Selasa, 20 Oktober 2026
03:33 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global

Māna

Istilah Buddhis untuk "kesombongan"

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Manas (Buddhisme) atau Manasikāra.
Terjemahan dari
māna
Indonesiakesombongan
Inggrispride,
arrogance
conceit
Palimāna
Sanskertamāna
Tionghoa慢 (T) / 慢 (S)
Jepang慢
(rōmaji: Man)
Korea만
(RR: man)
Tibetང་རྒྱལ་
(Wylie: nga rgyal;
THL: ngagyal
)
Myanmarမာန
(MLCTS: màna̰)
Thaiมานะ
VietnamMạn
Monမာန်
([màn])
Shanမႃႇၼႃႉ
([maa2naa5])
Daftar Istilah Buddhis

Māna (Pali dan Sanskerta; Dewanagari: मान), diterjemahkan sebagai kesombongan atau pembandingan, merupakan suatu faktor mental yang biasanya diidentifikasi sebagai tidak baik. Māna didefinisikan sebagai pikiran berlebihan yang menjadikan apa pun yang sesuai, seperti kekayaan atau pengetahuan, sebagai dasarnya.[1] Māna menciptakan basis untuk tidak menghormati orang lain dan munculnya penderitaan.[2]

Māna diidentifikasi dalam konteks:

Theravāda

Dalam Tripitaka Pali

Dalam ajaran Buddha, māna (kesombongan atau kecenderungan komparasi egoistik) merupakan konsep psikologis sentral yang pembahasannya tersebar luas di seluruh Suttapiṭaka, dan diklasifikasikan sebagai salah satu dari sepuluh belenggu (saṁyojana) sekaligus kecenderungan tersembunyi (anusaya) yang baru akan lenyap sepenuhnya pada tingkat kesucian Arahat.[a]

Empat tingkat kemuliaan sesuai Suttapiṭaka
Bodhi Punarbawa Belenggu yang disingkirkan
sotāpanna ± tujuh kali;
manusia
atau dewa
1. pandangan salah
terhadap jati diri
(sakkāya-diṭṭhi)
2. keraguan
(vicikicchā)
3. kemelekatan
pada ritual dan adat
(sīlabbata-parāmāsa)
belenggu
rendah
sakadāgāmī sekali lagi;
manusia
anāgāmī sekali lagi;
suddhāvāsa
4. hasrat indrawi
(kāmacchanda)
5. niat jahat
(vyāpāda/byāpāda)
arahā tidak ada 6. nafsu punarbawa
di alam materi
(rūparāga)
7. nafsu punarbawa
di alam nonmateri
(arūparāga)
8. kesombongan
(māna)
9. kebingungan
(uddhacca)
10. ketidaktahuan
(avijjā)
belenggu
tinggi

Alih-alih sekadar diartikan sebagai keangkuhan superioritas, Suttapiṭaka mendefinisikan māna sebagai segala bentuk pengukuran identitas diri dengan orang lain. Secara taksonomi, konsep ini dirincikan di dalam Saṅgīti Sutta (DN 33) menjadi tiga kategori: pemikiran "aku lebih baik" (seyyo'hamasmi), "aku setara" (sadiso'hamasmi), dan "aku lebih buruk" (hīno'hamasmi).[4] Selain wujud kasarnya yang sering dikaitkan dengan keangkuhan pandangan filosofis seperti yang dikritik melalui Pasūra Sutta (Snp 4.8) dan Māgandiya Sutta (Snp 4.9) dalam kitab Suttanipāta,[b] berbagai sutta juga menyoroti mekanisme kognitif māna yang paling dalam, yakni asmi-māna (insting halus bahwa "aku ada"). Sebagaimana diuraikan secara komprehensif dalam Khemaka Sutta (SN 22.89), insting eksistensial ini adalah residu egoistik yang masih tersisa di bawah sadar seorang praktisi tingkat lanjut (anāgāmī), bahkan setelah mereka berhasil mematahkan pandangan salah tentang jati diri (sakkāya-diṭṭhi).[c]

Tradisi Abhidhamma

Bagian dari Abhidhamma Theravāda
52 Cetasika
250px-Tilted_heraldic_lotus.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme Theravāda
6 sesekali (pakiṇṇaka)
14 tidak baik (akusala)
4 tidak baik universal (akusalasādhāraṇa)
3 keserakahan (lobha)
4 kebencian (dosa)
3 yang terakhir
icon PortalBuddhisme

Nina van Gorkom menjelaskan:

Ada kesombongan atau keangkuhan ketika kita menganggap diri kita penting. Oleh karena kesombongan, kita mungkin membandingkan diri kita dengan orang lain. Ada kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain. Kita mungkin percaya bahwa kesombongan hanya ada ketika kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain, tetapi ini tidak benar. Ada semacam sikap menjunjung tinggi diri kita sendiri, membuat diri kita penting, sementara kita membandingkan diri kita dengan orang lain, tidak peduli dalam hal apa pun, dan itulah kesombongan.[8]

Dengan demikian, ada tiga jenis māna yang diidentifikasi, yakni kesombongan ketika kita menganggap diri kita lebih baik, setara, atau lebih rendah dari orang lain.

Kitab Aṭṭhasālinī (II, Bagian IX, Bab III, 256) memberikan definisi:

...Di sini, māna adalah khayalan (anggapan, imajinasi yang sia-sia). Ia memiliki sifat sombong sebagai cirinya, memuji diri sendiri sebagai fungsinya, keinginan untuk mempromosikan diri sendiri bagaikan sebuah panji (bendera identitas) sebagai manifestasinya, keserakahan yang tidak terasosiasi dengan pandangan-salah sebagai sebab-langsungnya, dan harus dianggap sebagai (suatu bentuk) kegilaan.[8]

Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan bahwa māna didefinisikan dalam empat batasan:[9]

  • Karakteristik: meninggikan atau menegakkan diri sendiri (unnati-lakkhaṇa).
  • Fungsi: berusaha untuk memuji diri sendiri (sampaggaha-rasa).
  • Manifestasi: menonjolkan diri (ketukamyatāpaccupaṭṭhāna).
  • Sebab-terdekat: keserakahan yang tidak terkait dengan pandangan-salah (diṭṭhivippayuttalobhapadaṭṭhāna).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa māna adalah faktor-mental yang membanggakan dirinya sendiri atau angkuh (maññatīti 'māno; Dhs-A 256), dan Buddhisme mengenal sembilan māna, yaitu:

  • Menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain (seyyohamasmi).
  • Menganggap diri sendiri sama seperti orang lain (sadisohamasmi).
  • Menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain (hīnohamasmi).

Tiga bentuk māna di atas bisa muncul berkaitan dengan keadaan di masa lalu, masa depan dan masa sekarang; dengan demikian, didapatkan sembilan variasi dari māna.[9]

Mahāyāna

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu māna? Māna adalah pikiran yang membesar-besarkan hal-hal yang mudah rusak dan fungsinya adalah menjadi dasar untuk bersikap tidak hormat dan frustrasi.[10]

Herbert Guenther menjelaskan:

Kesombongan adalah peristiwa mental yang merupakan semacam pikiran yang membesar sehingga menjadikan apa pun yang sesuai, seperti kekayaan atau pengetahuan, menjadi dasar māna.[10]

Alexander Berzin menjelaskan:

Kesombongan (nga-rgyal) adalah keadaan batin yang sombong (khengs-pa) yang didasarkan pada pandangan yang keliru terhadap hubungan-hubungan yang sementara (‘jig-lta). [...] Ia berfungsi untuk membuat kita tidak menghargai orang lain atau tidak menghormati kualitas baik orang lain (mi-gus-pa), dan mencegah kita mempelajari apa pun.[11]

Catatan

  1. ↑ Nyanatiloka merangkum posisi māna secara doktrinal sebagai belenggu keenam (saṁyojana) dan salah satu dari tujuh kecenderungan laten (anusaya).[3]
  2. ↑ Dalam pengantarnya untuk bab Aṭṭhakavagga, Bhikkhu Bodhi menyoroti bagaimana perdebatan intelektual sering kali didorong oleh ego dan māna.[5]
  3. ↑ Catatan terjemahan Bhikkhu Bodhi untuk Khemaka Sutta secara spesifik membedah asmi-māna sebagai ilusi sisa eksistensi diri (residual conceit).[6] Kajian serupa juga dapat dilihat dalam terjemahan Thanissaro Bhikkhu.[7]

Referensi

Daftar pustaka

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan