| Terjemahan dari māna | |
|---|---|
| Indonesia | kesombongan |
| Inggris | pride, arrogance conceit |
| Pali | māna |
| Sanskerta | māna |
| Tionghoa | 慢 (T) / 慢 (S) |
| Jepang | 慢 (rōmaji: Man) |
| Korea | 만 (RR: man) |
| Tibet | ང་རྒྱལ་ (Wylie: nga rgyal; THL: ngagyal) |
| Myanmar | မာန (MLCTS: màna̰) |
| Thai | มานะ |
| Vietnam | Mạn |
| Mon | မာန် ([màn]) |
| Shan | မႃႇၼႃႉ ([maa2naa5]) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
Māna (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मान), diterjemahkan sebagai kesombongan atau pembandingan, merupakan suatu faktor mental yang biasanya diidentifikasi sebagai tidak baik. Māna didefinisikan sebagai pikiran berlebihan yang menjadikan apa pun yang sesuai, seperti kekayaan atau pengetahuan, sebagai dasarnya.[1] Māna menciptakan basis untuk tidak menghormati orang lain dan munculnya penderitaan.[2]
Māna diidentifikasi dalam konteks:
- Satu dari empat belas faktor mental tidak baik dalam ajaran Abhidhamma Theravāda
- Satu dari sepuluh kotoran batin dalam aliran Theravāda
- Satu dari lima racun dalam aliran Mahayana
- Satu dari enam akar faktor mental tidak baik dalam ajaran Abhidharma Mahayana
Theravāda
Dalam Tripitaka Pali
Dalam ajaran Buddha, māna (kesombongan atau kecenderungan komparasi egoistik) merupakan konsep psikologis sentral yang pembahasannya tersebar luas di seluruh Suttapiṭaka, dan diklasifikasikan sebagai salah satu dari sepuluh belenggu (saṁyojana) sekaligus kecenderungan tersembunyi (anusaya) yang baru akan lenyap sepenuhnya pada tingkat kesucian Arahat.[a]
| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotāpanna | ± tujuh kali; manusia atau dewa |
1. pandangan salah terhadap jati diri (sakkāya-diṭṭhi) 2. keraguan (vicikicchā) 3. kemelekatan pada ritual dan adat (sīlabbata-parāmāsa) |
belenggu rendah |
| sakadāgāmī | sekali lagi; manusia | ||
| anāgāmī | sekali lagi; suddhāvāsa |
4. hasrat indrawi (kāmacchanda) 5. niat jahat (vyāpāda/byāpāda) | |
| arahā | tidak ada | 6. nafsu punarbawa di alam materi (rūparāga) 7. nafsu punarbawa di alam nonmateri (arūparāga) 8. kesombongan (māna) 9. kebingungan (uddhacca) 10. ketidaktahuan (avijjā) |
belenggu tinggi |
Alih-alih sekadar diartikan sebagai keangkuhan superioritas, Suttapiṭaka mendefinisikan māna sebagai segala bentuk pengukuran identitas diri dengan orang lain. Secara taksonomi, konsep ini dirincikan di dalam Saṅgīti Sutta (DN 33) menjadi tiga kategori: pemikiran "aku lebih baik" (seyyo'hamasmi), "aku setara" (sadiso'hamasmi), dan "aku lebih buruk" (hīno'hamasmi).[4] Selain wujud kasarnya yang sering dikaitkan dengan keangkuhan pandangan filosofis seperti yang dikritik melalui Pasūra Sutta (Snp 4.8) dan Māgandiya Sutta (Snp 4.9) dalam kitab Suttanipāta,[b] berbagai sutta juga menyoroti mekanisme kognitif māna yang paling dalam, yakni asmi-māna (insting halus bahwa "aku ada"). Sebagaimana diuraikan secara komprehensif dalam Khemaka Sutta (SN 22.89), insting eksistensial ini adalah residu egoistik yang masih tersisa di bawah sadar seorang praktisi tingkat lanjut (anāgāmī), bahkan setelah mereka berhasil mematahkan pandangan salah tentang jati diri (sakkāya-diṭṭhi).[c]
Tradisi Abhidhamma
| Bagian dari Abhidhamma Theravāda |
| 52 Cetasika |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
|
7 universal (sabbacittasādhāraṇa) |
|
25 indah (sobhana)
|
|
|
Nina van Gorkom menjelaskan:
- Ada kesombongan atau keangkuhan ketika kita menganggap diri kita penting. Oleh karena kesombongan, kita mungkin membandingkan diri kita dengan orang lain. Ada kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain. Kita mungkin percaya bahwa kesombongan hanya ada ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, tetapi ini tidak benar. Ada semacam sikap menjunjung tinggi diri kita sendiri, membuat diri kita penting, sementara kita membandingkan diri kita dengan orang lain, tidak peduli dalam hal apa pun, dan itulah kesombongan.[8]
Dengan demikian, ada tiga jenis māna yang diidentifikasi, yakni kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain.
Kitab Aṭṭhasālinī (II, Bagian IX, Bab III, 256) memberikan definisi:
- ...Di sini, māna adalah khayalan (anggapan, imajinasi yang sia-sia). Ia memiliki sifat sombong sebagai cirinya, memuji diri sendiri sebagai fungsinya, keinginan untuk mempromosikan diri sendiri bagaikan sebuah panji (bendera identitas) sebagai manifestasinya, keserakahan yang tidak terasosiasi dengan pandangan-salah sebagai sebab-langsungnya, dan harus dianggap sebagai (suatu bentuk) kegilaan.[8]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa māna didefinisikan dalam empat batasan:[9]
- Karakteristik: meninggikan atau menegakkan diri sendiri (unnati-lakkhaṇa).
- Fungsi: berusaha untuk memuji diri sendiri (sampaggaha-rasa).
- Manifestasi: menonjolkan diri (ketukamyatāpaccupaṭṭhāna).
- Sebab-terdekat: keserakahan yang tidak terkait dengan pandangan-salah (diṭṭhivippayuttalobhapadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa māna adalah faktor-mental yang membanggakan dirinya sendiri atau angkuh (maññatīti 'māno; Dhs-A 256), dan Buddhisme mengenal sembilan māna, yaitu:
- Menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain (seyyohamasmi).
- Menganggap diri sendiri sama seperti orang lain (sadisohamasmi).
- Menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain (hīnohamasmi).
Tiga bentuk māna di atas bisa muncul berkaitan dengan keadaan di masa lalu, masa depan dan masa sekarang; dengan demikian, didapatkan sembilan variasi dari māna.[9]
Mahāyāna
Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:
- Apa itu māna? Māna adalah pikiran yang membesar-besarkan hal-hal yang mudah rusak dan fungsinya adalah menjadi dasar untuk bersikap tidak hormat dan frustrasi.[10]
Herbert Guenther menjelaskan:
- Kesombongan adalah peristiwa mental yang merupakan semacam pikiran yang membesar sehingga menjadikan apa pun yang sesuai, seperti kekayaan atau pengetahuan, menjadi dasar māna.[10]
Alexander Berzin menjelaskan:
- Kesombongan (nga-rgyal) adalah keadaan batin yang sombong (khengs-pa) yang didasarkan pada pandangan yang keliru terhadap hubungan-hubungan yang sementara (‘jig-lta). [...] Ia berfungsi untuk membuat kita tidak menghargai orang lain atau tidak menghormati kualitas baik orang lain (mi-gus-pa), dan mencegah kita mempelajari apa pun.[11]
Catatan
- ↑ Nyanatiloka merangkum posisi māna secara doktrinal sebagai belenggu keenam (saṁyojana) dan salah satu dari tujuh kecenderungan laten (anusaya).[3]
- ↑ Dalam pengantarnya untuk bab Aṭṭhakavagga, Bhikkhu Bodhi menyoroti bagaimana perdebatan intelektual sering kali didorong oleh ego dan māna.[5]
- ↑ Catatan terjemahan Bhikkhu Bodhi untuk Khemaka Sutta secara spesifik membedah asmi-māna sebagai ilusi sisa eksistensi diri (residual conceit).[6] Kajian serupa juga dapat dilihat dalam terjemahan Thanissaro Bhikkhu.[7]
Referensi
- ↑ Guenther & Kawamura 1975, Kindle Loc. 744-746.
- ↑ Kunsang 2004, hlm. 26.
- ↑ Nyanatiloka 2004.
- ↑ Walshe 1995.
- ↑ Bodhi 2017.
- ↑ Bodhi 2000.
- ↑ Thanissaro 2001.
- 1 2 van Gorkom 2010.
- 1 2 Kheminda 2019, hlm. 94-95.
- 1 2 Guenther & Kawamura 1975.
- ↑ Berzin 2006.
Daftar pustaka
- Berzin, Alexander (2006). "Primary Minds and the 51 Mental Factors". Study Buddhism.
- Bodhi, Bhikkhu (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Saṃyutta Nikāya. Boston: Wisdom Publications.
- Bodhi, Bhikkhu (2017). The Suttanipāta: An Ancient Collection of the Buddha's Discourses Together with Its Commentaries. Boston: Wisdom Publications.
- Goleman, Daniel (2008). Destructive Emotions: A Scientific Dialogue with the Dalai Lama. Bantam.
- Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975). Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding". Dharma Publishing.
- Kheminda, Ashin (2019). Manual Abhidhamma: Bab 2 Faktor-Faktor-Mental. Yayasan Dhammavihari. ISBN 978-623-94342-7-4.
- Kunsang, Erik Pema (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
- Nyanatiloka, Thera (2004). Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines. Kandy: Buddhist Publication Society. ISBN 978-955-24-0019-3.
- Thanissaro, Bhikkhu (2001). "Khemaka Sutta: About Khemaka (SN 22.89)". Access to Insight.
- van Gorkom, Nina (2010). "Cetasikas". Zolag.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link) - Walshe, Maurice (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Dīgha Nikāya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 978-0-86171-103-1.