Jumat, 30 Oktober 2026
06:08 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Okāsa

Bagikan:
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
icon PortalBuddhisme

Okāsa (Pāli; Burma: ဩကာသ, Awgatha) adalah sebuah istilah dalam Buddhisme Theravāda yang dirumuskan untuk memulai tindakan bakti Buddhis, termasuk penghormatan kepada Buddha dan biku serta ritual pemberkatan air.[1] Istilah okāsa secara harfiah berarti "izin, mohon izin" dalam bahasa Pali,[2] dan digunakan untuk meminta izin untuk memberi penghormatan, meminta pengampunan atas pelanggaran yang disengaja dan tidak disengaja, dan memulai upacara permohonan sila-sila Pancasila Buddhis.[3][4]

Paritta standar

Tradisi Burma

Variasi minor dari paritta okāsa dalam bahasa Burma ini ada di setiap wihara Burma. Dalam bahasa Burma, okāsa (awgatha) secara eksplisit merujuk pada gadaw dari "Lima Yang Mulia Tak Terbatas" (Buddha, Dhamma, Sangha, orang tua, dan guru).[5][note 1]

ဩကာသ ၊ ဩကာသ ၊ ဩကာသ။

ကာယကံ ဝစီကံ မနောကံ၊ သဗ္ဗဒေါသ ခပ်သိမ်းသော အပြစ်တို့ကိုပျောက်ပါစေခြင်း အကျိုးငှာ ပထမ ဒုတိယ တတိယ၊ တစ်ကြိမ် နှစ်ကြိမ် သုံးကြိမ်မြောက်အောင် ဘုရားရတနာ၊ တရားရတနာ၊ သံဃာရတနာ ရတနာ မြတ်သုံးပါး (မိဘ၊ ဆရာသမား) တို့အား အရိုအသေ အလေးအမြတ် လက်အုပ်မိုး၍ ရှိခိုးပူဇော်ဖူးမြော်မာန်လျှော့ ကန်တော့ပါ၏ အရှင်ဘုရား။

ကန်တော့ရသော ကုသိုလ်ကံစေတနာတို့ကြောင့် အပါယ်လေးပါး၊ ကပ်သုံးပါး၊ ရပ်ပြစ်ရှစ်ပါး၊ ရန်သူမျိုးငါးပါး၊ ဝိပတ္တိတရားလေးပါး၊ ဗျသနတရားငါးပါး၊ အနာမျိုးကိုးဆယ့်ခြောက်ပါး၊ မိစ္ဆာဒိဋ္ဌိတရား ခြောက်ဆယ့်နှစ်ပါး တို့မှ အခါခပ်သိမ်းကင်းလွတ် ငြိမ်းသည်ဖြစ်၍ မဂ်တရား ဖိုလ်တရား နိဗ္ဗာန် တရားတော်မြတ်ကိုလျင်မြန်စွာရပါလို၏ အရှင်ဘုရား။

Okāsa! Okāsa! Okāsa!"

Supaya buah dari perbuatan buruk apa pun, yang telah saya lakukan baik melalui perbuatan, ucapan, dan pikiran dapat terhindarkan; dan demi memperoleh jasa kebajikan yang akan memberikan limpahan kepada saya dengan umur panjang, kesehatan, kebebasan dari segala bahaya dan bencana, saya merangkapkan kedua telapak tangan, ber-añjali, dan memberikan puja, menghormat dan bersujud penuh dengan kerendahan hati kepada Tiratana—Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.

Untuk kedua kalinya. Untuk ketiga kalinya.

Dan dengan perbuatan yang baik ini, melalui sujud yang luhur, semoga saya selalu terbebas dari empat alam menyedihkan, tiga jenis malapetaka, delapan jenis keadaan yang tidak tepat, lima jenis musuh, empat jenis kemalangan, lima jenis kehilangan, segala jenis penyakit, dan 62 pandangan-salah, serta secepatnya mencapai Jalan Kebebasan (Magga), Buah (Phala), dan Dhamma Mulia yaitu Nibbāna.

Lihat juga

Catatan

  1. ↑ Terjemahan bahasa Indonesia untuk syair yang aslinya digubah dalam bahasa Burma ini didasarkan pada terjemahan Dhammavihārī Buddhist Studies.

Referensi

  1. ↑ Nash, Manning (1963-04-01). "Burmese Buddhism in Everyday Life". American Anthropologist (dalam bahasa Inggris). 65 (2): 285–295. doi:10.1525/aa.1963.65.2.02a00050. ISSN 1548-1433.
  2. ↑ "Okasa, Okāsa: 3 definitions". Wisdom Library. 2014-08-15. Diakses tanggal 2016-12-04.
  3. ↑ Than Htut, Henry. "Buddhist Homage and Affirmations". www.myanmarnet.net. Diakses tanggal 2016-12-04.
  4. ↑ Rozenberg, Guillaume; Keeler, Ward (2011-06-09). "The Saint Who Did Not Want to Die: The Multiple Deaths of an Immortal Burmese Holy Man". Journal of Burma Studies. 15 (1): 69–118. doi:10.1353/jbs.2011.0000. ISSN 2010-314X.
  5. ↑ Spiro, Melford (1982). Buddhism and society: a great tradition and its Burmese vicissitudes. University of California Press. hlm. 210. ISBN 978-0-520-04672-6.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan