Rabu, 21 Oktober 2026
19:34 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Ekonomi buddhis

Ekonomi buddhis

Bagikan:
330px-Bhutan_Gross_National_Happiness.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Slogan di Bhutan mengenai kebahagiaan nasional bruto di Sekolah Seni Tradisional Thimphu.
Bagian dari seri tentang
Anti-konsumerisme
Teori dan gagasan
Teoretis
Empiris
Terapan
Daftar
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Ekonomi buddhis adalah suatu pendekatan spiritual dan filosofis untuk mempelajari ekonomi.[1] Ekonomi buddhis meneliti psikologi pikiran manusia dan emosi yang mengarahkan aktivitas ekonomi, dalam konsep-konsep tertentu seperti kecemasan, aspirasi, dan prinsip aktualisasi diri. Dalam pandangan para pendukungnya, ekonomi buddhis bertujuan untuk menghilangkan kebingungan tentang apa yang berbahaya dan apa yang bermanfaat dalam berbagai kegiatan manusia yang melibatkan produksi dan konsumsi barang dan jasa, yang pada akhirnya berusaha mewujudkan manusia yang dewasa secara etis.[2] Tujuan lain ideologi ini adalah untuk "menemukan sebuah jalan tengah antara masyarakat yang murni duniawi dan masyarakat konvensional yang statis."[3]

Ekonom Sri Lanka Neville Karunatilake menulis bahwa: "Sebuah sistem ekonomi buddhis memiliki fondasinya dalam pengembangan suatu usaha yang kooperatif dan harmonis dalam kehidupan kelompok. Keegoisan dan pengejaran materialistis harus dihilangkan dengan mengembangkan diri manusia sendiri."[4]

Raja Bhutan Jigme Singye Wangchuck dan pemerintahannya telah mempromosikan konsep "kebahagiaan nasional bruto" (GNH) sejak tahun 1972, berdasarkan nilai-nilai spiritual buddhis, sebagai tandingan untuk mengukur perkembangan suatu negara melalui produk domestik bruto (PDB). Ini menunjukkan komitmen untuk membangun ekonomi yang akan mengikuti budaya Bhutan berdasarkan pada nilai-nilai spiritual buddhis alih-alih pengembangan materi, seperti yang diukur dengan PDB saja.[5]

Profesor ekonomi AS Clair Brown menyusun suatu kerangka ekonomi buddhis yang mengintegrasikan pendekatan kapabilitas Amartya Sen dengan kemakmuran dan kelestarian bersama. Dalam model ekonomi Buddhis-nya, penilaian kinerja ekonomi didasarkan pada seberapa baik ekonomi memberikan kualitas hidup yang tinggi kepada semua orang seraya melindungi lingkungan.[6] Selain output dalam negeri (atau konsumsi), pengukuran kinerja ekonomi mencakup pemerataan, keberlanjutan (kelestarian), dan kegiatan-kegiatan yang menciptakan kehidupan yang bermakna. Kesejahteraan seseorang tergantung pada pembinaan kekayaan batin (spiritual) bahkan lebih daripada kekayaan luar (materi).[7]

Ekonomi buddhis berpendapat bahwa keputusan yang benar-benar rasional hanya dapat dibuat ketika kita memahami apa yang menciptakan irasionalitas. Ketika orang memahami apa yang merupakan keinginan, mereka menyadari bahwa semua kekayaan di dunia tidak dapat memuaskannya. Ketika orang memahami keuniversalan rasa takut, mereka menjadi lebih berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan demikian, pendekatan spiritual terhadap ekonomi ini tidak bergantung pada teori dan model, tetapi pada kekuatan esensial kecerdasan, empati, dan pengendalian diri.[2] Dari perspektif seorang buddhis, ekonomi dan aliran pengetahuan lainnya tidak dapat dipisahkan. Ekonomi adalah komponen tunggal dari upaya gabungan untuk memperbaiki masalah kemanusiaan dan ekonomi buddhis bekerja dengannya untuk mencapai tujuan bersama yaitu kecukupan sosial, individu, dan lingkungan.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Gross National Happiness » Maintenance Mode Diarsipkan September 2, 2009, di Wayback Machine
  2. 1 2 3 Payutto, Ven. P. A. "Buddhist Economics - A Middle Way for the Market Place" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-12-05. Diakses tanggal 2019-07-06.
  3. ↑ Schumacher, E. F. "BUDDHIST ECONOMICS". Diarsipkan dari asli tanggal 13 Desember 2012. Diakses tanggal 4 Desember 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Karunatilake, This Confused Society (1976)
  5. ↑ "Policy Innovations - Redefining Progress". policyinnovations.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-04-13. Diakses tanggal 18 Juli 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Sen, Amartya (1999). Development as Freedom. Knopf.
  7. ↑ "The Symbolism of the Traditional Temple".

Pranala luar

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Ekonomi buddhis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan