Kamis, 01 Oktober 2026
23:20 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti

Paritta

Bagikan:
Artikel ini berisi tentang lantunan syair dalam Buddhisme Theravāda. Untuk lantunan syair Mahāyāna dan secara umum, lihat Dhāraṇī.
Terjemahan dari
paritta
Indonesiaperlindungan
Inggrisprotection, safeguard
Paliparitta
Sanskertaparitrana
Myanmarပရိတ်
(Parit)

(MLCTS: pəjeiʔ)
Thaiปริตร
RTGS: parit
Khmerបរិត្ត
(UNGEGN: Paret)
Sinhalaපිරිත්
(pirit)
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Paritta (KBBI;[1] Pali: paritta, "perlindungan" atau "penjagaan"[2]) mengacu pada syair-syair Buddhis tertentu, biasanya diambil dari Tripitaka Pali, kitab komentar (aṭṭhakathā), kitab subkomentar (ṭīkā), atau gubahan seorang biku senior,[3] yang dibacakan sebagai syair perlindungan untuk menangkal kemalangan atau bahaya.[4] Paritta juga mengacu pada praktik umat Buddha dalam melafalkan syair-syair tersebut. Praktik pembacaan dan pendengaran paritta ini sudah muncul sejak masa awal Buddhisme.[5]

Beberapa koleksi bacaan paritta yang umum ditemui dalam dunia Theravāda bersumber dari kitab Khuddakapāṭha dalam Khuddakanikāya, Tripitaka Pali.[6] Beberapa bagian lainnya dikompilasi dari berbagai syair yang bersumber dari berbagai kitab, seperti Saṁyuttanikāya, Aṅguttaranikāya, dan kitab-kitab kepustakaan Pali lainnya (baik kanonis maupun nonkanonis).

Kegunaan

Dalam kepustakaan Pali, pembacaan paritta sangat disarankan oleh Sang Buddha karena pembacaan paritta dapat memberikan perlindungan dari kesukaran dan kemalangan bagi pembaca dan pendengarnya.[7]

Diyakini pula secara luas bahwa pembacaan paritta sepanjang malam oleh para biku di wihara dapat membawa ketenangan dan kedamaian bagi suatu masyarakat. Pembacaan paritta biasa pula dilakukan ketika ada peristiwa-peristiwa baik, seperti pemberkatan rumah baru, peresmian wihara baru, pengukuhan atau penyakralan rupang Buddha, pemberkatan bagi mereka yang mendengarkannya, dan lain-lain. Selain itu, paritta juga biasa dibacakan ketika ada peristiwa-peristiwa yang kurang menguntungkan, seperti sakit, kematian, kejadian bencana, dan lain-lain. Pembacaan paritta juga dipercayai dapat menghalau dan menentramkan makhluk-makhluk jahat.[7]

Jenis isi

Dalam Tripitaka Pali dan kepustakaan Pali lainnya, beberapa jenis syair dalam paritta diidentifikasi sebagai berikut.

Penghormatan

Lihat pula: Puja (Buddhisme)

Biasanya dalam banyak paritta, pemberian hormat atau penghormatan kepada Sang Buddha, atau Triratna secara keseluruhan, selalu dilibatkan. Contoh dari bentuk penghormatan kepada Sang Buddha dapat dilihat di Ratana Sutta (Snp 2.1 dan Kp 7) pada ayat ke-15 sampai ke-17. Berikut ini merupakan ayat ke-15:

Yānīdha bhūtāni samāgatāni, bhummāni vā yāni va antalikkhe; Tathāgataṁ deva-manussa-pūjitaṁ, Buddhaṁ namassāma suvatthi hotu.
(Makhluk apapun yang berada di sini, baik dari dunia maupun ruang angkasa. Marilah bersama-sama kita menghormati Sang Buddha, yang dipuja dan dipuji oleh para dewa dan manusia. Semoga kita berbahagia.)[8]

Permohonan perlindungan

Dalam beberapa ayat paritta, terdapat juga ayat yang berisi tentang permohonan perlindungan kepada Sang Buddha, seperti dalam Candima Sutta (SN 2.9):

"Namo te buddha vīratthu, vippamuttosi sabbadhi; Sambādhapaṭipannosmi, tassa me saraṇaṃ bhavā”ti.
(Hormat kepada-Mu, Buddha! Pahlawanku, Engkau terbebaskan di mana pun juga. Aku telah menjadi tawanan. Oleh karena itu, mohon jadilah perlindunganku.)[9][10]

Pemberkatan

Jenis isi paritta lainnya bergantung pada kebajikan dari seseorang yang membaca paritta dalam Tripitaka Pali, alih-alih merujuk kepada kebajikan Sang Buddha. Jenis paritta ini dapat dijumpai pada Aṅgulimāla Sutta (MN 86) yang mengisahkan tentang pembunuh yang kemudian menjadi seorang biku, yaitu Aṅgulimāla. Pada suatu pagi, Aṅgulimāla menjumpai perempuan yang tengah melahirkan bayi yang cacat, melihat itu dia tergerak untuk memberikan pertolongan, kemudian dia bertanya kepada Sang Buddha bagaimana dia bisa membantu perempuan dan bayi itu, kemudian Sang Buddha mengatakan kepadanya untuk memberkati perempuan dan bayi itu dengan kebajikan yang telah diperbuatnya:

"Yatohaṁ, bhagini, ariyāya jātiya jāto, nābhijānāmi sañcicca pāṇaṁ jīvitā voropetā, tena saccena sotthi te hotu, sotthi gabbhassā"ti. Atha khvāssā itthiyā sotthi ahosi, sotthi gabbhassa.
("Saudari, sejak saya terlahir dengan kelahiran mulia, Saya tidak ingat pernah dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga Anda sejahtera dan bayi Anda sejahtera!" Kemudian perempuan dan bayinya itu menjadi sejahtera.)[11][12][13]

Ayat tersebut kemudian sering dibacakan sebagai bentuk pemberkatan kepada para ibu hamil dalam tradisi Buddhisme hingga saat ini.[14][15]

Lantunan umum

Daftar koleksi paritta yang umum dilantunkan saat praktik puja bakti dalam tradisi Saṅgha Theravāda Indonesia adalah sebagai berikut:[16]

  1. Namakāra-pāṭha
  2. Pūjā-kathā
  3. Pubbabhāga-namakāra
  4. Tisaraṇa
  5. Pañcasīla
  6. Anussati:
  7. Saccakiriya-gāthā
  8. Sutta pilihan:
  9. Brahmavihāra-pharaṇā
  10. Abhiṇhapaccavekkhaṇa-pāṭha
  11. Bhāvanā
  12. Dhammadesanā
  13. Ettāvatātiādipattidāna atau Pattidāna
  14. Namakāra-pāṭha

Namakāra-pāṭha

Artikel utama: Namaskara (Buddhisme)

Arahaṁ Sammāsambuddho bhagavā. Buddhaṁ bhagavantaṁ abhivādemi.

Svākkhāto bhagavatā dhammo. Dhammaṁ namassāmi.

Supaṭipanno bhagavato sāvakasaṅgho. Saṅghaṁ namāmi.

Sang Bhagavā, Yang Mahasuci, Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna. Aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagavā. (namakāra)

Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā. Aku bersujud di hadapan Dhamma. (namakāra)

Sangha Siswa Sang Bhagavā telah bertindak sempurna. Aku bersujud di hadapan Saṅgha. (namakāra)

Pūjā-kathā

Artikel utama: Puja (Buddhisme)

Yamamha kho mayaṁ bhagavantaṁ saraṇaṁ gatā, yo no bhagavā satthā, yassa ca mayaṁ bhagavato dhammaṁ rocema, imehi sakkārehi taṁ bhagavantaṁ sasaddhammaṁ sasāvakasaṅghaṁ abhipūjayāma.

Kami berlindung kepada Sang Bhagavā. Sang Bhagavā guru agung kami. Dalam Dhamma Sang Bhagavā kami berbahagia. Dengan persembahan ini, kami memuja Sang Bhagavā, beserta Dhamma dan Saṅgha.

Pubbabhāga-namakāra

Namo tassa bhagavato arahato sammāsambuddhassa
(tikkhattuṁ)

Terpujilah Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (tiga kali)

—Kp 1

Tisaraṇa

Artikel utama: Triratna

Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Dutiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Dutiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Dutiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Tatiyampi Buddhaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Tatiyampi Dhammaṁ saraṇaṁ gacchāmi.
Tatiyampi Saṅghaṁ saraṇaṁ gacchāmi.

Aku berlindung kepada Buddha.
Aku berlindung kepada Dhamma.
Aku berlindung kepada Saṅgha.

Kedua kalinya aku berlindung kepada Buddha.
Kedua kalinya aku berlindung kepada Dhamma.
Kedua kalinya aku berlindung kepada Saṅgha.

Ketiga kalinya aku berlindung kepada Buddha.
Ketiga kalinya aku berlindung kepada Dhamma.
Ketiga kalinya aku berlindung kepada Saṅgha.

—Kp 1

Pañcasīla

Artikel utama: Pancasila (Buddhisme)

1) Pāṇātipātā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
2) Adinnādānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
3) Kāmesu micchācārā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
4) Musāvādā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.
5) Surā-meraya-majja-pamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhā-padaṁ samādiyāmi.

1) Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
2) Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan.
3) Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila.
4) Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar (bohong).
5) Aku bertekad melatih diri menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

—DN 5; SN 56.71-74; Iti 74; dan lain-lain

Buddhānussati

Iti pi so Bhagavā arahaṁ sammāsambuddho, vijjācaraṇasampanno sugato lokavidū, anuttaro purisa-damma-sārathi satthā deva-manussānaṁ, Buddho Bhagavā'ti.

Karena itulah Sang Bhagavā, Beliau adalah Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya, Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna, Pengetahu Segenap Alam, Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya, Guru para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan.

—AN 11.11-12 dan lain-lain

Dhammānussati

Svākkhāto Bhagavatā Dhammo,
sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,
opanayiko paccattaṁ veditabbo viññūhī'ti.

Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā,
terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan,
patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.

—AN 11.11-12 dan lain-lain

Saṅghānussati

Supaṭipanno Bhagavato sāvaka-saṅgho,
Uju-paṭipanno Bhagavato sāvaka-saṅgho,
Ñāya-paṭipanno Bhagavato sāvaka-saṅgho,
Sāmīci-paṭipanno Bhagavato sāvaka-saṅgho,
Yadidaṁ cattāri purisa-yugāni aṭṭha purisa-puggalā:
Esa Bhagavato sāvaka-saṅgho,
Āhuneyyo pāhuneyyo dakkhiṇeyyo añjali-karaṇīyo,
Anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā'ti.

Saṅgha siswa Sang Bhagavā telah bertindak baik.
Saṅgha siswa Sang Bhagavā telah bertindak lurus.
Saṅgha siswa Sang Bhagavā telah bertindak benar.
Saṅgha siswa Sang Bhagavā telah bertindak patut.
Mereka adalah empat pasang makhluk, terdiri dari delapan jenis makhluk suci.
Itulah Saṅgha siswa Sang Bhagavā;
Patut menerima pujaan, patut menerima suguhan,
patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan;
ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia.

—AN 11.11-12 dan lain-lain

Saccakiriya-gāthā

Artikel utama: Pernyataan kebenaran

Natthi me saraṇaṁ aññaṁ
Buddho me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi me/te hotu sabbadā.

Natthi me saraṇaṁ aññaṁ
Dhammo me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi me/te hotu sabbadā.

Natthi me saraṇaṁ aññaṁ
Saṅgho me saraṇaṁ varaṁ
Etena sacca-vajjena
Sotthi me/te hotu sabbadā.

Tiada perlindungan lain bagiku.
Sang Buddha-lah pelindungku nan luhur.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
Semoga setiap saat aku/Anda selamat sejahtera.

Tiada perlindungan lain bagiku.
Dhamma-lah pelindungku nan luhur.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
Semoga setiap saat aku/Anda selamat sejahtera.

Tiada perlindungan lain bagiku.
Saṅgha-lah pelindungku nan luhur.
Berkat pernyataan kebenaran ini,
Semoga setiap saat aku/Anda selamat sejahtera.

Maṅgala Sutta

Artikel utama: Maṅgala Sutta

Karaṇīya Mettā Sutta

Artikel utama: Mettā Sutta

Brahmavihāra-pharaṇā

Artikel utama: Brahmawihara

(Mettā)
Ahaṁ sukhito homi
Niddukkho homi
Avero homi
Abyāpajjho homi
Anīgho homi
Sukhī attānaṁ pariharāmi.

Sabbe sattā sukhitā hontu
Niddukkhā hontu
Averā hontu
Abyāpajjhā hontu
Anīghā hontu
Sukhī attānaṁ pariharantu.

(Karuṇā)
Sabbe sattā
dukkhā pamuccantu.

(Muditā)
Sabbe sattā
ma laddha-sampattito
vigacchantu.

(Upekkhā)
Sabbe sattā
kammassakā
kamma-dāyādā
kamma-yonī
kamma-bandhū
kamma-paṭisaraṇā.
Yaṁ kammaṁ karissanti
kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā,
tassa dāyādā bhavissanti.

(Cinta-kasih)
Semoga aku berbahagia,
bebas dari detia,
bebas dari mendengki dan didengki,
bebas dari menyakiti dan disakiti,
bebas dari derita jasmani dan batin.
Semoga aku dapat menjalankan hidup dengan bahagia.

Semoga semua makhluk berbahagia,
bebas dari derita,
bebas dari mendengki dan didengki,
bebas dari menyakiti dan disakiti,
bebas dari derita jasmani dan batin.
Semoga mereka dapat menjalankan hidup dengan bahagia.

(Belas-kasih)
Semoga semua makhluk bebas dari derita.

(Turut-bahagia)
Semoga semua makhluk
tak kehilangan kesejahteraan yang telah mereka peroleh.

(Keseimbangan-batin)
Semua makhluk adalah pemilik perbuatan mereka sendiri,
terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri,
lahir dari perbuatan mereka sendiri,
berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri,
tergantung pada perbuatan mereka sendiri.
Perbuatan apa pun yang akan mereka lakukan,
baik ataupun buruk;
perbuatan itulah yang akan mereka warisi.

Abhiṇhapaccavekkhaṇa-pāṭha

Artikel utama: Maraṇasati

Jarā-dhammomhi
jaraṁ anatīto.
Byādhi-dhammomhi
byādhiṁ anatīto.
Maraṇa-dhammomhi
maraṇaṁ anatīto.

Sabbehi me piyehi manāpehi
nānā-bhāvo vinā-bhāvo.

Kammassakomhi
kamma-dāyādo
kamma-yoni
kamma-bandhu
kamma-paṭisaraṇo.

Yaṁ kammaṁ karissāmi
kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā
tassa dāyādo bhavissāmi.
Evaṁ amhehi abhiṇhaṁ paccavekkhitabbaṁ.

Aku wajar mengalami usia tua.
Aku takkan mampu menghindari usia tua.

Aku wajar menyandang penyakit.
Aku takkan mampu menghindari penyakit.

Aku wajar mengalami kematian.
Aku takkan mampu menghindari kematian.

Segala milikku yang kucintai dan kusenangi
wajar berubah, wajar terpisah dariku.

Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,
terwarisi oleh perbuatanku sendiri,
lahir dari perbuatanku sendiri,
berkerabat dengan perbuatanku sendiri,
bergantung pada perbuatanku sendiri.
Perbuatan apa pun yang akan kulakukan,
baik ataupun buruk;
perbuatan itulah yang akan kuwarisi.

Demikian hendaknya kerap kali kita renungkan.

—AN 5.57 dan lain-lain

Ettāvatātiādipattidāna

Lihat pula: Pelimpahan jasa

Ettāvatā ca amhehi
Sambhataṁ puññasampadaṁ
Sabbe devānumodantu
Sabbasampatti-siddhiyā.

Ettāvatā ca amhehi
Sambhataṁ puññasampadaṁ
Sabbe bhūtānumodantu
Sabbasampatti-siddhiyā.

Ettāvatā ca amhehi
Sambhataṁ puññasampadaṁ
Sabbe sattānumodantu
Sabbasampatti-siddhiyā.

Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā
Devā nāgā mahiddhikā
Puññaṁ taṁ anumoditvā
Rakkhantu lokasantikaṁ.

Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā
Devā nāgā mahiddhikā
Puññaṁ taṁ anumoditvā
Imaṁ rakkhantu raṭṭhakaṁ.

Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu.
Sukhitā hontu ñātayo.
Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu.
Sukhitā hontu ñātayo.
Idaṁ vo ñātīnaṁ hotu.
Sukhitā hontu ñātayo.

Devo vassatu kālena.
Sassasampatti hotu ca.
Phīto bhavatu loko ca.
Rājā bhavatu dhammiko.

Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā
Devā nāgā mahiddhikā
Puññaṁ taṁ anumoditvā
Ciraṁ rakkhantu sāsanaṁ.

Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā
Devā nāgā mahiddhikā
Puññaṁ taṁ anumoditvā
Imaṁ rakkhantu desanaṁ.

Ākāsaṭṭhā ca bhummaṭṭhā
Devā nāgā mahiddhikā
Puññaṁ taṁ anumoditvā
Ciraṁ rakkhantu maṁ pare.

Semoga para dewa turut bersukacita
atas timbunan kebajikan
yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini
demi keberuntungan dan keberhasilan.

Semoga para makhluk halus turut bersukacita
atas timbunan kebajikan
yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini
demi keberuntungan dan keberhasilan.

Semoga semua makhluk hidup turut bersukacita
atas timbunan kebajikan
yang telah kami capai dan timbun sebanyak ini
demi keberuntungan dan keberhasilan.

Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi,
juga para naga (dewa yang hidup di air), mereka yang perkasa;
setelah turut bersukacita atas jasa ini,
semoga memelihara ketenteraman dunia.

Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi,
juga para naga, mereka yang perkasa;
setelah turut bersukacita atas jasa ini,
semoga melindungi negeri (Indonesia) ini.

Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga.
Semoga sanak keluarga berbahagia.
Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga.
Semoga sanak keluarga berbahagia.
Semoga timbunan jasa ini melimpah pada sanak keluarga.
Semoga sanak keluarga berbahagia.

Semoga hujan turun menurut waktunya.
Semoga tanaman tumbuh dengan subur.
Semoga dunia menjadi makmur.
Dan semoga pemerintah (raja) bertindak benar.

Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi,
juga para naga, mereka yang perkasa;
setelah turut bersukacita atas jasa ini,
semoga selalu melindungi Ajaran.

Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi,
juga para naga, mereka yang perkasa;
setelah turut bersukacita atas jasa ini,
semoga selalu melindungi pembabaran Dhamma.

Para dewa yang bersemayam di angkasa dan di bumi,
juga para naga, mereka yang perkasa;
setelah turut bersukacita atas jasa ini,
semoga selalu melindungi semuanya.

Pattidāna

Lihat pula: Pelimpahan jasa

Puññassidāni katassa
Yānaññāni katāni me
Tesañca bhāgino hontu
Sattānantāp-pamāṇakā.

Ye piyā guṇavantā ca
Mayhaṁ mātāpitādayo
Diṭṭhā me cāpyadiṭṭhā vā
Aññe majjhattaverino.

Sattā tiṭṭhanti lokasmiṁ
Tebhummā catuyonikā
Pañcekacatuvokārā
Saṁsarantā bhavābhave.

Ñātaṁ ye pattidānamme
Anumodantu te sayaṁ
Ye cimaṁ nappajānanti
Devā tesaṁ nivedayuṁ.

Mayā dinnāna puññānaṁ
Anumodanahetunā
Sabbe sattā sadā hontu
Averā sukhajīvino.
Khemappadañca pappontu
Tesāsā sijjhataṁ subhā.

Semoga jasa-jasa yang kulakukan
kini atau di waktu yang lain
melimpah kepada semua makhluk,
tiada batas, tiada hingga;

yakni kepada mereka yang kukasihi, yang berjasa,
seperti ayah dan ibuku,
kepada mereka yang kukenal ataupun yang tidak;
dan kepada mereka yang bersikap netral atau bermusuhan.

Makhluk-makhluk yang berada di alam semesta
di ketiga alam, keempat jenis kelahiran
terdiri dari lima, satu, ataupun empat gugusan pembentuk,
yang mengembara di alam besar dan alam kecil;

atas pelimpahan jasaku ini,
semoga mereka yang mengetahui, turut bersukacita;
bagi mereka yang tidak mengetahui,
semoga para dewa memberitahukannya.

Berkat turut bersukacita
atas jasa-jasa yang kulimpahkan ini,
semoga semua makhluk senantiasa bebas dari kebencian
serta hidup dalam kebahagiaan.
Semoga mereka mendapatkan jalan kedamaian.
Semoga cita-cita luhur mereka tercapai.

—Raja Mongkut,
pendiri Dhammayuttika Nikāya

Referensi

  1. ↑ "Entri paritta". KBBI VI Daring. Diakses tanggal 2024-12-23.
  2. ↑ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 426, entri untuk "Paritta2" (diakses 14 Agustus 2008 dari "U. Chicago" di , diarsipkan di 10 Juli 2012 di [pranala dihapus]) menyajikan terjemahan berikut, yakni "perlindungan, penjagaan; ajian pelindung, pereda sakit, penangkal." Lihat pula Piyadassi (1999a) yang menerjemahkan paritta sebagai "perlindungan," dan Anandajoti (2004) yang menerjemahkannya sebagai "penjaga(-an)."
  3. ↑ Abhijato, Bhikkhu (2024-09-25), Pengenalan Kitab Suci Agama Buddha oleh Bhikkhu Abhijato (dalam video yang diunggah TheResidentofdhamma), diakses tanggal 2024-11-25
  4. ↑ The book of protection: the Catu-bhāṇavāra, or, Pirit Potha (PDF). Diterjemahkan oleh Piyadassi (Edisi 2). Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. 2012. ISBN 978-955-24-0377-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Piyadassi (1999a). Access to Insight.
  6. ↑ Von Hinüber, Oskar (1997). A Handbook of Pali Literature (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1st Indian). New Delhi: Munishiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd. hlm. 42–4. ISBN 81-215-0778-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. 1 2 "Makna Paritta" (PDF). DhammaCitta. Diakses tanggal 16 Desember 2019.
  8. ↑ "Ratana Sutta". Sariputta. Diakses tanggal 10 Desember 2019.
  9. ↑ Anggara, Indra. "SN 2.9: Candimasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-12-23.
  10. ↑ "Sagatha Vaggo" (PDF). hlm. 32–33. Diakses tanggal 20 Desember 2019.
  11. ↑ Majjhimapaṇṇāsapāḷi, Majjhimanikāye (dari Tipitaka.app). Sariputta.
  12. ↑ "Aṅgulimāla Sutta – Terjemahan Bahasa Indonesia". Samaggi Phala. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
  13. ↑ "Aṅgulimāla Sutta". Sariputta. Diakses tanggal 22 Desember 2019.
  14. ↑ Piyadassi (1999a), "Preface." Access to Insight.
  15. ↑ Sayadaw U. Silananda, Paritta Pali Protective Verses.
  16. ↑ Saṅgha Theravāda Indonesia; Mapanbudhi (sekarang Magabudhi) (1996). Paritta Suci: Kumpulan Paritta dan Penggunaannya dalam Upacara-Upacara (PDF) (Edisi 7). Malang: Yayasan Dhammadipa Arama.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

Pranala luar

Lihat pula

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan