Kamis, 05 November 2026
15:46 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Dhamma

istilah Buddhis

Bagikan:
Untuk konsep darma dalam agama Hindu dan secara umum, lihat Darma. Untuk kegunaan lain, lihat Darma (disambiguasi).
Bagian dari seri tentang
Buddhisme
120px-Dharma_Wheel_%282%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keyakinan
Tiga corak
Gugusan
Faktor mental
Meditasi
Bakti
Praktik lainnya

Dalam Buddhisme, darma atau dharma (Pali: dhamma; Sanskerta: dharma) merujuk pada ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha. Di dalam Tripitaka Pali, dhamma seringkali muncul pada beberapa diskursus dan diartikan sebagai bagaimana pengalaman bekerja, proses-proses yang menjelaskan cara kerjanya, serta cara untuk melampauinya, sebagaimana dipahami oleh Buddha dan diajarkan olehnya.[a] Dalam filsafat buddhis, seperti dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, dhamma/dharma juga merupakan suatu istilah yang merujuk pada "fenomena".

Meskipun Sang Buddha menolak otoritas kitab-kitab Weda, Buddhisme juga mengikuti pengertian Hindu tentang dhamma sebagai "Hukum Alam",[1][2] seperti dalam penggunaan kata tersebut untuk cara kerja karma. Akan tetapi, Buddhisme juga memiliki pemaknaan khasnya tersendiri yang tergantung konteksnya.

Sang Buddha

Oleh karena telah mencapai pengetahuan spiritual tertinggi, Sang Buddha juga diidentifikasikan dengan Dhamma (realitas paling mendasar) dalam Vakkali Sutta (SN 22.87).[3]

“ “Cukup, Vakkali! Mengapa engkau ingin mengunjungi tubuh menjijikkan ini? Seseorang yang melihat Dhamma, melihat Aku; seseorang yang melihat Aku, melihat Dhamma. Oleh karena dalam melihat Dhamma, Vakkali, maka ia melihat Aku; dan dalam melihat Aku, maka ia melihat Dhamma. ...” ”
— Vakkali Sutta, SN 22.87
terj. Indra Anggara

Meskipun Buddha historis, Buddha Gotama, dikatakan telah mencapai Nirwana sehingga tidak lagi memiliki rupa dan batin di dunia mana pun, representasi sosok Buddha Gotama secara tradisional dianggap tetap ada di dunia sebagai Dhamma.[butuh rujukan] Beberapa cendekiawan telah membandingkan kata-kata tersebut dengan perkataan Kristus: "Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30).[4]

Ajaran Buddha

Secara umum, Dhamma merujuk pada ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, biasa dikenal sebagai Buddhadhamma.[1] Pemaknaan ini mencakup berbagai diskursus (sutta) tentang prinsip-prinsip dasar (seperti Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan). Ajaran Buddha menjelaskan bahwa, untuk mengakhiri penderitaan, dhamma, atau batin, pemahaman, perbuatan, dan mata pencaharian yang benar, harus dikembangkan.[5]

Triratna

Artikel utama: Triratna

Dhamma adalah salah satu dari Triratna yang menjadi tempat berlindung para penganut Buddhisme, atau tempat bergantung bagi kebahagiaan abadi (Nirwana) mereka. Triratna tersebut adalah Buddha, yang berarti pencerahan batin yang sempurna; Dhamma, yang berarti ajaran dan metode yang diajarkan oleh Buddha; dan Sangha, yang berarti komunitas monastik penganut Buddhisme yang saling memberikan bimbingan dan dukungan.

Tahapan

Dalam ajaran Buddhisme Theravāda, untuk mencapai realisasi hakiki Dhamma, seseorang harus melalui tiga tahap, yaitu belajar secara teori, praktik nyata teori, dan realisasi.[6] Tahapan tersebut, dalam bahasa Pali, adalah sebagai berikut:

  1. Pariyatti – pembelajaran teori dhamma sebagaimana yang terkandung dalam Tripitaka Pali (serta kitab komentar dan kitab subkomentar)
  2. Paṭipatti – menerapkan teori-teori tersebut ke dalam praktik nyata, dan[7]
  3. Paṭivedha – ketika seseorang menembus dhamma atau melalui pengalaman menyadari kebenarannya.[6]

Pariyatti, paṭipatti, paṭivedha merupakan konsep dasar pembelajaran ajaran Buddha dalam Buddhisme Theravāda.

Fenomena

Dalam filosofi Buddhis, seperti dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, dhamma/dharma juga merupakan suatu istilah yang merujuk pada "fenomena".[9][7][8][10] Dalam tradisi Pali dari aliran Theravāda, diidentifikasi konsep trilaksana, yaitu tiga karakteristik atau corak kehidupan, sebagai berikut:

  • sabbe saṅkhārā aniccā – semua saṅkhāra (fenomena terkondisi) adalah ketidakkekalan
  • sabbe saṅkhārā dukkhā – semua saṅkhāra adalah penderitaan, tidak memuaskan, tidak sempurna, atau tidak stabil
  • sabbe dhammā anattā – semua dhamma (fenomena terkondisi dan tidak terkondisi; atau "fenomena" secara umum) adalah tanpa-atma (tidak memiliki diri, roh, atau jiwa yang kekal)
Tabel Hubungan Nāmarūpa, Pañcakkhandha, dan Abhidhamma
Kelompok Pañcakkhandha
(lima gugusan)
Abhidhamma Theravāda
Paramattha-sacca
(realitas hakiki)
nāma
(batin)
viññāṇakkhandha
(gugusan kesadaran)
89/121 citta
(kesadaran)
81 duniawi
8/40 adiduniawi
vedanākkhandha
(gugusan perasaan)
52 cetasika
(faktor-mental)
1 vedanācetasika
(cetasika perasaan)
saññākkhandha
(gugusan persepsi)
1 saññācetasika
(cetasika persepsi)
saṅkhārakkhandha
(gugusan formasi)
50 cetasika lainnya
rūpa
(rupa)
rūpakkhandha
(gugusan rupa)
28 rūpa
(rupa)
4 unsur pokok
24 unsur turunan
-
Nibbāna
(Nirwana)
Catatan:
  • Kelompok dhamma adalah saṅkhāra dan Nibbāna.
  • Seluruh saṅkhāra bersifat anicca dan dukkha.
  • Seluruh dhamma bersifat anatta.
  • Bedakan konteks saṅkhāra dengan saṅkhārakkhandha.

Kebenaran

Artikel utama: Kebenaran (Buddhisme)

Pemaknaan dharma dipandang secara berbeda oleh berbagai aliran Buddhisme. Dharma tidak hanya merujuk pada perkataan Sang Buddha, tetapi juga pada tradisi penafsiran dan penambahan selanjutnya yang dikembangkan oleh berbagai aliran Buddhisme untuk membantu menjelaskan dan memperluas ajaran Sang Buddha. Bagi yang lain, mereka melihat dharma sebagai suatu istilah yang merujuk pada "kebenaran", atau realitas tertinggi dari "cara segala sesuatu sebenarnya" (bahasa Tibet: Chö). Sebagian menganggapnya sebagai kebenaran hakiki, atau sebagai sumber segala sesuatu yang berada di luar "tiga alam" (bahasa Sanskerta: tridhatu) dan "roda keberadaan" (bahasa Sanskerta: bhavachakra). Sebagian lainnya, yang menganggap Buddha hanya sebagai manusia yang tercerahkan, melihat dhamma sebagai inti dari "84.000 aspek ajaran yang berbeda" (bahasa Tibet: chos-sgo brgyad-khri bzhi strong) yang diberikan Buddha kepada berbagai jenis orang, berdasarkan kecenderungan dan kemampuan masing-masing.[butuh rujukan]

Transmisi

Artikel utama: Transmisi darma
Lihat pula: Buddhisme Chan

Dalam Buddhisme Chan, istilah Dharma digunakan dalam konteks tertentu dalam kaitannya dengan transmisi ajaran, pemahaman, dan kecerahan yang dianggap otentik; sebagaimana dalam konsep tentang transmisi dharma.

Catatan

  1. ↑ Terutama sebagaimana dirumuskan dalam Empat Kebenaran Mulia dan Paṭiccasamuppāda."Definitions for: dhamma".

Referensi

  1. 1 2 "The Concise Oxford Dictionary of World Religions". 2000-01-01. doi:10.1093/acref/9780192800947.001.0001.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  2. ↑ Ff. Routledge. 2014-11-27. hlm. 286–331.
  3. ↑ "Vakkali Sutta: Vakkali". www.accesstoinsight.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-10-07. Diakses tanggal 2022-10-05.
  4. ↑ Walshe, Maurice O'Connell. "Vakkali Sutta: Vakkali". Access to Insight. Diakses tanggal 2025-01-27.
  5. ↑ Brown, Hannah Jean (2019). "Key Tenets of Classical Buddhist Dharma Leave Space for the Practice of Abortion and are Upheld by Contemporary Japanese Buddhist Mizuko Kuyo Remembrance Rituals". Journal of Religion and Health. 58 (2): 477. doi:10.1007/s10943-019-00763-4. PMID 30673995.
  6. 1 2 Lee Dhammadharo, Ajaan (1994). "What is the Triple Gem? – Dhamma: Good Dhamma is of three sorts". Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikkhu. hlm. 33.
  7. 1 2 "dhamma", The New Concise Pali English Dictionary.
  8. 1 2 Kalupahana, David (1986) The Philosophy of the Middle Way. SUNY Press, hlm. 15–16.
  9. ↑ David Kalupahana: "The old Indian term dharma was retained by the Buddha to refer to phenomena or things. However, he was always careful to define this dharma as "dependently arisen phenomena" (paticca-samuppanna-dhamma) ... In order to distinguish this notion of dhamma from the Indian conception where the term dharma meant reality (atman), in an ontological sense, the Buddha utilised the conception of result or consequence or fruit (attha, Sk. artha) to bring out the pragmatic meaning of dhamma."[8]
  10. ↑ Hoffman, Frank J. (1988-12). "David J. Kalupahana. Nagarjuna: The Philosophy of the Middle Way. Pp. 412. (New York: State University of New York Press, 1986.) SUNY Series in Buddhist Studies. $16.95 (paper); $49.50 (cloth). - David J. Kalupahana. The Principles of Buddhist Psychology. Pp. 236.(New York: State University of New York Press, 1987.) SUNY Series in Buddhist Studies. $12.95 (paper); $39.50 (cloth)". Religious Studies. 24 (4): 529–533. doi:10.1017/s0034412500019594. ISSN 0034-4125.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
40px-Buddhism_Symbol.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail   Topik Buddhisme   40px-Flag_of_Buddhism.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Buddhisme awal
Benua
Populasi signifikan
Aliran arus utama
Sinkretis
Theravāda
Mahāyāna-Vajrayāna
Kitab daring
Buddha saat ini dan keluarga
4 tempat suci utama
Buddha penting sebelumnya
Buddha selanjutnya
Bawahan
Mahāyāna-Vajrayāna
Jenis penganut
4 tingkat kemuliaan
Tempat ibadah
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan