Kamis, 24 September 2026
23:26 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum

Asubha

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Asubha"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya
Bagian dari seri tentang
Buddhisme Theravāda
120px-Buddhism_dham_jak.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme
20px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalBuddhisme

Asubha kammaṭṭhāna[note 1] adalah pengembangan batin atau meditasi dengan cara merenungkan objek yang tidak indah dan menjijikkan. Ini merupakan jenis kammaṭṭhāna yang diajarkan secara khusus bagi orang-orang dengan kecenderungan nafsu indrawi yang kuat bertujuan untuk menyingkirkan kemelekatan atas nafsu tersebut.

Definisi

Kata "asubha" [note 2] berasal dari akar kata "na + subha" (tidak indah), yang merujuk pada objek yang menjijikkan. Di dalamnya mencakup sepuluh jenis mayat tidak bernyawa (benda mati) dan tiga puluh dua komponen atau bagian anatomi tubuh makhluk hidup (koṭṭhāsa) seperti rambut, bulu, dsb. Asubha bhāvanā adalah praktik mengembangkan batin agar karakteristik kekotoran atau kejijikan dari objek-objek asubha tersebut dapat muncul dan tergambar jelas di dalam pikiran.

Sepuluh jenis asubha

Berdasarkan berbagai sumber naskah, terdapat sepuluh jenis objek mayat (asubha) yang dikembangkan adalah:

  • Uddhumātaka - Mayat yang membengkak dan membesar setelah kematian.
  • Vinīlaka - Mayat yang membusuk hingga berwarna kebiruan atau kehitaman.
  • Vipubbaka - Mayat yang hancur dan mengeluarkan nanah dari luka-lukanya.
  • Vicchiddaka - Mayat yang terputus atau terbelah menjadi dua bagian di tengahnya.
  • Vikkhāyitaka - Mayat yang telah digigit, dikoyak, dan dimakan oleh binatang seperti gagak, anjing, atau burung bangkai.
  • Vikkhittaka - Mayat yang bagian-bagian tubuhnya (kaki, tangan, badan, kepala) terputus dan terlempar terpisah secara acak.
  • Hatavikkhittaka - Mayat yang dicincang atau ditusuk dengan senjata tajam hingga hancur dan tersebar luas.
  • Lohitaka - Mayat yang berlumuran darah yang mengalir atau menetes.
  • Puḷuvaka - Mayat yang telah dipenuhi dan digerogoti oleh belatung atau ulat bangkai.
  • Aṭṭhika - Kerangka tubuh atau bagian-bagian dari tulang belulang.

Metode pengembangan

Seorang pemeditasi yang merenungkan objek asubha harus memperhatikan dan mengamati objek tersebut sedemikian rupa agar terekam kuat dan muncul jelas di dalam pikiran, layaknya mengambil pertanda kasiṇa. Dalam proses perenungan ini, dua jenis nimitta dapat muncul di dalam batin:

  • Uggaha-nimitta: Gambaran mental yang muncul di dalam batin persis seperti apa yang dilihat oleh mata jasmani; rupa mayat tersebut tetap terlihat menjijikkan, kotor, dan mengerikan.
  • Paṭibhāga-nimitta: Gambaran mental yang muncul tidak lagi tampak menjijikkan atau mengerikan, melainkan berubah menjadi visual yang sangat halus, jernih, jatmika, dan menyenangkan bagi batin.

Tingkatan jhāna

Oleh karena objek asubha pada dasarnya bersifat kasar, meditasi ini hanya mampu mengantarkan praktisi hingga mencapai jhāna pertama. Jika praktisi ingin naik ke jhāna kedua dan tingkatan di atasnya, maka praktisi perlu mengalihkan fokus batin dari asubha-nimitta menuju aspek warna dari objek tersebut, yaitu mengubah praktik menjadi vaṇṇa-kasiṇa (kasiṇa warna). Dengan mengembangkan meditasi asubha-bhāvanā, persepsi indrawi atau kecenderungan pikiran terhadap kesenangan duniawi (kāma-saññā dalam kesenangan indrawi) dapat disingkirkan jauh-jauh dari batin.

Dua metode perenungan

Terdapat dua metode atau pendekatan yang dapat digunakan dalam merenungkan objek asubha:

  • Metode samatha: Merenungkan objek murni sebagai wujud kejijikan dan ketidakindahan demi mendapatkan nimitta dan memunculkan konsentrasi tingkat jhāna. Dalam metode ini, praktisi tidak diperbolehkan merenungkan mayat yang merupakan lawan jenis (visabhāga-asubha).
  • Metode vipassanā: Merenungkan objek dengan menegakkan tiga corak umum (anicca, dukkha, anattā), melalui perenungan batin: "Orang ini sungguh tidak kekal; saya pun sama seperti orang ini, tidak kekal dan pasti akan mengalami kematian juga."

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Ketika asubha-nimitta hampir terbentuk dan muncul di dalam pikiran, sering kali timbul ilusi mental yang kuat seolah-olah mayat tersebut bangkit berdiri, sehingga praktisi diperlukan untuk tetap waspada tanpa merasa takut. Seseorang yang melakukan meditasi asubha (pada mayat fisik di kuburan) tidak boleh menyentuh mayat tersebut secara langsung dengan tangannya; ia sebaiknya menggunakan tongkat jika ingin memindahkan atau mengumpulkannya. Di akhir naskah disebutkan bahwa jika seseorang berhasil merenungkan kerangka tubuh (aṭṭhika) yang ada di dalam tubuhnya sendiri, ia akan dapat meraih tingkat jhāna serta Jalan Pembebasan (magga) dengan sangat mudah.[1]

Catatan

  1. Asubhakammaṭṭhāna (n) [asubha + kammaṭṭhāna]
    (a) Asubha kammaṭṭhāna, kammaṭṭhāna dengan objek asubha, objek asubha yang menjijikkan (yaitu 32 bagian komponen tubuh seperti rambut, bulu, dsb., dan sepuluh jenis mayat manusia seperti uddhumātaka dsb. Lihat juga arti dari Asubha (1)).
    (b) Asubha kammaṭṭhāna, asubha-ārammaṇika-kammaṭṭhāna (yaitu upacāra-samādhi, appanā-samādhi, upacāra-jhāna, atau appanā-jhāna yang dicapai dengan mengarahkan perhatian dan mengembangkan objek seperti rambut, bulu, dsb., serta objek uddhumātaka dsb. Lihat juga arti dari Asubha (1) dan (2)).

    Kutipan Teks Pāli:
    • Satthā tesaṃ cariyāvasena rāgacaritassa asubhakammaṭṭhānaṃ deti.Dī. Aṭṭha. 3.237.
    • Asubhakammaṭṭhānanti ekādasavidhaṃ asubhakammaṭṭhānaṃ.Dī. Ṭī. 3.275.
    • Asubhakammaṭṭhānaṃ pādakaṃ katvā (Aṅ. Aṭṭha. 1.31) ti kesādi-asubhakoṭṭhāsabhāvanāya upacārasamādhi appanāsamādhi vā pādakaṃ katvā. Asubhavisayaṃ upacārajjhānādikammamevettha upari pavattetabbabhāvanākammassa kāraṇabhāvato ṭhānanti kammaṭṭhānaṃ.Aṅ. Ṭī. 1.81.
    • Asubhakammaṭṭhāna (Saṃ. Aṭṭha. 3.310; Visuddhi. 1.259) nti asubhārammaṃ jhānamāha. Taṃ hi asubhesu yogakammabhāvato yogino sukhavisesānaṃ kāraṇabhāvato ca “asubhakammaṭṭhāna”nti vuccati.Saṃ. Ṭī. 2.520; Visuddhi. Ṭī. 1.312.

    Daftar Referensi Silang (Aṭṭhakathā & Ṭīkā):
    (-Majjhima Aṭṭha. 1.69, 328; Saṃyutta Aṭṭha. 3.40; Aṅguttara Aṭṭha. 2.180; Aṅguttara Aṭṭha. 3.102, 357; Dhamma. Aṭṭha. 2.266; Udāna Aṭṭha. 213; Suttanipāta Aṭṭha. 1.175; Jātaka Aṭṭha. 1.198; Paṭisambhida Aṭṭha. 1.76; Vajira. 149; Sārattha. 1.455; Aṅguttara Ṭī. 3.282; Visuddhimagga Ṭī. 1.133, 206-7.)
  2. Asubha (ti) [na + subha]
    (1) Objek yang tidak indah atau menjijikkan (asubha-ārammaṇa). Bukan hanya sepuluh jenis mayat manusia seperti uddhumātaka dsb., yang digunakan dalam asubhakammaṭṭhāna, dan 32 bagian komponen tubuh seperti rambut, bulu, dsb., melainkan semua hal terkondisi di tiga alam (tebhūmaka-saṅkhata-dhamma) juga merupakan objek asubha yang menjijikkan karena menjadi tempat mengalirnya kekotoran kilesa. (Lihat juga arti dari Asubhakammaṭṭhāna (a)).
    (2) Kata asubha sebagai kata matriks (mātikā-pada) atau judul/topik.

    Kutipan Teks Pāli (Bagian 1):
    Asubhe subhanti... ābhogo.Dī. Aṭṭha. 2.236.
    Asucisabhāvatāya asubhe. Sabbampi hi tebhūmakaṃ saṅkhataṃ kilesāsucipaggharaṇato “asubha”nteva vattumarahati.Dī. Ṭī. 2.212.
    Referensi Silang: (-Vin. Aṭṭha. 2.2; Dī. Aṭṭha. 1.166, 325; Dī. Aṭṭha. 2.56, 186; Dī. Aṭṭha. 3.15; Majjhima Aṭṭha. 1.66, 258-9, 378, 392; Majjhima Aṭṭha. 2.81; Majjhima Aṭṭha. 3.97; Saṃyutta Aṭṭha. 1.205; Saṃyutta Aṭṭha. 2.183, 293; Saṃyutta Aṭṭha. 3.177, 297; Aṅguttara Aṭṭha. 1.25, 400; Aṅguttara Aṭṭha. 2.307; Abhidhamma Aṭṭha. 1.243-5; Abhidhamma Aṭṭha. 2.30, 248; Abhidhamma Aṭṭha. 3.242; Dhamma. Aṭṭha. 1.48; Dhamma. Aṭṭha. 2.421; Suttanipāta Aṭṭha. 1.14; Jātaka Aṭṭha. 1.198; Jātaka Aṭṭha. 3.506-8-9; Cūḷanipāta Aṭṭha. 22; Netti. Aṭṭha. 18, 92; Paṭisambhida Aṭṭha. 2.179, 188; Visuddhi. 1.110; Visuddhi. 2.110, 289, 326; Vajira. 145; Sārattha. 2.53, 172; Vimati. 1.129; Dī. Ṭī. 1.206, 393; Sīlakkhandhavagga Ṭī. Baru. 1.417, 499; Dī. Ṭī. 2.293; Ṭī. 3.12, 194, 238; Majjhima Ṭī. 3.106; Saṃyutta Ṭī. 2.133, 167, 415; Mūlaṭī. 1.45, 107.)

    Asubhāya vaṇṇaṃ bhāsati.Vin. 1.86, 88; Saṃyutta. 3.279; Vin. Aṭṭha. 2.2; Saṃyutta Aṭṭha. 3.297.
    Asubhāyāti asubhamātikāya. Saṃvaṇṇetabbamātikañci apekkhitā itthiliṅge sāmivacanaṃ.Vimati. 1.207.
    Referensi Silang: (-Sārattha. 2.173; Saṃyutta Ṭī. 2.519.)

    Asubha (ti) [Sebagai bentuk elisi kata belakang (uttarapadalopa) dari senyawa: (1) asubha + jhāna; (2) asubha + kammaṭṭhāna; (3) asubha + bhāvanā; (4) asubha + ākāra]
    (1) Asubha-jhāna: jhāna yang timbul dengan mengambil objek asubha tak bernyawa (seperti sepuluh jenis mayat uddhumātaka dsb.) maupun asubha bernyawa (seperti 32 bagian komponen tubuh rambut, bulu, dsb.).
    (2) Asubha-bhāvanā atau Asubha-kammaṭṭhāna: pengembangan meditatif upacāra-bhāvanā dan appanā-bhāvanā dengan mengambil objek asubha tak bernyawa dan asubha bernyawa yang telah disebutkan tadi disebut juga sebagai asubha-bhāvanā atau asubha-kammaṭṭhāna. (Lihat juga arti Asubhakammaṭṭhāna (b)).
    (3) Asubha-ākāra: aspek atau rupa yang tidak indah dan menjijikkan dari suatu objek asubha.

    Kutipan Teks Pāli (Bagian 2):
    • Asubha (Dī. Aṭṭha. 2.368) nti asubhajjhānaṃ uttarapadalopena, taṃ pana dasasu aviñāṇakaasubhesu ca kesādīsu saviñāṇakaasubhesu ca pavattaṃ daṭṭhabbaṃ.Dī. Ṭī. 2.316.
    Referensi Silang: (-Majjhima Aṭṭha. 1.286; Aṅguttara Aṭṭha. 1.36; Abhidhamma Aṭṭha. 2.257; Majjhima Ṭī. 1.373; Mūlaṭī. 2.158.)

    • Rāgassa pahānāya asubhā bhāvetabbā.Aṅ. 2.388; Udāna. 120; Visuddhi. 1.111.
    • Asubhāti asubhakammaṭṭhānaṃ.Aṅ. Aṭṭha. 3.142.
    • Asubhāti ekādasasu asubhakammaṭṭhānesu yathārahaṃ yattha kattaci asubhabhavanā.Udāna Aṭṭha. 231.
    • Asubha (Majjhima. 2.88) nti uddhumātakādīsu upacārappanā.Majjhima Aṭṭha. 3.99.
    Referensi Silang: (-Saṃyutta. 1.190; Paṭisambhida. 390; Suttanipāta. 329; Theragāthā. 370; Netti. 24; Dī. Aṭṭha. 3.79; Aṅguttara Aṭṭha. 3.257; Paṭisambhida Aṭṭha. 2.291; Visuddhi. 1.36; Suttanipāta Aṭṭha. 2.76; Theragāthā Aṭṭha. 2.526; Netti. Aṭṭha. 92; Visuddhi. Ṭī. 1.133.)
    • Asubhāya vaṇṇaṃ (Vin. 1.86-8; Saṃyutta. 3.279) nti asubhākārassa... vitthāraṃ bhāsati.Vajira. 145.

Referensi

  1. Ledi Sayadaw. Kammaṭṭhāna Kyan Gyi (Kitab Besar Kammaṭṭhāna). Mihin Ayeyarwady Book House location = Yangon. hlm. 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88.{{cite book}}: Pemisah pipa tidak ada dalam: |publisher=; line feed karakter dalam |publisher= pada posisi 28

Bacaan lanjutan

40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan