Minggu, 20 September 2026
12:54 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak

Avijjā

Istilah Buddhisme

Untuk konsep serupa dalam agama Hindu, lihat Avidyā (Hindu).
Artikel ini bukan mengenai Moha (Buddhisme).
Terjemahan dari
avijjā
Indonesiaketidaktahuan,
kebodohan
Inggrisignorance, misconceptions
Paliavijjā
(Brah.: 𑀅𑀯𑀺𑀚𑁆𑀚𑀸)
Sanskertaavidyā
(Dev: अविद्या)
Tionghoa無明
(Pinyin: wú míng)
Jepang無明
(mumyō)
Korea(Hangeul) 무명
(Hanja) 無明

(RR: mu myeong)
Tibetམ་རིག་པ
(Wylie: ma rig pa;
THL: ma rigpa
)
Myanmarအဝိဇ္ဇာ
(MLCTS: əweɪʔzà)
Thaiอวิชชา
(RTGS: awitcha)
Vietnamvô minh
Khmerអវិជ្ជា, អវិទ្យា
(UNGEGN: âvĭchchéa, âvĭtyéa)
Sinhalaඅවිද්‍යාව
Daftar Istilah Buddhis
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, avijjā (Pali; Sanskerta: अविद्या, avidyā), diterjemahkan sebagai ketidaktahuan, kebodohan, atau ketidakbijaksanaan,[1][2][3] merujuk pada kesalahpahaman atas hakikat realitas, khususnya tentang ketidakkekalan (anicca) dan tanpa atma (anatta).[2][4][5] Avijjā sinonim dengan faktor-mental moha (delusi, kekeliruan, kebodohan batin) dalam Abhidhamma Theravāda.[6] Avijjā adalah akar penyebab dari dukkha (duka, penderitaan, rasa sakit, ketidakpuasan),[7] dan dinyatakan sebagai mata rantai pertama, dalam Kemunculan Bersebab, dari sebuah proses yang mengarah pada punarbawa.[8]

Avijjā disebutkan dalam ajaran Buddha dalam berbagai konteks:

Gambaran umum

Avijjā dijelaskan dengan berbagai cara atau pada tingkat yang berbeda dalam ajaran atau tradisi Buddhis yang berbeda. Pada tingkat yang paling mendasar, ini adalah ketidaktahuan atau salah pemahaman tentang hakikat realitas;[a] lebih spesifik lagi tentang hakikat ajaran Tanpa-Diri dan sebab-musabab yang saling bergantungan.[2][5][12] Avijjā tidak berarti "kekurangan informasi," menurut Peter Harvey, melainkan "salah persepsi tentang realitas yang lebih mendalam".[9] Gethin menyebut avijjā sebagai "kesalahpahaman positif", bukan sekadar ketiadaan pengetahuan.[13] Ini adalah konsep kunci dalam agama Buddha yang menyatakan bahwa ketidaktahuan terhadap hakikat realitas, alih-alih dosa sebagaimana dalam agama-agama Abrahamik, dianggap sebagai akar mendasar dari dukkha.[14] Lenyapnya avijjā ini membawa pada akhir dari dukkha.[15]

Meskipun istilah avidyā atau avijjā yang ditemukan dalam agama Buddha dan sistem pemikiran India lainnya sering diterjemahkan sebagai "ignorance (ketidaktahuan)" dalam bahasa Inggris, Alex Wayman menyatakan bahwa ini adalah salah terjemahan karena maknanya lebih dari sekadar ignorance. Ia menyarankan istilah "unwisdom (ketidakbijaksanaan)" sebagai padanan yang lebih baik.[16] Istilah tersebut tidak hanya mencakup ketidaktahuan karena kegelapan, tetapi juga pengaburan, kesalahpahaman, salah mengira ilusi sebagai realitas, atau yang tidak kekal sebagai kekal, atau penderitaan sebagai kebahagiaan, atau bukan-diri sebagai diri (delusi).[16] Pengetahuan yang salah adalah bentuk lain dari avidyā atau avijjā, menurut Wayman.[16]

“Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terpelajar, yang bukan merupakan salah satu di antara para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan salah satu di antara orang-orang superior dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk. Ia menganggap perasaan sebagai diri … persepsi sebagai diri … bentukan-bentukan sebagai diri … kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.

“Demikianlah cara menganggap segala sesuatu dan [gagasan] ‘Aku’ ini belum lenyap dalam dirinya. Karena ‘aku’ belum lenyap, di sana terjadi suatu turunan dari lima indriaindria mata, indria telinga, indria hidung, indria lidah, indria badan. Ada, para bhikkhu, pikiran, ada fenomena-fenomena pikiran, ada unsur ketidaktahuan. Ketika kaum duniawi yang tidak terpelajar terkontak oleh perasaan yang muncul dari kontak-ketidaktahuan, maka ‘aku’ muncul padanya; ‘aku adalah ini’ muncul padanya; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’, dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini muncul padanya.

“Lima indria itu tetap ada di sana, para bhikkhu, namun sehubungan dengan lima indria itu, siswa mulia yang terpelajar meninggalkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan sejati. Dengan meluruhnya ketidaktahuan dan munculnya pengetahuan sejati, ‘aku’ tidak muncul padanya; ‘aku adalah ini’ tidak muncul padanya’; ‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’ dan ‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’, dan ‘aku akan memiliki persepsi’ dan ‘aku akan menjadi tanpa persepsi’ dan ‘aku akan menjadi bukan memiliki persepsi juga bukan tanpa persepsi’—hal-hal ini tidak muncul padanya.”

Samanupassanā Sutta, SN 22.47
terj. Indra Anggara


Dalam konteks lain, avidyā atau avijjā mencakup ketidaktahuan atau ketidakpahaman atas hakikat ketidakkekalan (anicca) dari berbagai fenomena, Empat Kebenaran Mulia,[9] ajaran Buddhis lainnya, atau jalan untuk mengakhiri penderitaan.[17][18] Sonam Rinchen menyatakan ketidaktahuan dalam konteks dua belas mata rantai (Kemunculan Bersebab) bahwa, "Ketidaktahuan adalah kebalikan dari pemahaman bahwa seseorang atau fenomena lain tidak memiliki eksistensi intrinsik. Mereka yang dipengaruhi oleh ketidaktahuan ini menciptakan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan mereka ke dalam keberadaan duniawi lanjutan."[19] Tidak memahami Empat Kebenaran Mulia, atau implikasinya, juga merupakan avijjā.[20]

Dalam tradisi-tradisi

Theravāda

  12 Mata Rantai (nidāna) 
Kemunculan Bersebab:
Ketidaktahuan (avijjā)
Formasi (saṅkhārā)
Kesadaran (viññāṇa)
Batin-&-Jasmani (nāmarūpa)
6 Landasan Indra (saḷāyatana)
Kontak (phassa)
Perasaan (vedanā)
Nafsu (taṇhā)
Kemelekatan (upādāna)
Kemenjadian (bhava)
Kelahiran (jati)
Tua & Mati (jarā-maraṇa)

Bhikkhu Bodhi menyatakan bahwa avijjā merupakan bagian penting dari ajaran Abhidhamma Theravāda tentang kemunculan yang bergantung (paṭiccasamuppāda) pada kondisi yang menopang siklus kelahiran dan kematian. Salah satu kondisi tersebut adalah formasi karma yang muncul dari avijjā. Dengan kata lain, Bodhi menyatakan, ketidaktahuan (avijjā) mengaburkan "persepsi tentang hakikat sejati segala sesuatu sebagaimana katarak mengaburkan persepsi objek yang terlihat". Dalam literatur Suttanta, ketidaktahuan ini mengacu pada ketidaktahuan tentang Empat Kebenaran Mulia. Dalam literatur Abhidhamma, selain atas Empat Kebenaran Mulia, avijjā juga merujuk pada ketidaktahuan atas 'kehidupan pra-kelahiran lampau' dan 'kehidupan masa depan pasca-kematian' seseorang, dan atas kemunculan yang bergantung.[21]

Mahāyāna

Tradisi Mahāyāna menganggap ketidaktahuan (avidyā) tentang hakikat realitas dan kehidupan lampau yang tak berawal sebagai sebuah kekuatan primordial (asali), yang hanya dapat dipatahkan melalui pengetahuan (prajñā) tentang Kekosongan (śūnyatā).[22] Namun, menurut Jens Braarvig, dibandingkan dengan tradisi Buddhis lainnya, avidyā tidak begitu ditekankan; sebaliknya, penekanan lebih diberikan pada upaya "mengonstruksi realitas ilusi" berdasarkan konseptualisasi, padahal realitas tertingginya adalah Kekosongan.[23]

Avidyā adalah kekotoran terbesar dan penyebab utama penderitaan serta kelahiran kembali. Pengetahuann tentang Kekosongan, menurut Garfield dan Edelglass, yaitu "ketiadaan sifat intrinsik (inherent nature) dari semua fenomena, termasuk diri, memutus kekotoran batin"; pengetahuan tentang Kekosongan tersebut menghasilkan pencerahan penuh.[24]

Vajrayāna

Tradisi Vajrayāna menganggap ketidaktahuan sebagai belenggu keterikatan dalam samsara, dan ajaran-ajarannya berfokus pada jalan Tantra di bawah bimbingan seorang guru untuk melenyapkan avidyā dan mencapai pembebasan dalam satu masa kehidupan.[25]

Avidyā diidentifikasi sebagai mata rantai pertama dari dua belas sebab musabab yang saling bergantungan—serangkaian mata rantai yang menjelaskan mengapa suatu makhluk bereinkarnasi dan tetap terikat dalam samsara, yaitu siklus kelahiran dan kematian berulang di enam alam kehidupan.[26]

Catatan

  1. Avijjā atau avidyā dapat didefinisikan pada tingkat yang berbeda; misalnya, dapat didefinisikan sebagai salah persepsi tentang hakikat realitas, atau sebagai tidak memahami empat kesunyataan mulia. Sebagai contoh: Jeffrey Hopkins menyatakan: "[Ketidaktahuan] bukan sekadar ketidakmampuan untuk menangkap kebenaran, tetapi sebuah salah pemahaman aktif terhadap status diri sendiri dan semua objek lainnya—pikiran atau tubuh sendiri, orang lain, dan sebagainya. Ini adalah konsepsi atau asumsi bahwa fenomena ada dengan cara yang jauh lebih konkret daripada yang sebenarnya. Berdasarkan salah pemahaman terhadap status orang dan benda ini, kita terseret ke dalam nafsu ragawi yang menyakitkan (rāga) dan kebencian (dosa)..."[10] Sonam Rinchen menyatakan: "Setiap perbuatan meninggalkan jejaknya di batin/pikiran, dan kemudian nafsu-keinginan serta kemelekatan mengaktifkan jejak tersebut untuk memunculkan hasilnya. Yang mendasari jenis perbuatan ini adalah ketidaktahuan kita, yaitu kesalahpahaman bawaan kita tentang diri, akar dari semua masalah kita.[11]

Referensi

  1. Keown 2013, hlm. 73.
  2. 1 2 3 Trainor 2004, hlm. 74.
  3. Robert Buswell & Donald Lopez 2013, hlm. 1070.
  4. Dan Lusthaus (2014). Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun. Routledge. hlm. 533–534. ISBN 978-1-317-97342-3.
  5. 1 2 Conze 2013, hlm. 39-40.
  6. Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. hlm. 546, 59, 68. ISBN 978-1-4008-4805-8.
  7. Robert Buswell & Donald Lopez 2013, hlm. 86.
  8. David Webster (31 Desember 2004). The Philosophy of Desire in the Buddhist Pali Canon. Routledge. hlm. 206. ISBN 978-1-134-27941-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. 1 2 3 Harvey 1990, hlm. 67.
  10. Dalai Lama (1992), hlm. 4 (from the Introduction by Jeffrey Hopkins)
  11. Sonam Rinchen (2006), p. 14.
  12. Williams & Tribe 2000, hlm. 66-67, Quote: Dari perspektif ini, Tanpa-Diri dan sebab-musabab yang saling bergantungan bersama-sama membentuk dua pilar gnosis (vidya) terakhir yang merupakan penawar bagi ketidaktahuan (avidya)..
  13. Gethin 1998, hlm. 150.
  14. Harvey 1990, hlm. 65-68.
  15. Edelglass 2009, hlm. 171.
  16. 1 2 3 Alex Wayman (1957). "The Meaning of Unwisdom (Avidya)". Philosophy East and West. 7 (1/2): 21–25. doi:10.2307/1396830. JSTOR 1396830.
  17. Johannes Bronkhorst (2009), Buddhist Teaching in India, Simon & Schuster, ISBN0-861715667, pages 40-43
  18. Peter Harvey 2013, hlm. 5, 40, 134-137.
  19. Sonam Rinchen (2006), p. 51.
  20. Ajahn Sucitto (2010), Kindle Locations 1125-1132.
  21. A Comprehensive Manual of Abhidhamma: The Abhidhammattha Sangaha, Bhikkhu Bodhi (2003), p. 295
  22. Bruno Petzold (1995). The Classification of Buddhism. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 259–260, 849. ISBN 978-3-447-03373-2.
  23. Guttorm Fløistad (2012). Philosophie asiatique/Asian philosophy. Springer. hlm. 201. ISBN 978-94-011-2510-9.
  24. Jay L. Garfield; William Edelglass (2011). The Oxford Handbook of World Philosophy. Oxford University Press. hlm. 288. ISBN 978-0-19-532899-8.
  25. Trainor 2004, hlm. 162.
  26. Peter Harvey (2015). Steven M. Emmanuel (ed.). A Companion to Buddhist Philosophy. John Wiley & Sons. hlm. 50–60. ISBN 978-1-119-14466-3.

Sumber-sumber

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Didahului oleh:
Jarāmaraṇa
12 mata rantai
Avijjā
Diteruskan oleh:
Saṅkhāra
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan