)
(RR: Ak)
Thaiสุขา, IPA: [sukha]
VietnamHạnh phúc
Khmerសុខ
(UNGEGN: Sŏkh)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Sukha (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: सुख) dapat berarti keadaan suka, kebahagiaan, rasa bahagia, kesenangan, kemudahan, sukacita, atau kebahagiaan tertinggi, tergantung konteks penggunaannya. Sebagai konsep sentral dalam tradisi darmik, istilah ini memiliki akar etimologis yang merujuk pada poros roda yang berjalan mulus. Secara filosofis, sukha diposisikan sebagai antonim utama dari duḥkha (Sanskerta) atau dukkha (Pali), yang berarti "penderitaan" atau "ketidakpuasan".

Dalam agama Buddha, terutama dalam Tripitaka Pali, sukha mencakup spektrum yang sangat luas. Istilah ini merujuk pada kebahagiaan materi dan spiritual bagi umat awam, salah satu klasifikasi dalam jenis perasaan (vedanā), faktor mental (cetasika) penting dalam pencapaian meditasi tingkat tinggi (jhāna), hingga digunakan sebagai ciri metaforis dari kedamaian abadi dalam Nirwana.

Sementara dalam tradisi Weda dan agama Hindu, sukha dikontraskan dengan kesenangan indrawi yang sesaat (Sanskerta: preya) untuk menggambarkan kebahagiaan batin sejati makhluk hidup. Konsep ini digunakan dalam Bhagawadgita untuk mendefinisikan kebahagiaan tak terbatas dari seorang yogi, diukur sebagai puncak kebahagiaan tertinggi Brahman dalam Upanisad, serta menjadi pilar kenyamanan fisik dan mental dalam Yoga Sūtra. Konsep kebahagiaan ini juga diuraikan lebih lanjut dalam ajaran Jainisme.

Etimologi

Menurut Monier-Williams (1964), etimologi dari sukha "dikatakan berasal dari su ['baik'] + kha ['lubang/bukaan'] dan pada awalnya bermaksud 'memiliki lubang poros yang baik'"; sehingga, sebagai contoh, dalam Regweda sukha menunjukkan "berjalan dengan cepat atau mudah" (diterapkan, misalnya, pada kereta kuda). Monier-Williams juga mencatat bahwa istilah ini mungkin secara alternatif diturunkan sebagai "kemungkinan bentuk Prakerta dari su-stha, q.v.; bdk. duḥkha", yang secara harfiah berarti su ['baik'] + stha ['berdiri'].[1][note 1]

Sukha disandingkan dengan dukha (Sanskerta; Pali: dukkha; sering diterjemahkan sebagai "penderitaan"), yang ditetapkan sebagai prinsip-prinsip kehidupan yang memotivasi utama dalam agama Weda awal.[2][note 2] Penekanan pada pembahasan seputar dukkha ini dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya dalam tradisi Weda dan Buddha. Oleh karena itu, pelenyapan dukkha menjadi tujuan utama keberadaan dari tradisi Buddhisme awal.

Dalam Buddhisme

Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Dalam Tripitaka Pali dan literatur terkait, istilah ini digunakan dalam arti umum untuk merujuk pada "kesejahteraan dan kebahagiaan" (hitasukha) baik di kehidupan sekarang ini maupun kehidupan yang akan datang. Selain itu, sukha juga merupakan istilah teknis yang terkait dengan deskripsi faktor penyerapan meditatif (jhāna) dan perasaan (vedanā) yang berasal dari landasan indra.

Pencarian kehidupan secara umum

Dalam Tripitaka Pali, Buddha Gotama berdiskusi dengan berbagai umat awam mengenai "kesejahteraan dan kebahagiaan" (hitasukha) "yang terlihat di kehidupan saat ini" (diṭṭha-dhamma) dan "yang berkaitan dengan kehidupan yang akan datang" (samparāyika), sebagaimana dicontohkan oleh sutta-sutta berikut.[3]

Anaṇa Sutta

Dalam Anaa Sutta atau Ānaṇya Sutta (AN 4.62), Buddha menjelaskan empat jenis kebahagiaan bagi seorang "perumah tangga yang menikmati kesenangan indria" (gihinā kāma-bhoginā):

  • kebahagiaan memiliki (atthi-sukha) kekayaan yang diperoleh dengan cara yang adil dan benar
  • kebahagiaan menggunakan (bhoga-sukha) kekayaan secara murah hati untuk keluarga, teman, & untuk perbuatan berjasa
  • kebahagiaan tanpa hutang (anaa-sukha) terbebas dari hutang-hutang
  • kebahagiaan tanpa cela (anavajja-sukha), menjalani kehidupan yang murni dan tanpa kesalahan tanpa melakukan kejahatan dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan

Dari semua ini, orang bijak (sumedhaso) mengetahui bahwa kebahagiaan tanpa cela sejauh ini merupakan kebahagiaan perumah tangga yang paling besar.[4][note 3] Kebahagiaan ekonomi dan material tidak ada seperenambelas pun nilainya dibandingkan dengan kebahagiaan spiritual yang timbul dari kehidupan yang baik dan tanpa kesalahan.

Kālāma Sutta

Artikel utama: Kesamutti Sutta

Dalam Kālāma Sutta atau Kesamutti Sutta (AN 3.65), penduduk kota bertanya kepada Buddha bagaimana mereka dapat memastikan ajaran spiritual mana yang benar. Buddha menasihatkan bahwa seseorang harus "memasuki dan berdiam" (upasampajja vihareyyātha) dalam "hal-hal" atau "kualitas-kualitas" (dhammā) yang:

  • terampil (kusalā),
  • tanpa cela (anavajjā),
  • dipuji oleh para bijaksana (viññuppasatthā), dan
  • ketika dipraktikkan, mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan (samattā samādinnā hitāya sukhāya[note 4] savattantī)

Menggunakan kriteria terakhir ini, Buddha kemudian meminta penduduk kota untuk menilai keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan (moha), lalu disepakati bahwa memasuki dan berdiam dalam ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidaktahuan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan. Buddha menyatakan bahwa, dengan pemahaman ini, seorang siswa mulia (ariyasāvako)[note 5] memancarkan ke segala penjuru dengan cinta kasih, welas asih, apreasiasi simpatik, dan keseimbangan batin (lihat empat brahmavihāra); dan, dengan melakukan hal itu, seseorang memurnikan dirinya, menghindari konsekuensi akibat kejahatan, menjalani kehidupan yang bahagia saat ini dan, jika ada kelahiran kembali di masa depan, ia akan dilahirkan di alam surga.[5][note 6]

Dīghajāṇu Sutta

Artikel utama: Dīghajāṇu Sutta

Dalam Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54), Dīghajāṇu mendatangi Buddha dan menyatakan:

"Kami adalah umat awam yang menikmati kesenangan indrawi; hidup berdesakan dengan pasangan & anak-anak; menggunakan kain Kasi & kayu cendana; memakai untaian bunga, wewangian, & krim; memegang emas & perak. Sudilah Yang Terberkahi mengajarkan Dhamma bagi mereka yang seperti kami, demi kebahagiaan & kesejahteraan kami di kehidupan ini, demi kebahagiaan & kesejahteraan kami di kehidupan-kehidupan yang akan datang."[6]

Dengan cara yang agak mirip dengan penjelasannya dalam Anaa Sutta yang disebutkan sebelumnya, Buddha mengidentifikasi empat sumber yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan di kehidupan saat ini:

  • upaya yang produktif (uṭṭhāna-sampadā) dalam mata pencaharian seseorang,
  • upaya perlindungan (ārakkha-sampadā) atas kekayaan seseorang dari kemungkinan pencurian atau bencana,
  • persahabatan yang bajik (kalyāa-mittatā), dan
  • hidup seimbang (sama-jīvikatā), berpantang dari main perempuan, kemabukan, perjudian, dan persahabatan yang jahat.

Dalam hal kesejahteraan dan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, Buddha mengidentifikasi sumber-sumber berikut:

  • keyakinan (saddhā) pada Buddha yang tercerahkan sempurna;
  • moralitas atau sila (sīla), sebagaimana dicontohkan oleh Pancasila;
  • kedermawanan (cāga), memberikan amal dan dana makanan; dan,
  • kebijaksanaan (paññā), memiliki pandangan terang tentang timbul dan lenyapnya segala sesuatu.[7]

Praktik mettā

Sebagaimana ditunjukkan pada bagian sebelumnya, dalam Kālāma Sutta, Buddha mengidentifikasi praktik empat kediaman batin yang luhur (brahmavihāra) sebagai hal yang kondusif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendiri. Kediaman pertama dari ini adalah mettā (kebaikan, cinta kasih), yang, misalnya, diekspresikan secara klasik dalam Karaniya Mettā Sutta ("Khotbah tentang Cinta Kasih") di Tripitaka Pali (Snp 1.8) melalui harapan tulus (dalam bahasa Indonesia dan Pali):

Semoga semua makhluk berbahagia![8] Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Demikian pula, kitab komentar Pali (Snp-A 128) secara eksplisit mendefinisikan mettā sebagai "harapan untuk mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan [bagi orang lain]" (hita-sukha-upanaya-kāmatā).[9][note 7] Jadi, dalam agama Buddha, berdiam dengan mengharapkan kebahagiaan umum bagi orang lain adalah kondusif bagi pengembangan kebahagiaan diri sendiri.

Jenis perasaan

Artikel utama: Perasaan (Buddhisme)

Dalam kerangka buddhis tentang lima gugusan atau agregat (Pali: khandha) dan kemunculan yang bergantungan (paṭiccasamuppāda), "perasaan" atau "sensasi" (vedanā) muncul dari kontak (phassa) objek eksternal (seperti objek visual atau suara) dengan organ indra (seperti mata atau telinga) dan kesadaran (viññāṇa) terkait. Dalam Tripitaka Pali, perasaan-perasaan seperti itu umumnya digambarkan sebagai salah satu dari tiga jenis: menyenangkan (sukha), menyakitkan (dukkha), atau tidak-menyakitkan-juga-tidak-menyenangkan (adukkha-asukha).[10]

Faktor mental dalam meditasi

Informasi lebih lanjut: Jhāna, Samādhi, dan Cetasika

Peranan dalam jhāna

Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna
Faktor jhāna (jhānaṅga)Jhāna
pertama
Jhāna
kedua
Jhāna
ketiga
Jhāna
keempat
Vitakka
(penempatan awal)

(terasing dari kāma dan akusala-dhammā)
Vicāra
(penempatan sinambung)
Pīti
(kegembiraan)

(lahir dari
viveka)

(lahir dari
samādhi;
sampasādana internal)
Sukha
(kebahagiaan)

(mengalami dengan kāya)

(adukkhamasukhaṁ upekkhā-sati-pārisuddhi)
Ekaggatā
(kemanunggalan,
keterpusatan)

(sati-pārisuddhi-citt-ekaggatā)

Fenomenologi mengenai bagaimana sukha dialami secara jasmaniah dijabarkan melalui perumpamaan standar dalam diskursus suttanta. Sāmaññaphala Sutta (DN 2) memberikan perumpamaan visual yang presisi mengenai meresapnya sukha ke dalam tubuh jasmani (kāya) pada saat bermeditasi:[11]

  • Jhāna pertama: Pīti dan sukha yang lahir dari pengasingan diri dari hal-hal duniawi (vivekaja pītisukha). Sutta mengumpamakannya seperti seorang pembuat sabun yang meremas bubuk mandi dengan air, yang kelembapannya meresap ke seluruh gumpalan tanpa ada yang bocor keluar.
  • Jhāna kedua: Pīti dan sukha yang lahir dari konsentrasi penuh (samādhija pītisukha) karena berhentinya vitakka dan vicāra. Kondisi ini diumpamakan seperti mata air dingin yang menyembur langsung dari dasar danau yang dalam, meresapi seluruh air danau tersebut tanpa adanya aliran air dari luar.
  • Jhāna ketiga: Sukha yang dialami secara murni tanpa disertai pīti (nippītikena sukhena), karena meluruhnya kegiuran dan tersisanya kebahagiaan yang tenang disertai keseimbangan batin (upekkhā) dan kesadaran penuh (sati). Kondisi ini diumpamakan seperti bunga-bunga teratai air—baik yang putih, biru, maupun merah—yang tumbuh dan berkembang sepenuhnya di dalam air, terendam dan terbasahi oleh air dingin hingga ke ujung-ujung akarnya tanpa ada bagian yang kering.[12]

Penangkal lima rintangan

Dalam tradisi komentar (tafsir) tentang meditasi buddhis, pengembangan penyerapan meditatif (Pali: jhāna) digambarkan sebagai pengembangan lima faktor mental (Pali: cetasika) yang menangkal lima rintangan:[13]

  1. vitakka ("penempelan awal", "penempatan awal pikiran", "pemikiran yang diarahkan") menangkal kemalasan (thīna) dan kelambanan (middha)
  2. vicāra ("penempelan terus-menerus", "penempatan sinambung pikiran", "pemikiran yang dipertahankan") menangkal keragu-raguan (vicikicchā)
  3. pīti (kegiuran, "kegembiraan") menangkal niat buruk atau kedengkian (byāpāda)
  4. sukha ("kesenangan non-indrawi") menangkal kegelisahan (uddhacca) dan kekhawatiran (kukkucca)
  5. ekaggatā (keterpusatan pikiran, kemanunggalan) menangkal keinginan indrawi (kāmacchanda)

Baik pīti maupun sukha terlahir dari pengasingan jasmani dan ketenangan mental pada jhāna pertama, tetapi keduanya kemudian terlahir dari konsentrasi yang terpusat (samādhi) pada jhāna kedua dan hanya sukha yang dipertahankan pada jhāna ketiga hingga ia ditinggalkan demi kemurnian yang dihasilkan oleh perhatian-penuh yang seimbang/tidak berpihak (upekkhāsatipārisuddhi) pada jhāna keempat.

Perbedaan sukha dan pīti

Visuddhimagga membedakan antara pīti dan sukha dalam cara pengalaman berikut ini:

Dan ketika keduanya terhubung, pīti adalah rasa puas saat mendapatkan objek yang diinginkan, sedangkan sukha adalah pengalaman nyata dalam menikmati objek tersebut setelah didapatkan. Jika terdapat pīti, di situ terdapat sukha; tetapi jika terdapat sukha, belum tentu terdapat pīti. Pīti termasuk dalam kelompok gugusan formasi-formasi (saṅkhārakkhandha); sukha termasuk dalam kelompok gugusan perasaan (vedanākkhandha). Jika seorang pria yang kelelahan di padang pasir melihat atau mendengar tentang sebuah kolam di tepi hutan, ia akan memiliki pīti; jika ia masuk ke keteduhan hutan dan menggunakan airnya, ia akan memiliki sukha....[14]

Akses menuju penyerapan

Memberikan rantai peristiwa bersebab yang sangat mendasar, yang tumpang tindih dengan penjelasan yang lebih naratif di atas, Upanisa Sutta (SN 12.23) menyatakan bahwa sukha muncul dari ketenteraman (passaddhi) jasmani dan batin, dan pada gilirannya memunculkan konsentrasi (samādhi).[15] Mengutip literatur Pali pasca-kanonik tradisional yang terkait dengan khotbah ini, Bodhi (1980) menambahkan definisi fungsional berikut dari sukha:

Subkomentar atas Upanisa Sutta menjelaskan sukha sebagai kebahagiaan dari akses menuju penyerapan. Istilah 'akses' (upacāra) menunjukkan tahap dalam pengembangan ketenangan yang mendahului penyerapan penuh, tujuan yang dimaksudkan dari meditasi ketenangan (samatha). Akses ditandai dengan ditinggalkannya lima rintangan dan munculnya 'tanda tiruan' (nimitta), objek persepsi batin yang bercahaya sendiri yang menjadi titik fokus untuk tahap-tahap konsentrasi yang lebih tinggi.[15]

Sebagai ciri metaforis pencerahan

Artikel utama: Nirwana

Nirwana (Pali: Nibbāna) mensyaratkan pemadaman mendasar atau "peniupan" dari proses-proses tidak baik, biasanya disebut sebagai pengotor batin, berupa keserakahan, kebencian, dan delusi. Dari perspektif pengalaman yang tercerahkan, proses-proses merusak dari pengotor batin tersebut dianggap sebagai "pergolakan" pikiran. Berbeda dengan pergolakan semacam itu, sukha dan kata serumpunnya di berbagai ayat dalam Tripitaka Pali digunakan untuk mencirikan Nibbāna, "Yang Tak Terkondisi", secara metaforis sebagai suatu "kebahagiaan tertinggi":

"Yang dilahirkan, yang menjadi, yang diproduksi, yang dibuat, yang terkondisi, yang sementara;
Disertai dengan pelapukan dan kematian, sarang penyakit, yang fana.

Tumbuh dari makanan dan tali kehausan, hal itu tidak layak untuk disenangi;
Pelarian dari hal itu, yang damai, melampaui nalar, yang abadi.

Yang tidak dilahirkan, yang tidak diproduksi, keadaan tanpa duka yang bebas dari noda;
Berhentinya keadaan-keadaan yang terkait dengan penderitaan, meredanya hal yang terkondisi, adalah kebahagiaan.[16]

“Jātaṁ bhūtaṁ samuppannaṁ, kataṁ saṅkhatamaddhuvaṁ;
Jarāmaraṇasaṅghāṭaṁ, roganīḷaṁ pabhaṅguraṁ.Āhāranettippabhavaṁ, nālaṁ tadabhinandituṁ;
Tassa nissaraṇaṁ santaṁ, atakkāvacaraṁ dhuvaṁ.Ajātaṁ asamuppannaṁ, asokaṁ virajaṁ padaṁ;
Nirodho dukkhadhammānaṁ, saṅkhārūpasamo sukho”ti.
Iti 43
Jighacchāparamā rogā, saṅkhāraparamā dukhā;
Etaṁ ñatvā yathābhūtaṁ, nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ.
Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa Nibbāna merupakan kebahagiaan tertinggi.
Dhp 203

Lebih lanjut, terkait pemaknaan sukha dalam konteks Nibbāna, Lily de Silva menjelaskan sebagai berikut:

Mengenai pengalaman seorang arahat, Suttanipāta [dalam Dvayatānupassanā Sutta, Snp 3.12] menyatakan bahwa dengan lenyapnya segala perasaan/sensasi (vedanā), seorang bhikkhu hidup tanpa-nafsu dan dalam-kedamaian. Suatu ketika Sāriputta ditanya [dalam Nibbānasukhasutta, AN 9.34], kebahagiaan seperti apa yang bisa ada ketika tidak ada perasaan/sensasi. Beliau menjelaskan bahwa ketiadaan perasaan/sensasi itu sendirilah yang merupakan kebahagiaan. Penting untuk dicatat di sini bahwa Buddha menyatakan bahwa Beliau tidak membicarakan kebahagiaan hanya dengan [secara spesifik] merujuk pada perasaan/sensasi yang menyenangkan (sukhavedanā) saja.[17]

Dalam Hinduisme

Dalam ayat-ayat Bhagawadgita 6.21-23, istilah sukha digunakan untuk mendefinisikan kebahagiaan tak terbatas yang mencirikan yoga. Disebutkan bahwa ketika sang yogi mencapai kebahagiaan ini, yang dipahami oleh unsur pembeda (buddhi) yang melampaui indra, ia menjadi mapan dengan teguh dalam keadaan ini, bebas dari penderitaan, dan tidak goyah darinya, suatu keadaan yang dikenal sebagai yoga.[18]

Upanisad Taittiriya secara kiasan mengukur kebahagiaan Brahman, dimulai dengan kebahagiaan manusia:

"Mari kita ambil contoh seorang pemuda - seorang pemuda kelas satu yang paling terpelajar, berbudaya, dan paling kuat. Dan mari kita misalkan dia memiliki seluruh dunia ini dengan segala sumber dayanya. Situasi ini akan merupakan satu ukuran kebahagiaan manusia. Satu ukuran kebahagiaan dewata gandharva duniawi ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan manusia; satu ukuran kebahagiaan gandharva surgawi ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan gandharva duniawi; ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan leluhur; satu ukuran kebahagiaan para dewa yang mencapai status mereka melalui perbuatan baik ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Indra; satu ukuran kebahagiaan Prajāpati, nenek moyang makhluk, ...setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Bṛhaspati; satu ukuran kebahagiaan Brahman setara dengan seratus ukuran kebahagiaan Prajāpati."

Taittiriya Upanishad, Ayat II.8[19]

Dalam Yoga Sūtra, Patañjali menggunakan istilah sukha pada ayat II.46 untuk mendefinisikan āsana sebagai keseimbangan antara "sukha" dan "sthira" (kekuatan, kemantapan, keteguhan).[20] Dalam Sutra I.33, sukha merujuk pada mereka yang berbahagia, dan menyarankan untuk memupuk persahabatan terhadap mereka demi meningkatkan kejernihan pikiran.[21]

Dalam Jainisme

Dalam Tattvartha Sutra, Umaswati, seorang cendekiawan agama Jain, menjelaskan konsep sukha dalam konteks pembebasan spiritual dari karma. Umaswati menjabarkan empat makna berbeda dari sukha: sebagai kualitas objek, sebagai kebebasan dari rasa sakit, sebagai kebahagiaan yang dihasilkan dari perbuatan berjasa, dan sebagai sukha tertinggi dalam keadaan pembebasan (moksa).[22]

Dasar neurosains

Beberapa peneliti mengajukan bahwa "pergeseran" aktivitas di korteks prefrontal medial merupakan hal yang mendukung keadaan keterpenuhan batin (terkait dengan konsep sukha) dan keseimbangan mental (terkait dengan konsep upekkhā).[23]

Lihat pula

Catatan

  1. Kata-kata dalam kurung siku ("baik" dan "bukaan") didasarkan pada Monier-Williams 1964, hlm. 334, 1219.
  2. Kamus Pali Text Society mengidentifikasi dukkha sebagai salah satu antonim sukha (bersama dengan asukha).
  3. Teks Pali didasarkan pada edisi Sri Lanka Tripitaka Project (SLTP), diperoleh pada 2008-05-08 dari "MettaNet" di arsip MettaNet. Terjemahan Bodhi 2005, hlm. 127–128 menghilangkan bait terakhir (yang memuji kebahagiaan tanpa cela) yang dapat ditemukan di terjemahan Thanissaro 1997a maupun SLTP.
  4. Perhatikan bahwa di sini, seperti di tempat lain, melalui paralelisme tekstual, sukha ("kebahagiaan") digunakan sebagai kebalikan dari dukkha ("penderitaan").
  5. Perhatikan bahwa "siswa mulia" (ariyasāvako) mencakup umat awam yang telah mencapai empat tingkat kemuliaan. Lihat "Sāvaka".
  6. Teks Pali didasarkan pada Tipiṭaka SLTP yang diperoleh pada 2008-05-08 dari "MettaNet" di arsip MettaNet. Mengenai keserakahan, kebencian, dan delusi, lihat "Pengotor batin". Mengenai tujuan surgawi dari para praktisi brahmavihāra, lihat AN 4.125 (Thanissaro 2006).
  7. Definisi ini diberikan dalam entri untuk "Karuṇā" di kamus Pali Text Society (diperoleh dari pangkalan data Digital South Asia Library Universitas Chicago).

Referensi

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber jurnal

  • Davidson, Richard J.; Kabat-Zinn, Jon; Schumacher, Jessica; Rosenkranz, Melissa; Muller, Daniel; Santorelli, Saki F.; Urbanowski, Ferris; Harrington, Anne; Bonus, Katherine; Sheridan, John F. (2003). "Alterations in Brain and Immune Function Produced by Mindfulness Meditation". Psychosomatic Medicine. 65 (4): 564–570. doi:10.1097/01.PSY.0000077505.67574.E3.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Jaini, Padmanabh S. (2003). "Umāsvāti on the Quality of Sukha". Journal of Indian Philosophy. 31 (5/6): 643–664. ISSN 0022-1791.

Sumber web

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan