Kamis, 24 September 2026
06:12 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Hiri

Hiri

Rasa malu berbuat jahat sebagai salah satu faktor mental baik dan penjaga dunia dalam Buddhisme

Untuk rasa takut akan akibat berbuat jahat, lihat Ottappa. Untuk penyesalan atas kesalahan masa lampau, lihat Kukkucca.
250px-Hr%C4%AB%E1%B8%A5.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hrīḥ ditulis dalam aksara Siddhaṃ.
Terjemahan dari
malu
Indonesiarasa malu; rasa malu berbuat jahat
Inggrisself-respect,
conscientiousness,
sense of shame,
dignity
Palihiri
Sanskertaह्रीः (hrīḥ)
Tionghoa慚(T) / 惭(S)
Jepang
(rōmaji: zan)
Korea
(RR: cham)
Tibetངོ་ཚ་ཤེས་པ།
(Wylie: ngo tsha shes pa;
THL: ngo tsa shepa
)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Hiri atau hirī (Pali; Sanskerta: hrī atau hrīḥ, ह्रीः), diterjemahkan sebagai rasa malu atau rasa malu berbuat jahat, berasal dari faktor internal, penghormatan diri sendiri, dan rasa sungkan. Hiri diartikan sebagai sikap berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan dan menjauhi perbuatan yang tidak baik.[1][2] Hiri adalah salah satu faktor mental baik dalam ajaran Abhidharma. Faktor mental yang berlawanan dengan karakteristik hiri adalah ahirika (Pali) atau āhrīkya (Sanskerta), artinya "tidak tahu malu". Hiri ("rasa malu berbuat jahat") biasanya dipasangkan dengan ottappa ("rasa takut akan akibat berbuat jahat").

Theravāda

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Hiri

Kitab kanonis

Ada setidaknya dua diskursus dalam Sutta Piṭaka yang memiliki judul "Hiri Sutta." Kedua teks ini berfokus pada masalah rasa malu moral. Diskursus pertama (Saṁyutta Nikāya 1.18) adalah dialog singkat antara Sang Buddha dan sesosok dewa tentang hakikat rasa malu.[3] Diskursus kedua (Sutta Nipāta 2.3) adalah dialog tanya jawab antara Sang Buddha dan seorang petapa mengenai hakikat persahabatan sejati.[4] Satu diskursus lainnya (Aṅguttara Nikāya 7.65) berisi wejangan Sang Buddha tentang manfaat rasa malu berbuat jahat yang dipasangkan dengan rasa takut berbuat jahat, dan bahaya atas rasa tidak takut dan tidak malu berbuat jahat.[5] Tradisi Abhidhamma Theravāda mencantumkan hiri dalam daftar dua puluh lima sobhana cetasika ("faktor mental yang indah"), yang didasarkan pada klasifikasi Abhidhammapiṭaka.

Hiri sering disebut bersamaan dengan ottappa ("rasa takut terhadap akibat perbuatan jahat"). Keduanya bertanggung jawab untuk mendorong seseorang agar menghindari melakukan tindakan jahat. Bersama-sama, mereka dikenal sebagai lokapāla ("penjaga dunia"):[6]

“Para bhikkhu, dua dhamma yang murni ini adalah penjaga dunia. Apakah dua hal tersebut? Rasa-malu (hiri) dan takut-berbuat-jahat (ottappa). Para bhikkhu, apabila dua dhamma yang murni ini tidak menjaga dunia, maka tidak akan ada rasa hormat diberikan kepada ibu, atau saudara ibu, atau istri paman, atau istri guru, atau istri dari mereka yang dihormati. Dunia akan penuh dengan kekacauan kelahiran seperti halnya yang terjadi di antara kambing, ayam, babi, anjing, dan serigala. Para bhikkhu, karena dua dhamma yang murni ini menjaga dunia maka rasa hormat diberikan kepada ibu dan lain-lain.”
AN 2.9

Kitab Puggalapaññatti menyatakan:

"Malu terhadap apa yang seharusnya membuat seseorang malu, malu melakukan hal-hal yang jahat dan tidak baik: ini disebut rasa malu berbuat jahat (hiri). Takut terhadap apa yang seharusnya membuat seseorang takut, takut melakukan hal-hal yang jahat dan tidak baik: ini disebut rasa takut berbuat jahat (ottappa)."[7]

Metode Abhidhamma

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa hiri didefinisikan dalam empat batasan:[8]

  • Karakteristik: sopan dan patuh (sappatissava-lakkhaṇa).
  • Fungsi: tidak melakukan hal yang tidak baik.
  • Manifestasi: menjauhi hal yang tidak baik (pāpaparivajjana).
  • Sebab-terdekat: rasa hormat terhadap diri sendiri.

Sebab terdekat untuk rasa malu adalah rasa hormat terhadap diri sendiri; sedangkan rasa takut berbuat jahat adalah rasa hormat terhadap orang lain. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:

Rasa-malu adalah malu untuk melakukan perbuatan tidak baik melalui tubuh dan lain-lain; yang merupakan terminologi untuk rasa sungkan (kāyaduccaritādīhi hiriyatīti hirī; lajjāyetaṃ adhivacanaṃ).

Rasa malu vs rasa takut

Kitab komentar menguraikan hiri (rasa malu) dan ottappa (rasa takut) dengan menjabarkan perbedaan kedua faktor-mental ini dalam tiga hal:[9]

  1. Kemunculan rasa-malu bersumber pada diri sendiri atau faktor internal (ajjhattasamuṭṭhāna); sedangkan kemunculan takut-berbuat-jahat bersumber pada orang lain atau faktor eksternal (bahiddhāsamuṭṭhāna).
  2. Rasa-malu bersumber pada sikap menghormati diri sendiri (attādhipati); sedangkan takut-berbuat-jahat bersumber pada sikap menghormati dunia atau orang lain (lokādhipati).
  3. Rasa-malu “berpijak” pada karakteristik alamiah dari rasa sungkan (lajjāsabhāvasaṇṭhita); sedangkan takut-berbuat-jahat “berpijak” pada karakteristik alamiah dari rasa takut (bhayasabhāvasaṇṭhita).

Kitab komentar memberi ilustrasi untuk dua faktor-mental ini—hiri dan ottappa—dengan perumpamaan dua bola besi (dvīayoguḷa). Dari dua bola besi tersebut, bola yang satu dingin, tetapi seluruh permukaannya dilumuri oleh kotoran manusia; sedangkan bola yang kedua adalah bola yang panas membakar. Seorang yang bijaksana tidak mau memegang bola yang pertama karena merasa jijik dengan kotoran manusia; sementara itu dia juga tidak berani memegang bola yang kedua karena takut tangannya terbakar. Ketidakinginan orang tersebut memegang bola yang dingin dan penuh kotoran adalah seperti seseorang yang tidak melakukan kejahatan karena rasa-malu yang muncul dari diri sendiri. Kemudian, ketidakinginan untuk memegang bola panas karena takut tangannya terbakar adalah seperti seseorang yang takut-berbuat-jahat karena rasa takut terlahir di empat alam rendah (neraka, binatang, hantu kelaparan, dan asura).[10]

Faktor internal

Rasa-malu muncul dari salah satu dari empat alasan (catukāraṇa), yaitu merenungkan kelahiran (jāti), usia (vayo), kekuatan dan keberanian (sūrabhāva), dan keterdidikan (bāhusacca). Seseorang tidak melakukan perbuatan jahat dengan memunculkan kemunculan faktor-mental ini setelah merenungkan pertimbangan:

  1. Status kelahirannya yang baik, yaitu terlahir di keluarga yang terhormat (jātisampannāna). Perenungan-perenungan, seperti “Perbuatan jahat seperti ini tidak pantas saya lakukan. Perbuatan seperti ini hanya dilakukan oleh mereka dengan status kelahiran yang rendah seperti para nelayan atau sejenisnya (hīnajaccānaṃ kevaṭṭādīnaṃ idaṃ kammaṃ).”
  2. Usia, seperti “Perbuatan buruk seperti ini hanya pantas dilakukan oleh anak kecil, tidak untuk orang seusia saya.”
  3. Kekuatan dan keberanian, seperti “Perbuatan yang tidak baik seperti ini hanya pantas dilakukan oleh mereka dari golongan yang lemah (dubbalajātika), tidak untuk saya yang mempunyai kekuatan dan keberanian (sūrabhāva).”
  4. Keterdidikan, seperti “Perbuatan jahat seperti ini hanya pantas dilakukan oleh orang dungu (andhabāla) dan tidak bijaksana; sungguh tidak pantas buat saya yang bijaksana (paṇḍita) dan terdidik (bahussuta) melakukannya.”

Setelah merenungkan salah satu dari empat sebab di atas, seseorang kemudian menahan diri dan tidak melakukan perbuatan jahat seperti membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu yang bukan haknya, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan lain-lain.[11]

Penghormatan diri sendiri

Rasa-malu muncul karena adanya sikap seseorang yang menghormati dirinya sendiri (attādhipati). Dengan kata lain, martabat seseorang menjadi pendorong baginya untuk tidak melakukan perbuatan jahat. Perenungan-perenungan tentang status diri sendiri di masyarakat menjadi sarana yang efektif buat seseorang untuk memunculkan faktor-mental rasa-malu.

Mādisassa saddhāpabbajitassa bahussutassa dhutaṅgadharassa na yuttaṃ pāpakammaṃ kātun'ti.
Tidaklah pantas untuk seseorang seperti saya, yang meninggalkan kehidupan berumah tangga karena keyakinan, berpengetahuan luas, menyenangi praktik pertapaan, melakukan perbuatan yang jahat.

Seseorang membuat diri sendiri sebagai pemimpin yang tertinggi (attādhipati jeṭṭhaka), meninggalkan kejahatan, mengambangkan sila atau akhlak, meninggalkan kesalahan, mengembangkan perilaku tanpa kesalahan, dan menjaga dirinya sendiri untuk tetap bersih dari kesalahan-kesalahan sekecil apa pun.[12]

Rasa sungkan

Ettha pana lajjāti lajjanākāro; tena sabhāvena saṇṭhitā hirī.
Di sini, sungkan adalah perilaku sungkan; rasa-malu “berpijak” di karakteristik alamiah dari (rasa sungkan) tersebut.

Seseorang yang mempunyai rasa-malu juga mempunyai perilaku yang sangat cermat, berhati-hati, dan menjunjung tinggi etika serta sopan santun. Faktor-mental rasa-malu diyakini membuat seseorang menjadi pribadi yang lembut dan tidak kasar. Rasa-malu—dan juga takut-berbuat-jahat—muncul dalam bentuk penghindaran dari perbuatan jahat atau yang tidak baik (pāpaparivajjana). Kitab komentar memberikan contoh tentang seseorang dari keluarga baik-baik yang ingin buang air di alam terbuka, tetapi kemudian membatalkannya karena melihat ada orang lain yang pantas dihormati di sekitar tempat tersebut. Pada saat dia memutuskan untuk membatalkan hasratnya, maka pada saat itu faktor-mental rasa-malu muncul di arus kesadarannya.[13]

Ahirika

Terjemahan dari
ahirika
Indonesiatidak tahu malu
Inggrislack of shame
lack of consciousness
shamelessness
Paliahirika
Sanskertaआह्रीक्य
(IAST: āhrīkya)
Tionghoa無慚
Tibetངོ་ཚ་མེད་པ།
(Wylie: ngo tsha med pa;
THL: ngotsa mepa
)
Khmerអហិរិក , អហិរិកៈ
(UNGEGN: ahek-rek, ahek-rekak)
Daftar Istilah Buddhis

Tidak tahu malu atau ahirika adalah suatu faktor mental yang sifatnya berlawanan dari faktor mental rasa malu. Faktor mental ini merupakan satu dari empat belas faktor mental tidak baik dalam klasifikasi Abhidhamma. Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa hiri didefinisikan dalam empat batasan:[14]

  • Karakteristik: tidak merasa jijik terhadap perilaku tubuh dan ucapan, atau tidak merasa malu terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak baik (kāyaduccaritādīhi ajigucchanalakkhaṇaṃ, alajjālakkhaṇaṃvā).
  • Fungsi: melakukan perbuatan yang tidak baik.
  • Manifestasi: tidak menjauhi perbuatan yang tidak baik.
  • Sebab-terdekat: tidak adanya rasa hormat kepada dirinya sendiri.

Ahirika adalah faktor-mental yang membuat seseorang tidak malu untuk berbuat jahat. Kitab Puggalapaññatti memberikan perumpamaan yang sangat kuat seperti seekor babi di desa yang tidak jijik memakan kotorannya sendiri. Apabila ahirika tidak muncul di dalam kesadaran, maka seseorang malu atau bahkan tidak akan berpikir untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Akan tetapi, karena kemunculan ahirika maka perbuatan yang tidak baik akan terus-menerus berulang dan, bahkan, seseorang akan terus kecanduan untuk menikmatinya.[14]

Mahāyāna

Hrī

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

"Apa itu hrī? Sejauh yang saya lihat, hrī adalah menghindari hal-hal yang tidak baik dan fungsinya adalah memberikan dasar untuk menahan diri dari tindakan-tindakan yang tidak baik."[1]

Kitab Abhidharmakośabhāsya mencantumkan hrī dalam sepuluh faktor mental yang berbudi luhur (daśa kuśalamahābhῡmikā dharma; 大善地法).

Tradisi Yogācāra mengenalinya sebagai salah satu dari sebelas faktor mental yang baik (ekādaśa-kuśala; 十一善).

Perbedaan antara apatrāpya (rasa takut) dan hrī (rasa malu) adalah apatrapya berarti menahan diri dari tindakan yang tidak baik untuk menghindari celaan orang lain; sedangkan hrī berarti menahan diri dari tindakan yang tidak baik karena hati nurani sendiri.[2][15]

Āhrīkya

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu tidak tahu malu (ahrīkya)? Ahrīkya adalah tidak menahan diri dengan menjadikan penyimpangan diri sendiri sebagai suatu hal yang biasa. Ahrīkya adalah peristiwa emosional yang terkait dengan nafsu-nafsu (raga), kebencian-keengganan (dvesha), dan kekeliruan (moha). Ahrīkya membantu semua emosi dasar dan mendalam.[16]

Terjemahan alternatif

  • harga diri (self-respect) - Herbert Guenther, Dzigar Kongtrul Rinpoche, Rangjung Yeshe Wiki
  • kehati-hatian (conscience, conscientiousness) - Bhikkhu Sujato, Erik Pema Kunsang
  • martabat moral diri sendiri (moral self-dignity) - Alexander Berzin
  • rasa malu - Ashin Kheminda, Rangjung Yeshe Wiki
  • martabat (dignity)

Referensi

  1. 1 2 Guenther & Kawamura 1975, Kindle Loc. 524–526.
  2. 1 2 Kunsang 2004, hlm. 24.
  3. Sujato & SN 1.18.
  4. Thanissaro & Sn 2.3.
  5. Sujato & AN 7.65.
  6. Kheminda 2019, hlm. 144.
  7. Wisdom Library 2010.
  8. Kheminda 2019, hlm. 136–137.
  9. Kheminda 2019, hlm. 137.
  10. Kheminda 2019, hlm. 143-144.
  11. Kheminda 2019, hlm. 137-138.
  12. Kheminda 2019, hlm. 139-140.
  13. Kheminda 2019, hlm. 142.
  14. 1 2 Kheminda 2019, hlm. 81.
  15. Guenther & Kawamura 1975, Kindle Loc. 528–531.
  16. Guenther & Kawamura 1975, Kindle Loc. 931–932.

Daftar pustaka

  • Kheminda, Ashin (2019-09-01). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94342-7-4.
  • Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975). Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle). Dharma Publishing.
  • Kunsang, Erik Pema (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.

Sumber web

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan