Rabu, 23 September 2026
09:40 WIB
TERKINI
Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Berita Terkuak: Modus Dua Pria Raup Jutaan dari Konten Mesum 'A Day in My Life' Berita Fenomena Bau Tak Sedap Malam Hari di Transjakarta Koridor 8 Jadi Sorotan Berita Bupati Boltara Sirajudin Lasena Terjaring OTT KPK, Proyek Jalan Disorot Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis

Phala

istilah Pali dan Sanskerta

Artikel ini bukan mengenai Vipāka.

Phala adalah istilah bahasa Pali dan Sanskerta yang berarti "buah" dari tindakan seseorang (pahala) dalam Hinduisme dan Buddhisme. Dalam Buddhisme, jenis-jenis phala berikut ini diidentifikasi:

  • Ariya-phala juga merujuk pada buah pencapaian dari mengikuti Jalan (Pali: magga).
  • Sāmañña-phala merujuk pada buah-buah dari kehidupan pertapaan.
  • Kamma-phala merujuk pada buah-buah dari karma (perbuatan berkehendak)

Dalam Buddhisme

Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, istilah phala (bahasa Pali) digunakan untuk merujuk pada pembuahan atau hasil dari tindakan menurut ajaran karma atau perbuatan berkehendak dan buah karma (kammaphala).

Ariya-phala

Istilah ariya-phala digunakan untuk merujuk secara khusus pada buah pencapaian dari mengikuti Jalan (Pali: magga). Nyanatiloka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan 'buah pencapaian' (phala) di sini adalah momen-momen kesadaran yang muncul seketika setelahnya sebagai hasil dari jalan suci tersebut, dan yang dalam keadaan tertentu dapat terus berulang hingga tak terhingga kalinya di sepanjang masa kehidupan.[1] Buah pencapaian untuk masing-masing dari empat tingkat Jalan tersebut diidentifikasi sebagai berikut:[2][3][4]

  1. Sotāpatti-phala, buah pencapaian sotapana (pemasuk arus) 
  2. Sakadāgāmi-phala, buah pencapaian sakadagami (yang kembali-sekali)
  3. Anāgāmi-phala, buah pencapaian anagami (yang tidak-kembali)
  4. Arahatta-phala, buah pencapaian dari arahat (yang layak)

Sāmañña-phala

Istilah sāmañña-phala merujuk pada buah-buah dari kehidupan tanpa-rumah (pertapaan). Nyanatiloka menjelaskan bahwa sāmañña-phala merupakan nama dari sebuah sutta yang terkenal (DN 2) dan juga, menurut DN 33, merupakan sebutan untuk empat buah pencapaian lokutara (adiduniawi): pemasuk arus, yang kembali-sekali, yang tidak-kembali, dan kesucian sempurna (Lihat bagian #Ariya-phala).[5] Menurut Sāmaññaphala Sutta (DN 2), buah-buah tersebut adalah:[6]

  • Buah tingkat dasar (sandiṭṭhikasāmaññaphala):
    1. Perubahan status sosial dan penerimaan penghormatan (paṭhamasandiṭṭhikasāmaññaphala — mencakup abhivādana dan paccuṭṭhāna).
    2. Perlindungan dan sokongan kebutuhan hidup sehari-hari (dutiyasandiṭṭhikasāmaññaphala — mencakup sokongan catupaccaya dan dhammika rakkhāvaraṇagutti).
  • Buah persiapan batin (paṇītatarasāmaññaphala):
    1. Kebahagiaan tak bercela (anavajjasukha) berkat kemurnian sila (sīla).
    2. Kebahagiaan murni (abyāsekasukha) berkat pengendalian pintu indra (indriyasaṁvara).
    3. Kemerdekaan pikiran karena terbebas dari lima rintangan batin (nīvaraṇa).
  • Buah penyerapan meditasi (samādhi):
    1. Pencapaian empat tingkat penyerapan meditasi (jhāna).
  • Buah delapan pengetahuan (aṭṭhañāṇa):
    1. Pengetahuan dan penglihatan pandangan terang (vipassanāñāṇa).
    2. Kemampuan menciptakan tubuh buatan pikiran (manomayiddhiñāṇa).
    3. Kekuatan batin atau kemampuan magis (iddhividhañāṇa).
    4. Kewaskitaan pendengaran atau telinga dewa (dibbasotañāṇa).
    5. Kemampuan membaca atau menembus pikiran makhluk lain (cetopariyañāṇa).
    6. Kemampuan mengingat kehidupan-kehidupan lampau (pubbenivāsānussatiñāṇa).
    7. Kewaskitaan penglihatan atau mata dewa (dibbacakkhuñāṇa).
    8. Pengetahuan tentang hancurnya kotoran batin (āsavakkhayañāṇa) yang membuahkan pembebasan akhir atau nibbāna.

Kamma-phala

Lihat pula: Vipāka

Kammaphala (Pali; Sanskerta: karmaphala) secara harfiah berarti "buah perbuatan". Dalam Tripitaka Pali, istilah phala (secara harfiah berarti "buah")[4] sering disandingkan dengan vipāka seperti pada frasa kammānaṁ phalaṁ vipāko (phala dan vipāka dari kamma) yang menggambarkan hubungan kausalitas antara perbuatan dan konsekuensinya.[7][8] Dalam Mahācattārīsaka Sutta (MN 117) dari Suttapiṭaka, frasa sukatadukkaṭānaṁ kammānaṁ phalaṁ vipāko ("phala dan vipāka dari kamma baik dan buruk") digunakan untuk mendefinisikan batasan dari pandangan benar tingkat duniawi.[7] Istilah majemuk kammaphala secara langsung juga muncul dalam teks percakapan maupun syair. Dalam Dakkhiṇāvibhaṅgasutta (MN 142), istilah ini dipakai saat menjelaskan besarnya buah karma (uḷāra) dari praktik berdana kepada Sangha.[9] Sementara itu, dalam kitab Therīgāthā (Thig 15.1), Bhikkhuni Isidāsī menggunakan frasa tassetaṁ kammaphalaṁ saat menyebut penderitaan yang ia alami pada masa lalu murni sebagai buah karma dari perbuatannya sendiri.[10]

Jika kamma (perbuatan) diibaratkan sebagai benih, maka phala adalah buahnya.

Yādisaṁ vapate bījaṁ, tādisaṁ harate phalaṁ; Kalyāṇakārī kalyāṇaṁ, pāpakārī ca pāpakaṁ; Pavuttaṁ tāta te bījaṁ, phalaṁ paccanubhossasī’ti.Apa pun benih yang ditanam, Itulah buah yang akan dipetik:

Pelaku kebaikan memetik kebaikan; Pelaku kejahatan memetik kejahatan. Olehmu, teman, benih telah ditanam; Dengan demikian engkau akan mengalami buahnya.

Samuddaka Sutta, SN 11.10

Terjemahan alternatif

Istilah phala diterjemahkan sebagai:

Dalam Hinduisme

Bagian dari seri
Agama Hindu
250px-Aum_Om_dark_red_circle_hollow_tomato.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Dalam agama Hindu, istilah phala diterjemahkan sebagai pembuahan, hasil, efek.[14]

Dalam sastra Hindu, sebuah phalashruti adalah syair kebajikan yang mendeskripsikan manfaat dari mendengarkan teks tertentu dan merincikan keagungannya.[15]

Yoga-Sūtra Patañjali (ayat 2.36) menyatakan:[14]

Seiring tercapainya kebenaran (satya), buah dari tindakan secara alami dihasilkan sesuai dengan kehendak Yogi. (satya pratisthayam kriya phala ashrayatvam)

Lihat pula

Referensi

Daftar pustaka

Sumber buku

Sumber web

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan